Chapter 2. Friend's Message

"The truth is a bitter vintage, refined by time but harsh to swallow."

Helena mencecap teh hangat yang kubuatkan untuknya. Wajahnya tampak sangat cantik dan elegan, serasi dengan gaun hijau natal tanpa lengan yang dikenakannya. Aku hanya terdiam, memutar-mutar ponselku, gelisah menanti apa yang akan ia ucapkan.

“Apa yang ingin kau sampaikan, Helena?” tanyaku akhirnya.

Helena menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan iba. “Kau harus siap mendengar ini, Clara. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku tidak bisa membiarkanmu terus terombang-ambing dalam kepalsuan Edward.”

“Apa maksudmu?” jantungku mulai berdegup kencang.

“Kau tahu pesta semalam? Kau pikir pesta apa itu?”

“Pesta peluncuran produk baru, bukan? Itu yang Edward katakan pada kita semua.”

Helena menggeleng pelan. “Bukan. Itu adalah pesta pertunangan Edward. Dia baru saja dijodohkan dengan gadis pilihan keluarganya—putri seorang pengusaha minyak kaya raya yang sudah menjadi mitra ayahnya selama sepuluh tahun.”

Duniaku seakan runtuh seketika. Aku memandang nyalang ke arah Helena, tak percaya.

“Tapi... semalam dia bersamaku. Dia meyakinkanku bahwa aku adalah satu-satunya,” ujarku dengan suara bergetar.

“Itulah keahlian Edward, Clara. Memberikan perhatian yang membuatmu merasa istimewa, padahal baginya itu hanyalah pelarian tanpa niat untuk serius. Dia hanya memanfaatmu.”

Aku terdiam. Air mataku mulai menggenang. “Siapa nama wanita itu? Apa kau punya bukti?”

Helena menyodorkan sebuah foto. Di sana terlihat jelas Edward mengenakan setelan tuxedo yang kupilihkan untuknya seminggu lalu. Waktu itu dia beralasan membutuhkannya untuk pertemuan investasi di Dubai. Ternyata, dia memakainya untuk bersanding dengan wanita lain.

“Namanya Julie Montefiore. Seorang arsitek lulusan Harvard dari keluarga Italia yang sangat berpengaruh,” jelas Helena.

Aku menatap foto itu dengan perasaan hancur. “Apa yang sebenarnya ada di pikiran Edward?”

“Dengar, Clara. Kau wanita cerdas, seorang sarjana komunikasi bisnis dari Stanford. Kau layak mendapatkan seseorang yang menghargaimu, bukan pria yang hanya menjadikanmu rahasia.” Helena menggenggam tanganku. “Dia menerima perjodohan itu karena ancaman akan dicoret dari daftar ahli waris. Dia lebih memilih harta daripada dirimu.”

Aku mendengus keras, tangisanku pecah hingga bahuku terguncang hebat.

“Lepaskan dirimu dari hubungan toksik ini, Clara. Pulanglah ke Swedia. Jangan biarkan dia menjebakmu lebih lama dalam sangkar emas ini,” tegas Helena sebelum berpamitan.

Siang harinya, Edward kembali ke apartemen dengan wajah tanpa dosa, membawa makanan kesukaanku. “Honey, aku bawakan makanan untukmu. Kau di mana?”

Aku muncul di hadapannya, sudah mengenakan pakaian lengkap dan celana jins. Wajahnya tampak heran. “Mau ke mana? Perlu kuantar?”

“Siapa Julie Montefiore , Edward? Anak dari Keluarga Montefiore ?” tanyaku dingin.

Edward mengangkat bahu dengan santai. “Aku tidak tahu siapa yang kau maksud. Pacarku hanya kamu, Clara.”

PLAK!

Aku menampar pipinya dengan keras. “Penipu kau!” teriakku sambil melemparkan foto pertunangannya ke wajahnya. “Jangan katakan itu foto lama. Kau memakai tuxedo yang aku pilihkan!”

Edward tampak panik. “Clara, aku bisa jelaskan. Aku terpaksa melakukannya karena desakan orang tuaku!”

“Bukan karena mereka, tapi karena kau takut kehilangan warisanmu, bukan? Kau mempermainkan hidupku demi harta!”

“Aku melakukannya untuk masa depan kita! Apartemen ini, kemewahan ini... semua butuh biaya dari bisnis keluargaku!” seru Edward membela diri.

“Kebahagiaan macam apa yang kau tawarkan? Kau menyembunyikanku selama lima tahun, memintaku duduk di meja terpisah jika ada keluargamu. Kau pikir kemewahan ini bisa membeli harga diriku?”

“Tapi kau menikmatinya, bukan?”

“Aku bertahan karena aku percaya pada janjimu untuk serius. Sekarang, semua itu sudah berakhir.” Aku mengambil koperku. “Aku akan pulang. Simpan saja semua barang mewah ini untuk simpananmu berikutnya. Hidupku terlalu berharga untuk menjadi rahasia pria lemah sepertimu.”

Edward terpaku saat aku melangkah keluar menuju lift pribadi. Sesampainya di bawah, sebuah mobil sudah menunggu untuk membawaku ke Bandara JFK. Aku akan terbang ke Stockholm.

Di dalam mobil, aku memejamkan mata. Hatiku hancur, namun ada kelegaan yang mulai merayap. Aku telah meninggalkan sangkar emas itu untuk kembali ke tempat di mana aku benar-benar dihargai.

*****

CHAPTER 3

DAFTAR CHAPTER