RUANG KOSONG DIANTARA KITA

Total Chapter : 20 Chapter

Premium Chapter : 4-20

Free Chapter : 1/2/3

Blurb

Isobel Pembroke adalah istri dari konselor pernikahan paling disegani di Edinburgh. Di mata publik, mereka adalah potret kebahagiaan. Di balik pintu tertutup, Isobel hanyalah hiasan dalam rumah yang dingin dan penuh logika.

Selama sepuluh tahun, Gareth Pembroke menyelamatkan ratusan rumah tangga orang lain dengan komunikasi dan teori—tanpa pernah menyadari cinta istrinya sendiri sedang memudar.

Hingga Fergus MacRae kembali. Mantan tunangan dari masa lalu yang menawarkan kehangatan yang tak lagi dimiliki Gareth. Apa yang dimulai sebagai pelarian, dengan cepat berubah menjadi pengkhianatan yang berbahaya.

Gareth tidak berteriak saat ia menemukan kebenarannya. Ia tidak mengemis agar Isobel kembali. Sebagai pria yang terbiasa membedah kegagalan manusia, Gareth tahu persis cara menghancurkan seseorang tanpa menyentuhnya.

Dalam permainan harga diri dan reputasi ini, cinta telah mati. Yang tersisa hanyalah strategi.

Ketika pengabaian bertemu dengan pembalasan yang terukur, siapakah yang akan benar-benar kehilangan segalanya?

The Anatomy Of Emptyness

“There are wounds that logic cannot heal , the kind that breathes in silence, and sleeps beside you every night.” — The Akashic Record

The Confident Counselor

Lampu jalanan masih menyala temaram di kiri dan kanan jalanan berbatu kota Edinburgh. Hujan semalam membuat suhu pagi ini menjadi begitu dingin, ditambah lagi kabut tebal masih pekat menyelimuti menara Gothic yang menjulang tinggi seolah ingin menyembunyikan icon Edinburgh itu dari cahaya mentari yang enggan bersinar.

Seorang pria tampak keluar dari Royal Terrace Apartment no 19 yang berlokasi di Regent Road Edinburgh. Royal Terrace terletak di sisi timur Calton Hill, bagian dari kawasan New Town yang tenang dan bergengsi. Deretan bangunan batu abu-abu dengan jendela tinggi — dulunya townhouse, kini menjadi apartemen bergengsi untuk profesional kelas atas. Mobil fordnya terparkir di tepi jalan berbatu tepat di depan pintu masuk apartemen. Dia adalah Dr. Gareth Pembroke,Ph.D. Seorang Clinical Psychologist & Marriage Counselor dari Star & Haven Counseling – Emotional Recovery Practice.

Dari gelarnya yang mentereng, siapapun tahu bahwa dia adalah profesional dibidang konsultasi perkawinan yang cukup punya nama di Edinburgh. Beberapa menit sebelumnya dia memandang dari jendela apartemennya ke arah bukit Calton Hill, Monumen Nelson dan pendar lampu kota di pagi hari. Semuanya masih tampak sunyi dan lengang. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk segera meninggalkan rumahnya yang hangat.

Dia jauh lebih senang segera mengawali hari pergi meninggalkan apartemennya menuju tempat prakteknya yang ada di 3 Jeffrey Close, off Cockburn Street, Old Town, Edinburgh. Disana dia bersama beberapa rekannya mendirikan klinik Konsultasi pernikahan Star & Haven Counseling sebuah klinik yang berfokus pada Emotional Recovery Practice.

Jeffrey Close adalah gang sempit yang berada di antara Cockburn Street dan Market Street, tidak jauh dari Waverley Station. Gedungnya tampak tua dari luar — batu gelap, jendela kecil — dengan interior modern minimalis, seolah memisahkan dunia luar yang kusam dengan tempat penyembuhan psikis.

Di lantai dua, tampak plakat logam kecil bertuliskan Star & Haven Counseling — Marriage & Emotional Recovery Practice. Dari dalam jendela kantornya terlihat atap-atap tua kota, menara St Giles Cathedral, dan kabut tipis yang menelan sinar pagi.

Masih sekitar dua jam lagi dia harus menemui Klien pertamanya hari itu. Begitu sampai di kantornya dia segera menyalakan ketel pemanas air untuk membuat teh Twinning kesukaannya. Sebenarnya tadi Isobel ( istri Gareth) sudah membuatkan teh itu di rumah. Tapi dia tidak selera untuk menikmati teh panas itu di sana. Dia lebih suka membuat sendiri di kantornya sambil membaca koran dan makan makanan ringan yang tersedia. Rasanya lebih damai. Entahlah mengapa di rumahnya sendiri dia merasa tidak menemukan kedamaian. Padahal istrinya yang pendiam selalu setia melayani setiap pagi.

Tanpa terasa dua jam pun berlalu, baru saja dia meletakkan koran yang dibacanya, ketika receptionist nya, Darel, seorang wanita irlandia berperawakan kecil, mengatakan bahwa pasangan William dan Rose yang sudah janji temu telah datang. Dia segera merapikan dasi dan jasnya lalu meminta Darel mempersilahkan pasangan itu masuk.

“Selamat pagi, silahkan duduk,” kata Gareth sambil memandang pasangan muda itu dengan penuh senyum.

Kedua pasangan itu pun duduk dan setelah berbasa basi sebentar, mereka mulai menceritakan tentang masalah mereka. William sebagai suami mengakui bahwa dia pernah berselingkuh. Namun dia masih sangat mencintai Rose istrinya dan tidak ingin berpisah. Untuk itu dia ingin mereka berdua menjalani sesi konseling untuk mengungkap masalah diantara mereka.

Setelah mendengar curahan hati keduanya, Gareth tersenyum dan berkata, “Perselingkuhan hanyalah pilihan, bukan takdir. Semua bisa disembuhkan jika logika digunakan.”

Mendengar hal itu Rose sang istri menangis sambil mengusap air matanya. Semantara William sang suami mengelus punggung istrinya penuh kasih sayang dan penyesalan.

“Saya ingin mengakhiri kebiasaan buruk itu Tuan Gareth. Saya menyesal telah menyakiti hati istri dan anak anak saya. Anda tahu bukan anak adalah permata dalam hidup perkawinan. Apakah anda punya anak tuan Gareth?”

Pertanyaan William itu seperti menampar kesadaran Gareth yang kemudian dengan sedikit gugup menjawab, “ Saya tidak perlu punya anak untuk tahu makna semua kata kata anda tadi William. Kamu hanya perlu segera menyadari, bahwa perselingkuhan tidak ada yang kebetulan. Itu adalah pilihan sadar. Sehingga jika kau merasa bahwa hal itu menyakitkan bagi orang orang yang kau cintai, maka saatnya tiba kau mulai harus berpikir lebih rasional.”

“Anda benar Tuan Gareth, dan saya akan melakukan semua yang anda sarankan tadi,” ujar William dengan nada penuh keyakinan.

Sementara Rose yang berhenti menangis berkata, “ Saya sadar suami saya berselingkuh bukan tanpa sebab. Seperti kata anda tadi, kesalahan yang William lakukan bisa jadi pemicunya ada pada sikap dan perilaku saya. Saya akan mencoba mengevaluasi diri dan menata kehidupan kami lebih baik.”

Pasangan muda itu pun saling pandang satu sama lain dengan senyum penuh kesadaran dan cinta. Setelah berbasa basi seperlunya sesi konsul pun berakhir dan keduanya meninggalkan kantor Gareth dengan langkah ringan dan senyum bahagia. Gareth merasa puas dan bangga atas hasil kerjanya. Dia merasa berhasil memberikan pemahaman pada kedua anak muda tadi tentang pentingnya mengevaluasi diri dalam sebuah masalah perkawinan.

*****

Mirror Room

Segera setelah pasangan itu meninggalkan ruang Konsultasi, Gareth membuka buku catatannya dan menuliskan setiap saran dan petunjuk yang tadi dia berikan pasangan itu. Dia menuliskan detail kasus yang sedang ditanganinya, alasan mengapa itu terjadi dan sesi konsul yang akan dia lakukan bersama mereka. Namun tak seperti biasanya, dia merasa begitu kosong. Dia tidak sesemangat biasanya. Serasa ada sesuatu yang mengusik ketenangannya.

Pertanyaan William, tentang perasaan menjadi seorang ayah, tiba tiba mengusik kedamaian batinnya. Yah, pernikahannya dengan Isobel yang berjalan hampir dua dasawarsa memang tidak dihiasai tawa dan tangis anak anak. Namun itu adalah kesepakatan bersama. Dia dan Isobel sudah sejak awal berikrar untuk melakukan Childfree Marriage. Hal ini semula timbul karena kondisi pekerjaan Gareth yang sangat menyita waktu dan hampir jarang di rumah, ditambah lagi kemampuan dia di awal pernikahan untuk mensupport kehidupan keluarga masih jauh dari layak.

Namun sekarang ketika masing masing dari mereka beranjak tua, Gareth merasakan adanya ruang hampa (Void) yang tidak pernah bisa terisi oleh apapun. Bahkan oleh sebanyak apapun uang yang dia bawa pulang. Kesepian yang mencekam, rutinitas yang membosankan dan bahkan sudah hampir lima tahun dia tidak pernah mengajak Isobel berlibur untuk sekedar menikmati waktu bersama.

Dia menatap dirinya dalam cermin dan bergumam, “ Lihat dirimu Gareth, kau tidak lagi muda. Namun hidupmu hanya berputar antara Jeffrey Close dan Regent Road.”

Tidak ada hal lain yang dia lakukan selain kerja dan pulang ke rumah, lalu kerja lagi dan pulang ke rumah. Seandainya semua uang yang diperoleh dari pekerjaannya itu dikumpulkan, mungkin dia sudah tidak perlu bekerja lagi karena begitu sedikitnya kebutuhan harian mereka dibanding uang yang dia peroleh.

Sebuah kalimat tanya muncul dalam benaknya, “Untuk apa hidup dan pekerjaanku ini?”

Namun dia segera menepisnya dan berkata pada bayangan dirinya sendiri yang terpantul di cermin,” Kau punya segalanya, apartemen mewah, mobil, istri yang cantik dan pekerjaan yang mapan. Kau tidak butuh apa apa lagi.”

Lalu dia memutar musik klasik kesukaannya yang mengalun pelan dan lembut. Sedemikian pelan dan lembut hingga di satu titik dia merasa musik itu terlalu sempurna dan sunyi.

*****

Journey Home

Matahari mulai perlahan tenggelam menyisakan semburat merah samar di langit Edinburgh. Kegelapan yang dingin tak lama lagi akan segera datang menutup pemandangan keindahan kota. Gareth bergegas masuk ke dalam mobilnya yang akan membawa dia kembali ke apartemen dan ke pelukan hangat Isobel istri yang sudah menemaninya selama hampir dua dasawarsa.


Begitu masuk mobil, dia tidak lagi memutar musik klasik sebagai teman perjalanan seperti biasanya. Melainkan dia memutar suaranya sendiri yang direkam saat melakukan sesi konseling dengan berbagai klien. Gareth memang punya kegemaran mendengarkan suaranya sendiri, karena baginya hal itu menumbuhkan rasa percaya diri, semangat dan Validasi sebagai konselor perkawinan yang paling terkenal saat ini.

Dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan atau pendapat orang lain mengenai dirinya. Satu satunya hal yang menjadi fokusnya adalah bahwa dia punya nama besar dan pengaruh setidaknya di Edinburgh sebagai orang yang bijak, konselor yang berhasil menyelamatkan ratusan bahkan ribuan pernikahan selama karirnya sebagai konsultan perkawinan.

Sesekali dia melihat pantulan dirinya di spion depan dan tersenyum kagum. Bagaimana tidak, lelaki seperti dirinya yang berasal dari kalangan biasa di lingkungan masyarakat Edinburgh, tahu tahu bisa merangsek naik sebagai doktor psikologi yang paling disegani sekaligus praktisi Psikologi Klinis dengan Fokus Marital Consultation yang punya begitu banyak klien bahkan daftarnya begitu panjang hingga terbooking sampai 2 - 3 bulan ke depan.

Sungguh dia merasa layak mengagumi dirinya sendiri dan percaya bahwa dia adalah laki laki sempurna yang paling tahu dan mampu menghadapi pasangan dan berbagai persoalan perkawinan. Terbukti pernikahannya dengan Isobel baik baik saja walaupun mereka tidak memiliki seorang anak pun. Baginya hal tersebut adalah bukti nyata bahwa dia adalah master dalam menjalani kehidupan perkawinan yang menurut banyak orang jauh dari ideal.

Ketika dia asyik mengagumi dirinya sendiri, tiba tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk dari istrinya Isobel.

“Apakah kau sudah makan atau makan diluar?”

Gareth membalas pesan itu dengan singkat padat dan jelas, “ Ya sudah.”

Padahal sejatinya dia belum makan apapun. Entahlah dia malas untuk makan malam ini. Namun jauh didalam lubuk hatinya dia tidak bisa menjawab, apakah dia malas makan karena sedang tidak ingin makan apapun atau karena enggan duduk berdua dengan istrinya dan menikmati kebersamaan.

Entahlah, sambil menghembuskan nafas panjang, dia melaju mobilnya menyibak pekatnya malam yang mulai turun. Dalam hatinya timbul sebuah bisikan yang susah untuk dibantahnya. Bahwa rumah baginya saat ini lebih pas sebagai alamat saja dan bukan tempat untuknya pulang serta melabuhkan tubuh dan hatinya.

*****

The Black Tistle

“When the rational man mocks the unseen, the unseen waits for its proof.”
The Akashic Record
The Invitation

Sore itu, Gareth merapikan meja kerjanya di klinik Star and Heaven Counselling. Sesaat sebelum pulang, tiba tiba sekretarisnya, Darel, memberitahu lewat telepon bahwa rekan kerja sekaligus partner bisnis Gareth, yaitu Dr Callum Reid datang ingin bertemu. Segera saja Gareth memerintahkan Darel untuk mempersilahkan beliau masuk.

Dr Reid adalah mitra Gareth mendirikan Klinik Konsultasi Star and Heaven. Mereka saling kenal sudah cukup lama. Berperawakan atletis, usia di awal 40 tahun, dengan wajah tampan dan rambut coklat pirang serta mata biru menggoda. Dr Reid punya selera humor yang baik dan sangat enak diajak bicara. Bisa dibilang beliau adalah teman akrab Gareth.

“Hai Reid Masuklah. Apa yang membawamu kemari sore ini?”

“Hai Gareth, lama kita tidak bertemu, kebetulan aku lewat sini dan sengaja mampir untuk menjengukmu. Kau terlihat sehat dan bugar.. “

“Ah bisa aja, aku yakin kau bukan sekedar kebetulan lewat, pasti ada sesuatu yang ingin kau sampaikan.

Mereka tertawa lebar sambil bersalaman. Setelah mempersilahkan duduk, Gareth pun kembali menanyakan alasan Dr Reid mengunjunginya.

“Tidak ada yang istimewa Gareth, hanya saja aku, kau dan Michael sudah lama tidak bertemu sekedar untuk membicarakan Klinik dan merayakan kesuksesan kita. Kebetulan sepupuku John membuka Cafe Baru dengan nama The Black Thistle. Soft opening nya malam ini. Aku ingin kita kesana untuk yah, sekedar minum dan melewatkan malam.”

Gareth menunjukkan ekspresi terkejut atas undangan itu. Sebenarnya dalam hati dia tidak begitu berminat, tetapi karena Dr Reid adalah teman akrab sekaligus partner bisnis, tidak enak rasanya jika mengabaikan undangan tersebut.

“Ayolah Gareth, kau bisa mengajak Isobel bila perlu. Sehingga kau tidak perlu khawatir meninggalkan dia sendiri di rumah.”

“Ah aku tidak yakin Isobel bersedia ikut. Dia introvert dan lebih suka berkutat dengan bukunya daripada pergi jalan jalan. Tapi, kau jangan khawatir, malam ini aku akan meluncur ke Black Thistle. Tunggu aku di sana.”

Reid tampak senang lalu dia berkata,” Terima Kasih Gareth, aku sangat menghargai kesediaanmu untuk hadir. Baiklah aku akan segera menemui Michael dan sekalian mengajaknya, kita ketemu di sana.”

Tak lama Reid pun pergi meninggalkan Gareth terpaku seorang diri. Undangan ini sebenarnya merupakan kesempatan untuk mengajak Isobel bersantai dan bersenang senang. Tetapi entahlah keengganan menguasai kalbunya.

Dia lebih nyaman berangkat sendiri ke soft opening cafe itu dan tidak melibatkan Isobel. Selain karena dia tahu Isobel kemungkinan akan lebih banyak diam, Michael dan Reid adalah rekan kerjanya dan bukan teman Isobel. Sehingga berangkat sendiri terasa jauh lebih Afdol.

Gareth pun segera menghubungi Istrinya, mengabarkan bahwa dia akan pulang larut. Dan seperti biasanya, Isobel hanya meng iya kan , tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, seperti alasan pulang malam, kemana dan dengan siapa.

Tak berapa lama kemudian, Gareth pun sudah berada dalam perjalanan dari kantornya yang terlihat dingin dan beku menuju pusat keramaian kota Edinburgh di wilayah Old Town tempat cafe The Black Thistle berada.

*****

The Black Thistle

The Black Thistle ternyata bukan sekedar cafe biasa seperti yang diduga Gareth sebelumnya. Bangunan batu gelap di Cockburn Street itu, ternyata terdiri dari dua bagian. Bagian depan adalah toko buku yang tampak estetik, sementara bagian belakang terdapat cafe dengan nuansa gothic but cozy khas Edinburgh. Konsepnya adalah one stop entertaining, dimana setiap pengunjung bisa terhibur dengan membaca buku yang disukai sekaligus minum kopi atau minuman hangat lain favorit mereka.


Gareth masuk ke dalam toko buku dan mendapati banyak sekali buku Grimoire dengan berbagai lilin aroma terapi dijual di sana. Petugas penjaga toko berpakaian sangat unik, yaitu pakaian penyihir era perburuan King James. Gareth tersenyum melihatnya.

“Apakah kau selalu berpakaian seperti ini saat menjaga toko?” tanya Gareth pada wanita penjaga toko.

Gadis itu menatap Gareth dengan tatapan aneh lalu menjawab,” Tentu tidak tuan, hari ini ada pesta Samhain (Halloween) saya diharuskan mengenakan outfit yang sesuai.”

Gareth terkejut dan baru sadar hari ini adalah 30 Oktober dan pesta Halloween memang ramai di Edinburgh. Dia melihat sekeliling, ternyata semua tamu yang datang mengenakan pakain unik khas Halloween dan hanya dia saja yang berpenampilan Formal.

“Oh God,” bisik Gareth dalam hati.

Lalu dia berjalan ke arah backyard tempat cafe Black Thistle berada. Suasana di sana tak kalah rame. Banyak pengunjung dengan berbagai kostum aneh khas Halloween sedang asyik minum minuman hangat diiringi alunan musik spooky yang terasa ganjil.

Tepat di pojok ruangan dia menangkap sosok dua sahabatnya dengan membawa istri masing masing dan mereka pun berkostum hantu.

“Hai Gareth, kemarilah. Meja kita di sini.,” teriak Reid

Ruangan itu penuh tawa ria dan suasananya sangat santai. Sepertinya hanya dia yang terlihat begitu serius dan kaku.

“Gareth, mengapa kau berpakaian begitu Formal. Jangan bilang kau tidak tahu bahwa di Black Thistle ada pesta Halloween,”teriak Michael sambil tersenyum

“Ah aku lupa menyampaikan padanya, jika hari ini pesta Halloween,” sahut Reid

Gareth tampak kikuk di tengah sahabatnya yang berpakaian serba unik dan didampingi istri masing masing.

“Hai Gareth,” sapa Maria istri Reid. “Kau tidak mengajak Isobel?”

Gareth spontan gugup dan sejenak tidak tahu harus berkata apa. Dia pikir ini adalah pertemuan resmi sehingga takut membuat Isobel bosan, oleh karenanya dia memang sengaja tidak mengajak Isobel.

“Sudah kukatakan tadi untuk mengajak Isobel, tapi Gareth merasa lebih nyaman datang sendiri rupanya. Sudahlah jangan panik Gareth, duduklah,” sahut Reid

Dia pun duduk dengan canggung diantara teman temannya yang terlihat santai dan happy dengan istri masing masing. Gareth memperhatikan sekelilingnya, ruangan ini sengaja di hias nuansa spooky dengan berbagai kelambu hitam di sana sini, ornamen kelelawar dan beberapa topeng seram serta boneka hantu. Diatas meja sudah terdapat menu yang juga dimodifikasi khusus sesuai dengan nuansa Halloween.

“Kami semua sudah pesan minuman khusus hari ini, yaitu Blood Of Vampire, “ ujar Reid dengan nada bercanda. “Kau mau pesan apa?”

Dengan pandangan panik dan bingung Gareth membaca deretan minuman dan makanan dalam daftar menu yang semuanya terlihat aneh.

“Aku tidak tahu harus pesan apa. Hemm aku mungkin ikut pesanan kalian saja,” ujarnya.

Rheid mengangguk dan menyahut ,”Good , kamu akan menjadi Another Vampire malam ini.” Perkataan itu disambut derai tawa Michael dan istrinya.

Tak berapa lama minuman itu pun datang. Ternyata apa yang disebut dalam daftar sebagai Blood of Vampire adalah campuran dari 30 ml blackcurrant liqueur (Crème de Cassis atau Bols Blackcurrant), 10 ml pomegranate juice (jus delima segar untuk efek “darah kental”), 10 ml grenadine (untuk warna dan rasa manis lembut) dan Sedikit air soda atau prosecco dengan efek sparkling seperti darah menggelegak.

Mereka lalu minum bersama sambil mengangkat gelas dan berkata “Cheers”

Disambung oleh ungkapan doa Reid,” Semoga bisnis kita Star & Haven Counseling , semakin maju dan semakin banyak keluarga yang terselamatkan dari perceraian. Ameen.”

Semua serentak mengaminkan doa Rheid, setelah itu mereka ngobrol sana sini sambil menikmati suasana Halloween.

“Aku rasa kita perlu merencanakan pembukaan cabang baru di London, “ ujar Gareth di tengah perbincangan hangat mereka.

Reid memandang Gareth antusias,“ Aku rasa itu ide yang bagus. Bahkan aku saja belum berani melangkah ke sana. Tapi kau sudah memikirkannya. Menurutmu apakah kita perlu merekrut pegawai atau kita menambah mitra untuk cabang London?”

“Aku rasa kita tidak perlu membukanya sepanjang minggu. Kita hanya butuh kantor di lokasi strategis. Dan untuk 6 bulan pertama kita bisa membukanya saat ada appointment saja. Aku bersedia pulang pergi untuk itu,” jawab Gareth dengan mata berbinar

“Good, ide cemerlang. Kita akan matangkan rencana itu dan coba realisasikan awal tahun depan. Bagaimana, apakah kalian sepakat?” tanya Reid

Istri Michael menjawab, “Asal bukan suamiku yang harus pulang pergi London aku merasa itu ide bagus untuk kantor kalian. Maaf kalian tahu aku dan Michel punya 3 anak yang masih kecil dan harus kami urus. Dan aku sudah angkat tangan apalagi ditambah Michael, anak ke empatku”

Tawapun ramai berderai menyambut ucapan istri Michael. Suasana petang itu terlihat menyenangkan dan menghibur bagi pasangan Reid dan Michael. Sementara Gareth yang datang sendirian, seperti berusaha untuk tetap terhibur dan turut berbahagia , walau dalam hati dia mulai merasa menyesal mengapa tidak mengajak Isobel dalam pesta Halloween ini.

*****

Tarot Reading

“Some people fear the future because deep down they know they themselves are the source of the problem.”
The Advisor

Malam makin larut di The Black Thistle, namun undur diri tampaknya bukan opsi yang tepat bagi Gareth. Dia sangat ingin menghargai pasangan suami istri Reid sebagai teman dekat sekaligus mitra Profesional. Dia berusaha bertahan di acara Halloween yang baginya tidak lebih dari hiburan sampah kekanak kanakan.


“Hai Gareth, kemarilah,” teriak Callum Reid saat Gareth berjalan jalan keliling arena pesta.

Gareth melihat Callum ada di sebuah tenda Tarot yang tampak unik. Skeptis, dia berjalan menghampiri Callum.

“Kenalkan ini Helen Drummond, dia adalah temanku dan saat ini sedang ikut event di sini. Kamu cobalah ngobrol dengan Helen, “ ujar Callum seraya memberi kesempatan Gareth bersalaman dengan Helen.

Dengan pandangan sinis dan senyum smirk meremehkan, Gareth mengulurkan tangan.

“Gareth Pembroke.”

“Helen Drummond.”

“Coba sekali waktu kau keluar dari sudut pandang ilmuwan dalam menilai psikologis manusia, dan pelajari sudut pandang Tarot seperti yang Helen lakukan,” ujar Callum

Gareth tampak ingin tertawa dan ekspresinya sangat meremehkan.

“Aku tidak menduga kau percaya ramalan Reid?”

“Bukan soal ramalan, tapi perspektif. Siapa tahu bisa kita gunakan pada beberapa kasus yang kita anggap layak untuk itu. Oke aku tinggal kau berbincang dengan Helen, agar tahu apa yang aku maksud,” ujar Callum Reid sambil tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Gareth seorang diri.

Sepeninggal Callum, Gareth pun duduk di sebuah kursi di depan Helen dan mulai melihat kartu kartu Helen yang tersebar diatas meja.

“So, sejak kapan kau mulai meramal nasib orang nona Helen? Tahukah kau meramal nasib orang dan pergi ke tukang ramal untuk menerima ramalan, sama sama wujud gangguan jiwa ringan?

“Aku tidak pernah meramal nasib orang Tuan Gareth. Aku menyebut diriku sebagai Tarot Advisor. Aku memberi nasehat, atau saran pada seseorang atas masalah yang sedang dihadapi.”

Gareth tertawa terbahak-bahak, dan dengan nada menghina dia lalu berkata,” Siapa yang memberimu izin dan legitimasi untuk menawarkan advis pada seseorang. Jangan jangan kau sendiri orang pertama yang butuh diselamatkan lewat advis psikologis. Aku punya banyak klien yang mengalami halusinasi ringan tentang kemampuannya, sehingga merasa dirinya hebat melebihi kenyataan.”

“Saya mendapatkan pelatihan khusus tentang makna Kartu Tarot dan kaitannya dengan peta psikologis manusia Tuan Gareth. Saya bahkan punya sertifikat sebagai Certified Tarot Advisor. Anda tidak perlu ragu dengan kemampuan saya. Saya juga telah menangani banyak klein tuan.”

Gareth kembali tertawa dan i berkata dengan nada menghina,” Sejak kapan peramal kacau macam dirimu memerlukan legitimasi hukum dan mendapat hak profesi. Kalian hanya talent pengisi pesta Halloween seperti saat ini. Aku rasa hanya orang tolol yang mempercayai apapun yang kalian katakan.”

Gareth lalu memperhatikan penampilan Hellen. Dalam pandangan Gareth, Hellen memang berpenampilan berbeda dan tidak seperti tukang ramal yang dia sering lihat pada pesta rakyat atau Karnaval yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintahan tertentu di Edinburgh.

Alih alih menggunakan hiasan kepala ala Gypsy dan baju dengan warna mencolok seperti akan mengikuti pesta dansa, Helen justru tampak rapi sederhana dan jika dia bertemu dengannya dan bukan di meja Tarot ini, maka dia tidak akan menyangka jika Helen adalah pembaca Tarot.

“Aku terbiasa membaca kondisi batin dan spiritual seseorang lewat kartu Tarot tuan Gareth. Dan aku juga bisa membaca energi di sekitar kehidupan klienku sehingga aku bisa memberikan saran yang dia butuhkan.”

“Maaf aku terbiasa membantu Klien ku untuk membaca psikologis mereka dengan ilmu dan kewenangan hukum yang aku miliki. Bahkan aku menempuh pendidikan Doktor untuk itu., dan bukan hanya selembar sertifikat murahan seperti yang kamu dapat entah dari lembaga mana itu.”

Helen seperti tidak mendengarkan penghinaan Gareth, dan dia terus saja mengocok kartunya dan kembali berkata,” Aku akan mengocok kartu untukmu Tuan Gareth Pembroke.”

“Tidak perlu, aku rasa aku cukup dengan semua kegilaan yang kau katakan. Aku akan kembali pada teman temanku.”

Saat Gareth baru saja membalikkan badan meninggalkan Helen, tiba tiba wanita itu berkata,” Five Of Cups, kau membiarkan rumah tanggamu kosong kasih sayang. Banyak kekecewaan yang kau berikan pada pasanganmu. Jika terus seperti ini, lama kelamaan dia akan mencari orang lain untuk membahagiakan dirinya.”

Gareth mengeraskan rahangnya dan kembali menghadap Helen dan berkata,” Kau terlalu banyak minum Tequila Nona Helen, rumah tanggaku baik baik saja. Akulah justru orang yang sering memberikan saran dan masukan untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga para Klien dan bukan sebaliknya. So, simpanlah ramalan konyolmu itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak akan mempercayai semua yang kau katakan sedikitpun.”

Gareth melihat Helen tersenyum tipis padanya dengan pandangan tajam. Sesaat Gareth merasa tidak nyaman, namun kemudian dia bergegas pergi meninggalkan Tenda Tarot untuk kembali berkumpul bersama rekan rekannya.

*****

Masks and Reflections

Gareth kembali duduk di meja semula dan tampak menikmati pesta Halloween. Namun sesekali dia memperhatikan Tenda Tarot tempat Helen berada. Ada sebersit rasa bersalah. Dia merasa kata katanya tadi terlalu tajam. Tapi dia segera menepis rasa bersalah itu dan kembali fokus serta larut pada perbincangan dengan teman temannya.


Gareth memperhatikan sekelilingnya dan melihat tidak ada satupun para undangan yang datang sendirian. Mereka semua datang bersama pasangan masing masing. Mereka tampak bahagia dan saling mencintai. Bahkan Callum Reid dan istrinya pun tampak begitu mesra. Sebuah kemesraan yang sudah begitu lama tidak dia rasakan dalam kehidupan perkawinannya.

Dalm batin Gareth menilai, bahwa semua undangan yang hadir bersama pasangannya , meskipun mengenakan Halloween Mask, tapi dalam kehidupan percintaan bersama orang yang mereka cintai terasa lebih jujur dan tidak penuh kepalsuan. Justru dia yang hadir seorang diri, seperti menutup luka batin dengan topeng ketenangan dan kedamaian yang sebenarnya sudah lama tidak pernah dirasakannya bersama Isobel.

Lalu Gareth melihat pantulan dirinya dari sebuah kaca yang diletakkan di pojok ruangan tak jauh dari tempatnya duduk. Dia melihat pantulan laki laki yang mendekati usia paruh baya, dengan wajah kusut dan layu. Jauh dari wajah tampan dan damai yang tampak dari wajah Callum Reid.

Gareth menunduk dan menghindari refleksi bayangan wajahnya di cermin. Dia merasa cermin itu menunjukkan bayangan dirinya yang tampak beberapa tahun lebih tua, kusut dan tidak lagi tampan menggairahkan. Dia terlihat layu dan tak bergairah. Benarkah ini semua karena kehidupannya yang kosong dan monoton?

Sejenak dia teringat apa yang tadi Helen Katakan, “Five Of Cups, kau membiarkan rumah tanggamu kosong tanpa kasih sayang. Banyak kekecewaan yang kau berikan pada pasanganmu. Jika terus seperti ini, lama kelamaan dia akan mencari orang lain untuk membahagiakan dirinya.”

Dalam batin Gareth mengumpat dirinya sendiri dan menepis ingatan akan perkataan Helen. Dia menolak untuk menerima bahwa dirinya memang berada dalam rumah tangga yang kosong kasih sayang, dan sering meninggalkan Isobel seorang diri di rumah.

Dada Gareth berdebar lebih kencang dia merasa bisa jadi Isobel kecewa atas apa yang dilakukannya meskipun dengan dalih pekerjaan. Dan bisa jadi suatu saat Isobel mencari hiburan lain di luar kehidupan rumah tangga mereka. Oh God!

Gareth menenggak Tequila didalam gelas kristal yang sedari tadi dipegangnya dan mencoba mengalihkan seluruh perhatian dari pikiran negatif tentang rumah tangganya bersama Isobel.

****

The Five Of Cups

Tenggelam dalam keheningan di tengah keramaian pesta Halloween, membuat perasaan Gareth semakin tidak nyaman. Entah bagaimana dia merasa dirinya tidak layak berada di sana. Seharusnya sejak tadi dia sudah pulang dan berada di rumah bersama istrinya. .


Namun nuraninya berkata berbeda seolah ingin menyanggah apa yang baru saja dirasakannya ,”Kau tidak pernah melewati satu sore hari pun bersama istrimu walau secara fisik kau ada di rumah. Kau asyik sendirian dengan pekerjaan yang kau bawa pulang, dan istrimu asyik sendiri dengan laptopnya entah apa yang dia kerjakan. Dan hei, kau pun tidak pernah tahu apa yang sedang dilakukan Isobel dengan laptopnya itu.”

Gareth tersenyum kecut pada dirinya sendiri, dan tanpa pikir panjang dia berdiri lau berkata pada Callum dan teman lainnya yang ada di meja itu, “Sepertinya aku harus segera pulang. Hari sudah terlalu malam. Aku merasa tidak nyaman meninggalkan Isobel sendirian di rumah selarut ini. “

Michael memandangnya dengan penuh prihatin dan berkata,” Harusnya kau ajak Isobel, kami sudah lama tidak melihatnya. Aku rasa kau bekerja terlalu keras Gareth. Saranku bersenang senanglah dengan istrimu. Bawa dia pergi jalan jalan dan jangan sering meninggalkan wanita sendiri di rumah, berbahaya.”

Istri Michael tertawa kecil dan mencubit lengan suaminya. Gareth nampak kikuk dan beberapa saat kemudian dia pun melangkah pergi meninggalkan meja tempat mereka berkumpul. Dia mempercepat langkahnya meninggalkan Black Thistle menuju ke parkiran mobil.

Baru saja dia menyentuh pintu keluar Cafe, seseorang memanggilnya dari arah belakang.

“Tuan Gareth, kau melupakan sesuatu,” ujar suara itu.

Gareth pun menoleh dan melihat Helen sang pembaca Tarot tampak berjalan mendekatinya.

“Apa lagi nona Tarot?” jawab Gareth sinis.

Sambil mengacungkan tangannya Helen menunjukkan Kartu tarot The Five Of Cups yang tadi dia buka untuk Gareth.

“Kartumu tuan! Bawalah ini kartu milikmu. Jangan takut, itu hanya selembar kertas dengan gambar arketipe yang tidak akan membuatmu murtad atau mengalami hal negatif. Justru siapa tahu kartu ini bisa kau jadikan sarana merenung untuk merefleksi kehidupan perkawinanmu yang aku rasa sedang tidak baik baik saja,” ujar Helen dengan tatapan den kedipan mata penuh makna.

“Perkawinanku baik baik saja nona…”

Belum sempat Gareth menyelesaikan perkataannya, Helen sudah menyelipkan kartu tarot The Five Of Cups kedalam saku jas Gareth,


“Bawalah kartu ini dan renungkan perkataanku. Kau masih punya banyak waktu untuk memperbaiki kehidupan rumah tanggamu yang tampak penuh kekecewan. Bahagiakan istrimu dan ingatlah bahwa dia tidak akan selamanya ada di sana, di dalam rumahmu yang dingin untuk menunggu kau pulang. Suatu saat dia bisa pergi mencari kebahagiaan lain yang tidak pernah kau berikan padanya.”

Gareth bermaksud menolak pemberian kartu tarot Helen, tapi terlambat, kartu itu sudah meluncur masuk ke dalam jasnya. Gareth merasa tidak berdaya, namun Satu hal yang dia tahu pasti saat ini, bahwa dia harus segera meninggalkan Black Thistle secepat mungkin.

*****