Closed Curtains
Langkahnya pelan dan tertatih. Matahari Barcelona siang itu sangat tidak bersahabat. Panasnya terasa membakar sampai ke tulang. Rita menyusuri sepanjang jalan Carrer d'en Robador, sebuah jalan atau lebih tepatnya gang sempit di kawasan Ciutat Vella, jantung kota tua Barcelona yang menyimpan sisi gelap dibalik kemegahannya. Dia berusaha untuk mendapat pekerjaan bahkan mungkin sekedar menjadi tukang cuci piring di bar kumuh yang ada di sana. Namun nasib belum berpihak padanya. Hampir semua bar, rumah makan bahkan depot kecil di sana mengatakan mereka tidak butuh pekerja baru.
Kondisi Barcelona memang sedang sulit. Banyak pengangguran, kerjaan makin susah didapat, uang pun makin tidak punya nilai. Namun bagi Rita kondisi dirinya jauh lebih menyedihkan. Seharian ini dia belum makan, bahkan rasa lapar yang sedari tadi dia rasakan sudah menjelma menjadi seperti tusukan belati di ulu hatinya. Tapi dia tidak akan berhenti sampai dia dapat pekerjaan.
Sudah beberapa kali dia ditolak ketika mengajukan diri untuk bekerja baik itu di bar atau kedai yang dia lalui di sepanjang jalan. Dia kini menyadari bahwa keterampilan menari yang dia miliki, yang dulu pernah membuatnya menjadi seorang penari Flamenco yang terkenal di seantero Barcelona, tidak ada artinya lagi. Kecantikan tubuhnya yang perlahan memudar ditelan usia membuatnya tersingkir dan tidak lagi mendapatkan tempat dimanapun. Bukan hanya dipanggung pertunjukan, tetapi juga di dunia kerja.
Rasa lelah dan haus yang menggerogoti, akhirnya membuatnya terpaksa duduk di sebuah bangku kecil tua di pinggir trotoar. Dia duduk sambil meluruskan kakinya yang lecet karena telah melalui jalan yang panjang berdebu, sementara sepatunya yang lusuh dan mulai jebol di beberapa tempat membuat kakinya merasakan terik dan panasnya jalanan yang menyengat. Keringat mengalir deras di pipinya, membuat riasan yang dipakainya meleleh dan menyisakan penampilan lusuh dan kumuh.
Saat tengah melepas lelah, matanya tertuju pada selebaran kertas yang menempel di sebuah tiang lampu yang berdiri kokoh persis di sebelah bangku yang didudukinya. Disana jelas terpampang tulisan Festival de Flamenco de Sevilla. Hatinya berdesir, gejolak keinginan untuk bisa ikut terlibat dalam festival itu membuatnya bersemangat dan pada akhirnya tanpa ragu memencet sebuah nama yang ada di ponsel bututnya.
Terlintas di benaknya, Festival ini akan berlangsung selama satu bulan dan andai dia mendapat kurang lebih 10 slot saja untuk tampil, dengan bayaran per slot €1.500, maka dia bisa mendapatkan uang sekitar
€15.000. Dan ini lebih dari cukup untuk membayar tunggakan apartemen senilai €2.000, serta hutang pada rentenir untuk makan sehari hari sebesar €5.000. Total dia hanya perlu €7.000, sisanya sebanyak €8.000, bisa digunakan untuk modal hidup baru atau pindah ke tempat yang lebih layak.
Bayangan bahwa kesempatan menari Flamenco itu akan menjadi jalan keluar bagi kesulitan hidupnya membuatnya kembali bersemangat dan kemudian mencoba menghubungi mantan manajer tempat dia dulu bergabung dalam sebuah manajemen seni dan tari, Diego Ibanez. Seorang pria tua beruban, perokok berat, yang melihat seni hanya sebagai angka dan bisnis. Hatinya melonjak kegirangan ketika nomor Diego tersambung, tanda dia masih belum diblokir dan dengan hati berdebar dia mulai menanti percakapan dengan Diego.
*****
Obsolete Pride
Dengan sisa sia rasa bangga yang dia miliki, dia pun berbicara dengan Diego penuh percaya diri, “Ola Diego, kamu masih ingat aku?”
“Ola” terdengar suara pria diseberang sana membalasnya.
“Siapa ini? Aku tidak menyimpan nomormu. Siapa ini?”
“Rita, ….Rita Valeriana de La Vega. Mantan primadona di manajemen milikmu.”
“Ah kau, Rita…apa yang kau inginkan? Aku sudah lama tidak mendengarmu sejak mansion mewah mu disita oleh kepolisian akibat kasus hutang piutang itu.”
“Lupakan semua itu Bodoh! Aku hanya minta kau membantuku sekali ini saja.”
“Apa? Bantuan apa lagi yang kau minta? Aku sudah bosan memberimu uang hanya untuk makan, hidup atau bayar hutang. Aku tidak punya uang lagi untukmu jika itu yang kau mau !”
“Tidak, tentu aku tidak minta bantuan uang. Festival de Flamenco de Sevilla”
“Ya , ada apa dengan Festival itu?”
“Aku ingin kau bisa memasukkan aku lagi dalam deretan penari yang akan tampil. Oh tolonglah aku hanya butuh 10 slot tidak lebih. Aku ingin ikut ambil bagian, mendapatkan uang dan mengeluarkan diriku dari lubang kemiskinan ini.”
Sunyi sejenak di antara mereka, lalu terdengar suara parau dan tua Diego tertawa seolah menertawakan permintaannya untuk tampil dalam Festival Flamenco itu.
“Hahahah, apa? 10 Slot katamu? Rita…rita, berkacalah. Kau sudah terlalu tua untuk tampil. Wajahmu sudah tidak mempesona lagi. Kau sudah peot dan tua. Tubuhmu sudah tidak semenarik dulu lagi. Siapa yang akan sudi melihat penari Flamenco usia 43 tahun dengan segudang permasalahan hukum dan masa lalu kelam menari di atas panggung. Kau tua, jelek dan punya banyak hutan. Aku tidak mau beresiko dengan semua rentenir rentenir mu. Ditambah lagi kau sudah masuk era ekspired. Kau tidak layak tampil di panggung manapun. Jangankan 10 slot, satu slot saja kau tidak layak! ”
Hati Rita membeku ketika mendengar dirinya dikatakan peot, tua dan jelek serta tidak kayak tampil meskipun itu hanya satu slot pertunjukan saja. Tak terasa air matanya mengalir deras tanpa suara.
“Kau jangan keterlaluan menghinaku Diego. Ingatlah dulu, aku yang membawa banyak penonton memenuhi gedung pertunjukan. Akulah yang menjadi Primadona panggung, yang membuatmu kaya raya dan bisa membuatmu membeli rumah serta mobil mewah di kawasan Elit Barcelona,” ujar Rita dengan suara bergetar nyaris tumbang.
Masih dengan sisa tawanya Diego pun menjawab, “ Ya ya…itu dulu Rita, puluhan tahun lalu. Aku akui kau adalah bintangnya. Tetapi jaman sudah berubah. Eramu sudah berlalu. Usiamu sudah tidak lagi memungkinkan untuk tampil pada seni pertunjukan apapun. Kau hanyalah masa lalu yang suram Rita.”
Dengan air mata menetes yang membuat maskaranya luntur berantakan Rita kembali menjawab, “ Setidaknya ingatlah aku pernah mendatangkan puluhan penonton yang bersedia mengisi kursi VIP dan membayar mahal hanya untuk bisa melihatku menari. Kala itu aku membuatmu menjadi manager kelompok tari dengan pendapatan paling tinggi di seantero Barcelona. Jangan pernah kau lupa itu Diego.”
Rita masih berupaya bernegosiasi dengan Diego menggunakan sejarah dan masa lalunya sebagai Primadona panggung Flamenco.
“Aku tahu dan ingat semua itu Rita. Namun sekarang seni pertunjukan sudah berubah. Banyak aturan baru yang tidak lagi membuatmu layak untuk tampil, meskipun hanya dengan satu slot kemunculan yang tidak berarti.”
“Apa, perubahan apa itu?”
“Saat ini kami sebagai kelompok seni penyedia penari Flamenco hanya bisa memberikan penari dengan usia maksimal 30 tahun. Usiamu yang sudah menginjak kepala 4, tidak memenuhi syarat untuk diajukan sebagai penari di panggung pertunjukan mana pun apa lagi di panggung Festival sebesar Festival de Flamenco de Sevilla. Mereka pemilik acara dan pertunjukkan hanya mau wanita muda dengan tubuh sintal dan wajah yang mulus, muda terjaga. Sudahlah lupakan masa lalu kejayaanmu sebagai penari Flamenco. Kau carilah pekerjaan lain, seperti pelayan toko atau pembantu pembersih kamar mandi di pom bensin atau sejenisnya.”
Rita tidak dapat lagi membendung air matanya, dengan suara tangis yang membuatnya bergetar dia berkata,” Kau keterlaluan Diego, stop menghinaku. Sejelek jeleknya aku, pernah menjadi tambang uang dan aset berharga untukmu.”
“Ok…ok , maafkan kata kata kasarku. Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku hanya ingin kau sadar diri. Bahwa era mu sebagai Primadona Flamenco sudah berlalu. Tapi baiklah jika kau tidak percaya dengan perkataanku, aku akan mempertemukanmu dengan Manager panggung Festival de Flamenco de Sevilla. Kau bisa mencoba berbicara sendiri dengannya dan mencoba menawarkan dirimu sendiri padanya untuk bisa tampil.”
Secercah harapan muncul dari perkataan Diego. Janji itu membuat wajah Rita kembali cerah dan senyum kembali menghias wajahnya yang kuyu.
“Kapan kau akan mempertemukan aku dengan dia?”
“Sore ini, datanglah ke Teatro de la Maestranza. Sore ini ada latihan untuk acara pembukaan di sana. Kau bisa bicara dan bernegosiasi di sana.”
“Baiklah, Diego. Terima Kasih atas bantuanmu. Aku akan mempersiapkan diri.”
KLIK
Ponsel Diego pun mati tanpa permisi, seolah dia enggan berbicara panjang lebar lagi dengan Rita. Namun sungguh dia sudah tidak peduli, yang terpenting kesempatan melobi manajer pertunjukan agar dia bia tampil sudah di depan mata. Hal lainnya dia sudah tidak lagi penting.
*****
The Director
Sore itu Rita sudah mengenakan baju penari Flamenco miliknya yang sudah usang. Namun dengan penuh percaya diri dia melangkah masuk ke gedung Teatro de la Maestranza. Aura megah gedung pertunjukan itu langsung menyergapnya dengan memory saat dulu dia memasuki gedung dan di elu kan oleh banyak fans. Dia merinding mengingat peristiwa itu. Sungguh sebuah kenangan yang membangkitkan rasa percaya diri dan kebanggan.
Begitu mendekati area panggung dia melihat Diego mantan manager nya dulu, sedang berbincang bincang dengan seorang pria. Sepertinya itu adalah Director panggung festival Flamenco yang dimaksud Diego. Director itu masih sangat muda. Badannya tinggi tegap dengan badan atletis dan terawat. Namun sekilas tergambar sifatnya yang kejam dari tatapan matanya yang menusuk.
“Hai Rita, cepat kemarilah,” suara Diego memanggilnya.Dengan bergegas Rita segera menuju ke arah Diego. Director itu tahu kedatangan Rita namun sama sekali tidak memandang ke arahnya.
“Rita, kenalkan ini Director Festival Flamenco yang aku maksud tadi.”
“Hai, perkenalkan aku Rita Valeriana de la Vega.”
Sambil melirik sekilas Director itu menerima jabat tangan Rita dan berkata,” Don Javier Moretti.”
“Apakah anda Director untuk Festival de Flamenco de Sevilla ?” tanya Rita Sopan
Don Javier melihat ke arah Rita dengan pandangan meremehkan , lalu memperhatikan Rita dengan tatapan tajam menusuk dari atas ke bawah, “ Ya aku Directornya. Apa keperluanmu? Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu.”
“Aku ingin kau memberiku kesempatan untuk tampil dalam Festival Flamenco ini. Aku dulu adalah primadona panggung…..”
Belum selesai Rita berbicara Don Javier sudah mulai tertawa, pertama pelan dan hampir tanpa suara. Tapi makin lama makin kencang hingga menarik perhatian sejumlah orang.
“Primadona panggung katamu? Kapan itu? Lima tahun lalu? Sepuluh tahun lalu? Atau dua puluh tahun lalu?
Rita yang sadar akan situasi langsung menyerang Javier dengan perkataan,” Aku bisa menari lebih baik dari seluruh penari Flamenco yang saat ini kau jadwalkan untuk tampil pada Festival itu. Aku menari dengan gaya dan penampilan yang lebih sempurna, aku jauh lebih senior dan punya pengalaman.”
“Dengar nyonya, berkacalah baik baik. Kulitmu yang sudah menggelambir, dengan riasan kosmetik murah milikmu itu, ditambah lagi dengan gaun yang sudah usang dan butut itu, kau tidak terlihat seperti penari Flamenco profesional. Kau tampak seperti badut pengemis yang berjalan di sepanjang Plaza Catalonia. Kau ini sungguh lucu.”
Rita melihat ke arah Diego seperti meminta dukungan dan pembelaan. Tapi sayang, Diego hanya mengangkat bahu seolah tidak ingin ikut campur.
“Aku dulu mampu menarik begitu banyak penonton. Kursi VIP pasti penuh kalau aku yang tampil. Namaku dikenal di seantero Barcelona. Dan semua itu terjadi bahkan sebelum ada dirimu sebagai Director panggung Tuan Javier. Kau sama sekali belum ada bahkan belum punya nama saat itu.”
Javier spontan menatap Rita dengan pandangan marah dan emosi. Tetapi dia diam dan tidak menjawab kata kata Rita yang cenderung merendahkannya. Dia hanya menepuk tangannya tiga kali. Dan tak lama kemudian Sederetan wanita wanita muda dan cantik datang berbaris dihadapannya dengan rapi. Para penari Flamenco pimpinan Javier itu berjajar seperti menunggu perintah.
“Lihat Nyonya Rita Valeriana de la Vega, mereka adalah penari penari yang kau hina tadi. Kau perhatikan perbedaan mu dengan mereka? Usia nyonya. Mereka muda, harum dan ranum. Sementara kau tua, loyo dan layu. Lebih mirip apel busuk berulat yang ada di tempat sampah.”
Rita mendengar tawa tertahan beberapa penari itu. Tatapannya nanar memandang ke arah Javier dan berkata, “Cukup hinaanmu Javier. Aku tidak layak kau sejajarkan dengan penari penari amatir ini. Aku punya jam terbang tinggai dan…”
“Cukup Rita! Aku sudah mulai kehilangan kesabaranku. Kau selalu menghina penari penariku dengan sebutan yang tidak pantas untuk mereka terima. Mereka tidak kenal kau dan aku juga tidak tahu siapa kau dulu. Namun satu yang jelas, penonton menghendaki gadis muda dan cantik yang enak dipandang mata untuk acara Festival nanti, dan bukan nenek nenek tua peot yang sombong sepertimu. Pergi dan menyingkirlah kau dari hadapanku atau aku akan memanggil security untuk menendangmu keluar dari gedung ini!”
Rita terkejut dengan suara nyaring Javier yang diikuti oleh gelak tawa para penari muda yang tampak lebih cantik darinya malam itu. Dengan langkah gontai dia meninggalkan gedung. Air mata deras mengalir di pipinya. Penghinaan itu sungguh membuat mentalnya jatuh. Dia mulai menyadari, mungkin benar kata Diego, Era kejayaannya sebagai penari sudah lama berlalu, bahkan sebelum dia pensiun dari panggung pertunjukan. Apa yang tersisa sekarang dari semua itu hanya kenangan kosong tanpa arti yang hanya makin membuatnya terpuruk dan jatuh.
*****
"Time is a thief that steals the spotlight and leaves only shadows."
Chapter 1. The End Of Her Era




