Love That Never Dies


"Cinta Menembus Batas Keabadian"
Blurb
"Beberapa orang memilih untuk hidup dalam kenyataan yang pahit, namun bagiku, sebuah false reality yang indah jauh lebih menyelamatkan."
Seraphina terjebak dalam labirin duka yang tak berujung, hingga ia menemukan Samtals-Grind—sebuah cermin antik yang menjadi gerbang menuju delusi yang paling manis. Di balik pantulan peraknya, hadir sosok Aurellian, pria karismatik yang menawarkan kehangatan di tengah dinginnya menara Gothic yang ia tinggali.
Aurellian adalah segalanya yang Seraphina butuhkan: pelindung, kekasih, dan napas baru. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk cinta yang melintasi batas nalar ini. Di bawah naungan bulan purnama merah (Red Full Moon), batas antara dunia nyata dan bayangan mulai memudar.
Saat rahasia di balik cermin mulai terkuak, Seraphina harus memilih: menghadapi kenyataan yang akan menghancurkan hatinya, atau selamanya terjerat dalam ilusi cinta yang abadi namun mematikan.
Cinta ini tidak akan pernah mati, karena ia memang tidak pernah benar-benar hidup.


Behind The Mirror
""Deepest mourning has the power to manifest the most inconceivable possibilities."
Malam di Vinterdal selalu memiliki cara tersendiri untuk membunuh keberanian. Di atas Menara Elswyn, udara seolah membeku, memerangkap oksigen dalam ruang yang sempit dan berbau kertas tua. Seraphina terlelap dalam posisi meringkuk, sebuah tidur yang lebih mirip dengan pelarian daripada istirahat. Namun, malam ini, alam bawah sadarnya tidak memberinya kedamaian.
Ia terbangun—atau setidaknya ia merasa terbangun—di dalam sebuah ruangan yang tidak memiliki sudut. Dunia di sekelilingnya hanya terdiri dari kabut abu-abu yang bergerak lamban seperti napas raksasa yang sekarat. Tidak ada suara serigala Som Grav, tidak ada derit kayu menara. Hanya ada kesunyian yang berdenging di telinganya.
Lalu, di tengah kehampaan itu, sebuah benda muncul. Cermin besar berbingkai perak peninggalan neneknya, Speculum Veritatis. Permukaan kacanya tidak memantulkan wajah Seraphina yang kuyu, melainkan sebuah pusaran kegelapan yang perlahan memadat.
Jantung Seraphina berdegup kencang hingga terasa sakit di tulang rusuknya. Dari balik kaca yang buram oleh embun gaib, sebuah siluet mulai terbentuk. Seorang pria dengan bahu yang lunglai, mengenakan jas wol yang dikenali Seraphina sebagai pakaian yang dikenakan Aurellian saat keberangkatannya ke Lyzenga.
"Aurellian..." bisik Seraphina. Suaranya tidak keluar dari tenggorokan, melainkan meledak dari dalam jiwanya.
Wajah itu mendekat ke permukaan cermin. Aurellian Vale. Namun, ia bukan lagi Aurellian yang selalu tersenyum menenangkan. Wajahnya nampak pucat pasi, garis-garis penderitaan terukir dalam di keningnya. Matanya yang dulu penuh binar rasa ingin tahu sebagai seorang peneliti, kini hanya menyisakan kerinduan yang membara—sebuah rindu yang begitu pekat hingga tampak seperti luka yang menganga.
"Sera... bisakah kau merasakannya?" suara Aurellian terdengar seperti gesekan es di atas batu, lirih namun mampu menggetarkan fondasi kesadaran Seraphina. "Impian kita... rumah yang kita bicarakan, anak-anak yang belum sempat kita beri nama... mereka semua membusuk di sini, bersamaku, dalam ruang yang tidak memiliki waktu."
Seraphina terisak, ia melangkah mendekat hingga ujung kakinya menyentuh bingkai perak cermin itu. "Aku merasakannya, Aurellian. Setiap detik adalah siksaan. Aku mencarimu dalam setiap ritual, aku memanggilmu dalam setiap doa Necromancy-ku, tapi kau selalu berada di balik jangkauanku."
Aurellian menempelkan telapak tangannya pada permukaan kaca. Di sisi lain, Seraphina melakukan hal yang sama. Namun, dinginnya kaca itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulitnya. Sebagai seorang Necromancer, Seraphina tahu kapasitasnya. Ia bisa memanggil arwah untuk bicara, ia bisa memberikan pesan dari mereka yang telah tiada kepada mereka yang masih bernapas. Namun, ia tidak pernah memiliki kekuatan untuk merobek tirai. Ia hanyalah pengamat, bukan pelintas.
"Kau memiliki darah Elswyn, Sera," Aurellian menatapnya dengan tatapan yang menuntut, hampir terlihat gila karena rasa sepi yang abadi. "Penelitianku selama di Vinterdal... wawancara yang kulakukan dengan tetua Att Dravon dan Att Thorne... mereka semua memvalidasi satu hal yang sama. Sembilan Spirit Keepers bukan sekadar isapan jempol. Mereka adalah arsitek dari gerbang ini."
Aurellian menekan telapak tangannya lebih keras hingga kaca cermin itu tampak melengkung secara mustahil. "Jika aku, orang asing yang hanya mengandalkan logika sains, bisa percaya sepenuhnya pada kekuatan garis darahmu... mengapa kau justru meragu? Apakah kau akan membiarkan hukum alam yang kaku ini memisahkan kita selamanya?"
Wajah Aurellian nampak semakin menderita. Ia seolah sedang ditarik kembali oleh kekuatan tak kasat mata dari kegelapan di belakangnya. "Ada ritual itu, Sera. Penyeberangan menuju alam paralel. Jangan biarkan aku terjebak di sini sendirian. Aku merindukanmu hingga jiwaku terasa terbakar dalam kedinginan ini!"
Aurellian tiba-tiba mencengkram sisi cermin dan mengulurkan tangannya menembus permukaan kaca yang memadat. Tangan yang dingin itu menyambar pergelangan tangan Seraphina, hendak menariknya masuk ke dalam pusaran abu-abu yang mengerikan itu.
Seraphina tersentak, matanya terbuka lebar.
Ia terduduk di tempat tidurnya dengan nafas yang memburu dan peluh yang membasahi daster katunnya. Kamarnya gelap, hanya diterangi oleh sisa cahaya bulan yang redup. Namun, pergelangan tangannya masih terasa dingin, seolah tangan Aurellian baru saja melepaskannya sedetik yang lalu.
Mimpi itu terlalu nyata. Getaran suara Aurellian masih menggema di setiap sudut kamarnya. Penderitaan kekasihnya bukan sekadar proyeksi duka, melainkan sebuah mandat. Sejak detik itu, rasa sedih Seraphina tidak lagi melumpuhkan. Ia berubah menjadi api obsesi yang dingin.
Tidak ada lagi hari bagi Seraphina untuk sekadar meratap. Di tengah selimut duka yang masih pekat, ia mulai membongkar tumpukan manuskrip kuno yang selama ini hanya menjadi hiasan di Menara Elswyn. Ia mencari satu bukti, satu celah, satu mantra yang bisa membawanya menembus tirai gaib itu. Jika Aurellian yakin bahwa ia mampu, maka ia akan melakukannya—meski ia harus menukar seluruh sisa hidupnya demi satu pelukan nyata di alam paralel.
*****
