Cinta Seputih Salju

Blurb

Pengkhianatan cinta di jantung kota New York yang gemerlap, membuat Clara memilih untuk kembali ke Ljusdal—sebuah desa kecil di pedalaman Swedia—tempat kenangan masa kecilnya yang indah tak tercela. Di tengah dinginnya musim salju yang menyelimuti kala itu, Clara terperangkap antara hangatnya kenangan cinta masa lalu dan kenyataan masa kini yang menyakitkan.

Christian, cinta pertama yang pernah dia tinggalkan demi impian metropolitan, kini hadir kembali di depan mata.Seorang seniman perak dan guru yang masih menyimpan rasa cinta yang tak pernah usai. Diantara hembusan angin dingin, mereka berdua ditarik ke dalam tarian hati yang lama terpendam, mempertanyakan apakah rasa lama bisa menyala kembali di bawah salju yang tebal.

Namun, ketika Clara berusaha menyembuhkan luka, Impian Gemerlap Metropolitan yang glamor datang mengetuk dengan tawaran yang sulit untuk ditolak. Edward, dengan segala pesona dan janji manis, muncul kembali dengan tawaran yang menggiurkan. Clara berada di persimpangan, di mana setiap pilihan menuntut pengorbanan dan setiap langkah bisa melukai hati yang sudah rapuh.

Cinta Seputih Salju adalah kisah tentang cinta, pengkhianatan, dan pengampunan—perjalanan Clara dalam mencari cinta sejati di tengah dinginnya kehidupan. Akankah cinta yang seputih salju mampu melampaui segala pengkhianatan? Atau apakah Clara akan tersesat kembali dalam kilauan gemerlap dunia dan cinta yang menipu?

Love is Never Enough

"Even the deepest oceans of love can run dry when the rivers of effort cease to flow."

Edward tersenyum sinis, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris hilang. Dengan gerakan yang tenang namun mengintimidasi, ia menjangkau Clara, membiarkan kehadirannya mendominasi ruang gerak wanita itu.

"Aku adalah satu-satunya orang yang paling tahu apa yang kau inginkan, Sayang," bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan. "Aku selalu tahu bagaimana memancing sisi lain yang selama ini kau sembunyikan di balik masker ketenanganmu itu."

Clara menatapnya dengan napas tertahan. Sentuhan Edward yang posesif mulai meruntuhkan pertahanannya, membangkitkan memori tentang masa lalu yang intens di antara mereka. Pikiran Clara berkecamuk; antara rindu yang tak terucap dan logika yang berusaha menolak.

Sambil memejamkan mata sejenak untuk menguasai diri, Clara akhirnya berkata dengan suara bergetar, "Tapi itu bukan cinta, Edward. Dan aku... aku lelah menjalani hidup yang hanya mengikuti keinginan sesaat."

“Oya? Kalaupun bukan cinta, lalu apa namanya, Clara?” ujar Edward dingin. Ia terus mendesak, memberikan tekanan emosional yang membuat Clara merasa semakin tak berdaya di bawah pengaruhnya.

“Hentikan, Edward,” ujar Clara lirih. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu betapa sulitnya menolak daya tarik pria ini. Setiap perhatian dan kedekatan yang diberikan Edward seolah memiliki kendali penuh atas akal sehatnya.

Edward kemudian membawa Clara ke arah tempat tidur besar di tengah ruangan, membaringkannya dengan perlahan namun penuh otoritas. Ia menatap Clara seolah ingin menaklukkan seluruh keraguan wanita itu.

“Kau tahu, Clara, hanya aku yang paham bagaimana memicu reaksimu hingga ke titik tertinggi. Malam ini, aku akan membuktikan bahwa tubuhmu tidak bisa membohongi pikiranmu sendiri.”

******

Uncertain Love

"There is a cruel ghost that lives between your 'yes' and your 'no'. It is the uncertainty that kills me more than your rejection ever could."

POV: Clara Johansson

Pagi itu dengan rasa malas yang masih menguasai badan, aku seorang Executive secretary sebuah perusahaan penanaman Modal yang berpusat di New York City , mencoba untuk bangun dari tidur nyenyak ku. Samar aku ingat pesta semalam, yang diselenggarakan dalam rangka peluncuran produk telekomunikasi terbaru yang dibiayai oleh tempatku bekerja. Pesta itu diadakan oleh, Edward Bennett, pemilik perusahaan sekaligus CEO dari Bennet Global Investment. Dia adalah atasan, sekaligus pria yang sudah menjadi kekasih ku setidaknya selama 5 tahun belakangan ini. Dengan kata lain bisa dibilang aku lah kekasih rahasianya.

Semalam, setelah pesta gila itu, Edward menggendongku pulang dan menidurkanku di kasur mewah ini. Lalu seperti pada umumnya sekretaris merangkap kekasih, tugas ku yang semula hanya melayani urusan pekerjaan, berubah menjadi melayani kebutuhan dan hasrat liar Edward. Aku sama sekali tidak keberatan. Karena selain Edward tampan,masih single, di usianya yang matang menginjak 35 tahun, dia juga menyatakan cintanya padaku dan mendeklarasikan hubungan kami selayaknya hubungan cinta sepasang kekasih. Kami pun sudah menjalaninya selama kurun waktu lima tahun.

Menjadi kekasih dari seorang CEO perusahaan besar seperti Edward, sebenarnya sangat menyenangkan. Jabatan cepat meroket, kemewahan dalam genggaman dan kemudahan akses dalam segala hal. Hidup mewah di New York adalah dambaan setiap manusia pekerja. Tidak ada satupun orang di kota besar ini yang tidak menginginkan apa yang aku dapatkan dari posisi sebagai kekasih Edward.

Saat ini aku berada di sebuah apartemen mewah yang terletak di salah satu tower kenamaan kota New York. Apartemen ini pun penuh dengan barang Lux yang menunjang aktivitasku. Tempat tidur Versace super besar, Walking Closet yang penuh dengan baju baju dari butik kenamaan di Paris prancis, lemari khusus tempat menyimpan semua koleksi sepatu dan tas Hermesku. Ada juga dapur canggih dan mewah, serta kamar mandi dengan jacuzzi dan bathup yang hanya bisa dinikmati orang berduit.

Awal hubunganku dengan Edward, aku merasa sangat tersanjung dengan semua kemewahan dan uang berlimpah di rekening yang dia berikan padaku. Bagaimana tidak, aku hanyalah gadis desa yang berasal dari pedesaan Swedia. Kota kelahiranku hanyalah sebuah distrik kecil dengan nama Ljusdal, yang jika tidak melihat peta atau Google map maka nama tempat itu pasti tidak akan ada yang mengenalinya. Beda dengan New York, Washington, Paris, London dan masih banyak lagi kota kota masyhur lainnya. Kemewahan dan kelimpahan uang ini tidak pernah ku rasakan sejak kecil.

Berkat hubunganku dengan Edward, aku masuk bagian kalangan sosialita kelas atas New York yang sangat disegani dan dihormati. Namun disaat bersamaan, jauh dilubuk hatiku, aku merindukan kehangatan keluarga. Sudah hampir 10 tahun, aku meninggalkan kedua orang tua dan saudaraku. Tidak pernah sekalipun aku pulang dan melewatkan liburan, baik itu natal maupun tahun baru bersama mereka. Aku selalu tenggelam dalam pesta kalangan jetset yang tidak ada akhirnya. Sekarang, di tahun ke lima inilah puncak dari segalanya. Aku rindu kehangatan keluargaku. Aku rindu senyum lembut ibuku, belaian lembut ayah juga derai tawa kedua saudara laki laki ku. Tak terasa air mataku menetes, membasahi bantal. Aku rindu ingin pulang.

Pulang ke tempat asalku, dan berlibur bersama keluarga bukanlah sebuah acara yang ada pada daftar kegiatan akhir tahunku bersama Edward. Biasanya Edward akan mengajakku berlibur ke Paris, keliling dunia dengan privat jetnya atau menikmati balon udara di Cappadocia.

Tempat tempat romantis mana yang tidak pernah aku kunjungi? Villa dan rumah mewah mana yang tidak pernah aku tempati ketika bersama Edward. Semuanya sudah. Pendek kata aku memperoleh semua kenikmatan duniawi yang bisa dibayangkan manusia modern. Hanya satu hal yang sepertinya tidak akan pernah Edward berikan padaku. Pernikahan.

Kata kata “Kapan kita Nikah” seperti sebuah remote yang sanggup merubah mood Edward dari Ceria dan penuh senyum menjadi muram dan marah marah. Aku hafal betul apa yang bisa merusak mood Edward. Jika ingin suasana kebersamaan dengan Edward rusak, mudah saja, tanyakan saja dia akan menikahiku, makan dapat dipastikan dia akan segera pergi meninggalkanku sendiri terkurung di apartemen mewah ini.

Seperti peristiwa kemarin malam. Setelah percintaan yang panas dan menggebu, setelah kami sama sama mencapai puncak pelepasan hasrat yang kami inginkan. Dengan bersandar pada dadanya yang bidang dan penuh bulu, aku berkata soal kepastian hubungan dan perkawinan.

“Edward,” ujarku manja

“Hemm”,balasnya dengan suara dalam dan berat

“Aku merasa kesepian tiap kali kau pulang meninggalkanku sendiri di sini. Aku ingin kau selalu ada bersamaku. Aku ingin menyandang gelar sebagai nyonya Edward Bennet, dan aku ingin membawamu pulang ke ljusdal dan mengenalkanmu pada kedua orangtuaku.”

Seperti sudah kuduga, dengan dengusan bernada jengkel dia langsung bangkit dan mendengus kesal lalu mengenakan bajunya.

“Berapa kali sudah kukatakan padamu Clara. Aku belum bisa menikahimu untuk tahun tahun ini. Aku masih harus mengerjakan banyak hal. Kemewahan yang aku berikan ini ada harganya dan tidak datang begitu saja,” teriaknya dengan nada tinggi.

“Sampai kapan Edward? Sampai kapan? Tahun lalu kau berkata setelah proyek mu di Dubai selesai, kau akan menikahiku. Namun mana buktinya, zonk bukan? Dua tahun lalu saat kita berlibur di Paris kau katakan akan menikahiku jika Proyekmu disana gol dan berjalan lancar. Nyatanya? Aku sudah lelah dengan janji janjimu. Aku sudah lima tahun menanti kepastian hubungan kita Edward,”

Edward menghampiriku lalu mencium keningku seraya berkata,” Sabarlah Lollipop (nama panggilan manjaku), ada saatnya nanti kau akan resmi menjadi Nyonya Edward Bennett, tapi bukan sekarang,”

“Lalu kapan Edward, kapan? Aku ini bukan pelacur bayaran yang bisa kau sewa dan kau kunjungi saat butuh,”

Edward langsung menatapku tajam dan berkata dengan nada tegas,” Siapa yang mengatakan kau adalah pelacur bayaran? Siapa?”

“Orang orang itu. Kolega kita, teman teman bisnismu dan juga teman teman kerjaku. Mereka selalu kasak kusuk di belakang ku dan mengatai aku wanita simpanan,”

“ Ah! Mereka lagi yang kau sebut. Ingat Clara, tidak ada teman dalam lingkaran kita. Tidak ada sahabat. No! ingat itu. Yang ada hanya mangsa. Jika mereka adalah orang orang yang tidak layak dimangsa, maka mereka hanyalah sekumpulan Hyena yang akan memakan sisa sisa buruan kita.”

“Kau mungkin bisa begitu, tapi aku tidak. Kau tetap dihargai dan dihormati oleh mereka, tapi tidak denganku Edward,”

“Sudahlah Honey, kau terlalu banyak alkohol malam ini. Tidurlah, besok aku akan menelponmu,”

Dan seperti biasanya dia segera pergi dan keluar dari unit apartemen mewah ini tanpa menoleh kebelakang sedikitpun. Aku sudah sangat hafal.

Pagi ini aku memandang ke luar jendela kamar. Aku melihat pemandangan kota New York dari atas balkon. Tidak aku pedulikan angin dingin bulan November yang menusuk kulit dan tulangku yang hanya terbalut kain satin sutra tipis milik rumah mode Dior. Sebatang rokok kunyalakan dan kuhisap dalam dalam lalu ku hembuskan perlahan. Aroma tembakau dan cengkeh yang kuat, menghantam kepalaku dan menyisakan sensasi melayang diudara yang selalu aku suka.

Tak berapa lama aku mendengar dering ponselku yang tergeletak di meja dekat tempat tidurku. Bergegas aku masuk dan meraihnya. Ternyata Helena Stevenson teman karibku yang menghubungi.

“ Clara, aku meluncur ke apartemenmu. Ada beberapa hal penting yang kau perlu tahu. Dalam lima menit aku sudah sampai di sana. Tolong buka akses ke lift pribadimu, Ok?”

“Hal penting apa yang ingin kau sampaikan sepagi ini Helena?” ujarku menjawab telephonenya.

“Soal Edward. Sudahlah tunggu aku,” ujarnya.

KLIK, dia mematikan ponselnya. Pasti saat ini dia sedang mengendarai sendiri Porsche nya. Aku merasa sedikit tidak enak dan panik. Bergegas aku mandi dan mempersiapkan diri. Setidaknya aku ingin tampak rapi di depan Helena. Namun benakku dipenuhi pertanyaan tentang apa yang akan di sampaikan padaku terkait Edward.

*****

Friend’s Message

Helena mencecap teh hangat yang aku buatkan untuknya. Wajah Afro Amerikanya tampak sangat cantik dan elegan serasi dengan dress warna hijau natal tanpa lengan yang dikenakannya. Aku hanya terdiam memutar mutar rokok ku yang entahlah sudah ke berapa kali kunyalakan pagi ini.

“Hal apa yang ingin kau sampaikan padaku Helena?” tanyaku padanya.

Sambil menghela nafas panjang Helena melihat ke arahku sambil menghisap rokoknya, “ Kau harus siap mendengar apa yang akan aku katakan. Aku tahu ini tidak mudah, tetapi aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Orlando ( Pacar Helena) memintaku merahasiakan ini darimu, tetapi aku tidak ingin kau terombang ambing dalam ketidak pastian dan kepalsuan Edward.”

“Apa sih maksud mu Helena?” ujarku dengan degup jantung yang makin meningkat.

“Kau pasti tahu pesta semalam. Kau pikir pesta apa itu?”

“Pesta menjelang peluncuran New Product? Bukankah itu yang dikatakan Edward semalam pada kita semua? ” jawabku keheranan

“Kau salah. Itu bukan pesta peluncuran New Product. Itu adalah pesta perayaan pelepasan masa bujang. Edward. Dia baru saja dijodohkan dengan seorang gadis pilihan keluarganya. Anak seorang pengusaha kaya raya yang menjadi mitra ayahnya selama 10 tahun belakangan ini. Seorang pengusaha Infra Struktur kelas dunia.”

Jantungku serasa mau copot mendengar apa yang Helena katakan. Rokokku terjatuh dan mataku memandang nyalang ke arahnya.

“Tapi….semalam dia bercinta denganku,” ujarku kebingungan.

“Ah ya ya ya…itu memang keahlian Edward. Bercinta. Terutama denganmu. Tapi bukankah kau sendiri tahu bahwa itu semua sekedar The Fucking Body tanpa ada kepastian dan keinginan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih serius dari pihak Edward?”

Aku Terdiam. Air mataku mengambang dan siap siap mau jatuh.

“Siapa nama wanita itu Helena? Apakah ada foto yang bisa kau tunjukkan sebagai bukti?”

“Tentu,”

Helena menyodorkan sebuah Foto pesta pertunangan. Dalam Foto itu terlihat jelas Edward mengenakan setelan Tuxedo yang dibelinya bersamaku seminggu lalu di Sebuah Rumah Mode ternama di New York. Waktu itu dia berkata bahwa dia butuh Tuxedo baru untuk pertemuan dengan orang orang dari Uni Emirat Arab yang akan mengajaknya berinvestasi pada pembangunan tower baru di Dubai. Akulah yang memilihkan untuknya.

“Namanya Julie Montefiore. Anak dari Mark Montefiore keluarga Italia yang kaya raya. Ayahnya punya saham di sebuah resort ternama di Dubai. Seorang arsitek pemilik saham di beberapa tambang minyak di Timur tengah, yang ikut terlibat dalam pengembangan dan pembangunan Infrastruktur Kota Dubai. Sementara Julie juga seorang Arsitek lulusan dari Ivey League”

Aku masih memandangi foto itu dengan perasaan campur aduk.

“Apa yang sebenarnya ada di Otak Edward?” tanyaku pada Helena

“Justru itu makanya aku menceritakan ini semua padamu. Aku tidak ingin kau berlarut larut dengannya tanpa ada sebuah kepastian. Dengar Clara, kau wanita cantik dan cerdas. Kau pun seorang Sarjana Ilmu Hukum dari Harvard University, dan kau juga seorang Lawyer. Kau layak mendapatkan yang lebih baik daripada seorang Don Juan seperti Edward.”

“Apa lagi yang kau ketahui tentang Edward?” ujarku sambil mengusap air mata.

“Dia menerima perjodohan itu, karena ancaman dari orang tuanya. Jika dia tidak menolak, maka dia akan langsung dicoret dari daftar ahli waris keluarga Bennett.”

Aku mendengus keras dan kembali menangis hingga bahuku terguncang hebat.

Helena mendekatiku dan berkata,” Dengar, Edward lebih memilih Harta benda dan warisan keluarganya dibandingkan dirimu. Setelah bertunangan dengan Angela, dia masih meniduri mu dan berjanji akan menikahimu! Apakah laki laki macam itu yang akan kau jadikan suami? Ayah dari anak anakmu?”

“Aku harus bagaimana Helena?” ujarku setengah berbisik.

“Lepaskan dirimu dari Edward, pulanglah ke Swedia. JIka kau butuh uang, aku akan memberikannya untukmu. Tapi kau harus segera pergi dari sini dan jangan berlarut larut dalam hubungan yang toksik ini. Paham?”

Aku mengangguk pelan.

“Kalau kau masih berharap, bahwa Edward suatu saat akan menikahimu. Maka lupakan. Dia hanya akan menjadikanmu wanita simpanan saja. Kau tidak punya apa apa, selain ijazah doktor mu itu, dan selebihnya Nothing !”

Aku menangis dalam pelukan Helena.

“Sweety, maaf aku sudah mengganggu pagimu. Tapi aku tidak ingin kau mengalami hal yang lebih parah dari ini. Segera pesan tiket dan pergi dari sini senyampang kau masih punya kesempatan untuk melakukannya. Jangan tunggu Edward dengan uang dan kekuasaannya mencegahmu berangkat karena itu menyiksamu dengan kehidupan bagai neraka,” jelas Helena sambil memelukku

Aku mengangguk dan berterimakasih pada Helena. Aku simpan Foto itu dan tak lama Helena pun undur diri.

*****

Siang itu Edward kembali ke apartemenku dan membawa makanan kesukaanku.

“Honey, aku bawakan Chinese Food kesukaanmu. Honey?”

Aku muncul di hadapannya dengan baju lengkap dan celana jins. Dia tampak Heran dan sejurus kemudian mengajukan pertanyaan.

“Mau kemana? Apakah aku perlu mengantarmu?”

“Tidak, tidak perlu. Aku bisa sendiri,”

“Siapa itu Julie Edward? Siapa? Julie Montefiore, anak dari Mark Montefiore, seorang pengusaha dan pemilik saham di berbagai Resort di Dubai. Siapa Dia?”

Dengan entengnya Edward mengangkat bahunya dan berkata,” Aku tidak tahu siapa yang kau maksudkan. Dan aku juga tidak peduli dengan Julie. Dengar, pacarku itu hanya kamu. Dan kamu satu satunya orang yang aku cintai,”

PLAK

Aku menampar pipi Edward dengan keras.

“Penipu kau Edward. Kau Penipu !” teriakku sambil melempar foto pertunangannya dengan Angela.

“Jangan katakan bahwa itu Foto lama. Jangan pula katakan itu Foto palsu. Kau ada di dalam Foto itu sedang menyematkan cincin di tangan wanita kaya raya yang menjadi pilihan orang tuamu. Angela Santorini.”

“Dengar Clara, aku bisa menjelaskannya padamu,”

“Cukup! Bajingan kau,” ujarku sambil berusaha melepaskan diri ku dari cengkraman tanga nya.

Edward tampak panik dan sedikit gusar.

“Bisanya kau mengadakan pesta pelepasan Bujang, dan mengatakan padaku itu launching produk baru. Dan gobloknya aku percaya padamu bahwa itu pesta Launching produk tanpa tahu produk apa yang kau keluarkan di akhir November. Tolol nya kau percaya pada Psikopat macam dirimu Edward.” ujarku dengan nada tinggi diiringi derai air mata.

“Baiklah, aku akui, memang aku bertunangan dengan Julie. Aku terpaksa melakukannya karena desakan orang tuaku !” ujar Edward dengan nada memohon padaku.

“Tidak, kau melakukannya bukan semata karena desakan orang tuamu. Kau melakukannya karena kau tidak ingin dicoret dari Daftar ahli Waris keluarga Bennett. Begitu bukan? Kau lebih memilih harta benda dari pada aku. Dan parahnya kau mempermainkan hidupku tanpa aku sadari,” Ujarku sambil berteriak

“Tidak, aku terpaksa melakukannya untuk masa depan kita Clara. Kita butuh perusahaan milik keluargaku untuk membiayai semua gaya hidup kita.”

Dia lalu berkeliling apartemen mewah itu seraya merentangkan tangan dan berkata dengan raut wajah menjijikkan.

“Semua kemewahan yang kau dan aku nikmati ini, milik perusahaan keluarga Bennett. Aku tidak bisa hidup tanpa ini semua Clara. Aku juga tidak bisa memberikan semua kebahagiaan yang selama ini kau nikmati, tanpa bisnis keluargaku.”

“Kebahagiaan katamu? Bahagia macam apa? Kau tidak pernah memperkenalkan aku sebagai kekasih pada keluargamu. Kau selalu membawaku kemana mana sebagai seorang sekretaris. Kau bahkan memintaku duduk di meja terpisah jika di sana ada orang tuamu. Selama 5 tahun hubungan kita kau merahasiakan kehadiranku dari keluargamu. Apa kau pikir dengan barang barang mewah, uang dan apartemen ini bisa membeli kebahagiaanku?”

“Tapi kau menikmatinya bukan?”

“Aku tetap tinggal bersama mu karena berharap kau akan berubah, menepati janjimu untuk membuat hubungan kita melangkah ke jenjang yang lebih serius. Tanpa janji janji itu, sudah lama aku pergi meninggalkanmu. Dan sekarang waktunya bagiku untuk melakukan itu,” ujarku sambil berteriak dan menangis tersedu.

“Kau mau kemana Clara?” tanya Edward

“Pulang. Pulang ke rumahku, ke tengah keluargaku. Aku memang bukan orang kaya seperti dirimu dan keluargamu. Tapi aku tahu apa arti ketulusan cinta dan penghormatan. Berikan saja semua barang mewah itu untuk Sekretaris mu berikutnya, simpananmu berikutnya. Aku dan hidupku terlalu terhormat untuk sekedar menjadi wanita simpanan laki laki lemah sepertimu.”

Edward mencegahku pergi, dia menciumiku dengan begitu mesra seolah ingin menebus kesalahannya dan menahanku pergi. Aku mengambil Whisky dan meneguknya dengan cepat dengan air mata berderai.

Dia ingin mendekatiku, tapi aku berkata," Jangan mendekat. Kau sudah terlalu lama berbohong. Kau hanya memanfaatkan ku saja."

Dia menangkap tubuhku dan coba memeluknya dengan mendorong ku ke tembok untuk menenangkan serta menguasaiku.

“Aku akan pulang Ke Ljusdal, tapi aku perlu bicara denganmu dulu. Aku tidak ingin pulang tanpa penjelasan apapun. ”

“Sabarlah Clara, Aku dan Julie bertunangan tanpa Cinta. Bahkan perkawinan kami kelak juga hanya atas dasar bisnis. Aku tidak pernah mencintainya.”

“Tapi kau memilih dia untuk menjadi istrimu dan bukan aku. Aku selamanya hanya akan menjadi kekasih gelapmu bukan?”

“Kau adalah dewiku Clara, kau bukan hanya istri. Kau lebih dari semua status yang manusia bisa sematkan pada wanita pasangannya.”

“Jangan melantur kau Edward, aku tidak sudi menjadi dewi yang hidup dalam khayangan palsu. Aku ingin hidup di rumah, membangun rumah tangga denganmu, memiliki anak dan …”

“Suutttsuut….itu akan kau dapatkan, dengan atau tanpa status dariku sayang.”

“Kau gila. Lebih baik aku kembali pada pelukan Chris dan membina kehidupan bahagia sederhana di Ljusdal. Dari pada membangun kepalsuan bersamamu.”

Entah mengapa kata kata ku itu sepertinya membuat dia marah dan makin menekanku ke tembok.

Dia tersenyum sinis, mendekat hingga jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter. Dengan gerakan yang lembut namun sarat makna, dia menyentuh belahan dada ku yang rendah, lalu menelusuri gundukan dadaku yang tanpa Bra, "Aku adalah satu satunya orang yang paling tahu apa yang kau inginkan sayang," ujarnya dengan suara rendah dan menggoda. "Aku selalu tahu bagaimana memuaskan hasrat liar yang kau sembunyikan dibalik topeng ketenanganmu."

Aku menatapnya , nafasku tertahan karena gerakan tangannya yang saat ini sedang memainkan putingku hingga mampu membuatku melayang-layang.

Aku hanya diam dan tak mampu berkata-kata, kupejamkan mata serta merasakan jari-jarinya yang terus bermain di puncak payudaraku. Aku terjebak dalam memori akan malam-malam kami yang penuh gairah, yang saat ini kembali menghantui pikiranku.

Namun kemudian aku tersadar dan berkata, "Tapi itu bukan cinta, Edward. Dan aku... aku lelah menjalani hidup yang hanya mengikuti keinginan sesaat yang berlalu begitu cepat."

“Oya? Kalaupun bukan cinta, lalu apa namanya Clara?” ujarnya yang saat ini sudah begitu buas dan liar memberi kecupan dan jilatan berulang kali pada putingku hingga membuat nafasku makin dalam dan pendek.

“Hentikan Edward,” ujarku lirih.

Dia lalu menjunjungku aku memekik lirih. Lalu dia menidurkanku di Kasur mewah King Size yang sudah menunggu dari tadi. Disibaknya kedua kakiku lebar lebar dan segera memainkan lidahnya pada lembah ku hingga sanggup membuatku sesekali melenguh dan menggelinjang.

Lalu kami bercinta seperti kesetanan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku. Pikiran dan hatiku meronta untuk segera pergi meninggalkan Mansion itu. Tetapi ragaku seperti menikmati setiap momen kebersamaan kami. Entah berapa lama kami bercinta, karena pikiran ku sudah sangat kalut. Aku merasa seperti mendapat siksaan bertubi tubi. Aku hanya tahu keesokan paginya aku bangun seorang diri di apartemen mewah yang terasa begitu dingin sekarang.

Segera setelah mandi dan membersihkan diri aku keluar dari pintu Privat LIft apartemen mewah itu. Sesampainya di Lobby, petugas Apartemen mempersilahkan aku menuju Mobil yang akan membawaku ke Bandara Internasional John F Kennedy, lalu menerbangkan ku Ke Stockholm Swedia.

Tidak dapat kulukiskan dengan kata kata betapa hancurnya hatiku. Aku terlalu bodoh dan lemah hingga mempercayai semua perkataan Edward. Aku bahkan mengijinkannya meniduriku di tengah semua kebohongan yang dia buat. Oh Tuhan..hidup macam apa yang sudah kulalui selama ini?

Aku hanya bisa menangis dan memejamkan mataku, mencoba untuk melupakan semua yang telah terjadi dan menata hati serta pikiran untuk bertemu kedua orang tuaku

*****

"The truth is a bitter vintage, refined by time but harsh to swallow."

Going Home

"I spent a decade chasing the sun,

only to return in the dead of winter with nothing but the cold in my bones."

Clara Johansson’S POV

Kembali ke Swedia, aku menggunakan Pesawat Delta Airlines melalui bandar udara John F Kennedy. Rasanya seperti berabad lamanya aku meninggalkan Kota Ljusdal (kalau tidak ingin dibilang desa) tempat kelahiranku. Tentu saja tidak ada pesawat yang langsung ke Ljusdal. Dari New York aku transit di Stockholm, setelah itu naik kereta selama kurang lebih 3,5 jam ke Ljusdal.

Penerbanganku menggunakan Delta Airline berangkat pukul 20.00 waktu JFK dan tiba di Bandar udara Stockholm sekitar pukul 10.00 pagi. Terdapat perbedaan waktu yang cukup mencolok karena kedua negara berada di dua kawasan waktu yang berbeda. Amerika ada di zona waktu (Eastern time, UTC- 5) sementara Stockholm berada di Zona waktu (Central European Time , UTC+1) perbedaan zona waktu ini akan menyebabkan Jetlag, meskipun tidak terlalu parah. Untuk itulah aku berusaha tidur selama di dalam pesawat.

Aku merasa penerbangan ini seperti kembali ke titik nol. Kembali ke akar keluarga dan budayaku. Melalui perjalanan ini aku merasa diriku adalah anak yang hilang. Bayangkan 10 tahun lebih tidak pernah sekalipun aku mengunjungi kedua orang tuaku. Lima tahun pertama kepergianku dari Swedia adalah untuk belajar di Harvard University, untuk menempuh Program Master maupun Doktoral. Lima tahun kedua aku bekerja di New York, di perusahaan milik Edward. Praktis waktuku habis hanya untuk Fokus pada diri sendiri dan tidak sekalipun memikirkan kedua orang tuaku. Karena hal inilah, selama penerbangan rasa bersalah yang luar biasa besar menghampiri pikiranku.

Kalau aku renungkan wajar rasanya jika aku mengalami hubungan cinta yang toksik dengan Edward. Mungkin itu adalah karma yang harus kupetik karena sudah begitu abay pada orang tua dan keluargaku. Sesekali aku menyeka air mata yang masih saja menetes. Bayangkan aku dulu berangkat dengan hanya membawa tas kecil dan sedikit baju. Sekarang hal yang nyaris sama terjadi padaku. Aku pulang dengan baju seadanya dan tidak banyak uang yang aku bawa. Sungguh miris.

Sebenarnya sebelum peristiwa putusnya aku dengan Edward dan kembali ke Swedia, tentu saja aku punya banyak uang. Tetapi semenjak percakapanku dengannya terakhir kali itu, aku merasa jijik dengan semua harta benda yang dia beri. Aku khawatir nanti dibelakang hari dia akan mengungkit apa saja yang telah dia berikan padaku. Itulah mengapa aku transfer kembali semua uang darinya. Aku juga tinggalkan semua barang mewah ku dan segala perhiasan yang ku peroleh darinya selama 5 tahun.

Satu satunya barang pemberiannya yang masih aku pakai adalah ponsel ini dan tentunya tas jinjing yang berisi pakaianku. Selebihnya semua adalah barang yang aku beli sendiri menggunakan penghasilanku. Setelah pertengkaran itu, satu satunya keinginanku adalah menghilang dari New York dan kembali ke tengah keluargaku. Kembali pada orang orang yang benar benar mencintaiku.

Sesuai perkiraan, aku sampai di Stockholm tepat pukul 10 pagi. Segera setelahnya aku menuju ke Stasiun kereta api yang untungnya tidak terlalu jauh dari Bandar udara Stockholm. Dan disinilah aku sekarang, kembali ke titik awal, sebagai gadis desa Ljusdal menggunakan kereta api dengan waktu perjalanan sekitar 3,5 jam.

LJusdal adalah adalah sebuah kota kecil yang terletak di wilayah Gävleborg County, di bagian tengah Swedia. Ljusdal dikenal sebagai daerah pedesaan dengan lanskap alam yang indah, dikelilingi oleh hutan dan danau, menjadikannya destinasi yang tenang dan menarik bagi para pecinta alam.

Dulu aku dan ayah serta dua orang saudara laki lakiku sering melakukan pendakian atau sekedar berjalan di alam bebas. Kehidupan kami yang dekat dengan alam membuat diri kami sangat mencintai dan menghargai ketulusan dan kejujuran. Sebuah watak yang sangat sulit ditemui di kota besar seperti New York.

Selama dalam perjalanan menggunakan kereta api, aku berusaha mengalihkan perhatianku dari rasa sakit yang masih terasa. Sakit karena dibohongi, sakit karena dianggap remeh dan sakit karena tidak dihargai layaknya orang yang dicintai. Aku merasa diriku hanya dimanfaatkan saja selama lima tahun ini. Aku benar benar merasa bodoh.

Tak terasa, aku sudah sampai di stasiun Ljusdal. Suasananya masih sama persis, tidak banyak perubahan yang berarti. Tiba tiba aku merasa ada seseorang yang menepuk punggungku.

“Hai, kau Clara bukan?”

Spontan aku menoleh, aku melihat wajah sahabat masa kecilku, Sophie.


“Hai Sophie, kau masih mengenaliku?” tanyaku padanya.

“Pastilah, kau tambah Cantik Clara. Hemm mau pulang ke rumah mu?” tanya Sophie ramah

“Eh ya..aku mau pulang, ke rumah,”

“Ikutlah aku Clara, kita sejalur. Biar aku antar kau sampai ke rumah mu. Kebetulan aku bawa mobil. Aku harap kau tidak keberatan karena suami dan anakku ikut menjemputku.”

Aku mengangguk dan mengikuti langkah Sophie menuju mobilnya. Dan kami pun berempat segera menuju ke desa kami. Dalam perjalanan itu aku sangat kagum dengan keindahan dan keasrian Ljusdal. Tempat ini masih indah seperti dulu. Keindahan yang sudah amat sangat lama kulupakan. Tak berapa lama, mobil sophie sampai di depan halaman rumahku.

“Kau tidak ingin mampir Sophie,” tanyaku

“Aku akan segera mengunjungimu dan berbincang bincang seperti dulu, Kau pasti ingin istirahat dan melepas rindu bersama keluargamu,” ujar Sophie dengan senyumnya yang khas.

“Baiklah Sophie, aku tunggu kabar darimu,”

Aku pun turun dan memandang rumah masa kecilku yang terasa hangat. Memang jauh dari kemewahan apartemen di New York yang biasa ku tempati, Tapi rumah ini memberi pancaran kebahagiaan yang tidak aku dapatkan selama merantau di Amerika.

Perlahan aku menaiki tangga rumah dan mengetuk pintu dengan ragu.

Tok Tok Tok…

Terdengar suara ibu menjawab dan berjalan ke arah pintu. Hatiku bergetar, air mataku hampir saja meleleh. Dan ketika pintu itu benar benar terbuka, aku melihat wajah ibuku yang sudah begitu lama kurindukan.

“Ibu” teriakku sambil memeluk wanita tua itu.

Ibu segera membalas pelukanku dan berteriak pada ayah,” James…Clara datang, James,”

Bergegas ayah keluar dan menyambutku dengan penuh kasih sayang, mereka berdua memelukku bergantian persis ketika aku masih kecil dulu. Tak terasa air mataku menetes.

“Kau tampak sehat dan cantik Clara. Ibu bangga padamu nak,” ujar ibu

“Bu, ajak Clara istirahat. Siapkan kamarnya. Mana nak ayah bawakan kopermu.”

Aku melangkah masuk ke dalam rumah masa kecilku. Tiba tiba aku merasa menjelma kembali menjadi anak kecil ayah dan ibu. Satu satunya anak Wanita yang selalu mendapatkan apa yang aku mau. Aku menoleh pada dinding dimana Foto masa kecilku terpasang. Semua masih sama. Persis seperti dulu. Seperti waktu aku meninggalkan rumah ini.

Sesampai di kamarku, aku makin terkejut. Ayah dan ibu menatanya persis seperti dulu saat kutinggalkan.

“Ibu tidak merubah atau menggeser apapun Clara. Semuanya masih sama seperti dulu. Itu, Boneka Teddy bear kesayangan mu, masih tetap di tempatnya. Tidak bergeser sedikitpun,”

Aku terharu melihat kamarku yang begitu rapi dan terpelihara. Ayah dan ibu tidak merubahnya sedikitpun.

“Terimakasih ibu, ayah. Kalian begitu menghargai ku. Kamar ini tidak ada perubahan apapun. Aku merasa tersanjung dan dihargai,”

“Jangan begitu nak. Kau anak kami juga, walaupun kau jauh dan sudah dewasa serta cantik seperti ini. Kau tetap anak perempuan kecilku. Aku tetap menjaga semua barangmu pada tempatnya. Aku selalu yakin, pemilik kamar ini akan pulang pada waktunya. Dia akan kembali ke pangkuanku lagi seperti dulu,” ujar ibu sambil mengelus wajahku dengan penuh kasih.

Aku merasa sangat terharu, hingga air mataku pun meleleh dan kembali kami saling berpelukan.

“Sudah, bu. Biarkan anak wanitamu ini istirahat dengan tenang. Dia tentu lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Buatkan minuman hangat untuknya,” ujar ayah.

“Bu tidak perlu repot. Nanti sore saja. Kita punya banyak waktu untuk berbincang bincang sambil menghabiskan sore bersama. Siapa tahu Northern Light muncul di langit, Aku sudah lama tidak melihatnya,” Ujarku sambil mencium pipi ayah dan ibuku.

“Baiklah jika demikian. Gantilah baju, lalu istirahat dulu. Nanti jam makan siang kami semua menunggumu di meja makan. Kita makan bersama seperti dulu lagi ya.” ujar ibu sambil mencium pipiku.

Aku mengangguk pelan. Rasa bahagia menyelinap di dalam hatiku yang gersang. Kesedihan yang aku rasakan sepanjang perjalanan tadi, sirna seketika, berganti dengan suasana bahagia, tenang dan damai. Kedamaian yang telah lama hilang dari hidupku. .

*****