Chapter 5. What Is Missing
“She wasn’t alone, She was simply no longer noticed.”


Neat House Empty Mind
Pagi itu seperti biasa, Isobel memulai harinya dengan kesibukan di dapur. Menyiapkan makan pagi untuk dirinya dan Gareth. Roti Bakar, sup kaldu , kopi dan beberapa makanan lain nampak rapi berjajar diatas meja. Ada sebersit rasa puas ketika semua telah siap sebelum Gareth turun untuk makan pagi bersama.
Sesaat kemudian Isobel tampak duduk bersama suaminya Gareth makan pagi bersama. Biasanya mereka ngobrol sambil makan pagi.
“Makanlah sarapanmu Gareth. Roti panggangnya sudah siap dengan daging bakar kesukaanmu.”
“Terimakasih Sayang. Oya nanti aku pulang agak larut. Ada janji temu dengan klien, di jam 5 sore. Aku khawatir sesi ini akan lama. Kamu makanlah dulu nanti, jangan tunggu aku,OK?”
“Baiklah Gareth.”
Isobel nampak sedikit kecewa mendengar informasi dari Gareth, tapi dia tahu, tidak mungkin mengajukan protes. Karena Gareth adalah satu satunya pencari nafkah. Akan sangat mustahil melakukan protes, sementara dia sendiri pengangguran dan tidak mampu mensupport rumah tangga mereka guna mencukupi kebutuhan materi.
“Kau tampak kecewa?” kata Gareth dengan pandangan sedikit tajam pada Isobel
“Nanti malam ulang Tahun perkawinan kita Gareth. Namun aku paham kau harus kerja keras untuk keluarga ini.”
Gareth menghela nafas panjang dan menjawab, “Ya kau tahu sendiri khan, tinggal di Edinburgh tidak murah. Tanpa kerja keras mana mungkin aku mampu membeli unit apartemen ini untuk kita.”
Dalam hati isobel berbisik, apakah ulang tahun pernikahan tidak penting? Apakah uang jauh lebih penting?
“Sayang, aku sadar, kita juga butuh waktu bersama, tapi kau tahu sendiri bukan, warga sini, mereka adalah costumer yang selalu ingin diutamakan. Dan mereka bersedia bayar mahal asal mendapat pelayanan prima. Kita perlu uang mereka,” jelas Gareth
Isobel hanya mengangguk, dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Selain mengikuti perkataan Gareth.
“Oke aku berangkat dulu, terimakasih untuk sarapan paginya,”ujar Gareth seraya mencium kening Isobel yang termangu sendirian.
Untuk kesekian kalinya, Isobel hanya bisa diam menerima semua kenyataan pahit dalam rumah tangganya. Kadang dia sendiri bertanya, masihkah Gareth menghargai kehadirannya dalam perkawinan ini? Masih pentingkah perkawinan ini bagi Gareth? Bukankah sangat mudah mengatur jadwal klien dan tidak menempatkannya di hari ulang tahun perkawinan mereka? Semua pertanyaan ini berkelindan dalam benak Isobel tanpa bisa dia tepis. Dua butir air bening mengalir di pipinya, namun cepat cepat dia hapus.
Seperti yang sudah sering terjadi, dia kembali sendirian di apartemen mewah ini. Sunyi, hanya denting jam yang terdengar. Sunyi yang sudah menjadi teman akrab selama bertahun tahun tinggal di Edinburgh.
Dulu ambisi Gareth adalah memiliki unit apartemen sendiri dan tidak perlu sewa, dan itu menjadi alasan utama baginya kerja keras siang malam. Sekarang setelah punya unit sendiri, Gareth kembali berkata soal biaya hidup tinggi, dan itu seperti menjadi alasan utama baginya untuk menghindari waktu bersama.
Isobel menyalakan penyedot debu, membersihkan karpet, tempat duduk dan berbagai perabot lain sambil sesekali menyeka air matanya. Diam tanpa teman bicara selama berjam jam sampai Gareth pulang, adalah sebuah rutinitas. Kadang ia merasa takut, jangan jangan dia menjadi bisu karena jarangnya berbicara dalam sehari. Hanya bunyi jam dinding, mesin cuci dan penghisap debu yang menjadi temannya sehari hari. Sungguh sebuah sunyi yang begitu panjang dan entah kapan akan berakhir.
*****
Rose and Ivy
Ting
Bunyi ponsel Isobel ketika dia sedang duduk termenung menikmati secangkir teh setelah aktivitas pagi. Ternyata notifikasi Whatsapp Group teman SMA.
“Hi jangan lupa hari ini kita sudah janji bertemu,” tulis Moira.
“Oh pasti ,” balas Suzanne.
“Dimana lokasi yang pas ?” tanya Fiona
Isobel yang sedari tadi hanya membaca pesan, tiba tiba mengetik balasan,” Rose and Ivy, Dean Village. Tempatnya sangat cantik dan cozy. Mereka punya kebun bunga yang enak dipandang. Aku yakin di sana nyaman.”
“Deal,” tulis mereka serempak
“Segeralah ke sana untuk reservasi Isobel, kami akan menyusul secepatnya,” ujar Moira. Tanpa banyak bicara lagi, segera Isobel mempersiapkan diri dan dengan memacu Volvo XC 60 pemberian Gareth, menuju Rose and Ivy.
Pagi di Dean Village masih dingin ketika Isobel Pembroke tiba di Rose & Ivy. Jam di dashboard mobilnya menunjukkan sedikit lewat pukul sepuluh. Matahari masih terlihat, tapi tak benar-benar menghangatkan—cahaya pucatnya jatuh lembut di batu-batu tua dan dedaunan yang mulai mengeras karena udara musim gugur yang mulai menghilang.
Rose & Ivy terlihat seperti biasa: anggun dan tidak menarik perhatian meskipun sangat cantik feminim. Pintu kacanya bersih, bingkainya dihiasi tanaman ivy yang dirawat dengan ketelitian yang nyaris sempurna. Isobel mematikan mesin, duduk sejenak, lalu keluar. Udara menggigit kulitnya cukup untuk mengingatkan bahwa musim dingin sudah hampir tiba.
Di dalam, suasananya tenang. Aroma teh hangat bercampur samar dengan aroma bunga segar. Percakapan terdengar tenang, terkontrol—tempat ini memang tidak dirancang untuk suara keras atau tawa berlebihan sebuah Cafe yang sangat nyaman dan lembut. Pelayan menyapanya dengan senyum profesional.
“Mrs. Pembroke. Meja Anda sudah kami siapkan.”
Isobel mengikuti pelayan menuju area tertutup di bagian belakang, yaitu sebuah ruang kaca dengan pemanas tersembunyi, terpisah dari keramaian utama. Dari sana, taman kecil di luar terlihat jelas. Jalan setapak dari batu basah oleh embun pagi, semak mawar masih menyisakan beberapa kelopak terakhir musim ini, dan bangku taman yang kosong, tampak tak terusik oleh dinginnya angin pagi . Udara di luar terlalu beku untuk duduk lama, tapi keindahannya tetap enak dipandang mata, seakan taman itu memang dibuat untuk dilihat, bukan ditempati.
Isobel duduk menghadap jendela.
Ia meletakkan tasnya di samping kursi, merapikan mantel, lalu melipat tangan di pangkuan. Cahaya pagi memantul dari kaca di depannya, membuat taman tampak lebih dekat dari kenyataannya. Hidup. Terjaga. Tidak terganggu.
Pelayan meletakkan menu di meja, lalu mundur tanpa suara. Isobel membukanya sebentar, lalu menutup kembali. Memberi pesan pada pelayan bahwa dia menunggu teman temannya datang.
Kursi-kursi di seberangnya masih kosong. Pertemuan ini diatur dengan rapi—seperti banyak hal lain dalam hidupnya. Ia tahu siapa yang akan datang. Ia tahu jam berapa mereka biasanya tiba.
Jam kecil di dinding berdetak pelan.
Isobel menatap taman itu lagi. Ia bisa melihat dedaunan bergerak ditiup angin tipis, masih bertahan sebelum benar-benar gugur. Pemandangan yang tenang. Hampir indah. Dan untuk sesaat, ia bertanya-tanya mengapa keindahan taman seperti ini sungguh tampak istimewa baginya. Begitu dinginnya kah hidupnya selama ini dengan Gareth? Bahkan untuk pergi ke sebuah cafe sederhana seperti ini mereka tidak pernah melakukannya. Air mata kembali menetes, namun segera di hapusnya. Dia bertekad untuk bahagia hari ini bersama teman temannya.
Moira datang tepat waktu. Langkahnya mantap, tumit sepatunya memecah keheningan lantai kayu dengan ritme yang terukur. Mantel wol abu-abunya rapi, kancing terpasang sempurna, scarf diselipkan tanpa satu lipatan pun yang berantakan. Ia tidak menatap sekeliling mencari siapa pun. Ia tahu tempatnya.
“Isobel,” sapanya singkat, suaranya rendah dan padat, seolah tidak ada satu kata pun yang keluar tanpa alasan. Moira duduk sebelum pelayan sempat menarik kursi, melepas sarung tangannya dengan gerakan efisien, menyimpannya di tas kulit berstruktur tegas.
Ia tidak menanyakan kabar, tidak menanyakan apa pun. Moira Campbell jarang menyia-nyiakan energi untuk hal-hal yang menurutnya tidak berguna. Isobel tersenyum kecil, dan Moira membalasnya dengan anggukan yang lebih mirip konfirmasi keberadaan daripada sapaan hangat.
Beberapa menit kemudian, Fiona masuk dengan cara yang langsung mengubah udara ruangan. Tidak berisik, tapi hangat. Suaranya mengalun pelan ketika ia berbicara pada pelayan di depan, lalu langkahnya lembut ketika memasuki ruangan kaca.
Ia memakai mantel krem dengan panel beludru di kerah, memeluk tubuhnya sebentar dari dingin sebelum melepasnya. Rambutnya tersanggul rapi, sedikit berantakan di tepi, tapi justru itu yang membuatnya tampak effortless. Tubuhnya menebarkan aroma bunga ringan—parfum yang mahal, tapi tidak ingin terlihat mahal.
“Isobel, sayang, kau sudah datang duluan,” ucapnya sambil mencium pipi kanan Isobel, lalu Moira. Ia duduk dengan elegan, memindahkan tas kecilnya ke samping kursi seperti seseorang yang terbiasa menghabiskan hari-harinya di tempat-tempat yang dirancang indah.
Fiona melirik taman dengan senyum halus, “Lihat itu… mawar terakhir musim ini masih bertahan.” Isobel mengangguk, tidak menjawab, sementara Moira hanya mengangkat alis tipis-tipis.
Suzanne datang terakhir, sedikit tergesa tapi tidak ceroboh. Mantelnya lebih tebal, warna biru tua, dengan syal rajut yang tampaknya buatan tangan—atau hadiah dari seseorang. Ia meminta maaf kepada pelayan, lalu tersenyum kikuk saat melihat dua perempuan lain sudah duduk.
“Maaf, macet sedikit di sekitar Princes Street. Anak-anak terlambat berangkat sekolah, jadi… ya.”
Ia duduk dan merapikan rambutnya yang tertiup angin. Pipinya memerah oleh dingin. Ada sesuatu yang familiar dan tulus darinya, seseorang yang hidupnya padat oleh hal-hal kecil yang menuntut perhatian.
Ia menyentuh lengan Isobel sebentar, hangat dan otomatis.
“Terima kasih sudah menunggu.”
Gestur itu sederhana, tapi lembut. Dan untuk alasan yang tidak terlalu Isobel pahami, sentuhan itu terasa lebih nyata daripada ruangan mewah yang mengelilingi mereka.
Suzanne melihat ke taman, “Oh… ivy-nya masih hijau. Kupikir sudah mati semua.”
“Belum,” jawab Fiona sambil tersenyum. “Beberapa hal tetap bertahan lebih lama dari yang kita kira.”
Moira hanya menutup menu. Isobel membiarkan kalimat itu tenggelam di dalam dirinya sendiri, tanpa bentuk dan tanpa suara.
****
Woman Talk
Makanan yang dihidangkan hari itu sungguh membuat suasana pertemuan jadi hangat. Isobel begitu menikmati kebersamaan bersama teman temannya siang itu. Hatinya sedikit terhibur, dari rasa kecewa akibat Anniversary pernikahan yang diabaikan Gareth.
“Terus terang aku menikmati kesendirianku sebagai wanita karir. Tanpa mengurangi rasa hormat pada kalian yang berumah tangga dan punya anak, aku merasa hidupku lebih rileks, santai dan jauh dari stress,” celetuk Moira tiba tiba.
Suzanne menelan minumannya lebih cepat dan menjawab, “Ah kau tidak menyinggung kami, justru kau menyampaikan fakta jujur, bahwa hidup dengan anak dan suami, apalagi dengan anak balita, memang jauh dari santai. Bukan begitu Fiona?”
Fiona menyuapkan satu sendok puding terakhir ke mulutnya dan tergesa menjawab, “ Ah ya ya…itu benar. Apa lagi perempuan macam aku. Aku tidak mungkin mengandalkan penghasilan suami, Edinburgh bukan kota yang ramah secara ekonomi. Aku pun harus bekerja dan berjuang keras agar kami tetap bisa memiliki standar hidup seperti sekarang. Jadi benar, tingkat Stress cukup tinggi.”
Moira lalu melirik ke arah Isobel dan kembali berkata, “Sepertinya yang terlihat paling enak adalah Isobel. Kamu tidak memiliki anak dengan Gareth. Hidup Childfree yang kalian pilih, sepertinya membuatmu jauh dari tekanan. Apalagi Gareth type suami yang loyal dan sangat mensupport ekonomi kalian.”
Isobel spontan mengangkat bahu tanda kurang sependapat. Tetapi dia tidak menolak pendapat Moira.
“Aku memang tidak stress memikirkan anak dan segala tetek bengeknya seperti Suzanne dan Fiona. Aku juga tidak pernah tahu susahnya mencari uang di Edinburgh. Semua Gareth yang mengatur, dan ya benar dia pria yang baik. Tapi hidupku hampa dan sepi. Kadang aku tidak tahu apakah aku ini hidup atau setengah mati.”
Sontak ketiga rekan Isobel meletakkan peralatan makan dan mengalihkan pandangan mereka semua padanya.
Suzanne yang duduk paling dekat segera memeluk Isobel dan berkata, “Oh Dear, ada apa? Apakah kau tidak bahagia bersama Gareth?”
Fiona yang memperhatikan dari seberang meja ikut menimpali, “ Kau jarang bermesraan dengannya ya? Atau tidak pernah?”
Suzanne segera menatap tajam pada Fiona tanda tidak setuju dengan pertanyaan yang terlalu personal itu. Isobel hanya diam, tetapi air mata mengalir di pipinya dan dia kembali berkata, “Hari ini Ulang Tahun pernikahan kami. Tapi dia berkata, kliennya jauh lebih berharga karena siap bayar mahal. Dan hidup di Edinburgh butuh uang banyak.”
Moira spontan berbisik,” Kalau bukan anak yang ribet, suami bisa jadi sumber masalah. Apa lagi maaf kau tidak bekerja. Tentu dia bebas mengatakan apapun dan menjauhi mu.”
“Moira Please…,” ujar Suzanne sambil melotot tanda tidak sependapat dengan ucapan tajam itu.
Moira sedikit terkejut, sambil meletakkan tangan di mulutnya. Lalu sejurus kemudian dia berkata, “Maafkan ucapanku, aku tidak semestinya berkata begitu padamu.”
“No …no kau benar Moira. Itulah mengapa kadang aku ingin bekerja, sehingga bisa mensuport kebutuhanku sendiri dan tidak bergantung pada Gareth. Aku ingin punya kehidupan yang bermartabat dan berharga dan tidak hanya sekedar menjadi penjaga rumah yang menyiapkan makan baginya tiap kali dia pulang.”
“Kau tampak merana, Isobel. Apakah kau tidak pernah bicara pada Gareth, tentang apa yang kau rasakan. Setahuku dia Konselor pernikahan, aku rasa dia akan memahami perasaanmu,” ujar Fiona.
“Maaf, bukan aku skeptis, Konselor pernikahan itu pekerjaan. Menjadi suami yang tanggap dan responsif atas kondisi istri, itu komitmen. Kau menyandingkan dua hal yang berbeda Fiona. Dan itu jelas tidak sama,” celetuk Moira.
“Lelaki memang seperti itu. Sikapnya pada orang lain seringkali lebih baik dibandingkan pada Istri sendiri. Mereka butuh Validasi bahwa mereka hebat. Dan Validasi macam itu seringkali tidak muncul dari kita sebagai istri, karena kita juga sibuk mengatur rumah tangga tanpa mereka sedikit pun peduli,” jawab Suzanne.
“Ah…aku makin yakin, hidup melajang yang kujalani adalah pilihan terbaik. Cheers,” jawab Moira dengan senyum smirk.
“Cheers, untuk kehidupan lajang Moira yang membahagiakan,” ujar mereka bertiga yang diikuti oleh gelak tawa sesudahnya.
*****
He Still Alone
Isobel tampak sedikit terhibur setelah mencurahkan isi hatinya. Dia sering melempar senyum dan ikut ramai berbicara mengomentari topik yang sedang jadi perbincangan diantara keempatnya. Sampai sebuah perkataan ringan dari Moira membuyarkan senyum itu.
“Dua hari lalu aku bertemu Fergus Mc Rae. Kau ingat dia Isobel? “ ujar Moira diselingi tatapan tajam.
Spontan Isobel gugup dan menjatuhkan sendok yang dipegangnya dengan tiba tiba.
“Ya…ya, aku ingat. Kau bertemu dimana?”
“Hemm…Edinburgh. Aku sedikit heran, karena setahuku Fergus tidak tinggal di kota ini. Kau pernah bertemu dengannya Isobel?”
“Eh…ti…tentu tidak Moira. Aku tidak pernah keluar rumah, dan aku tidak pernah bertemu siapapun,” jawab Moira gugup sambil menggigit bibir bawahnya sekilas.
“Fergus Mc Rae, bukankah itu mantan pacarmu dulu Isobel?” sahut Fiona.
“Tepatnya mantan tunangan Isobel. Seorang pengusaha kaya, dari kalangan bangsawan Scotland. Orangnya sangat menarik, sayang dulu dia…..Playboy,” jelas Moira dengan nada cuek.
“Ah aku ingat. Kau memutuskan pertunangan dengan Fergus dan memilih Gareth karena dia tertangkap basah …tidur dengan rekan bisnisnya. Fergus yang itu khan?” tanya Suzanne.
“Aku tidak tahu ada Fergus lain. Aku hanya kenal Fergus itu. Tapi dia sudah menjadi masa lalu yang pahit dan aku….ti..tidak pernah bertemu dengannya,” kembali Isobel menjawab dengan nada gugup.
“Setahuku, dia masih single hingga kini. Mungkin….dia masih mengharapkanmu Isobel,” Moira kembali berucap polos sambil menatap Isobel tajam, seolah dia tahu sesuatu yang tidak Isobel katakan.
Isobel tampak makin gelisah dan tidak berani menatap Moira, dia mengalihkan pandangan seraya berkata,”Mungkin, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya.”
Fiona dan Suzanne saling pandang melihat sikap aneh Isobel lalu menatap Moira seolah meminta penjelasan. Namun Moira hanya diam dan kembali meneguk anggur merah yang tersisa di gelasnya.
“Sungguh aneh, pengusaha sekelas Fergus, berkeliaran di Edinburgh tanpa ada bisnis atau tujuan yang jelas. Dia tidak mungkin ada di sini tanpa kepentingan,” jelas Moira
Isobel menarik nafas panjang dan seperti sedikit terganggu lalu menjawab dengan nada suara yang sedikit meningkat, “Yang jelas dia tidak menemuiku dan aku tidak tahu apa apa soal keberadaannya di sini.”
Mereka semua terdiam mendengar jawaban Isobel yang tajam dan defensif. Sepertinya mereka mulai berpikir ada sesuatu yang Isobel sembunyikan tapi entah apa itu.
Pertemuan dan makan siang itu pun tak lama berakhir. Sebelum mereka berpisah, satu sama lain mendaratkan ciuman persahabatan di pipi masing masing. Ketika Moira mencium pipi Isobel, dia sedikit menahan tangan Isobel dan berbisik tepat di telinganya, “Aku tahu Fergus menemuimu bukan? Tapi jangan gugup, ini akan tetap menjadi rahasia kita sampai kapanpun.”
Isobel menatap Moira malu dan mengangguk pelan. Dia tidak ingin berkata lebih dia hanya ingin segera pergi dari tempat itu dan pulang ke apartemennya yang sepi.
*****
No Longer Notice
Isobel menyisir rambut barunya di depan cermin kamar mandi. Dia baru saja berganti model rambut tadi pagi. Lady Diana Cutting membuat dia tampak lebih muda dan segar. Dia ingin tahu apakah Gareth melihat perubahan penampilannya. Setelah mematut dirinya sebentar dia pun berjalan masuk ke kamar tidur mereka tempat Gareth sudah membaringkan diri di atas tempat tidur.
“Gareth, apakah kau melihat perubahan pada diriku?”
Gareth, yang sudah setengah ngantuk menjawab sekenanya, “ Perubahan apa sayang ? Bagiku kau tampak sama saja. Tidak ada yang berubah. Tetap cantik dan segar.”
Isobel sedikit mengerutkan alis dan menjawab ketus,” Kau benar benar tidak tahu ada yang berubah pada penampilanku?”
“Oh Sweety, please, jangan ajak aku ribut malam ini hanya soal penampilanmu. Aku sangat lelah. Besok aku harus berangkat lebih awal, karena ada pejabat dari London meninjau kantor kami. Please, sudahlah tidur dan jangan persoalkan penampilanmu. Bagiku kau tetap istri yang sempurna,”ujar Gareth sambil membalikkan badan membelakangi Isobel.
Air mata mengalir pelan di pipi Isobel yang putih. Dia merasa tidak dilihat, tidak dihargai dan diabaikan.
Dalam hati Isobel bergumam,” He no longer notices my presence. So what is this marriage for?” Isobel membenamkan wajahnya dalam bantal, berusaha menyembunyikan tangisan pilunya agar tidak mengganggu Gareth yang sudah mendengkur.
*****
