Lemahnya Trope dan Karakterisasi dalam Novel Lawas Under The Tycoon's Protection
Reading Note : 005
NOTE FROM HARLEQUIN
Leona Night
6/18/20266 min read


Mengulas Novel Harlequin seperti kembali ke masa lalu ketika aku masih duduk di bangku SMA atau SMP sekitar tahun 1990, dimana saat itu buku ini mencapai puncak masa keemasannya. Siapapun remaja di era itu yang menyukai cerita romansa, hampir dapat dipastikan kebanyakan memilih Serial Harlequin sebagai buku Favorit.
Sehingga bagiku yang pernah merasakan masa keemasan Harlequin ( meskipun sampai sekarang serial ini masih jadi Favorit banyak orang), membaca buku ini sama saja dengan berjalan menembus waktu dan kembali ke masa remaja yang penuh dengan rasa ingin tahu. Petualangan cinta Harlequin sangat khas. Serial ini menjanjikan pada setiap pembacanya mereka akan selalu tersenyum di akhir cerita. Kisah kisah Harlequin rata rata berakhir dengan Happy Ever After (HEA). Sehingga bagi kalian yang tidak suka akhir cerita cinta yang Tragis, maka Serial Harlequin adalah pilihan wajib untuk masuk dalam TBR kalian.
Premis Singkat
Under The Tycoon’s Protection merupakan buku OOP ( Out Of Production) terbitan dari Gramedia Pustaka Utama dengan tahun terbit 2007. Novel ini masuk dalam genre Contemporary Romance, ditulis oleh Anna De Palo dengan ketebalan halaman mencapai 211 halaman. Jika ditilik dari panjang cerita, bisa dikatakan buku ini masuk dalam Kategori Novella.
Novel ini mendapat rating 3,5 dari skala 5 versi Goodreads, dan data ini diperoleh rata rata dari pembaca yang melakukan ulasan dibawah tahun 2020. Buku ini sendiri aku dapatkan dari Thrift Market yang ada di E-commerce. Aku sengaja membelinya sebagai salah satu dari pengisi daftar Vintage Nostalgia Book Collection di perpustakaan pribadiku.
Buku ini berkisah tentang Allison Whittaker seorang Asisten Jaksa Wilayah yang sukses, yang mendapatkan ancaman maut sebagai upaya menekan Allison untuk mundur dari pekerjaan sebagai Jaksa Wilayah. Adalah Connor Rafferty, teman masa kecil kakak Allison, yang dimintai bantuan oleh pihak keluarga untuk melindungi Allison.
Sifat Keras kepala Allison membuatnya merasa mampu melindungi diri sendiri dan merasa tidak memerlukan perlindungan siapapun termasuk Connor. Namun celakanya, Allison justru tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari ciuman maut Connor yang memabukkan. Seharusnya Allison tidak membiarkan pria itu tinggal bersamanya, dengan alasan keamanan sekalipun, mengingat Connor adalah pria yang dicintainya semasa remaja.
Alih alih yakin bahwa perasaannya terhadap Connor sudah benar benar hilang , Allison malah merasa bahwa ternyata dirinya masih menjadikan Connor sebagai obyek khayalan meskipun Connor selalu bersikap layaknya seorang kakak terhadap Allison. Setidaknya sampai detik itu dimana mereka berdua sepakat untuk tidak membiarkan apa pun datang mengganggu.
Mengapa Buku Ini Menarik
Seperti halnya cerita Romansa lainnya, buku ini benar benar fokus pada tarik ulur emosi antara dua tokoh utama yaitu Connor dan Allison. Novel ini mengambil trope yang sangat menjanjikan kedalaman konflik psikologis, yaitu Enemy To Lovers.
Ceritanya berjalan begitu mulus, ringkas dan aman, dan dapat dipastikan sangat menghibur bagi mereka yang menyukai kisah kisah Romansa yang menghibur tanpa bumbu konflik yang berat. Novel ini sangat cocok untuk katarsis atau pelarian dari kesibukan dan kelelahan mental spiritual, karena ceritanya yang begitu sederhana tetapi mendayu dayu yang akan membuat siapapun pembacanya merasa rileks setelah tuntas membaca.
Bagiku sendiri aku bisa membaca buku ini sambil menikmati musik di pojokan Cafe yang Cozy dan santai. Hal ini semua dimungkinkan karena Konflik yang dihadirkan ringan, tidak perlu fokus berat dan konsentrasi tinggi. Cerita ini juga menjanjikan Emotional Pay Off sebagai sebuah bentuk kepuasan yang paling disukai pembaca kisah kisah Romansa.
Karakterisasi
Karakter utama dari buku ini berpusat pada dua tokoh utama yaitu Allison dan Connor. Khas dari Harlequin dalam Koleksi Istimewa, hampir dapat dipastikan tokohnya selalu dari kalangan atas, bergelimang harta benda, apakah dia CEO atau Tycoon. Dan dalam Kisah ini Connor adalah seorang Tycoon dalam bisnis keamanan yang meraih suksesnya dengan merangkak dari bawah.
Sementara untuk Allison dikisahkan dia berasal dari keluarga Tycoon lain yang juga sangat sukses dengan bisnisnya, kaya raya cantik dan satu satunya perempuan. Allison adalah tokoh impian semua wanita, betapa tidak, dia sukses meniti karir dalam bidang hukum, mempunyai saudara laki laki yang sangat menyayanginya dan orang tua yang mencintainya dengan luar biasa serta tidak pernah kekurangan apapun sejak lahir ke dunia ini. Jenis Karakter yang sukses sejak lahirlah.
Karakterisasi macam ini memberikan rasa aman yang memicu dopamin release bagi siapapun yang membaca kisah ini. Ada beberapa halaman yang memang mengisahkan tentang masa kecil Connor yang berat, tetapi itu hanya sebagai sebuah referensi latar dari kehidupan tokoh yang membuatnya memiliki sifat protektif dan murah hati, dibandingkan mengisahkan susahnya merintis bisnis Security atau keamanan. Intinya semua berjalan mulus seolah takdir hidup nyaman berpihak pada keduanya.
Satu hal yang mengganggu ku terkait dengan dua tokoh ini adalah kedalaman Karakter yang dibangun oleh penulis. Penulis tidak mengupas secara mendalam bagaimana sudut pandang seorang Allison yang Seorang Jaksa Wilayah, terkait menghadapi segala ancaman yang menimpanya sebagai konsekuensi pekerjaan. Penulis hanya mengupas sisi keras kepala Allison bahwa dia mampu menghadapi tantangan ini seorang diri, dan hampir tidak ada sudut pandang profesional tokoh yang diungkap. Sehingga aku kadang lupa bahwa saat ini sedang membaca kisah seorang jaksa dan bukan anak SMA yang lagi tantrum.
Untuk Connor yang diberi label Tycoon dalam kisah ini, sama sekali tidak menunjukkan aura pebisnis sukses. Tidak ada jejak tulisan yang menggambarkan Connor dengan Aura Tycoon yang kuat, selain dari hanya informasi bahwa perusahaannya bernilai miliaran dolar dan akan susah dihabiskan dalam satu kehidupan. Hal ini membuatku sering lupa bahwa aku berhadapan dengan seorang Tycoon dalam bidang bisnis keamanan. Aku malah sering merasa Connor hanyalah Bodyguard biasa yang kebetulan punya usaha keamanan dan menjaga sendiri kliennya selama 24 jam karena memang dia punya banyak waktu luang.
Bagiku sangat terasa penulis kurang sukses meyakinkanku terkait dengan profil tokoh yang dibangunnya sehingga hingga akhir bacaan, aku seperti merasa sedang membaca kisah cinta anak SMA atau young Adult dibandingkan kisah cinta dewasa yang berlapis ketegangan atau Thriller karena adanya ancaman pembunuhan.
Retakan Cerita
Saat membaca Novel karya siapapun aku tidak bisa melepas kaca mata ku sebagai penulis cerita. Aku senantiasa secara otomatis melakukan beberapa analisa hal dal dalam buku itu yang menarik untuk diambil pelajaran.
A. Trope yang kurang menggigit
Sejak membaca dari halaman awal, aku berpendapat Cerita ini masuk dalam kriteria Contemporary Romance dengan trope Enemy-to-Lovers ringan yang dibungkus premis ancaman pembunuhan. Namun jujur nuansa Enemy To Loversnya sangat lemah. Alasan Heroine untuk tidak menyukai Hero yang didasarkan pada konflik masa lalu ketika Heroine masih SMA, bagiku kurang kuat untuk menjadikan mereka pasangan Enemy.
Aku melihat Konflik itu lebih pada kesalahpahaman masa remaja yang tidak cukup untuk dijadikan dasar ketidak akuran mereka di saat masing masing pihak sudah berkembang dari sisi Karir bahkan bisnis. Rasanya Aneh seorang jaksa yang semestinya punya kemampuan berpikir analitis yang tajam menempatkan rasa tidak sukanya pada Hero atas dasar hero pernah mengadukannya pada orang tuanya bahwa dia pergi Ke Bar saat masih SMA dulu. Jujur aku lebih mengharapkan ketidaksepahaman mereka bersumber dari konflik masa kini saat mereka sudah sama sama dewasa dan sukses, sehingga kesan enemy to lover jadi lebih kuat dan menjadi sebuah alasan yang rasional dan lebih dewasa.
B. Irrational Villain
Dalam cerita ini dikisahkan Heroine mendapatkan ancaman dari pihak yang sedang berperkara yang kasusnya ditangani. Namun sayang Villain atau tokoh antagonis dalam kisah ini hanya ditempelkan sebagai sebuah Background cerita tanpa diberi panggung untuk bicara. Mungkin maksud dari penulis adalah untuk memberikan nuansa misteri yang membuat pembaca bertanya tanya tentang siapa pelakunya.
Tetapi jujur karena spotlight untuk Villain sangat minim, akibatnya tidak tercipta suasana mencekam yang seharusnya muncul dari sebuah kisah ancaman, lebih lagi ancaman pembunuhan. Tidak terasa sama sekali ketegangan dari kisah ancaman dan justru yang terasa di ulang ulang adalah ketegangan kecil antara hero dan Heroine untuk hal seperti perbedaan pendapat sepele yang kemudian secara tiba tiba menjadi sebuah kesepahaman di akhir cerita secara menukik.
Tokoh antagonis atau Villain dalam hal ini diceritakan melakukan beberapa tindakan yang menurutku justru tidak konsisten dengan profiling Villain yang diceritakan penulis. Bagiku ini sangat mengganggu karena menurunkan kualitas Villain menjadi penjahat ecek ecek yang kebetulan punya label mentereng. Akibatnya Villain menjadi tidak rasional dan hanya berkesan tempelan dalam cerita yang timbul dan tenggelam karena kebutuhan plot semata.
Untuk siapa Buku Ini
Novel ini sangat pas dibaca oleh mereka yang menyukai cerita yang dibangun dan ditulis dengan bangunan konflik yang sederhana dan jaminan happy ending yang sudah terasa sejak awal cerita. Novel ini sangat bisa dibaca sambil mendengarkan musik karena percakapan dalam buku ini sangat ringan dan hampir tidak butuh konsentrasi tinggi untuk memahaminya.
Namun untuk pecinta Romansa Thriller buku ini kurang menggigit dan bisa jadi sedikit terasa membosankan karena hampir sebagian besar isi buku ini bercerita bukan tentang ancaman yang diterima sang jaksa tetapi justru pertengkaran kecil model anak SMA yang tarik ulur sepanjang kisahnya.
Kesimpulan
Jika mengikuti penilaian rata rata di Goodreads mungkin aku setuju dengan rate bintang 3,5 dari skala 5. Namun jika aku ingat kembali ini adalah Harlequin, sebuah merek novel romansa yang sudah sangat punya nama dan jelas stylenya yang HEA dan ringan, maka aku lebih condong memberikan bintang 4.
Terlepas dari segala teknik penulisan dan story telling yang bagiku kurang berhasil, namun aku sangat menikmati buku ini dan begitu selesai membacanya aku malah ingin segera mengambil koleksi Harlequin lainya untuk dibaca. Bagiku, novel ini cukup menghibur dan bisa dijadikan salah satu alternatif hiburan sehat bagi mereka yang lelah dengan berbagai beban pikiran yang butuh konsentrasi penuh. Sebuah Novel Romansa yang layak disimpan dan dibaca ulang saat waktu luang. Happy Reading.
*****


