Chapter 2. The Man Behind The Glass
"Some men conquer you in silence, and strip you bare with just a glance. You don’t fight it—you crave it."


POV Elira Mardeaux
First Glance
Kedatanganku seorang diri sebagai perwakilan dari FIRA (Financial Integrity and Risk Authority, UK) bisa dianggap cukup bernyali, atau mungkin sekadar nekat. Perusahaan sebesar De Luxen Strategic Holdings dengan lini bisnis yang menggurita di seluruh Eropa seharusnya menjadi target audit yang sangat intimidatif untuk auditor mana pun. Biasanya, kami bergerak dalam tim yang terdiri dari minimal lima orang—pakar forensik digital, analis pajak, hingga ahli hukum. Tapi kali ini, karena pemotongan anggaran yang gila-gilaan dari mitra pemerintah kami, aku harus berdiri sendiri. Sebuah pemborosan, kata mereka, jika harus mengirim tim besar untuk satu perusahaan, tanpa memahami bahwa De Luxen bukan sekadar "satu perusahaan". Ia adalah monster.
Aku tahu tugas ini tidak mudah. Namun, yang membuatnya seribu kali lebih berat adalah reputasi CEO De Luxen yang terkenal dingin, efisien, dan misterius. Sedikit sekali data yang bisa kuperoleh tentang Cassian De Luca. Aku menghabiskan malam-malam sebelum ini mencari jejaknya di basis data publik, namun hasilnya nihil. Dia pria Italia, lahir di Sicilia, berusia sekitar 40 tahun. Selebihnya? Zonk. Tidak ada skandal, tidak ada foto di acara amal, tidak ada nama istri atau anak. Namanya seperti kabut musim dingin yang menguap di tengah danau; ada, tapi mustahil digenggam.
Saat ini, setelah menjalani "tur pamer kekuatan" yang dipandu oleh Moira, aku dipaksa duduk menunggu Yang Terhormat Tuan Cassian. Ruang tunggu ini lebih mirip galeri seni minimalis yang mahal daripada kantor. Aku merasa kehadiranku di sini lebih dianggap sebagai lalat pengganggu daripada mitra otoritas. Di kalangan pengusaha kelas atas, kami di FIRA sering dijuluki sebagai MISTUR (Pengemis Teratur). Mereka menganggap kami hanya sekadar perpanjangan tangan pemerintah yang meminta-minta akses data dan uang denda, bukan lembaga profesional.
Setelah menunggu sekitar 25 menit—sebuah taktik psikologis yang jelas untuk meruntuhkan kepercayaan diriku—pintu besar dari kayu hitam itu terbuka. Moira Kelleher muncul dengan wajah kaku tanpa senyum. "Silakan masuk, Nona Elira," ujarnya formal.
Aku bangkit, membetulkan letak blazerku yang tiba-tiba terasa murah di depan pintu itu. Aku melangkah masuk, dan di sanalah aku melihatnya untuk pertama kali. Cassian De Luca. Dia berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan London yang terhampar di balik kaca setinggi plafon. Postur tubuhnya yang mencapai 1,8 meter tampak begitu tegak, membingkai siluet yang sangat berkuasa.
Saat dia berbalik, duniaku seolah melambat. Wajahnya khas pria Mediterania dengan rahang tegas yang ditumbuhi beard rapi. Mata cokelat gelapnya menatapku, bukan hanya melihat, tapi membedah. Aku merasakan getaran hebat di lututku. Dia memiliki kharisma yang luar biasa dominan; tipe pria yang tidak perlu berteriak untuk membuat satu ruangan tunduk.
“Tuan Cassian, ini Nona Elira dari FIRA,” lapor Moira. Aku mengangguk ke arahnya, namun dia hanya mengedipkan mata sekali tanpa membalas anggukanku. Kami bersalaman. Tangannya hangat, kokoh, dan begitu pas menggenggam jemariku. Saat itu juga, aku merasa seperti tersengat arus listrik yang membuat seluruh sarafku siaga.
“Selamat siang, Nona Elira. Selamat datang di De Luxen. Aku harap stafku sudah menyambut anda dengan baik,” ujarnya. Suaranya berat, dengan tone maskulin yang sangat nyata. Ada tekanan yang kuat dalam suaranya, bukan karena dia membentak, tapi karena otoritas yang melekat pada tiap suku katanya. Jika gedung ini adalah padang savana, Cassian De Luca adalah singa terkuat yang sedang mengawasi setiap makhluk yang berani masuk ke teritorinya.
*****
His Name is Cassian
Dia mempersilakan aku duduk di kursi kulit yang sangat nyaman, lalu meminta izin untuk menerima panggilan ponsel. Aku mendengar dia berbicara dalam bahasa Italia yang cepat dan tajam. Meskipun aku tidak mengerti artinya, intonasi suaranya menunjukkan bahwa dia sedang membuat keputusan jutaan dolar dengan ketenangan seorang algojo.
Pikiranku melayang. Sebelum datang ke sini, aku membayangkan pria berusia 50-an dengan perut buncit dan rambut putih yang mulai botak. Namun, pria di depanku ini memakai jas biru gelap yang dijahit sempurna, membungkus postur tubuh atletis yang terlihat jelas saat dia bergerak. Hal ini membuatku makin terpojok dalam kegugupan.
Aku tidak menyangka dia akan se-menggoda ini di balik intimidasi yang dia tebarkan. Tatapan matanya yang penuh selidik membuatku bergidik. Jantungku berdetak kacau. Aku berharap panggilan teleponnya tidak segera berakhir karena aku belum siap berbicara dengannya secara tatap muka. Aku khawatir jika aku membuka mulut, suaraku akan bergetar dan aku akan terlihat seperti auditor amatiran yang baru lulus kemarin sore. Aku harus menjaga image profesional FIRA, tapi bagaimana bisa jika pria ini seolah mampu menyedot oksigen dari paru-paruku?
“Moira, siapkan para kepala bagian. Aku ingin mereka berkumpul dan mendapat arahan langsung dariku. Aku tidak ingin ada yang mempersulit pekerjaan Miss Elira,” perintah Cassian setelah menutup teleponnya.
Dia kembali duduk di hadapanku, menatapku dengan sedikit senyum yang tertahan. Senyum yang tidak sampai ke mata, tapi cukup untuk membuat wajahku memanas. “Izinkan saya mempertemukan anda dengan seluruh kepala bagian yang akan anda periksa,” ujarnya sopan. “Tentu, Tuan Cassian. Dengan senang hati,” jawabku sesingkat mungkin.
Lalu hening. Sunyi yang memekakkan telinga. Dia terus menatapku, dan aku tidak berani membalasnya. Aku memilih memperhatikan ujung sepatuku atau detail meja mahoni di depanku. Aku bisa merasakan aura Cassian yang berbahaya, namun di saat yang sama, magnetnya sangat kuat. Otakku membeku. Ada getaran hangat yang aneh menjalar dari ujung kakiku hingga berhenti tepat di ulu hati. Aku ingin segera pergi, mengatakan pada pimpinanku di FIRA bahwa perusahaan ini bersih tanpa perlu memeriksa satu dokumen pun, hanya agar aku tidak perlu berlama-lama di bawah pengaruhnya. Aku merasa kalah aura, kalah kelas, dan yang paling memalukan—aku merasa kalah pesona.
*****
The Predatory Calm
Suara beberapa langkah kaki yang memasuki ruang kerja Cassian membuyarkan lamunanku. Moira membimbingku ke ruang rapat yang terhubung langsung dengan kantor utama. Meja oval panjang berbahan kaca hitam mendominasi ruangan. Cassian mengambil tempat di ujung meja, posisi sentral sang pemimpin, dan Moira menempatkanku persis di sebelah kanannya.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfumnya dengan sangat jelas. Sebagai penggemar parfum, aku langsung mengenalinya: Grand Soir dari Maison Francis Kurkdjian. Perpaduan amber, tonka bean, dan vanilla. Aromanya intens namun tidak vulgar; memberikan kesan pria yang bisa membuat napasmu berhenti hanya dengan sebuah bisikan. Itu bukan sekadar aroma, itu adalah pernyataan kekuasaan.
Cassian berdiri. Dia tidak perlu banyak bicara atau menggunakan kata-kata kasar untuk membuat timnya patuh. Hanya dengan gestur kecil, semua orang bergerak dengan presisi militer. Aku bisa merasakan bahwa setiap kepala bagian di sini sangat menghormati, atau lebih tepatnya, takut padanya.
Dominasi Cassian menyebar seperti gas beracun yang memabukkan ke seluruh penjuru ruangan. Pandangan kami bertemu berkali-kali selama rapat. Setiap kali dia menyebut namaku, suaranya yang bariton seolah menggetarkan saraf-saraf di leherku. Aku mencuri pandang padanya saat dia sedang menjelaskan sesuatu, dan terkadang dia menangkap mataku dengan tatapan yang seolah berkata bahwa dia tahu persis apa yang sedang kupikirkan. Aku berkali-kali mencubit tanganku di bawah meja, mencoba mengusir sensasi gila yang muncul. Bagaimana mungkin seorang auditor bisa merasakan gairah seperti ini di tengah rapat koordinasi audit? Ini gila.
*****
His Presence, My Skin
Setelah rapat selesai, para kepala bagian meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Moira mendekatiku. “Nona Elira, Tuan Cassian ingin menemui anda secara pribadi setelah ini. Mohon menunggu di ruangan beliau.”
Aku kembali ke kantor utama Cassian. Menunggu selama sepuluh menit terasa seperti sepuluh jam. Aku sudah hafal pola ini; CEO biasanya akan mencoba "menjinakkan" auditor dengan keramahan palsu atau ancaman halus.
Cassian masuk dengan langkah yang tenang namun pasti. “Maaf, saya membuat anda menunggu, Miss Elira,” ujarnya, suaranya terdengar lebih dalam saat kami hanya berdua. “Tidak apa, Tuan Cassian. Apakah ada hal spesifik yang ingin disampaikan?” balasku, mencoba terdengar setegar mungkin.
Dia duduk di kursinya yang besar, membuka map profilku yang dikirim oleh FIRA. “Izinkan saya mengenal anda lebih dalam,” ujarnya. Udara di ruangan itu terasa mendadak berat dan hangat. “Lulusan Oxford, nilai excellent. Anda punya rekam jejak yang mengesankan. Tapi, Miss Elira, di dunia korporasi seperti De Luxen, ada banyak hal yang tidak akan anda temukan di bangku kuliah. Saya ingin memastikan kita memiliki pemahaman yang sama.”
Dia menatapku penuh makna. Wajahku memanas. Aku hanya bisa mengangguk kecil. “Saya sudah menyiapkan ruang khusus tepat di sebelah kantor saya untuk anda bekerja. Saya tidak ingin anda merasa kesepian atau kesulitan mendapatkan data. Anda bisa langsung bertanya pada saya jika ada hal yang dirasa aneh,” tambahnya sambil mengembalikan berkasku.
Tanpa sengaja, dokumen itu melesat terlalu cepat dan hampir jatuh ke lantai. Secara refleks, aku menjangkau dokumen itu, dan di saat yang sama, Cassian juga melakukannya. Tangannya yang hangat dan kokoh menggenggam jemariku, menahannya di atas meja. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat tubuhku bergetar halus. “Ah, maaf, saya terlalu ceroboh,” bisiknya, namun dia tidak segera melepaskan tanganku. Matanya mengunci mataku, tajam dan intens.
Aku ingin dia terus memegangku. Aku merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta pada pandangan pertama. Sikapku pasti terlihat sangat canggung saat aku akhirnya menarik tangan dan berdiri untuk pamit. “Besok saya akan mulai bekerja, Tuan Cassian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Dia mengangguk anggun, berdiri untuk membukakan pintu bagiku, dan memberikan senyum tipis yang sangat mematikan. Begitu aku melangkah keluar, aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa bekerja dengan benar jika kehadirannya saja sudah meruntuhkan seluruh logikaku?
*****
Under His Eye
Sesampainya di kantor FIRA sore itu, aku berusaha tetap rasional, meski bayangan Cassian terus menghantui. Aku tanpa sadar tersenyum pada cermin saat sedang merapikan riasan, sebuah tindakan yang langsung ditangkap oleh temanku, Lolita. “Baru kali ini aku melihatmu tersenyum begitu pada cermin. Siapa dia, Elira?” tanya Lolita penuh selidik. “Hanya... klien audit baru. De Luxen,” jawabku mencoba bersikap biasa. “Cassian De Luca? Pria Italia yang misterius itu? Katanya dia bisa membuat orang ketakutan hanya dengan melihatnya,” ujar Lolita. “Dia tidak semenakutkan itu. Dia sangat sopan,” belaku, dan aku bisa merasakan pipiku menghangat. Lolita tertawa mengejek. “Hati-hati, Elira. Jangan biarkan pesonanya membuatmu melupakan tugasmu. Dia itu hiu keuangan, mungkin saja mafia. Jangan sampai kau yang bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.”
Aku merengut. “Tentu saja tidak. Aku akan profesional. Aku akan memeriksa setiap sen yang mereka hasilkan.” Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu pertahanan diriku sedang goyah. Aku membayangkan dia berbisik di telingaku, menyentuh tengkukku. Aku merasa jijik dengan ketidakberdayaanku sendiri, namun gairah itu tetap di sana, berdenyut pelan setiap kali aku mengingat namanya.
*****
Alone With His Shadow
Hujan gerimis mulai membasahi London saat aku pulang ke apartemenku. Kesendirian yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan. Apartemen ini terlalu sunyi, terlalu kosong. Setelah menyeduh teh hangat, aku duduk di ruang baca dan membuka kembali dokumen De Luxen.
Namun, aroma parfum Cassian seolah-olah menempel di pakaianku, memenuhi indra penciumanku. Pikiranku melayang kembali ke saat dia menggenggam tanganku. Aku membayangkan hembusan napasnya yang hangat di leherku, membayangkan tangannya yang kokoh membelai pinggangku di tengah kegelapan apartemen ini.
Fantasiku menjadi liar, membawa sosoknya ke dalam ruang pribadiku. Aku merasakan ketegangan yang hebat di sekujur tubuhku, sebuah kerinduan akan sentuhan yang sudah dua tahun tidak kurasakan. Dalam keremangan cahaya lampu jalan yang masuk menembus tirai, aku bergelut dengan perasaanku sendiri. Aku membayangkan dia berdiri di depanku, menuntut kepatuhanku dengan suaranya yang bariton.
Ketegangan itu memuncak dalam kesunyian malam. Aku membisikkan namanya, sebuah pengakuan akan kekalahanku terhadap pesonanya. Gejolak itu menghantamku, meninggalkan rasa lelah yang dalam dan sepi yang makin menyayat hati setelah semuanya berakhir. Aku terbaring di sofa, menatap langit-langit, menyadari bahwa Cassian De Luca telah menjadi hantu yang menghuni pikiranku. Esok hari, aku akan kembali ke sana, masuk ke dalam kandang singa itu, dan aku tidak tahu apakah aku akan keluar sebagai pemenang atau justru sebagai mangsa yang dengan sukarela menyerah.
*****
