Love That Never Dies

"Cinta Menembus Batas Keabadian"

Blurb

Bagi penduduk Vinterdal, Seraphina Elswyn adalah misteri yang hidup di menara batu; seorang Necromancer terakhir dari garis darah The Veilwalker yang mampu mendengar bisikan mereka yang telah tiada. Namun, ketika maut merenggut Aurellian Vale, kekasih sekaligus satu-satunya cahaya dalam hidupnya, Seraphina menyadari bahwa kemampuannya hanyalah kutukan yang sia-sia. Ia bisa bicara dengan arwah, namun ia tak bisa menyentuh pria yang ia cintai.

Tujuh purnama berlalu dalam duka yang membeku, hingga sebuah mimpi buruk yang terlampau nyata mengubah segalanya. Aurellian muncul di balik cermin kuno, menderita dalam rindu yang membara, menuntut sebuah janji yang belum tertunai. Ia bukan sekadar meminta doa, ia meminta jalan pulang.

Terdorong oleh obsesi dan keputusasaan yang menyayat, Seraphina memutuskan untuk melanggar hukum alam yang paling tabu. Ia akan membuka kembali gerbang gaib yang telah lama terkunci oleh sejarah kuno 9 Spirit Keepers. Di bawah naungan rembulan merah dan aroma mawar yang luruh, sebuah ritual pemanggilan jiwa dimulai.

Namun, di dunia di mana keseimbangan harus dibayar dengan nyawa, Seraphina harus bertanya pada dirinya sendiri: Seberapa besar harga yang sanggup ia bayar untuk satu pelukan nyata?

Satu janji. Tujuh purnama. Dan pengorbanan yang takkan pernah mati.

Behind The Mirror

"Deepest mourning has the power to manifest the most inconceivable possibilities."

Malam di Vinterdal selalu memiliki cara tersendiri untuk membunuh keberanian. Di atas Menara Elswyn, udara seolah membeku, memerangkap oksigen dalam ruang yang sempit dan berbau kertas tua. Seraphina terlelap dalam posisi meringkuk, sebuah tidur yang lebih mirip dengan pelarian daripada istirahat. Namun, malam ini, alam bawah sadarnya tidak memberinya kedamaian.

Ia terbangun—atau setidaknya ia merasa terbangun—di dalam sebuah ruangan yang tidak memiliki sudut. Dunia di sekelilingnya hanya terdiri dari kabut abu-abu yang bergerak lamban seperti napas raksasa yang sekarat. Tidak ada suara serigala Som Grav, tidak ada derit kayu menara. Hanya ada kesunyian yang berdenging di telinganya.

Lalu, di tengah kehampaan itu, sebuah benda muncul. Cermin besar berbingkai perak peninggalan neneknya, Speculum Veritatis. Permukaan kacanya tidak memantulkan wajah Seraphina yang kuyu, melainkan sebuah pusaran kegelapan yang perlahan memadat.

Jantung Seraphina berdegup kencang hingga terasa sakit di tulang rusuknya. Dari balik kaca yang buram oleh embun gaib, sebuah siluet mulai terbentuk. Seorang pria dengan bahu yang lunglai, mengenakan jas wol yang dikenali Seraphina sebagai pakaian yang dikenakan Aurellian saat keberangkatannya ke Lyzenga.

"Aurellian..." bisik Seraphina. Suaranya tidak keluar dari tenggorokan, melainkan meledak dari dalam jiwanya.

Wajah itu mendekat ke permukaan cermin. Aurellian Vale. Namun, ia bukan lagi Aurellian yang selalu tersenyum menenangkan. Wajahnya nampak pucat pasi, garis-garis penderitaan terukir dalam di keningnya. Matanya yang dulu penuh binar rasa ingin tahu sebagai seorang peneliti, kini hanya menyisakan kerinduan yang membara—sebuah rindu yang begitu pekat hingga tampak seperti luka yang menganga.

"Sera... bisakah kau merasakannya?" suara Aurellian terdengar seperti gesekan es di atas batu, lirih namun mampu menggetarkan fondasi kesadaran Seraphina. "Impian kita... rumah yang kita bicarakan, anak-anak yang belum sempat kita beri nama... mereka semua membusuk di sini, bersamaku, dalam ruang yang tidak memiliki waktu."

Seraphina terisak, ia melangkah mendekat hingga ujung kakinya menyentuh bingkai perak cermin itu. "Aku merasakannya, Aurellian. Setiap detik adalah siksaan. Aku mencarimu dalam setiap ritual, aku memanggilmu dalam setiap doa Necromancy-ku, tapi kau selalu berada di balik jangkauanku."

Aurellian menempelkan telapak tangannya pada permukaan kaca. Di sisi lain, Seraphina melakukan hal yang sama. Namun, dinginnya kaca itu terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk kulitnya. Sebagai seorang Necromancer, Seraphina tahu kapasitasnya. Ia bisa memanggil arwah untuk bicara, ia bisa memberikan pesan dari mereka yang telah tiada kepada mereka yang masih bernapas. Namun, ia tidak pernah memiliki kekuatan untuk merobek tirai. Ia hanyalah pengamat, bukan pelintas.

"Kau memiliki darah Elswyn, Sera," Aurellian menatapnya dengan tatapan yang menuntut, hampir terlihat gila karena rasa sepi yang abadi. "Penelitianku selama di Vinterdal... wawancara yang kulakukan dengan tetua Att Dravon dan Att Thorne... mereka semua memvalidasi satu hal yang sama. Sembilan Spirit Keepers bukan sekadar isapan jempol. Mereka adalah arsitek dari gerbang ini."

Aurellian menekan telapak tangannya lebih keras hingga kaca cermin itu tampak melengkung secara mustahil. "Jika aku, orang asing yang hanya mengandalkan logika sains, bisa percaya sepenuhnya pada kekuatan garis darahmu... mengapa kau justru meragu? Apakah kau akan membiarkan hukum alam yang kaku ini memisahkan kita selamanya?"

Wajah Aurellian nampak semakin menderita. Ia seolah sedang ditarik kembali oleh kekuatan tak kasat mata dari kegelapan di belakangnya. "Ada ritual itu, Sera. Penyeberangan menuju alam paralel. Jangan biarkan aku terjebak di sini sendirian. Aku merindukanmu hingga jiwaku terasa terbakar dalam kedinginan ini!"

Aurellian tiba-tiba mencengkram sisi cermin dan mengulurkan tangannya menembus permukaan kaca yang memadat. Tangan yang dingin itu menyambar pergelangan tangan Seraphina, hendak menariknya masuk ke dalam pusaran abu-abu yang mengerikan itu.

Seraphina tersentak, matanya terbuka lebar.

Ia terduduk di tempat tidurnya dengan nafas yang memburu dan peluh yang membasahi daster katunnya. Kamarnya gelap, hanya diterangi oleh sisa cahaya bulan yang redup. Namun, pergelangan tangannya masih terasa dingin, seolah tangan Aurellian baru saja melepaskannya sedetik yang lalu.

Mimpi itu terlalu nyata. Getaran suara Aurellian masih menggema di setiap sudut kamarnya. Penderitaan kekasihnya bukan sekadar proyeksi duka, melainkan sebuah mandat. Sejak detik itu, rasa sedih Seraphina tidak lagi melumpuhkan. Ia berubah menjadi api obsesi yang dingin.

Tidak ada lagi hari bagi Seraphina untuk sekadar meratap. Di tengah selimut duka yang masih pekat, ia mulai membongkar tumpukan manuskrip kuno yang selama ini hanya menjadi hiasan di Menara Elswyn. Ia mencari satu bukti, satu celah, satu mantra yang bisa membawanya menembus tirai gaib itu. Jika Aurellian yakin bahwa ia mampu, maka ia akan melakukannya—meski ia harus menukar seluruh sisa hidupnya demi satu pelukan nyata di alam paralel.

*****

Frozen

"Time does not heal; it merely entombs the heart in ice."

Waktu menyembuhkan luka, begitu kata mereka. Tapi mereka tak pernah mengatakan apa yang harus kulakukan pada kenangan. Terutama kenangan yang menolak mati, yang tetap hidup di sela-sela setiap tarikan nafasku, seperti hantu yang enggan menyeberang meski fajar telah tiba. Bagiku, pepatah itu adalah kebohongan yang manis namun beracun. Waktu tidak menyembuhkan; ia hanya mengawetkan rasa sakit, membekukannya dalam tabung kaca agar tetap utuh dan tajam, siap mengiris kapan pun aku mencoba bergerak maju.

Tujuh purnama telah berlalu sejak kepergiannya, dan aku masih tetap ada di titik ini. Titik kehancuran yang begitu dalam hingga aku tidak mampu lagi berpikir jernih tentang masa depanku. Bagiku, masa depan sudah tidak ada. Masa depan telah pergi, terbungkus kain kafan bersama kematiannya di dasar jurang Nørstad.

Di menara keluarga Elswyn yang tinggi ini, keheningan memiliki suaranya sendiri. Ia berbisik melalui derit kayu tangga tua dan desau angin yang menyusup di celah batu dinding. Cahaya matahari musim dingin yang pucat merayap masuk melalui jendela sempit, menyinari butiran debu yang menari di atas meja jahitku. Di sana, setumpuk kain sutra putih yang kusam menatapku dengan nanar. Jemariku yang pucat dan gemetar meraba permukaan kain itu—dingin, sekaku hatiku. Gaun yang seharusnya menjadi saksi penyatuan dua jiwa kini hanyalah tumpukan kain tak bermakna, sebuah fragmen dari rencana yang hancur.

Malam adalah musuh terbesarku. Sejak peti mati itu ditutup, tidur bukan lagi tempat istirahat, melainkan medan perang. Setiap kali aku memejamkan mata, aku kembali ke jembatan tua Nørstad. Aku bisa mendengar suara decit ban mobil yang menghantam es, suara kaca yang pecah seperti ribuan kristal duka, dan dentum logam yang menghujam dasar jurang. Di dalam mimpi buruk itu, aku selalu terlambat. Aku berdiri di tepi jembatan, menyaksikan lampu belakang mobilnya memudar ditelan kegelapan, dan aku hanya bisa menjerit hingga tenggorokanku berdarah—namun tak ada suara yang keluar.

Aku terbangun dengan napas tersengal dan keringat dingin yang membasahi seprai, hanya untuk menyadari bahwa sisi tempat tidur di sebelahku tetap kosong dan dingin. Kesunyian itu kemudian mencekikku, lebih kejam daripada mimpi buruk mana pun. Rasanya seolah-olah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk melupakannya, sementara aku dibiarkan menjadi satu-satunya museum hidup bagi keberadaannya yang telah pupus.

Aku ingat malam terakhir itu. Vinterdal sedang diselimuti salju tipis saat Aurellian berpamitan.

“Sebulan lagi kita akan menikah. Aku ingin paling tidak kau tiba kembali di sini seminggu sebelum pernikahan kita,” ujarku waktu itu. Aku masih bisa merasakan kehangatan jemarinya saat ia menggenggam tanganku, sebuah kontras yang menyakitkan dengan udara luar yang menggigit.

Ia mengangguk, senyumnya yang tenang adalah satu-satunya alasan mengapa menara Elswyn yang muram ini sempat terasa seperti rumah. Aurellian Vale bukan orang Vinterdal. Ia adalah peneliti esoterik dari Institutet för Esoterisk Forskning och Arv (IEFA). Kedatangannya ke desa kami semula hanya untuk membedah sejarah kuno dan praktik necromancy yang dianggap arkais oleh dunia modern.

Bagi penduduk desa, aku adalah sosok yang harus dihindari; keturunan Elswyn, sang Keeper of the Veil yang berurusan dengan orang mati. Mereka menatapku dengan campuran rasa takut dan benci yang tersembunyi di balik kesopanan palsu. Namun, Aurellian berbeda. Saat pertama kali ia mengetuk pintu menaraku untuk meminta wawancara tentang legenda De Profetiorum Custodiae (Penjagaan Nubuat Vinterdal), ia tidak menatapku seolah aku adalah monster.

Ia menatapku sebagai sebuah keajaiban.

“Kau bukan sekadar subjek penelitian, Seraphina,” katanya suatu sore, saat kami duduk di antara tumpukan manuskrip tua. “Kau adalah harmoni di antara dua dunia yang ditakuti orang lain.”

Percakapan yang intens dan kesamaan frekuensi jiwa membuat kedekatan di antara kami terbangun dengan begitu organik. Aku kagum akan kelembutan dan kesabarannya menghadapi mood swing-ku yang sering kali meledak-ledak saat menceritakan beban sejarah keluargaku. Baginya, kemampuanku sebagai necromancer bukanlah sesuatu yang gelap, melainkan sebuah bentuk kesenian spiritual yang luhur. Di dekatnya, aku tidak merasa perlu bersembunyi. Aku merasa seperti manusia kembali.

Kepergiannya ke Lyzenga, sebuah kota kecil di lembah timur yang terkenal dengan Observatorium Aurora Borealis, seharusnya hanya berlangsung seminggu. Ia ingin menghadiri simposium internasional sebelum kami benar-benar mengikat janji. Segalanya tampak begitu lancar, begitu penuh harapan. Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk mengingatkan manusia akan kerapuhan mereka.

Kabar itu datang di sore yang kelabu, saat aku sedang duduk di meja jahit ini, berusaha menyelesaikan detail bordir pada kerah gaun pengantinku. Aku sedang membayangkan bagaimana rupa Aurellian saat melihatku memakainya nanti. Aku baru saja menarik benang untuk jahitan terakhir ketika suara ketukan keras di pintu bawah merobek kesunyian menara.

Pada saat yang sama, jarum jahit yang kupegang tiba-tiba patah. Ujungnya yang tajam menusuk ujung telunjuk kananku cukup dalam. Aku tidak merintih, aku hanya menatap dengan hampa saat setetes darah merah pekat jatuh dan meresap ke dalam kain sutra putih yang bersih itu. Merah di atas putih. Sebuah noda yang takkan pernah bisa hilang.

Di bawah sana, seorang utusan dari kota berdiri dengan wajah pucat, membawa berita yang merenggut seluruh cahaya dari hidupku. Aurellian tak pernah tiba di Lyzenga. Mobilnya tergelincir di jalan bersalju, menghantam pembatas jembatan tua Nørstad, dan terjun ke jurang sedalam tiga puluh meter. Hanya tujuh belas kilometer dari kota tujuan. Hanya tujuh belas kilometer dari keselamatan.

Dunia seolah runtuh di sekitarku. Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya merasakan kabut tebal mulai merangsek masuk ke dalam otakku, membekukan setiap sirkuit pemikiran. Aku berdiri membeku di tengah ruangan, membiarkan darah dari jariku terus menetes, mengotori lantai kayu dan gaun pengantin yang kini terasa seperti kain kafan bagi impianku.

Tidak satu tetes pun air mata membasahi pipiku hari itu. Air mata itu seolah mengering dan mati di dalam kelenjarnya. Sepertinya, setelah kehilangan ayah, ibu, dan nenek secara berurutan, stok air mataku telah habis. Aku kembali menjadi Seraphina yang lama—sebatang kara, dingin, dan terpenjara dalam menara Elswyn. Rasa sepi ini bukan lagi sekadar perasaan; ia telah menjelma menjadi entitas fisik yang duduk di pundakku, memberatkan setiap langkahku, dan membisikkan bahwa aku adalah raga yang gagal.

Aku sering bertanya-tanya pada kegelapan malam: apa gunanya menjadi keturunan Veilwalker jika aku bahkan tidak bisa merasakan hembusan terakhir napasnya? Apa gunanya darah kuno ini jika ia membiarkanku membusuk dalam penantian yang mustahil? Kepedihan ini melampaui logika; ia adalah lubang hitam yang melahap kewarasanku sedikit demi sedikit. Aku lelah terjaga, namun aku lebih takut untuk tidur.

Baju pernikahan itu tidak kubuang. Aku tidak punya tenaga untuk membencinya. Aku hanya melipatnya dengan gerakan robotik, menyembunyikannya di dalam lemari pakaian yang paling gelap, seolah-olah dengan menutup pintu lemari itu, aku bisa menyembunyikan kenyataan bahwa setengah dari jiwaku telah terkubur di dasar jurang Nørstad.

Kini, tujuh purnama berlalu, dan keheningan di menara ini terasa semakin pekat, menekan paru-paruku hingga setiap tarikan napas terasa seperti beban yang menyiksa. Aku menatap meja jahit yang berdebu, menatap noda darah kering di atas kain sutra itu, dan menyadari satu hal: maut mungkin telah mengambil raganya, tetapi ia meninggalkan kenangan yang menolak untuk mati di sini, bersamaku.

Aku merasa duniaku sudah tidak memiliki warna lagi. Langit Vinterdal yang biasanya indah kini hanya tampak seperti kanvas abu-abu yang menertawakan dukaku. Jika maut memang sebuah akhir, mengapa ia tidak mengambilku sekalian? Mengapa aku dibiarkan hidup sebagai mayat yang masih bernapas, menanti sesuatu yang takkan pernah kembali secara alami?

Di tengah keputusasaan yang merajam ini, sebuah bisikan jahat mulai tumbuh di sudut gelap pikiranku. Sebuah pikiran yang semula kutolak, namun kini terasa seperti satu-satunya pelarian yang masuk akal. Jika tirai antara dua dunia memang ada, dan jika darah Elswyn-ku memang memiliki kunci untuk membukanya, maka haruskah aku terus tunduk pada takdir yang begitu kejam ini? Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin Aurellian kembali, meski aku harus merobek langit dan menjemputnya langsung dari tangan kematian.

******

The Man Behind the Glass

"Some men conquer you in silence, and strip you bare with just a glance. You don’t fight it—you crave it."

POV Elira Mardeaux

First Glance

Kedatanganku seorang diri sebagai perwakilan dari FIRA (Financial Integrity and Risk Authority, UK) bisa dianggap cukup bernyali, atau mungkin sekadar nekat. Perusahaan sebesar De Luxen Strategic Holdings dengan lini bisnis yang menggurita di seluruh Eropa seharusnya menjadi target audit yang sangat intimidatif untuk auditor mana pun. Biasanya, kami bergerak dalam tim yang terdiri dari minimal lima orang—pakar forensik digital, analis pajak, hingga ahli hukum. Tapi kali ini, karena pemotongan anggaran yang gila-gilaan dari mitra pemerintah kami, aku harus berdiri sendiri. Sebuah pemborosan, kata mereka, jika harus mengirim tim besar untuk satu perusahaan, tanpa memahami bahwa De Luxen bukan sekadar "satu perusahaan". Ia adalah monster.

Aku tahu tugas ini tidak mudah. Namun, yang membuatnya seribu kali lebih berat adalah reputasi CEO De Luxen yang terkenal dingin, efisien, dan misterius. Sedikit sekali data yang bisa kuperoleh tentang Cassian De Luca. Aku menghabiskan malam-malam sebelum ini mencari jejaknya di basis data publik, namun hasilnya nihil. Dia pria Italia, lahir di Sicilia, berusia sekitar 40 tahun. Selebihnya? Zonk. Tidak ada skandal, tidak ada foto di acara amal, tidak ada nama istri atau anak. Namanya seperti kabut musim dingin yang menguap di tengah danau; ada, tapi mustahil digenggam.

Saat ini, setelah menjalani "tur pamer kekuatan" yang dipandu oleh Moira, aku dipaksa duduk menunggu Yang Terhormat Tuan Cassian. Ruang tunggu ini lebih mirip galeri seni minimalis yang mahal daripada kantor. Aku merasa kehadiranku di sini lebih dianggap sebagai lalat pengganggu daripada mitra otoritas. Di kalangan pengusaha kelas atas, kami di FIRA sering dijuluki sebagai MISTUR (Pengemis Teratur). Mereka menganggap kami hanya sekadar perpanjangan tangan pemerintah yang meminta-minta akses data dan uang denda, bukan lembaga profesional.

Setelah menunggu sekitar 25 menit—sebuah taktik psikologis yang jelas untuk meruntuhkan kepercayaan diriku—pintu besar dari kayu hitam itu terbuka. Moira Kelleher muncul dengan wajah kaku tanpa senyum. "Silakan masuk, Nona Elira," ujarnya formal.

Aku bangkit, membetulkan letak blazerku yang tiba-tiba terasa murah di depan pintu itu. Aku melangkah masuk, dan di sanalah aku melihatnya untuk pertama kali. Cassian De Luca. Dia berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan London yang terhampar di balik kaca setinggi plafon. Postur tubuhnya yang mencapai 1,8 meter tampak begitu tegak, membingkai siluet yang sangat berkuasa.

Saat dia berbalik, duniaku seolah melambat. Wajahnya khas pria Mediterania dengan rahang tegas yang ditumbuhi beard rapi. Mata cokelat gelapnya menatapku, bukan hanya melihat, tapi membedah. Aku merasakan getaran hebat di lututku. Dia memiliki kharisma yang luar biasa dominan; tipe pria yang tidak perlu berteriak untuk membuat satu ruangan tunduk.

“Tuan Cassian, ini Nona Elira dari FIRA,” lapor Moira. Aku mengangguk ke arahnya, namun dia hanya mengedipkan mata sekali tanpa membalas anggukanku. Kami bersalaman. Tangannya hangat, kokoh, dan begitu pas menggenggam jemariku. Saat itu juga, aku merasa seperti tersengat arus listrik yang membuat seluruh sarafku siaga.

“Selamat siang, Nona Elira. Selamat datang di De Luxen. Aku harap stafku sudah menyambut anda dengan baik,” ujarnya. Suaranya berat, dengan tone maskulin yang sangat nyata. Ada tekanan yang kuat dalam suaranya, bukan karena dia membentak, tapi karena otoritas yang melekat pada tiap suku katanya. Jika gedung ini adalah padang savana, Cassian De Luca adalah singa terkuat yang sedang mengawasi setiap makhluk yang berani masuk ke teritorinya.

His Name is Cassian

Dia mempersilakan aku duduk di kursi kulit yang sangat nyaman, lalu meminta izin untuk menerima panggilan ponsel. Aku mendengar dia berbicara dalam bahasa Italia yang cepat dan tajam. Meskipun aku tidak mengerti artinya, intonasi suaranya menunjukkan bahwa dia sedang membuat keputusan jutaan dolar dengan ketenangan seorang algojo.

Pikiranku melayang. Sebelum datang ke sini, aku membayangkan pria berusia 50-an dengan perut buncit dan rambut putih yang mulai botak. Namun, pria di depanku ini memakai jas biru gelap yang dijahit sempurna, membungkus postur tubuh atletis yang terlihat jelas saat dia bergerak. Hal ini membuatku makin terpojok dalam kegugupan.

Aku tidak menyangka dia akan se-menggoda ini di balik intimidasi yang dia tebarkan. Tatapan matanya yang penuh selidik membuatku bergidik. Jantungku berdetak kacau. Aku berharap panggilan teleponnya tidak segera berakhir karena aku belum siap berbicara dengannya secara tatap muka. Aku khawatir jika aku membuka mulut, suaraku akan bergetar dan aku akan terlihat seperti auditor amatiran yang baru lulus kemarin sore. Aku harus menjaga image profesional FIRA, tapi bagaimana bisa jika pria ini seolah mampu menyedot oksigen dari paru-paruku?

“Moira, siapkan para kepala bagian. Aku ingin mereka berkumpul dan mendapat arahan langsung dariku. Aku tidak ingin ada yang mempersulit pekerjaan Miss Elira,” perintah Cassian setelah menutup teleponnya.

Dia kembali duduk di hadapanku, menatapku dengan sedikit senyum yang tertahan. Senyum yang tidak sampai ke mata, tapi cukup untuk membuat wajahku memanas. “Izinkan saya mempertemukan anda dengan seluruh kepala bagian yang akan anda periksa,” ujarnya sopan. “Tentu, Tuan Cassian. Dengan senang hati,” jawabku sesingkat mungkin.

Lalu hening. Sunyi yang memekakkan telinga. Dia terus menatapku, dan aku tidak berani membalasnya. Aku memilih memperhatikan ujung sepatuku atau detail meja mahoni di depanku. Aku bisa merasakan aura Cassian yang berbahaya, namun di saat yang sama, magnetnya sangat kuat. Otakku membeku. Ada getaran hangat yang aneh menjalar dari ujung kakiku hingga berhenti tepat di ulu hati. Aku ingin segera pergi, mengatakan pada pimpinanku di FIRA bahwa perusahaan ini bersih tanpa perlu memeriksa satu dokumen pun, hanya agar aku tidak perlu berlama-lama di bawah pengaruhnya. Aku merasa kalah aura, kalah kelas, dan yang paling memalukan—aku merasa kalah pesona.

The Predatory Calm

Suara beberapa langkah kaki yang memasuki ruang kerja Cassian membuyarkan lamunanku. Moira membimbingku ke ruang rapat yang terhubung langsung dengan kantor utama. Meja oval panjang berbahan kaca hitam mendominasi ruangan. Cassian mengambil tempat di ujung meja, posisi sentral sang pemimpin, dan Moira menempatkanku persis di sebelah kanannya.

Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfumnya dengan sangat jelas. Sebagai penggemar parfum, aku langsung mengenalinya: Grand Soir dari Maison Francis Kurkdjian. Perpaduan amber, tonka bean, dan vanilla. Aromanya intens namun tidak vulgar; memberikan kesan pria yang bisa membuat napasmu berhenti hanya dengan sebuah bisikan. Itu bukan sekadar aroma, itu adalah pernyataan kekuasaan.

Cassian berdiri. Dia tidak perlu banyak bicara atau menggunakan kata-kata kasar untuk membuat timnya patuh. Hanya dengan gestur kecil, semua orang bergerak dengan presisi militer. Aku bisa merasakan bahwa setiap kepala bagian di sini sangat menghormati, atau lebih tepatnya, takut padanya.

Dominasi Cassian menyebar seperti gas beracun yang memabukkan ke seluruh penjuru ruangan. Pandangan kami bertemu berkali-kali selama rapat. Setiap kali dia menyebut namaku, suaranya yang bariton seolah menggetarkan saraf-saraf di leherku. Aku mencuri pandang padanya saat dia sedang menjelaskan sesuatu, dan terkadang dia menangkap mataku dengan tatapan yang seolah berkata bahwa dia tahu persis apa yang sedang kupikirkan. Aku berkali-kali mencubit tanganku di bawah meja, mencoba mengusir sensasi gila yang muncul. Bagaimana mungkin seorang auditor bisa merasakan gairah seperti ini di tengah rapat koordinasi audit? Ini gila.

His Presence, My Skin

Setelah rapat selesai, para kepala bagian meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Moira mendekatiku. “Nona Elira, Tuan Cassian ingin menemui anda secara pribadi setelah ini. Mohon menunggu di ruangan beliau.”

Aku kembali ke kantor utama Cassian. Menunggu selama sepuluh menit terasa seperti sepuluh jam. Aku sudah hafal pola ini; CEO biasanya akan mencoba "menjinakkan" auditor dengan keramahan palsu atau ancaman halus.

Cassian masuk dengan langkah yang tenang namun pasti. “Maaf, saya membuat anda menunggu, Miss Elira,” ujarnya, suaranya terdengar lebih dalam saat kami hanya berdua. “Tidak apa, Tuan Cassian. Apakah ada hal spesifik yang ingin disampaikan?” balasku, mencoba terdengar setegar mungkin.

Dia duduk di kursinya yang besar, membuka map profilku yang dikirim oleh FIRA. “Izinkan saya mengenal anda lebih dalam,” ujarnya. Udara di ruangan itu terasa mendadak berat dan hangat. “Lulusan Oxford, nilai excellent. Anda punya rekam jejak yang mengesankan. Tapi, Miss Elira, di dunia korporasi seperti De Luxen, ada banyak hal yang tidak akan anda temukan di bangku kuliah. Saya ingin memastikan kita memiliki pemahaman yang sama.”

Dia menatapku penuh makna. Wajahku memanas. Aku hanya bisa mengangguk kecil. “Saya sudah menyiapkan ruang khusus tepat di sebelah kantor saya untuk anda bekerja. Saya tidak ingin anda merasa kesepian atau kesulitan mendapatkan data. Anda bisa langsung bertanya pada saya jika ada hal yang dirasa aneh,” tambahnya sambil mengembalikan berkasku.

Tanpa sengaja, dokumen itu melesat terlalu cepat dan hampir jatuh ke lantai. Secara refleks, aku menjangkau dokumen itu, dan di saat yang sama, Cassian juga melakukannya. Tangannya yang hangat dan kokoh menggenggam jemariku, menahannya di atas meja. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat tubuhku bergetar halus. “Ah, maaf, saya terlalu ceroboh,” bisiknya, namun dia tidak segera melepaskan tanganku. Matanya mengunci mataku, tajam dan intens.

Aku ingin dia terus memegangku. Aku merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta pada pandangan pertama. Sikapku pasti terlihat sangat canggung saat aku akhirnya menarik tangan dan berdiri untuk pamit. “Besok saya akan mulai bekerja, Tuan Cassian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Dia mengangguk anggun, berdiri untuk membukakan pintu bagiku, dan memberikan senyum tipis yang sangat mematikan. Begitu aku melangkah keluar, aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa bekerja dengan benar jika kehadirannya saja sudah meruntuhkan seluruh logikaku?

Under His Eye

Sesampainya di kantor FIRA sore itu, aku berusaha tetap rasional, meski bayangan Cassian terus menghantui. Aku tanpa sadar tersenyum pada cermin saat sedang merapikan riasan, sebuah tindakan yang langsung ditangkap oleh temanku, Lolita. “Baru kali ini aku melihatmu tersenyum begitu pada cermin. Siapa dia, Elira?” tanya Lolita penuh selidik. “Hanya... klien audit baru. De Luxen,” jawabku mencoba bersikap biasa. “Cassian De Luca? Pria Italia yang misterius itu? Katanya dia bisa membuat orang ketakutan hanya dengan melihatnya,” ujar Lolita. “Dia tidak semenakutkan itu. Dia sangat sopan,” belaku, dan aku bisa merasakan pipiku menghangat. Lolita tertawa mengejek. “Hati-hati, Elira. Jangan biarkan pesonanya membuatmu melupakan tugasmu. Dia itu hiu keuangan, mungkin saja mafia. Jangan sampai kau yang bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.”

Aku merengut. “Tentu saja tidak. Aku akan profesional. Aku akan memeriksa setiap sen yang mereka hasilkan.” Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu pertahanan diriku sedang goyah. Aku membayangkan dia berbisik di telingaku, menyentuh tengkukku. Aku merasa jijik dengan ketidakberdayaanku sendiri, namun gairah itu tetap di sana, berdenyut pelan setiap kali aku mengingat namanya.

Alone With His Shadow

Hujan gerimis mulai membasahi London saat aku pulang ke apartemenku. Kesendirian yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan. Apartemen ini terlalu sunyi, terlalu kosong. Setelah menyeduh teh hangat, aku duduk di ruang baca dan membuka kembali dokumen De Luxen.

Namun, aroma parfum Cassian seolah-olah menempel di pakaianku, memenuhi indra penciumanku. Pikiranku melayang kembali ke saat dia menggenggam tanganku. Aku membayangkan hembusan nafasnya yang hangat di leherku, membayangkan tangannya yang kokoh membelai pinggangku di tengah kegelapan apartemen ini.

Fantasiku menjadi liar, membawa sosoknya ke dalam ruang pribadiku. Aku merasakan ketegangan yang hebat di sekujur tubuhku, sebuah kerinduan akan sentuhan yang sudah dua tahun tidak kurasakan. Dalam keremangan cahaya lampu jalan yang masuk menembus tirai, aku bergelut dengan perasaanku sendiri. Aku membayangkan dia berdiri di depanku, menuntut kepatuhanku dengan suaranya yang bariton.

Ketegangan itu memuncak dalam kesunyian malam. Aku membisikkan namanya, sebuah pengakuan akan kekalahanku terhadap pesonanya. Gejolak itu menghantamku, meninggalkan rasa lelah yang dalam dan sepi yang makin menyayat hati setelah semuanya berakhir. Aku terbaring di sofa, menatap langit-langit, menyadari bahwa Cassian De Luca telah menjadi hantu yang menghuni pikiranku. Esok hari, aku akan kembali ke sana, masuk ke dalam kandang singa itu, dan aku tidak tahu apakah aku akan keluar sebagai pemenang atau justru sebagai mangsa yang dengan sukarela menyerah.

*****