Chapter 6. Fergus Mc Rae

“A man’s true disloyalty begins when his work becomes his first wife,

and the woman he married is left with the role of entertainment.”

The Observer

Fergus Mc Rae, pengusaha kaya raya itu duduk termenung menatap salju tipis yang mulai turun dari balik jendela apartemen mewah di pinggiran Edinburgh. Dia sadar betul kehadirannya di kota itu bukan karena urusan bisnis atau pertemuan dengan koleganya. Dia berada disana karena satu nama, Isobel Pembroke. Sebuah nama yang dulu begitu melekat dihatinya. Nama yang pernah dia khianati hanya seminggu menjelang pernikahan mereka.


Pengkhianatan itu terjadi bukan karena dia tidak mencintai Isobel. Tetapi karena dia tidak yakin dengan satu kata yang saat itu akan mereka lakukan, “perkawinan”. Latar belakangnya yang dibesarkan dalam keluarga Broken home, memberinya pandangan bahwa ikatan hukum tidak mampu membuat hati setia, bahkan setelah puluhan tahun menikah. Secarik sertifikat perkawinan tidak otomatis menjadikan perkawinan sakral, itu hanya registrasi bahwa ada ikatan hukum antara pria dan wanita, namun belum tentu antara dua hati.

Bourbon dalam gelasnya hampir habis ketika Moira rekan bisnisnya menyapa dengan dingin, “Kau menemuinya bukan?”

“Hemm, aku hanya ingin memastikan kebenaran ceritanya padaku, itu saja.”

Moira menghembuskan asap rokoknya pelan, mendengar jawaban Fergus, “Untuk apa kau pastikan? Bukannya dia adalah masa lalu yang pahit?”

Fergus tidak punya jawaban pasti. Batinnya hanya berisi rasa ingin tahu yang besar, tentang rumah tangga macam apa yang dibangun Isobel pasca putus darinya. Dan fakta yang didapatkannya sungguh diluar dugaan.

“Apakah kau yang menghubungi dia pertama kali?” tanya Moira penasaran.

Fergus memandang Moira dengan tatapan tajam seolah ingin berkata, itu bukan urusanmu. Tapi dia menahan diri dan menunduk.

“Tidak, kami bertemu secara tidak sengaja pada reuni keluarga besar Isobel yang diadakan dua bulan lalu. Saat itu dia datang tanpa suaminya. Dan aku datang sebagai tamu undangan rekan bisnis kakak Isobel. Aku cukup terkejut, Gareth tidak hadir di acara sepenting itu.”

Moira menatap Fergus tajam dan menjawab, “ Sepertinya mereka memang sedang tidak baik baik saja. Sebagai sahabat dekat Isobel, aku hampir tidak pernah mendengar dia bercerita tentang suaminya. Dia cenderung diam, dan tidak punya hal yang bisa dibagi pada kami setiap kali bertemu.”

Fergus menghela nafas panjang,”Sangat disayangkan lulusan terbaik perguruan tinggi bergengsi di Inggris hanya berakhir sebagai penjaga rumah tanpa anak. Aku tidak paham mengapa mereka memilih Child Free, tetapi hidup Isobel terpenjara dalam apartemen itu. Dalam logikaku seharusnya dengan keputusan itu (Child Free) mereka bisa bebas bepergian kemanapun dan menikmati hal hal yang rumah tangga biasa tidak bisa dapatkan.”

Moira tersenyum sinis, “ Gareth bukan pengusaha sukses dan punya banyak uang sepertimu. Keputusan Child Free diambil lebih pada keterbatasan materi dari pada pilihan hidup. Konsultan pernikahan seperti dia mendapatkan uang hanya dari kunjungan klien. Tidak ada kunjungan klien maka tidak ada uang.”

Fergus tidak menanggapi perkataan Moira. Namun dalam hati dia makin yakin, bahwa ketidak percayaannya pada institusi pernikahan sungguh bukan hanya paranoia. Bahkan masalah keuangan pun bisa meruntuhkan struktur bangunan relasi berumah tangga yang katanya dibangun berdasarkan komitmen hukum dan cinta.

*****

Her Quiet Truth

Pertemuan Ferguse dan Isobel terjadi di sebuah pesta reuni Keluarga Mac Allister yang diselenggarakan dua bulan lalu. Tiba tiba saja kakak Isobel, Alastair Mac Allister, yang sekaligus Mitra bisnis Ferguse mengundangnya untuk datang dalam acara tertutup tersebut di Dunrath House, sebuah kastil kecil milik Keluarga Mac Allister.


Dunrath House adalah kastil kecil berdinding batu tua di pinggiran Inverness—sebuah estate keluarga yang tenang dan tertutup, dikelilingi lahan hijau dan pepohonan tua. Tidak megah, tetapi berwibawa; rumah ini menyimpan jejak aristokrasi lama yang bertahan lewat martabat, bukan kemewahan. Dinding batu nya kokoh, ruang-ruangnya sunyi, dan atmosfernya mencerminkan keluarga old money yang telah melewati masa kejayaan namun belum kehilangan identitas.

Saat itu hari mulai senja ketika dia melihat Isobel datang dari Edinburgh seorang diri. Ada sebersit pertanyaan yang ditahannya, tentang kesendirian Isobel. Untuk acara penting seperti ini sangat mustahil Gareth tidak diundang. Namun Ferguse merasa itu bukan urusannya untuk tahu.

“Hai Isobel, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu?”

“Oh Kau Ferguse, pasti Alastair yang memintamu datang. Dia begitu memujamu sejak dulu.”

“Aku dan Al punya bisnis bersama, wajar jika dia mengundangku datang. Aku hanya berharap kehadiranku pada acara ini tidak mengganggumu.”

“Tentu tidak, aku sudah melupakan semua masalah kita. Aku senang kau bisa menyempatkan diri hadir. Ini sungguh kehormatan bagi keluarga kami.”


Waktu itu berdua mereka berjalan menikmati pemandangan matahari sore yang menyinari kebun mawar di sekitar Dunrath House.

Sebuah suara bariton dengan logat khas Skotlandia, tiba tiba menyeruak diantara mereka Alastair Mac Allister berkata dengan sedikit berteriak, “Isobel, mana Gareth suamimu? Apakah tahun ini dia beralasan sibuk lagi sehingga tidak bisa hadir pada acara keluarga kita. Ini sudah ketiga kalinya dia tidak hadir.”

Ferguse bergantian menatap wajah Isobel dan kakaknya. Dia merasa tidak nyaman harus mendengar percakapan keluarga yang tidak semestinya dia tahu.

“Ya, dia bilang ada beberapa mitra bisnisnya datang sore ini dari London, dan mereka akan berinvestasi pada Klinik Gareth dan teman temannya itu. Rasanya tidak nyaman jika dia tidak hadir,” jawab Isobel dengan wajah malu pada kakaknya.

“Gareth itu bukan seorang CEO rumah sakit atau pusat rehab Klinik besar, dia hanya profesional yang kebetulan punya saham di klinik tempatnya bekerja. Aku heran, apa yang dia hindari dari pertemuan keluarga?

“Sudahlah Al, jangan bahas itu lagi. Apakah kehadiranku tidak cukup?” balas Isobel.

“Suamimu itu sama sekali tidak menghargai keluarga kita. Aku muak dengan kesombongannya,” timpal Alastair. Isobel hanya diam membisu. Ferguse yang dari tadi hanya menyaksikan kemudian berkata, “Jangan tekan adikmu Al, dia tidak bersalah, hargai kehadirannya sore ini.”


Alastair mengangkat bahu dan dengan gayanya yang khas dia kemudian mengajak Isobel dan Ferguse untuk segera masuk ke dalam Dunrath House karena acara akan segera dimulai.

Semenjak hari itulah Ferguse kembali menjalin komunikasi dengan Isobel. Pada acara itu pula Isobel menceritakan tentang kondisi perkawinannya bersama  Gareth.

“Kami memang memilih untuk tidak memiliki anak. Aku merasa perlu mendukung karir Gareth sebagai seorang konselor, karena selain karir itu punya nilai ekonomis lebih menjanjikan, karirku sendiri di Bank Of London tidak banyak kontribusi untuk kehidupan rumah tangga kami. Terlebih Gareth kemudian melakukan Investasi bisnis pada Klinik tempatnya kerja saat ini di Edinburgh,” cerita Isobel pada Ferguse waktu itu.

Ferguse hanya diam membisu mendengar itu semua. Walau dalam hatinya dia menyayangkan keputusan Isobel mengorbankan Karir untuk sebuah kehidupan sederhana di Edinburgh. Yah memang Keluarga Mac Allister sudah bukan lagi keluarga Old Money dengan aset dan jaminan Finansial berlimpah. Mereka bahkan pernah sangat terpuruk secara ekonomi. Tetapi menjadi ibu rumah tangga biasa tanpa jaminan kelimpahan materi dan hanya menjadi penjaga rumah itu pun bukan pilihan hidup yang baik.

“Kau sendiri, mengapa masih membujang Ferguse?” tanya Isobel

Ferguse mengangkat bahunya kecil dan berkata, “ Mungkin hukum karma karena telah menyakitimu dulu? “

Isobel tersenyum kecil dan menjawab, “Ah jangan berpikir begitu. Aku sudah menikah dengan Gareth dan itu artinya kau tidak menyakiti siapapun. Anggap saja kita tidak berjodoh.”

Ferguse kemudian menjawab ringan, “Ya jika begitu anggap saja aku pria yang tidak sepenuhnya percaya dengan institusi pernikahan. Bagiku Surat nikah tidak melambangkan apapun. Aku lebih menghargai kehadiran dan kesungguhan dibandingkan legalitas. Tetapi aku menghargai lembaga perkawinan, hanya saja mungkin itu bukan untukku.”

Ferguse melihat wajah Isobel sedikit melow mendengar perkataannya. Tiba tiba Isobel berkata, “Mungkin kau ada benarnya. Buat apa kita memiliki surat nikah tetapi orang yang kita nikahi tidak pernah menunjukkan keseriusan untuk hadir dalam hidup kita.”

Fergus berdehem dan menjawab,” Aku harap itu bukan Gareth. Dimataku perkawinan kalian tampak baik baik saja.

Kali ini Isobel menjawab dengan sedikit bergetar, “ Aku tidak tahu lagi apakah aku menikah dengan dia, atau kami hanya berbagi rumah tinggal. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Kadang aku melebeli diriku sebagai istri yang ditelantarkan suami.”

“Jangan bicara begitu Isobel, kau layak mendapat perhatian Gareth. Bicarakan dengannya apa yang kau mau. Aku yakin dia akan mendengar.”

“Entahlah Fergus, aku sudah mencoba berkali kali, tapi dia seperti orang yang hidup dalam ketakutan kekurangan Finansial. Dia seperti merasa kurang dan perlu membuktikan dirinya entah pada siapa. Namun yang jelas, dia menjauh dan kami pun makin tidak banyak waktu untuk berbagi. Maaf kalau kau harus mendengar ini dariku. Aku tahu ini bukan urusanmu.”

“No…no Isobel, It’s ok. Kita memang gagal menikah tapi aku bukan musuhmu. Anggap saja aku keluargamu dan aku akan ada untukmu setiap waktu.”


“Terima Kasih Fergus,” balas Isobel malu sambil menghapus air mata nya yang mulai meleleh.

Merasa tidak enak karena sudah begitu terbuka pada Fergus, Isobel mengalihkan pembicaraan dan berkata,” Kau masih sering bertemu Moira Campbell?”


“Ah Moira teman dekatmu itu? Pastilah, kami punya urusan bisnis. Tapi jangan kau kira aku pacaran dengan dia. No. Dia hanya mitra namun kadang enak diajak bicara.”

Isobel tersenyum dan kemudian mereka pun bertukar nomor ponsel. Sejak saat itu komunikasi antara Fergus dan Isobel tidak pernah terputus. Reuni keluarga itu seperti memfasilitasi reuni dua hati yang belum selesai dengan masa lalu.

****

The Safety Net

Komunikasi yang intens antara Fergus dan Isobel, tidak otomatis menjadikan Fergus sebagai pria oportunis yang ingin memanfaatkan masalah orang lain bagi kepentingan dirinya. Dia tahu betul, bahwa dia pernah menyakiti Isobel di masa lalu dengan sebuah pengkhianatan cinta yang susah untuk dilupakan. Kalau pun saat ini Isobel dan keluarganya bisa menerima dia ada di tengah mereka, tidak berarti hal itu adalah alasan untuk kembali berbuat kesalahan yang sama.


“Bagiku Isobel sudah seperti adikku sendiri. Aku hanya ingin menjadi Safety Net bagi dia, saat dia membutuhkan support. Karena aku tahu posisi perkawinannya sedang tidak baik baik saja. Namun aku tahu diri aku tidak akan masuk untuk menjadi pengganti Gareth.”

Moira yang mendengar perkataan Fergus menjawab, “Aku harap begitu. Karena kalau kau menyakiti dia, maka kau tidak hanya berhadapan dengan keluarganya tapi juga aku. Aku memang bukan siapa siapa, tapi aku tahu kesedihan Isobel akibat ulahmu dulu. So Jangan jadikan dia sebagai pelampiasan hasrat liarmu lagi.”

“Aku tahu itu Moira. Justru itulah aku tidak menghadirkan diriku sebagai orang yang sama lagi seperti dulu. Aku tahu diri, bahwa aku tidak mungkin akan menggantikan Gareth, dan menikahi dia. Bagiku itu mustahil.”

Moira menatap tajam ke arah Fergus dan menjawab, “Semoga kau bisa menepati perkataanmu.”

Setelah itu dia pergi meninggalkan Fergus seorang diri di sebuah cafe di sudut Kota Edinburgh.


Namun jauh di dasar hati Fergus, ada keraguan yang sangat besar. Kedatangannya di kota ini hanya untuk menemui Isobel, merupakan sebuah Warning Call yang dia paham betul. Bahwa sebenarnya dia belum benar benar selesai dengan Isobel terkait masalah hati. Wanita itu masih mengisi kekosongan dalam ceruk hatinya. Kekosongan yang membuatnya melajang hingga kini.

*****