Love That Never Dies


"Cinta Menembus Batas Keabadian"
Blurb
"Beberapa orang memilih untuk hidup dalam kenyataan yang pahit, namun bagiku, sebuah false reality yang indah jauh lebih menyelamatkan."
Seraphina terjebak dalam labirin duka yang tak berujung, hingga ia menemukan Samtals-Grind—sebuah cermin antik yang menjadi gerbang menuju delusi yang paling manis. Di balik pantulan peraknya, hadir sosok Aurellian, pria karismatik yang menawarkan kehangatan di tengah dinginnya menara Gothic yang ia tinggali.
Aurellian adalah segalanya yang Seraphina butuhkan: pelindung, kekasih, dan napas baru. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk cinta yang melintasi batas nalar ini. Di bawah naungan bulan purnama merah (Red Full Moon), batas antara dunia nyata dan bayangan mulai memudar.
Saat rahasia di balik cermin mulai terkuak, Seraphina harus memilih: menghadapi kenyataan yang akan menghancurkan hatinya, atau selamanya terjerat dalam ilusi cinta yang abadi namun mematikan.
Cinta ini tidak akan pernah mati, karena ia memang tidak pernah benar-benar hidup.


Behind The Mirror
"Deepest mourning has the power to manifest the most inconceivable possibilities."
Hujan di menara ini tidak pernah benar-benar membasuh duka. Ia hanya membuat batu-batu Gothic yang dingin ini semakin legam, seolah-olah arsitektur kuno ini juga meratapi sesuatu yang telah lama mati. Di sini, di ruang menara yang hanya diterangi cahaya bulan purnama merah yang menembus jendela kaca patri, aku berdiri. Bukan sebagai seorang wanita, melainkan sebagai wadah dari puing-puing kenangan.
Bau mawar merebak. Namun, ini bukan mawar segar yang mekar di musim semi. Ini adalah aroma mawar yang dikeringkan oleh waktu, mawar yang telah kehilangan warna merahnya namun menolak untuk hancur menjadi debu. Mereka bertebaran di lantai batu, membentuk jalan setapak menuju satu-satunya benda yang masih memiliki "kehidupan" di ruangan ini: Samtals-Grind.
Cermin antik itu berdiri angkuh dalam bingkai perak yang dihiasi ukiran rune kuno. Permukaannya begitu jernih, begitu dingin, seolah-olah ia siap membekukan siapa saja yang berani menatapnya terlalu lama. Tapi aku tidak takut dingin. Aku telah mati kedinginan sejak hari itu.
Perlahan, aku mengangkat tanganku yang gemetar. Ujung jariku menyentuh permukaan kaca yang beku. Sebuah riak kecil muncul, memecah pantulan wajahku yang pucat dan berair mata.
Dan di sanalah dia.
Aurellian.
Dia tidak datang dengan derap langkah kaki, melainkan mewujud dari kegelapan perak di dalam cermin. Jauh lebih tampan dari yang pernah kuingat, jauh lebih nyata dari siapa pun yang masih bernapas di luar sana. Matanya menatapku dengan kehangatan yang bisa melelehkan es di jiwaku. Senyum tipisnya adalah candu yang membuatku melupakan bahwa duniaku di sisi ini telah hancur.
Ia mengangkat tangannya yang besar, menempelkan telapak tangannya tepat di mana telapak tanganku berada. Hanya terpisah oleh selapis tipis kaca perak yang mematikan.
"Sera" bisiknya, suaranya terdengar seperti alunan melodi biola yang dimainkan di tengah badai—begitu indah, namun penuh dengan kedukaan yang tersembunyi. "Cinta ini tidak akan pernah mati."
Tenggorokanku tercekat. Air mata yang kutahan akhirnya jatuh, mengalir melewati pipiku, namun di dalam cermin, Aurellian hanya tersenyum. Senyum yang begitu meyakinkan, begitu memabukkan, sehingga aku rela menyerahkan jiwaku hanya untuk bisa menyentuhnya sekali lagi.
"Beberapa orang memilih untuk hidup dalam kenyataan yang pahit," bisikku, suaraku nyaris tak terdengar, seolah takut mengganggu hantu di sekelilingku. "Namun bagiku, Aurellian... sebuah false reality yang indah far more saving."
Di bawah saksi bulan merah yang mengintip dari balik awan, aku membuat sumpahku. Biarlah dunia luar hancur. Biarlah konspirasi di bawah Red Full Moon terkuak. Selama Aurellian menungguku di balik bayangan perak ini, aku akan terus hidup dalam kebohongan yang paling suci ini.
Karena, meski dunia menolaknya, bagi kami... Cinta menebus batas keabadian.


Frozen
"Time does not heal; it merely entombs the heart in ice."
Waktu menyembuhkan luka, begitu kata mereka. Tapi mereka tak pernah mengatakan apa yang harus kulakukan pada kenangan. Terutama kenangan yang menolak mati, yang tetap hidup di sela-sela setiap tarikan nafasku, seperti hantu yang enggan menyeberang meski fajar telah tiba. Bagiku, pepatah itu adalah kebohongan yang manis namun beracun. Waktu tidak menyembuhkan; ia hanya mengawetkan rasa sakit, membekukannya dalam tabung kaca agar tetap utuh dan tajam, siap mengiris kapan pun aku mencoba bergerak maju.
Tujuh purnama telah berlalu sejak kepergiannya, dan aku masih tetap ada di titik ini. Titik kehancuran yang begitu dalam hingga aku tidak mampu lagi berpikir jernih tentang masa depanku. Bagiku, masa depan sudah tidak ada. Masa depan telah pergi, terbungkus kain kafan bersama kematiannya di dasar jurang Nørstad.
Di menara keluarga Elswyn yang tinggi ini, keheningan memiliki suaranya sendiri. Ia berbisik melalui derit kayu tangga tua dan desau angin yang menyusup di celah batu dinding. Cahaya matahari musim dingin yang pucat merayap masuk melalui jendela sempit, menyinari butiran debu yang menari di atas meja jahitku. Di sana, setumpuk kain sutra putih yang kusam menatapku dengan nanar. Jemariku yang pucat dan gemetar meraba permukaan kain itu—dingin, sekaku hatiku. Gaun yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa kini hanyalah tumpukan kain tak bermakna, sebuah fragmen dari rencana yang hancur.
Malam adalah musuh terbesarku. Sejak peti mati itu ditutup, tidur bukan lagi tempat istirahat, melainkan medan perang. Setiap kali aku memejamkan mata, aku kembali ke jembatan tua Nørstad. Aku bisa mendengar suara decit ban mobil yang menghantam es, suara kaca yang pecah seperti ribuan kristal duka, dan dentum logam yang menghujam dasar jurang. Di dalam mimpi buruk itu, aku selalu terlambat. Aku berdiri di tepi jembatan, menyaksikan lampu belakang mobilnya memudar ditelan kegelapan, dan aku hanya bisa menjerit hingga tenggorokanku berdarah—namun tak ada suara yang keluar.
Aku terbangun dengan napas tersengal dan keringat dingin yang membasahi seprai, hanya untuk menyadari bahwa sisi tempat tidur di sebelahku tetap kosong dan dingin. Kesunyian itu kemudian mencekikku, lebih kejam daripada mimpi buruk mana pun. Rasanya seolah-olah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk melupakannya, sementara aku dibiarkan menjadi satu-satunya museum hidup bagi keberadaannya yang telah pupus.
Aku ingat malam terakhir itu. Vinterdal sedang diselimuti salju tipis saat Aurellian berpamitan.
“Sebulan lagi kita akan menikah. Aku ingin paling tidak kau tiba kembali di sini seminggu sebelum pernikahan kita,” ujarku waktu itu. Aku masih bisa merasakan kehangatan jemarinya saat ia menggenggam tanganku, sebuah kontras yang menyakitkan dengan udara luar yang menggigit.
Ia mengangguk, senyumnya yang tenang adalah satu-satunya alasan mengapa menara Elswyn yang muram ini sempat terasa seperti rumah. Aurellian Vale bukan orang Vinterdal. Ia adalah peneliti esoterik dari Institutet för Esoterisk Forskning och Arv (IEFA). Kedatangannya ke desa kami semula hanya untuk membedah sejarah kuno dan praktik necromancy yang dianggap arkais oleh dunia modern.
Bagi penduduk desa, aku adalah sosok yang harus dihindari; keturunan Elswyn, sang Keeper of the Veil yang berurusan dengan orang mati. Mereka menatapku dengan campuran rasa takut dan benci yang tersembunyi di balik kesopanan palsu. Namun, Aurellian berbeda. Saat pertama kali ia mengetuk pintu menaraku untuk meminta wawancara tentang legenda De Profetiorum Custodiae (Penjagaan Nubuat Vinterdal), ia tidak menatapku seolah aku adalah monster.
Ia menatapku sebagai sebuah keajaiban.
“Kau bukan sekadar subjek penelitian, Seraphina,” katanya suatu sore, saat kami duduk di antara tumpukan manuskrip tua. “Kau adalah harmoni di antara dua dunia yang ditakuti orang lain.”
Percakapan yang intens dan kesamaan frekuensi jiwa membuat kedekatan di antara kami terbangun dengan begitu organik. Aku kagum akan kelembutan dan kesabarannya menghadapi mood swing-ku yang sering kali meledak-ledak saat menceritakan beban sejarah keluargaku. Baginya, kemampuanku sebagai necromancer bukanlah sesuatu yang gelap, melainkan sebuah bentuk kesenian spiritual yang luhur. Di dekatnya, aku tidak merasa perlu bersembunyi. Aku merasa seperti manusia kembali.
Kepergiannya ke Lyzenga, sebuah kota kecil di lembah timur yang terkenal dengan Observatorium Aurora Borealis, seharusnya hanya berlangsung seminggu. Ia ingin menghadiri simposium internasional sebelum kami benar-benar mengikat janji. Segalanya tampak begitu lancar, begitu penuh harapan. Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk mengingatkan manusia akan kerapuhan mereka.
Kabar itu datang di sore yang kelabu, saat aku sedang duduk di meja jahit ini, berusaha menyelesaikan detail bordir pada kerah gaun pengantinku. Aku sedang membayangkan bagaimana rupa Aurellian saat melihatku memakainya nanti. Aku baru saja menarik benang untuk jahitan terakhir ketika suara ketukan keras di pintu bawah merobek kesunyian menara.
Pada saat yang sama, jarum jahit yang kupegang tiba-tiba patah. Ujungnya yang tajam menusuk ujung telunjuk kananku cukup dalam. Aku tidak merintih, aku hanya menatap dengan hampa saat setetes darah merah pekat jatuh dan meresap ke dalam kain sutra putih yang bersih itu. Merah di atas putih. Sebuah noda yang takkan pernah bisa hilang.
Di bawah sana, seorang utusan dari kota berdiri dengan wajah pucat, membawa berita yang merenggut seluruh cahaya dari hidupku. Aurellian tak pernah tiba di Lyzenga. Mobilnya tergelincir di jalan bersalju, menghantam pembatas jembatan tua Nørstad, dan terjun ke jurang sedalam tiga puluh meter. Hanya tujuh belas kilometer dari kota tujuan. Hanya tujuh belas kilometer dari keselamatan.
Dunia seolah runtuh di sekitarku. Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya merasakan kabut tebal mulai merangsek masuk ke dalam otakku, membekukan setiap sirkuit pemikiran. Aku berdiri membeku di tengah ruangan, membiarkan darah dari jariku terus menetes, mengotori lantai kayu dan gaun pengantin yang kini terasa seperti kain kafan bagi impianku.
Tidak satu tetes pun air mata membasahi pipiku hari itu. Air mata itu seolah mengering dan mati di dalam kelenjarnya. Sepertinya, setelah kehilangan ayah, ibu, dan nenek secara berurutan, stok air mataku telah habis. Aku kembali menjadi Seraphina yang lama—sebatang kara, dingin, dan terpenjara dalam menara Elswyn. Rasa sepi ini bukan lagi sekadar perasaan; ia telah menjelma menjadi entitas fisik yang duduk di pundakku, memberatkan setiap langkahku, dan membisikkan bahwa aku adalah raga yang gagal.
Aku sering bertanya-tanya pada kegelapan malam: apa gunanya menjadi keturunan Veilwalker jika aku bahkan tidak bisa merasakan hembusan terakhir napasnya? Apa gunanya darah kuno ini jika ia membiarkanku membusuk dalam penantian yang mustahil? Kepedihan ini melampaui logika; ia adalah lubang hitam yang melahap kewarasanku sedikit demi sedikit. Aku lelah terjaga, namun aku lebih takut untuk tidur.
Baju pernikahan itu tidak kubuang. Aku tidak punya tenaga untuk membencinya. Aku hanya melipatnya dengan gerakan robotik, menyembunyikannya di dalam lemari pakaian yang paling gelap, seolah-olah dengan menutup pintu lemari itu, aku bisa menyembunyikan kenyataan bahwa setengah dari jiwaku telah terkubur di dasar jurang Nørstad.
Kini, tujuh purnama berlalu, dan keheningan di menara ini terasa semakin pekat, menekan paru-paruku hingga setiap tarikan napas terasa seperti beban yang menyiksa. Aku menatap meja jahit yang berdebu, menatap noda darah kering di atas kain sutra itu, dan menyadari satu hal: maut mungkin telah mengambil raganya, tetapi ia meninggalkan kenangan yang menolak untuk mati di sini, bersamaku.
Aku merasa duniaku sudah tidak memiliki warna lagi. Langit Vinterdal yang biasanya indah kini hanya tampak seperti kanvas abu-abu yang menertawakan dukaku. Jika maut memang sebuah akhir, mengapa ia tidak mengambilku sekalian? Mengapa aku dibiarkan hidup sebagai mayat yang masih bernapas, menanti sesuatu yang takkan pernah kembali secara alami?
Di tengah keputusasaan yang merajam ini, sebuah bisikan jahat mulai tumbuh di sudut gelap pikiranku. Sebuah pikiran yang semula kutolak, namun kini terasa seperti satu-satunya pelarian yang masuk akal. Jika tirai antara dua dunia memang ada, dan jika darah Elswyn-ku memang memiliki kunci untuk membukanya, maka haruskah aku terus tunduk pada takdir yang begitu kejam ini? Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin Aurellian kembali, meski aku harus merobek langit dan menjemputnya langsung dari tangan kematian.
******


A Shoulder To Cry On
"Sometimes, the strongest heart is not the one that endures in silence,
but the one that finally breaks upon a friendly shoulder."
A Solitary Existence
Sejak kematian Aurellian, aku hampir tidak pernah lagi menerima layanan Necromancy. Aku enggan menjadi penghubung antara klienku dengan dunia orang mati. Karena setiap kali melakukannya, aku seperti merasa mengunjungi dunia Aurellian, tanpa menengok padanya. Seperti dia ada di dekatku tetapi fokus dan energi, aku gunakan untuk orang lain dan parahnya lagi untuk uang. Rasa bersalah dan tidak nyaman itu menghantuiku setiap saat.
Hingga di sinilah aku, memilih untuk berdiam diri di atas menara Elswyn dan larut dalam pikiran dan lamunanku sendiri. Untuk makan sehari hari aku hanya mengandalkan telur ayam umbaran yang aku miliki. Aku hanya keluar saat mencari makan untuk ayam ayamku dengan berjalan jalan ke tepi hutan, memungut beberapa biji bijian dan kembali saat kantung sudah penuh. Lalu aku menyebarnya untuk ayamku. Atau aku pergi ke tetangga menukar beberapa butir telur dengan bekatul atau dedak. Sehingga ayam ayam itu tetap bisa makan kenyang walau aku tidak lagi menerima klien.
Seperti mengerti suasana hati dan isi pikiranku, ayam ayam itu tumbuh dengan sehat walau aku hanya memberi mereka makan sederhana. Mereka seperti ingin berkata, walau aku tidak menerima klien mereka bisa memprovide kebutuhanku akan uang dan makanan, toh aku tidak butuh banyak.
Begitulah hari hariku, aku lebih banyak diam, larut dalam pikiran dan kesendirian ku. Entahlah, aku justru mampu menahan rasa sedih karena kehilangan, justru saat aku sendiri dibandingkan jika ditemani oleh kerabat atau teman. Bukan tidak menghargai kehadiran mereka, tetapi keberadaan mereka justru membuka memori tentang Aurellian jauh lebih dalam dan semakin sulit dilupakan. Maklum, karena teman ku juga teman Aurellian demikian juga sebaliknya.
Aku hanya turun dari menara untuk mandi, atau memasak telur dan air panas untuk makan minum, selebihnya aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan kecil di lantai atas menara yang penuh dengan buku buku tua berdebu yang kadang aku sendiri bertanya tanya ini buku buku tentang apa. Jujur saja, aroma buku tua dan debu tipis yang melapisinya membuatku tenang. Aku seperti kembali ke masa kecilku saat ayah, ibu dan nenek masih hidup. Mereka seperti kembali dari alam kematian menemani kesunyian dan kesendirianku.
Kadang aku merasa sebagian jiwaku telah mati. Aku seperti Zombie yang berkeliaran di dunia manusia entah sampai kapan. Aku merasa hidupku sudah tidak berharga lagi. Mungkin saja kematian yang sekarang memeluk Aurellian lebih indah dan bersahabat dari pada kehidupanku.
Betapa tidak, di alam kematian itu, dia tidak sendirian. Ada ayah, ibu dan nenek dari pihakku dan tentu saja ibu dan kakak laki laki dari pihak dia. Mereka mungkin saja berkumpul di suatu tempat, melihat dan menertawakan kesedihan serta kesunyianku. Bisa jadi mereka berpikir, mengapa aku tidak segera menyusul dan masih saja bertahan di dunia yang absurd dan kejam ini.
Pikiran seperti itu senantiasa berkelindan di kepalaku, mengisi setiap kekosongan, seolah mereka adalah bala tentara kematian yang mengintai dan siap menarikku ke alam kosong untuk membuatku menjadi sedikit gila. Dan bisa jadi dengan kegilaan itu mereka punya alasan untuk mencabut nyawaku dan mengeluarkan aku dari lubang kehidupan yang sunyi dan sudah tidak berarti ini. Sunggung jika itu memang benar, aku menanti dengan tidak sabar kematian itu.
*****
Hannah
Pagi itu seperti biasa aku tertidur di ruang buku menara Elswyn. Perbedaan menonjol adalah tidak seperti biasanya, tiba tiba saja pintu depan di gedor gedor dengan kencang oleh seseorang. Dengan langkah berat aku melihat ke arah jendela menara untuk mengetahui, siapa manusia yang tega mengacau ketenanganku pagi ini.
Aku melihat seorang wanita berambut perak keputihan, membawa keranjang dari penjalin seperti yang biasa digunakan oleh penduduk desa Vinterdal untuk menyimpan makanan dan minuman. Aku tahu siapa dia. Hannah, calon Bridesmaid ku yang tentu saja gagal mengenakan gaun indahnya. Sepupuku yang satu ini memang sangat peduli padaku. Mungkin tinggal dia satu satunya yang masih berpikir bagaimana kondisiku pasca meninggalnya Aurellian.
Bergegas aku turun dan membukakan pintu untuknya. Begitu melihatku dia menjerit dan spontan memelukku erat erat.
“Sera…. Kau terlihat begitu kurus dan pucat. Ada apa denganmu? Kau sehat ?”
“Ya Hanah, tentu, I am Fine.”
“No Sera, You are not Fine. Kamu sedang tidak baik baik saja. Aku mendengar dari Anita, Lupe dan banyak lagi, kau tidak pernah keluar rumah, dan kau menghindari mereka.”
Aku mengedikkan bahu dan berkata, “Sudahlah masuk dulu, kita bicara di dalam.”
Lalu dia mengulurkan keranjangnya,” Ini aku bawa beberapa roti Sourdough kesukaanmu, mentega dan juga daging lapis. Kau harus makan, nanti aku bikinin kau teh herbal, oke?”
Aku menerima keranjang berisi makanan itu, sembari menggandengnya masuk. Jujur Hannah adalah orang pertama yang masuk ke rumah ini sejak kematian Aurellian. Bisa dibilang aku agak sedikit nervous, khawatir dia merasakan sensasi buruk tentang rumah yang sudah tertutup kurang lebih selama 7 bulan. Aku juga khawatir dia merasa bahwa aku mungkin saja mulai kehilangan akal.
Persis seperti dugaanku, Hannah memandang aneh ke sekeliling rumah dan berkata, “Sepertinya rumah ini jarang terkena sinar matahari pagi. Kau sepertinya bahkan tidak pernah membuka jendela rumah ini Sera. Ada apa denganmu?”
Aku hanya menunduk mendengar ucapannya, aku pura pura tidak paham kekhawatirannya. Sambil mengeluarkan roti yang dia bawa, mengoles mentega dan menata daging lapis diatasnya, aku memandangnya dengan tatapan tak bersalah.
“Mungkin aku alergi dingin, aku merasa udara Vinterdal akhir akhir ini kelewat dingin,” jawabku sekenanya.
“Tidak sayang, kau sengaja menutup diri. Dengarkan aku, aku paham kau sangat terpukul dengan kematian Aurellian. Tapi kita tidak bisa membeku dalam memori tentang dia dan peristiwa itu. Aku paham kematiannya menghancurkan mimpimu, pernikahan itu, bahkan impian tentang menjalin kehidupan berkeluarga. Tapi kau harus tahu Sera, hidup di luar sana tidak berhenti.”
Aku diam saja dan berpura pura tidak peduli dengan apa yang dikatakannya. Aku ambil teko yang airnya sudah mendidih dan hendak membuat teh. Saat itulah aku sadar, dapurku sudah lama kosong, aku sudah tidak ingat lagi kapan terakhir membeli teh, gula, kopi dan beberapa keperluan lain.
“Aku….teh habis…”
Hannah mengeluarkan teh dan gula serta kopi dari dalam tasnya.
“Sengaja aku tidak menaruhnya di keranjang. Aku ingin tahu seberapa lama kau meninggalkan kehidupan. Dan aku benar, kau bahkan tidak pernah belanja apapun. Kau hanya makan telur lupita ( nama ayamku) dan minum air yang mungkin juga tidak pernah kau masak. Oh Sera…hentikan semua ini dan jangan membuat dirimu sendiri mati pelan pelan.”
Aku tersenyum pahit. Dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, dia benar, aku terlalu ingin mati, sehingga lupa bahwa aku masih hidup. Bahkan Lupita saja masih berkarya dengan telurnya untuk membuatku tetap makan, sementara aku diam mematung dan tidak melakukan apapun untuk hidupku.
“Aku tahu, aku terlalu asyik dengan duniaku yang hancur, hingga melupakan apa yang masih tersisa untukku. Namun Hannah, adakah orang yang mampu bertahan setelah dia kehilangan segalanya? Aku tidak hanya kehilangan Aurellian, aku kehilangan Ayah, ibu, nenek disaat aku belum siap. Dan mereka seperti sedang janjian meninggalkanku sendiri di rumah ini. Mereka pergi dan tidak pernah kembali bahkan untuk menyapaku.”
Hannah memelukku dan berkata,” Aku masih ada di sini Sera, kau masih punya aku. Masih ada orang yang peduli dan menjengukmu. Kau tidak sepenuhnya sendirian.”
Kami pun berpelukan dan menangis bersama. Baru kali ini aku merasakan pundak dan pelukan manusia dimana aku bisa menangis keras dan tidak peduli dengan rasa malu atau pikiran takut dihakimi. Hannah benar benar menjadi pundak yang sudah lama aku impikan.
*****


The Whispering Glass
"Sometimes we place more faith in a dream than in reality itself, and when we do, we are already falling into the abyss of illusion."
Denial
Pagi itu Hannah sudah mulai membersihkan rumahku. Dia membuka pintu dan jendela lebar lebar lalu menyapu semua ruangan dan bahkan setiap sudutnya. Aku sudah menduga dia akan melakukan itu. Dia memang senang bersih bersih, apa lagi jika melihat rumahku yang menurutnya tampak tidak terawat.
“Kau harus lebih sering meluangkan waktu untuk membersihkan rumah ini Sera. Lihat, debunya cukup tebal. Aku yakin kau pasti tidak pernah membersihkannya lebih dari 3 bulan, “ ujar Sera di tengah kegiatan menyapunya pagi itu.
“Buat apa aku membersihkan rumah terlalu sering, toh aku sedang tidak ingin menerima tamu. Andai saja bukan kau, aku sudah pasti menolak kunjunganmu,” jawabku sambil bermalas malasan.
“Kau tidak seharusnya begitu Sera, aku kenal baik dirimu. Dulu kau sangat rajin, suka bergaul dan rumah ini selalu bersih dan tertata. Sejak kepergian Aurellian, kau seperti tenggelam dalam sungai yang membeku. Aku bahkan menemukan piring kotor yang menjamur karena begitu lama tidak kau bersihkan. ”
“Jangan selalu sangkut pautkan segalanya dengan kepergian Aurellian. Aku malas karena memang sedang malas. Aku tidak suka kau menyalahkan dia karena jorok yang aku buat.”
Hannah berhenti menyapu dan mendekatiku, lalu dia memegang wajahku dengan kedua tangannya dan berkata,” Lihat mataku Sera, kau jangan pernah merasa bahwa aku tidak berempati atas kehilangan yang kau alami. Tetapi ini sudah hampir 7 bulan, dan sudah saatnya kau bangkit dan memulai lagi hidupmu. Kau masih sangat muda, cantik, banyak pria di luar sana selain Aurel. Kau berhak memberi dirimu sendiri kesempatan untuk memulai hal baru, cinta baru bahkan kehidupan baru. Jangan tenggelam dalam kesedihan yang tak bertepi. Kamu harus bangkit Sera.”
Aku tahu maksud Hannah baik. Dia adalah satu satunya orang yang peduli pada penderitaan dan kesedihanku. Meskipun aku tidak sepenuhnya sependapat dengan caranya, yang menurutku terlalu ikut campur, tetapi aku bisa menerimanya.
“Terimakasih Hannah, kau selalu baik padaku,” jawabku sambil memeluknya erat.
Setelah itu kita melanjutkan kegiatan bersih bersih dan dia mulai membongkar serta membersihkan kamar tidurku. Aku bisa melihat wajahnya yang penuh keprihatinan. Sama dengan ruangan lain, di kamar tidurku pun dia merasa debu terlalu tebal dan kotor. Lalu sepintas dia membuka lemari pakaianku yang berantakan dan membantuku menata dan merapikannya.
Saat itulah dia melihat baju pengantinku yang masih tersimpan. Dia termenung lalu menoleh padaku dan berkata, “ Buat apa kau simpan ini? Bukankah dengan menyimpannya kau hanya memelihara luka dan membuat dirimu semakin sulit melupakan dia? Ingat Sera dia sudah meninggal, segalanya sudah berakhir. Saranku berikan gaun ini pada orang lain, atau buang ,bakar, atau apalah sehingga kau tidak lagi terpaku pada kenangan atas Aurellian.”
Kali ini aku seperti punya kekuatan untuk menjawab pernyataan Hannah dengan lebih berani, “Kau salah Hannah, tidak ada yang berakhir antara aku dan Aurellian. Kematian tidak bisa mengakhiri hubunganku dengannya.”
“Apa maksudmu Sera? Kau tidak hendak menyangkal bahwa hubungan kalian sudah lama berakhir bukan? ”
“Sebagai Necromancer, aku masih bisa…”
“Jangan kau katakan bahwa kau menghubungi dia dengan kemampuanmu itu. Jangan ….stop jangan lakukan itu. Hal itu sangat berbahaya, kau akan terjebak pada sikap denial bahwa dia sudah meninggal dan hubungan kalian sudah semestinya berakhir. Dan Itu takdir tak terbantahkan Sera. ”
“Aku belum pernah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak hari pertama dia meninggal, yaitu berkomunikasi dengannya. Tetapi bukan tidak mungkin ke depan aku akan melakukannya.”
“Ingatlah Sera tugas kita sebagai Keeper of the Veil adalah menjaga batas dua alam, bukan melanggarnya. Kau tidak bisa membawa dia kembali meski hanya dalam bentuk suara ke dunia kita. Itu mustahil.”
Aku menatapnya dengan mata berbinar dengan penuh keyakinan seraya berkata, "Jika kita penjaga gerbangnya, bukankah artinya kita juga pemegang kuncinya?"
“Maksudmu Sera….kau ingin mencoba kemampuan keluarga kita yang diwariskan secara turun temurun sebagai Veil Walker? “
Aku mengangguk ke arahnya dan dia malah menggeleng dengan keras.
“No, Sera.”
“Yes Hannah, aku akan melakukannya entah kapan.”
*****
Samtals-Grind
Acara bersih bersih pun berlanjut, kami bekerjasama membersihkan semua ruangan yang selama ini jarang aku sentuh. Sebenarnya aku agak malu pada Hannah, karena hampir semua ruangan kotor dan berdebu. Aku merasa diriku sangat malas dan jorok. Namun bagaimana lagi aku memang tidak punya gairah dan tenaga, jangankan untuk membersihkan ruangan, bahkan untuk hidup pun aku malas.
“Tinggal basement Sera. Sebenarnya rumah ini tidak terlalu besar. Tetapi karena kau sudah mengabaikan perawatannya selama berbulan bulan, maka kerja kerasa jadi tak terelakkan.”
“Aku memang tidak punya tenaga untuk hal hal macam ini Han. Aku sudah enggan untuk menata hidupku.”
“Jangan begitu, ayo kita mulai dari nol lagi ok?”
Aku mengangguk dan menatapnya dengan penuh rasa syukur. Syukur akhirnya dia datang dan membantuku membersihkan rumah ini, setidaknya aku merasa tertolong dan tidak menjadi ahli waris yang ceroboh. Aku mengambil kunci Basement dan membukanya. Udara dingin menabrak wajahku dari bagian dalam Basement. Dingin yang terasa Familiar bagiku. Dingin dari alam lain yang membeku.
“Syukurlah Sera, basement ini tidak terlalu besar. Lihat, kita bisa membersihkannya dengan mudah dan cepat,” ujar Hannah.
Aku mengangguk dan kami pun mulai bekerja. Aku menyapu di bagian belakang dan Hannah melap semua kusen pintu. Sampai akhirnya sapuku terantuk pada sebuah lemari yang tertutup kain warna ungu. Aku terkejut, karena memang sedikit melamun saat menyapu. Penasaran aku perhatikan lemari itu. Mengapa ada lemari ditutup kain beludru ungu? Lemari apa ini.
Karena rasa ingin tahu yangbesat, dan berharap bisa menggunakan lemari itu, aku pun menarik kain beludru ungu itu. Dan….aku tertegun, menatap bayangan diriku sendiri di sana. Ternyata benda tertutup kain beludru ungu itu bukanlah lemari seperti yang kuduga. Benda itu adalah cermin besar yang tingginya sedikit melebihi tinggi badanku.
“Hannah, lihat ini….aku baru tahu di basement ada kaca sebesar ini.”
“Wah, kacanya sangat cantik Sera. Sayang sekali jika kau simpan di bawah sini. Sebaiknya Cermin ini kau simpan di kamar tidurmu, sehingga nanti jika kau hendak melakukan Fitting baju atau berhias, kau bisa melihat pantulan dirimu dengan baik. Aku perhatikan, kau hanya menggunakan cermin tangan yang sudah usang untuk berdandan. ”
“Ya kau benar Han, cermin ini bisa aku pakai. Hemm maukah kau membantuku mengangkatnya ke kamarku? Aku rasa cermin ini tidak terlalu berat untuk kita angkat bersama.”
“Tentu saja Sera, ayo kita pindahkan ke kamarmu.”
Dengan susah payah dan setelah sempat berhenti beberapa kali, akhirnya cermin itu pun dapat kami pindahkan ke kamarku. Cermin yang sungguh indah, ukiran kayu dengan vernis yang masih bagus. Sepertinya bingkai cermin ini menggunakan kayu Jati.
Aku mulai membersihkan bingkai cermin dengan menggunakan lap basah untuk mengangkat semua debu yang melekat. Dalam hati aku berbisik, heran, mengapa ayah dan ibu tidak pernah bercerita tentang cermin ini.
“Lihat, indah bukan?” celetuk Hannah. Lalu dia menyeret dan memelukku dari belakang di depan cermin itu. “Sera, lihat dirimu. Kau masih muda dan cantik. Jangan sia sia kan masa muda dengan merenungi apa yang telah pergi. Kau harus bangkit Sera. Semoga dengan adanya cermin ini, kau bisa bersemangat lagi untuk berdandan dan mempercantik diri. Ok?”
Aku hanya mengangguk menanggapi perkataan Hannah. Aku melihat diriku ke dalam cermin, kurus, pucat dan layu. Aku seperti mayat hidup yang kembali dari kematian. Lalu aku menoleh ke atas dan mengamati bagian atas cermin. Ada sebuah tulisan kecil di sana. Aku mengambil senter dan kaca pembesar untuk memastikan apa yang tertulis. Sebuah ukiran kalimat kecil yang aku tidak sepenuhnya paham. Kalimat itu berbunyi “Samtals-Grind’.
Sepertinya itu bahasa Swedia Kuno (Fornsvenska). Hemm aku ingat, di menara ada kamus bahasa Fornsvenska. Mungkin sore nanti saat Hannah memasak aku bisa melihat makna tulisan itu di kamus. Aku jadi sangat bersemangat dan seperti ada gairah kehidupan baru memasuki aliran darahku. Aneh hanya karena sebuah cermin aku jadi merasa memiliki semangat hidup lagi.
*****
Dream that So Real
Sore itu, seperti rencanaku, saat Hannah memasak di dapur, aku segera naik ke menara dan masuk ke ruang buku. Aku mencari kamus Fornsvenska, dan akhirnya aku menemukannya di sudut rak buku bagian belakang. Untung kemarin aku membantu Hannah membersihkan rak buku ini sehingga aku tahu ada kamus Bahasa Swedia kuno di dalam deretan ratusan buku yang tersimpan di sini.
Segera aku buka dan cari makna Samtals-Grind. Dalam satu deretan kata dalam kamus itu, akhirnya aku menemukan maknanya, “ Gerbang Percakapan / Gerbang Dialog” . Aneh, mengapa kaca itu bergravir kata gerbang percakapan? Bercakap dengan siapa? Apakah dengan diri sendiri atau seperti apa maksudnya.
Aku tidak menceritakan pada Hannah tentang temuan ku ini. Aku tidak ingin dia menjadi paranoid lalu kembali memindahkan cermin itu ke basement. Aku seperti sudah jatuh hati pada cermin itu, ditambah lagi tulisan yang ku temukan, membuat pikiranku melayang membayangkan sesuatu.
Hemm siapa tahu cermin itu adalah gerbang percakapan dengan dunia seberang dunia lain, tempat Aurellian berada. Jika benar begitu, maka aku bisa menggunakannya untuk menghubungi Aurellian dan kembali menjalin komunikasi. Hatiku berdebar keras memikirkan kemungkinan itu.
Malamnya aku sengaja menggeser cermin itu dan menempatkannya persis menghadap tempat tidur, sehingga setiap kali bangun aku langsung menatap cermin. Harapanku , Cahaya rembulan yang jatuh pada permukaan cermin bisa memantul padaku dan siapa tahu membuka portal komunikasi dengan alam lain.
Malam itu aku mencoba tidur dan berharap sesuatu terjadi. Entah itu mimpi atau sejenisnya. Saat mataku mulai terasa berat, aku mulai melihat sesuatu bergerak di dalam cermin. Sesosok bayangan pria yang samar tapi pasti perlahan lahan mewujud. Dan….Ya Tuhan, aku melihat dia…..Aurellian. Dia muncul persis dihadapanku ( dalam cermin) dan berkata,” Apa kabar Seraphina…..aku merindukanmu.”
*****


The Glass Delusion
"Sometimes we place more faith in a dream than in reality itself, and when we do, we are already falling into the abyss of illusion."
The First Glimps
Aku menatap cermin dengan tajam. Aku ingin memastikan bahwa apa yang aku lihat adalah nyata dan bukan ilusi. Berkali kali aku mencoba mengedipkan mataku dan menatapnya lagi. Dia tetap ada di sana. Bayangan Aurellian. Tidak ada rasa cemas atau takut sedikitpun padaku atas penglihatan itu. Justru dadaku dipenuhi rasa haru yang teramat sangat.
“Kau kah itu Aurellian?” tanyaku dengan suara bergetar.
Bayangan itu menjawab,” Ya, aku di sini.”
“Bagaimana mungkin ini terjadi? Bukankah kau sudah mati? Bagaimana mungkin kau ada di sini?”
“Aku tidak berada di alam yang sama denganmu Sera. Aku ada di alam lain. Tapi aku melihatmu melalui gerbang ini.”
Sepertinya Aurellian tidak paham bahwa kami berbicara melalui perantaraan sebuah cermin. Aku bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan mendekatinya. Cermin itu tampak bercahaya laksana di siang hari. Sementara kamarku gelap gulita, karena memang sudah malam dan lampu kamar ku padamkan.
Perlahan dengan penuh keraguan ku ulurkan tangan menyentuh permukaan cermin. Dingin, dan keras. Tapi aku melihat dengan jelas wajah Aurellian, dengan pakaian birunya yang indah. Dia tampak sangat tampan dan kondisinya begitu sempurna. Tidak ada lagi sisa sisa kecelakaan di wajah dan tubuhnya, yang merupakan sebab kematiannya dulu.
Tanpa terasa air mataku mengalir, dan aku pun berkata, “Apakah kau baik baik saja di sana?” Aurellian menatapku penuh haru dan menjawab, “ Tidak, aku kesepian dan merindukanmu.” Air mataku semakin deras mengalir. Dan dengan suara bergetar aku bertanya, “Kemana saja kau selama ini sayang? Mengapa kau tinggalkan aku sendiri di dalam dunia yang sepi, dingin dan kejam ini.”
“Maafkan Aku Seraphina. Semua sudah takdir.”
“Tidak Aurellian, jangan katakan perpisahan kita adalah takdir. Aku ….aku masih belum siap kehilangan dirimu. Aku gila karena kepergianmu.”
“Maafkan aku sayang, aku tahu. Karena hal itulah aku datang. Aku mendengar setiap tangisan mu dan aku merasakan setiap tetes air matamu seperti api yang menyengat jiwaku. Aku sangat sedih. Karena itulah sekarang aku menemuimu.”
“Mengapa baru sekarang kau datang Aurellian? Mengapa tidak sejak saat itu? Aku sangat kehilangan dirimu dan aku juga kehilangan arah serta semangat hidup.”
“Aku tidak tahu Sera, aku mencarimu di sini. Aku Seperti tersesat. Baru kali ini saat aku melihat ke dalam gerbang ini, aku menemukanmu. Aku sungguh tersesat dan tidak paham aku ada dimana.”
Aku termenung, lalu kembali bertanya, “Jadi selama ini apakah kau tidak tahu bahwa kau sudah mati?”
“Aku tahu, hanya saja aku tidak begitu paham aku ada dimana. Sepertinya ini bukan surga. Karena jika tempat dimana aku berada ini adalah surga, aku pasti tidak lagi merasakan kehilangan dirimu, aku tidak akan lagi merasakan kesedihan dan keputusasaan.”
“Tujuh purnama aku seorang diri, aku pikir aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu,” jawabku di sela isak tangis.
“Maafkan aku Sera….tirai ini begitu tebal, seperti kabut yang membutakan mataku. Hanya suara dan isak tangismu yang senantiasa terdengar. Hingga hari ini, akhirnya aku baru bisa melihatmu dengan jelas.”
Aku termangu mendengar penjelasan Aurellian. Aku menatap wajahnya dan ketika aku mencoba menyentuhnya cermin adalah penghalangnya.
“Aku tidak bisa menyentuhmu,” ujarku sambil kembali meneteskan air mata
“Aku juga ingin bisa menyentuhmu Sera. Tapi sekali lagi kabut pembatas dunia kita sangat tebal. Aku tidak tahu bagaimana menembusnya,” jawab Aurellian penuh kesedihan.
Aku memperhatikan detail wajah dan wujud Aurellian, dia berkali lipat terlihat lebih anggun dan sempurna daripada saat hidup bersamaku. Dia mengenakan baju biru yang berpotongan kuno. Aku heran mengapa penampilannya berubah.
“Kau tidak sama dengan dulu Aurell, kau tampak lebih sempurna, tampan dan tidak kekurangan apapun. Kau bahkan mengenakan baju yang sangat kuno. Apa yang terjadi padamu?” tanyaku
"Di sini, tidak ada maut lagi yang bisa menyentuh kita. Aku berpakaian untuk menyambutmu, cintaku. Bukankah kita berjanji untuk selalu tampil sempurna bagi satu sama lain?"
Aku mengangguk, dan menepis keanehan pakaiannya yang kuno. Aku rasa itu hanya pantulan spirit atau jiwanya, dan bukan wujud fisiknya. Aku kembali mengelus wajahnya yang terhalang cermin. Dia tersenyum. Dia pun seperti mengelus wajahku dengan punggung jarinya. Kami hanya saling pandang untuk beberapa saat.
“Kau sangat kurus Seraphina. Aku sedih melihatmu seperti ini. Kau tampak sangat menderita dan layu. Jangan biarkan dirimu, dan cahayamu meredup seperti ini. Kau harus bangkit dan kembali segar seperti bunga mawar yang merekah di musim semi.”
“Bagaimana aku bisa bahagia dan baik baik saja tanpa kau disisiku Aurellian?”
Aurellian memandangku dengan tatapan yang teduh penuh kasih. Tatapan yang tidak pernah dia berikan padaku bahkan selama dia hidup dulu.
“Kau jangan sedih. Setelah ini kita akan lebih sering bertemu dan berkomunikasi. Apakah kau mau? Apakah kau tidak takut padaku?”
Aku langsung menggeleng dan berkata, “Sedikit pun aku tidak merasa takut. Aku justru senang bertemu denganmu. Dan aku berharap aku tetap bisa bertemu denganmu kapan pun aku mau.”
Baru saja aku menyelesaikan perkataanku, tiba tiba aku mendengar ketukan dari arah pintu.
“Seraphina…apakah kau baik baik saja? Dengan siapa kau berbicara? Seraphina?”
Sial, aku lupa dengan kehadiran Hannah di rumah ini. Dia pasti sudah mendengar aku berbicara dengan Aurellian. Sebelum melangkah membuka pintu kamar yang di gedor gedor Hannah, sepintas aku melirik ke arah Aurellian dan dia mengangguk. Sejurus kemudian aku seperti terkejut. Dan membuka mata lebar lebar.
Apa itu tadi? Mimpikah aku? Kemana perginya Aurellian? Dan mengapa aku terbaring di kasur ini? Bukankah aku tadi berdiri di depan cermin?
Tok….Tok….Tok
“Seraphina, buka pintunya. Kau tidak apa apa bukan?”
Aku mendengar suara Hannah yang mulai panik. Dalam hati aku bertanya , bagaimana cara menjelaskan pada Hannah tentang pertemuanku dengan Aurellian. Tapi mungkinkah aku menyampaikan semua apa adanya? Percayakah dia? Dan apakah yang barusan aku alami itu? Apakah itu mimpi atau nyata?
*****
It Just Dream
Aku membuka pintu kamarku, dan Hannah pun masuk seperti angin ribut.
“Aku dengar kau berbicara dengan seseorang. Apakah ada orang lain di sini selain kamu?”
Terus terang aku bingung harus menjawab apa. Aku hanya diam. Hannah memperhatikan wajahku dan mungkin dia melihat mataku yang sembab karena menangis.
“Kau menangis?” tanya Hannah
“Ya…aku, bertemu dengan Aurellian,” Jawabku terbata.
“Dimana? Kapan? Bagaimana? Katakan padaku Seraphina. Kau sungguh membuatku cemas,” pekik Hannah.
“Barusan, sesaat sebelum kau mengetuk pintu. Kami berbicara.”
“Bagaimana caranya?” desak Hannah
“Aku tidak tahu pasti Hannah. Semua tampak begitu nyata. Aku berdiri di depan tempat tidur dan dia di hadapanku. Kami berbicara cukup lama sebelum akhirnya dia menghilang karena suara ketukan mu di pintu kamar.
“Oh…Bulshit Seraphina. Tolong jangan banyak berkhayal. Aurellian tidak akan mungkin datang seperti itu. Kau pasti bermimpi,” teriak Hannah dengan tatapan tajam ke arahku.
“Mungkin kau ada benarnya, mungkin aku hanya mimpi. Tapi mimpi itu begitu nyata hingga sulit bagiku untuk mengatakan bahwa itu semua hanya ilusi. Dan aku bahagia karenanya.”
Hannah menatapku tanpa berkedip lalu berkata, “ Kau seharusnya belajar untuk menerima keadaan dan bukan malah menjadi semakin larut dalam penyangkalan. Bagaimana mungkin mimpi membuatmu berkhayal seorang diri dan akhirnya kau berbicara dengan dirimu sendiri. Hentikan semua ini Sera atau kau akan jadi Gila.”
Aku hanya tertunduk mendengar ucapan Hannah. Aku tidak menyalahkan semua perkataannya, tetapi aku juga tidak akan mengatakan padanya tentang portal komunikasi itu. Di lain sisi aku juga belum yakin benar, apakah aku bermimpi atau tidak terkait pertemuanku dengan Aurellian.
Dengan suara bergetar Hannah berkata, “ Kau harus hati hati dengan mimpimu atau fantasimu atau apapun itu terkait pertemuan dengan orang yang sudah meninggal. Aku tidak meremehkan kemampuanmu sebagai Necromancer, atau bakat yang leluhur kita turunkan padamu. Namun apapun itu kau harus hati hati, karena semua itu bisa menyesatkan mu jika kau tidak menyikapinya secara bijaksana.”
Aku mendongak dan melihat ke arah Hannah, “Apa maksudmu Hannah? Kau ingin mengatakan bahwa kemampuan yang kumiliki atau pertemuanku dengan orang orang yang sudah meninggal dan berbicara dengan mereka sebagai sebuah Delusi atau Halusinasi yang bisa membahayakan diriku? Itu maksudmu?”
Dengan menarik nafas panjang Hannah menjawab,” Ya , tepat. Itu maksudku.”
“Jadi kau tidak mempercayai kemampuan leluhur kita?”
“Sera, apa yang diwariskan oleh leluhur pada kita, anggaplah itu sebuah kebijaksanaan dalam menyikapi kehidupan. Bukan lagi sebagai cara untuk hidup dan memperturutkan nafsu kita. Aku tidak meremehkan profesimu sebagai Necromancer apa bila itu kau gunakan untuk menolong orang lain dan membantu mereka menghadapi kematian secara bijaksana. Tapi soal berbicara dan bertemu dengan Aurellian tidak termasuk dalam sebuah perbuatan positif dan bijak.”
Aku merasa kemarahanku mulai tersulut ketika dia kembali menganggap bahwa pertemuanku dengan Aurellian adalah hal yang tidak pada tempatnya.
“Apa maksudmu Hannah? Mengapa kau begitu ingin aku melupakan Aurell, sementara bagiku dia tidak sepenuhnya pergi. Aku masih bisa berkomunikasi dengannya walau dia sudah ada di alam lain.”
“Itulah yang aku maksudkan. Kau sudah menyalahgunakan kelebihanmu untuk sebuah urusan yang seharusnya kau lupakan. Lupakan dia Sera, kau berhak untuk hidup dan mendapatkan kesempatan memperoleh yang terbaik.”
“Aku tidak ingin yang terbaik, aku hanya ingin Aurellian !” jawabku dengan nada yang mulai tinggi.
Hannah menatapku nanar, dan dengan air mata menetes dia berkata,” Aku sedih mendengar apa yang baru saja kau katakan. Hampir lima hari aku berada di sini mendampingimu, aku ingin membuatmu menerima keadaan dan melupakan Aurel. Tapi kau malah tenggelam lebih dalam dan justru ingin menyalah gunakan bakat dan kelebihanmu untuk hal yang merusak dirimu.”
“Jangan sok tahu. Buat apa aku menjadi keturunan Elswyn jika aku tidak mampu menembus batas kematian hanya untuk bicara dengan orang yang aku cintai,” jawabku setengah berteriak.
“Cukup Sera. Cukup! Kita keturunan Keluarga 9 Spirits Keeper. Kita punya tanggung jawab turun temurun untuk menjaga keseimbangan semesta dan bukan membuatnya tidak balance. Apa yang kau lakukan itu akan mengganggu keseimbangan semesta dan merusak tatanan kehidupan. Hal itu akan menghancurkanmu sendiri cepat atau lambat.”
Aku sudah kehabisan cara untuk menghadapi Hannah, tanpa bisa aku kendalikan lagi, aku terpaksa mengusirnya dengan halus.
“Aku rasa kau sudah terlalu lama berada di rumahku. Sudah waktunya kau pulang dan kembali pada keluargamu. Aku cukup dewasa untuk kau awasi dan kau ceramahi. Ini Hidupku Hannah, sebaiknya kau belajarlah untuk tidak ikut campur.”
Aku melihat tatapan kecewa pada mata Hannah. Dia menangis dan berkata, “Baik, sekarang juga aku akan pergi dari rumah ini. Berbuatlah semaumu dan jangan lagi pedulikan nasehatku. Aku sudah cukup mengingatkanmu.”
Bergegas dia pergi dari kamarku, dan tak lama kemudian aku mendengar pintu depan dibuka dan lalu ditutup dengan dentuman yang sangat keras. Hannah pergi meninggalkan ku di malam buta seperti ini hanya karena dia tidak bisa memaksaku memahami tujuan baiknya.
Maafkan aku Hannah, hidup dengan baik saja tidak cukup bagiku saat ini. Aku ingin hidup bahagia meskipun itu melanggar norma dan aturan leluhur. Aku ingin bertemu Aurellian dan tinggal bersamanya meski itu berarti aku harus mengorbankan seluruh semesta ini.
*****


The Gilded Solace
"While some prefer to face the harsh truth, I find that a beautiful false reality offers much more salvation."
Talk through the Mirror
Sejak malam di mana Hannah melangkah pergi dari rumahku, dengan dentuman pintu yang mengguncang, aku tidak lagi merasa sendirian. Justru, untuk pertama kalinya dalam tujuh purnama, aku merasa benar-benar hidup. Kesepian yang biasanya merayap seperti kabut dingin di setiap sudut ruangan kini telah sirna, digantikan oleh kehangatan semu yang memancar dari kamarku.
Aku terbangun pagi ini dengan semangat yang berbeda. Aku membuka tirai jendela lebar-lebar, membiarkan cahaya matahari Vinterdal yang pucat masuk menyentuh lantai kayu. Aku merapikan tempat tidurku, menyapu debu-debu yang selama ini kubiarkan menumpuk, dan yang paling penting—aku merawat diriku.
Aku berdiri di depan cermin hias di kamar mandi, menatap pantulan ku sendiri. Mataku tidak lagi sembab, kulitku tidak lagi sepucat mayat yang biasa kupanggil arwahnya. Aku memulas wajahku dengan sedikit warna, mengenakan gaun sutra berwarna merah yang dulu sangat disukai Aurellian.
"Kau tampak luar biasa hari ini, Sera," sebuah suara rendah dan lembut terdengar dari arah kamarku.
Aku tersenyum lebar, sebuah ekspresi yang hampir kulupakan cara melakukannya. Aku berjalan menuju kamarku, menghampiri Samtals-Grind—cermin kuno yang kini menjadi pusat semestaku. Di sana, di balik permukaan kaca yang berkilau jernih, Aurellian berdiri dengan keanggunan yang tak tertandingi. Baju biru Victorian-nya tampak berkilau, dan tatapan matanya begitu intens, seolah ia bisa menembus batas kaca itu dan menyentuh jiwaku.
"Ini berkat dirimu, Aurell," bisikku sambil menyentuh permukaan kaca. "Kehadiranmu adalah satu-satunya alasanku untuk kembali membuka jendela rumah ini."
Ia tersenyum, sebuah senyuman yang begitu sempurna hingga terkadang aku merasa sedikit terintimidasi. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Sera. Kita telah menemukan jalannya. Tirai itu memang tebal, tapi cinta kita jauh lebih tajam untuk menyayatnya."
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi yang indah. Aku kembali menerima klien. Berita bahwa Necromancer terakhir Elswyn telah kembali "bangkit" tersebar cepat di Vinterdal. Namun, ada yang berbeda dengan cara kerjaku sekarang. Aku bukan lagi Seraphina yang penuh duka dan ragu. Aku memiliki penasihat rahasia.
Setiap kali seorang klien datang dengan masalah yang rumit—mencari wasiat tersembunyi atau menenangkan arwah leluhur yang marah—aku tidak lagi membawa mereka ke ruangan di depan kamarku, namun aku akan masuk sendirian untuk berkonsultasi dengan "cermin" itu.
Suatu sore, seorang wanita tua datang menangis karena putranya yang meninggal belum sempat memberitahu dimana letak kunci peti keluarga. Aku masuk ke kamarku, menghadap Aurellian.
"Aurell, kau bisa membantuku?" tanyaku.
Aurellian menatapku dengan tatapan teduh, namun ada kilatan aneh di matanya yang merah samar jika terkena sudut cahaya tertentu. "Anak itu tidak berada di tempat yang tenang, Sera. Katakan pada ibunya, kuncinya ada di bawah papan lantai ketiga di gudang gandum mereka. Tapi ingatkan dia, setiap rahasia yang terungkap membutuhkan imbalan doa yang tulus."
Aku menyampaikan pesan itu, dan keajaiban terjadi. Wanita itu kembali beberapa hari kemudian dengan rasa syukur yang luar biasa karena informasi itu tepat sasaran. Kejadian-kejadian seperti ini terus berulang. Aurellian seolah memiliki pengetahuan luas tentang dunia arwah—atau mungkin dunia di seberang sana—yang tidak pernah dimiliki oleh leluhur Elswyn sekalipun.
Bisnisku maju pesat. Aku kembali menata rumahku, membeli perabot baru, dan mengisi dapurku dengan bahan makanan terbaik. Aku tidak lagi peduli pada peringatan Hannah tentang "keseimbangan semesta." Bagiku, keseimbangan semestaku sudah kembali saat aku bisa melihat wajah Aurellian setiap hari.
Namun, di tengah kebahagiaan ini, ada saat-saat di mana aku merasa lelah yang luar biasa. Terkadang, setelah berbicara lama dengan Aurellian, kepalaku terasa berdenyut dan tubuhku terasa ringan, seolah energiku sedang diserap oleh sesuatu. Tapi aku segera menepis pikiran itu. Tentu saja aku lelah, aku bekerja keras sekarang, bukan?
Malam ini, bulan purnama merah kembali muncul di langit Vinterdal. Aku duduk di depan cermin dengan segelas anggur di tangan. Kami berbicara tentang banyak hal—tentang masa depan yang ingin kami bangun, tentang betapa indahnya jika suatu saat nanti kaca ini tidak lagi menjadi penghalang.
"Sera," panggilnya, suaranya terdengar seperti melodi yang menghanyutkan. "Apakah kau cukup puas hanya dengan memandangku seperti ini?"
Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang begitu bercahaya di dalam kegelapan kamar. "Melihatmu saja sudah cukup, Aurell. Setelah tujuh purnama dalam kegelapan, ini adalah surga bagiku."
"Tapi surga bisa menjadi lebih nyata, cintaku," bisiknya, tangannya menempel pada kaca, tepat di posisi yang sama dengan tanganku di sisi lain. "Ada jembatan yang bisa kita bangun. Sebuah jalan agar aku tidak lagi hanya menjadi bayangan, dan kau tidak lagi hanya menjadi pemuja cermin."
Aku terpaku. Jembatan? Pikiran tentang bisa menyentuh tangannya yang hangat, merasakan pelukannya yang nyata, membuat jantungku berdegup kencang. Aku teringat pada kitab pada mitos Liber Sanguinis Incarnate yang pernah diceritakan nenek. Aku tidak tahu apakah Kitab itu benar benar ada.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku pelan, hampir seperti bisikan seorang pendosa yang meminta pengampunan.
Aurellian tersenyum, dan kali ini senyumannya terasa lebih tajam, lebih... berkuasa. "Carilah jalan, Sera. Pelajari cara membuka kuncinya. Aku akan membimbingmu. Kita adalah pemegang kuncinya, ingat?"
Aku mengangguk pelan. Aku tidak lagi melihat Aurellian sebagai hantu. Bagiku, dia adalah keajaiban. Jika dunia menganggap ini gila, maka biarlah aku menjadi ratu di kerajaan kegilaanku sendiri. Aku bahagia. Aku merasa utuh.
Aku menutup malam itu dengan perasaan damai yang luar biasa. Aku tertidur dengan senyum di bibir, membayangkan masa depan di mana tidak ada lagi kaca, tidak ada lagi tirai, dan tidak ada lagi maut yang bisa memisahkan kami. Aku telah menemukan kebahagiaanku. Aku telah memenangkan kembali cintaku. Cinta yang tak pernah mati.
The Silent Watcher
POV Hannah
Aku berdiri di balik pepohonan pinus yang membeku, beberapa puluh meter dari pagar batu Menara Elswyn yang angker. Dari sini, aku bisa melihat cahaya lampu dari kamar Seraphina di lantai atas—cahaya yang kini selalu menyala sepanjang malam, seolah menantang kegelapan Vinterdal yang biasanya ia peluk dengan duka.
Sudah dua minggu sejak aku meninggalkan rumah itu dengan kemarahan yang meluap. Namun, setiap malam, kakiku selalu membawaku kembali ke sini, hanya untuk memastikan bahwa menara itu belum runtuh ditelan oleh ambisi gila Sepupuku itu.
Aku melihat bayangan Seraphina di balik jendela. Ia tampak sedang tertawa, bergerak dengan langkah yang ringan, hampir seperti sedang menari. Ia terlihat begitu cantik, begitu segar, seolah kematian Aurellian hanyalah mimpi buruk yang sudah ia lupakan sepenuhnya. Namun, hatiku perih melihat pemandangan itu. Sebagai seorang Elswyn, aku bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan energi yang terpancar dari rumah itu. Ada aroma manis yang memuakkan—seperti aroma bunga mawar yang mulai membusuk—yang terbawa angin malam dari arah menara.
Aku tahu Seraphina merasa telah menemukan "surga"-nya. Ia merasa telah memenangkan kembali cintanya dan menaklukkan maut. Baginya, berkomunikasi melalui cermin Samtals-Grind adalah anugerah terbesar yang pernah ia terima. Ia kembali bekerja, kembali merawat diri, dan tampak bahagia.
Namun, bagiku yang berdiri di kegelapan ini, itu bukanlah kebahagiaan. Itu adalah sebuah kebahagiaan semu yang dibangun di atas fondasi ilusi.
Aku tidak akan lagi mengetuk pintunya. Aku tidak akan lagi masuk dan menceramahinya tentang aturan 9 Spirit Keepers yang ia injak-injak. Aku telah memilih untuk melepaskannya, membiarkan dia menempuh jalannya sendiri. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku hanya bisa berdoa agar suatu saat nanti, sebelum gerbang itu terbuka terlalu lebar, ia menyadari apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.
"Temukanlah bahagiamu, Sera," bisikku pada angin malam yang menusuk tulang. "Meskipun aku tahu, harga yang harus kau bayar untuk senyuman di balik kaca itu mungkin akan menghancurkan kita semua."
Aku berbalik, melangkah pergi meninggalkan menara itu dalam kesunyian. Aku tidak ingin lagi ikut campur, tapi aku tidak akan pernah berhenti berharap agar Seraphina menemukan jalan pulang ke realita—sebelum ia benar-benar tersesat di dalam jurang ilusi yang ia sebut sebagai cinta.
*****
TAMAT
