Sin Behind The Mask


Blurb:
Ia hanya gadis biasa yang pernah dicintai dan dilupakan.Seorang penjual bunga miskin dan terlupakan. Kini ia dilelang dalam pesta elite bertopeng, demi menyambung hidup di kota besar. Yang membelinya adalah pria bertopeng—dingin, dominan, dan penuh kuasa.
Hanya satu yang dia rasakan, suara dan tubuh pria itu terlalu dekat dengan ingatan akan kekasihnya yang pergi meninggalkannya. Siapakah pria itu? Dan mengapa pelanggan pertamanya itu mengingatkan dia akan mantan kekasihnya?
Being Poor is Hurt
"Kemiskinan tidak hanya merampas kebebasanmu , tapi juga martabatmu."
The Dying Shop
Aku Alessia Romano, usia 28 tahun, penjual bunga di Rialto Market, tepat nya di di tepi Grand Canal,Campo della Pescaria Venice Italy. Kios bunga ini warisan dari ibu yang meninggal kurang lebih dua tahun lalu. Kami menjual aneka bunga yang biasa dibeli oleh wisatawan lokal maupun luar negeri yang berkunjung ke Venice Italy.
Menjual bunga adalah pekerjaanku satu satunya untuk menyambung hidup. Pendidikanku yang hanya setingkat SMA, tidak memberi pilihan banyak untuk bisa bekerja dan menghasilkan uang. Kedua orang tuaku tidak cukup mampu membiayai sekolahku dan adikku. Adikku bernama Ricardo Romano bekerja sebagai kuli angkut di pasar ini. Berbeda denganku yang menempati bagian Erberia dari Rialto Market, Adikku bekerja di area Pescheria ( area Pasar ikan).
Kami berdua nyaris jarang berbicara. Dia seperti enggan mengakui bahwa aku adalah kakak perempuannya. Mungkin kemiskinan ini membuat kami enggan bertegur sapa, mungkin dia takut jika ada penghasilan lebih, dia terpaksa berbagi denganku, sekedar untuk mengisi perut.
Hari ini tepat satu bulan aku tidak melihat Ricardo. Biasanya dia muncul seminggu sekali untuk sekedar menyapa atau membawa pelanggan pembeli bunga. Namun kali ini dia sama sekali tidak muncul. Terbersit rasa khawatir, hal buruk terjadi padanya, tetapi selalu kutepis. Aku jelas tidak mampu melakukan apapun meskipun itu sekedar menyiapkan pemakaman, misal dia mati dikeroyok preman pasar. Jadilah aku hanya diam membisu dan tidak berniat mencari tahu.
Kupandangi bunga di kios tempat ku berjualan, banyak yang mati. Tidak ada satupun bunga segar yang aku punya. Aku bingung. Mau dapat uang dari mana jika begini? Mau makan apa aku? Tak terasa air mataku menetes. Apakah aku akan mati kelaparan di pasar yang penuh dengan makanan ini? Sungguh ironis.
“ Ehm, Selamat pagi Alessia,” ujar Signor Ernesto Bellotti. Dia adalah pemilik lahan dan rumah sewa yang aku tinggali selama berjualan di pasar ini.
“Selamat pagi Signor. Apa yang bisa aku bantu?” tanyaku singkat
“Kau jangan pura pura tidak tahu Alessia, aku tidak akan ke sini tanpa tujuan jelas. Aku kesini karena ingin menagih uang bulananmu. Sudah 3 bulan kau tidak bayar. Kau tahu sendiri aku sudah tua, dan uang sewa adalah satu satunya sumber kehidupan bagiku,” ujarnya mengomel
Aku memejamkan mata untuk mencegah air mataku jatuh.
“Maafkan aku Signor. Besok aku bayar semuanya lunas. Ijinkan …” belum sempat ku selesaikan perkataanku Signor Ernesto sudah mengangkat tangannya menyuruhku diam.
“Signora Romano, aku bukan lembaga sosial. Tolonglah kau paham. Aku juga harus bayar hutang, juga harus makan. Aku tidak punya waktu lagi untukmu. TIga hari dari sekarang, jika anda tidak bayar, terpaksa aku bongkar lapak ini dan aku akan sewakan untuk orang lain.”
Aku hanya bisa menunduk lesu dan dengan tangan gemetar karena sedih dan lapar, aku mencoba tegar menata bunga bunga yang sudah hampir layu.
“Aaah lihat bunga yang anda Jual, semuanya layu. Mana ada yang mau beli jika begitu kondisinya? Lalu anda akan dapat uang dari mana? Pantas anda tidak bisa bayar saya,” omel Signor Belloti.
Aku hanya diam, dan pura pura tidak mendengar keluhan pak tua itu. Percuma aku menanggapinya, karena apa yang dikatakan dia benar, memang toko bunga ini hampir mati dan aku tidak bisa berbuat apa apa lagi. Air mataku kembali meleleh, aku panik, sebagian karena tidak tahu lagi harus berbuat apa sebagian lagi aku takut menjadi gelandangan setelah ini.
Aku mengusap air mataku dan dengan tekad bulat, aku berdiri. Hari ini bunga harus ada yang laku. Apapun yang terjadi.
Sepasang suami istri lewat di depan kios bungaku. Mereka melirik bunga yang ada di kios.
“Signor, Signora, silahkan pilih bunga yang mana. Semuanya bagus bagus,” ujarku mencoba percaya diri.
Wajah sang istri mencibir ke arahku dan berkata, “ Bagus? Kamu ini mau menipu ya. Bungamu layu semua dan tidak segar.”
Aku menunduk lesu, sang suami berkata,” Hush jangan begitu, tidak mau beli ya sudah, ayo kita pergi dari sini.”
Dan mereka pun berlalu tanpa menoleh sedikitpun padaku. Ya Tuhan ini sudah hampir pukul 12 siang dan aku belum makan apapun sejak kemarin siang. Perutku terasa perih, dan aku juga haus. Aku terduduk lemas melihat orang lalu lalang tapi tak satupun mampir ke stand bungaku.
Teringat kembali saat ibu masih ada, beliau begitu semangat mendirikan toko bunga atau kios bunga ini. Beliau sempat berpesan agar aku meneruskan kios ini dan jangan mudah putus asa. Namun lihatlah diriku sekarang, aku rasanya hampir sekarat karena kelaparan, tanpa uang dan dalam ancaman pengusiran. Sungguh hidup miskin dan tidak punya uang itu menyakitkan.
*****
Chiara and Her World
“Hai,”
Aku dikejutkan oleh suara yang kukenal akrab.
“Alessa, kamu kenapa? Nih, aku bawakan teh hangat dan roti.”
Aku menengadah, wajah Chiara dengan senyum khasnya memandangku penuh tanya.
“Ini…ambil, panas tahu. Ini Teh terenak yang pernah ada. Dan ini Muffin keju buatanku,” ujarnya riang.
Aku menerima makanan dan minuman itu dengan hati penuh syukur. Terimakasih Tuhan, akhirnya aku bisa makan juga hari ini.
“Ada apa Alessa, kau tampak sedih dan stress?” tanya Chiara
“Kau lihatlah, bungaku banyak yang layu. Signor Ernesto Bellotti dia minta uang sewa kios ini. Sementara aku tidak punya uang sama sekali. Aku bangkrut Chiara,” jawabku dengan nada sedih
“Hemm, bagaimana dengan Ricardo? Tidak kah dia bisa bantu kamu?” tanya Chiara lagi
“Sudah satu bulan ini aku tidak melihat Ricardo. Entahlah ada dimana dia,” jawabku lemah.
Aku makan Kue Muffin Chiara dengan lahap lalu minum teh yang dia berikan.
“Hemm Hidup memang tidak selalu indah Alessa. Seringkali kita dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak mudah,” ujarnya.
Aku meneguk tehku dan berkata,” Aku butuh pekerjaan, Dalam 3 hari jika aku tidak segera memberikan uang pada Signor Ernesto, aku akan tidur di jalanan. Aku butuh uang,”
Chiara lalu tersenyum dan berkata,” Aku tahu kesulitanmu, tapi aku sendiri orang susah yang tidak punya cukup kekuatan untuk menolongmu. Namun rumah kontrakanku terbuka bagimu jika kau di usir tua bangka itu.”
“Kau sendiri Chiara apa yang kau buat untuk hidup?” tanyaku
“Maksudmu pekerjaan?” ujarnya sambil menyalakan sebatang rokok.
Dia menghembuskan asap rokoknya ke udara dan berkata,” Aku hampir tidak pernah tidur di rumah kontrakanku. Kadang aku tidur dalam pelukan satu laki laki ke pelukan laki laki lain. Ya cukup menyenangkan jika kita mendapat yang ganteng dan ramah. Namun kadang aku juga tidak seberuntung itu. But Oke lah, aku masih ada duit dan punya uang sisa untuk ditabung.”
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk. Antara ingin punya pekerjaan yang membuat kita bisa menabung, dan rasa tidak suka dengan jenis pekerjaan yang dijalani Chiara.
“Hei, kau jangan berpikir bahwa aku tiap malam melayani laki laki. Aku ini hanya pelayan bar yang terkadang memberikan kesempatan diriku untuk berhura hura dengan laki laki hidung belang, tidak lebih.” ujarnya sambil kembali menghembuskan asap rokoknya.
Aku mengangkat alisku dan mencoba untuk mengerti hidup yang dia jalani. Tapi aku tetap tidak paham.
“Aku tidak pada tempatnya menghakimi mu Chiara. Selama kau bisa menikmati pekerjaan yang kau jalani, that is good,” ujarku singkat.
“Datanglah ke Bar tempat ku kerja nanti malam, aku ada ekstra beer, kamu bisa menikmatinya sekedar untuk menghilangkan ketegangan dalam otakmu. It is so nice, saat kita banyak pikiran dan kita sedikit mabuk,” ujarnya sambil tertawa ringan
Aku ikut tertawa bersamanya, namun aku merasa tidak mungkin datang ke bar tempat Chiara kerja di saat aku butuh uang macam ini. Bisa bisa aku malah mengeluarkan uang.
Tiba tiba Chiara mengulurkan padaku sebuah brosur lusuh.
“Apa ini?” tanyaku.
Sambil menatapku tajam, dia berkata, “ Brochure elit Club. Di tempat ini Wanita masuk tidak perlu bayar, malah akan dibayar tinggi.”
“Club apa ini? “ tanyaku lagi
“Club rahasia milik sebuah organisasi gelap. Club ini khusus untuk mereka yang mencari variasi. Mereka yang datang kebanyakan laki laki kaya dari dalam dan luar negri. Semacam Party Masquerade. Pesta ini mempertemukan pria dominan yang butuh variasi. Mereka mencari Submissive untuk variasi itu,” ujarnya memberi penjelasan
“Maksudmu ini Semacam Club BDSM?” tanyaku.
“Yes. Disana kau bisa bertemu pria dari golongan pejabat, konglomerat, CEO dan bahkan ketua Mafia. Mereka semua banyak uang dan mau bayar mahal untuk mengontrak Submissive. Aku dengar mereka mengajukan kontrak awal seminggu, setelah itu bisa diperpanjang sampai satu bulan. Aku yakin jika kau menjadi Favorite salah satu dari mereka, maka kau tidak perlu lagi jualan bunga yang susah laku ini. Sekali kontrak bisa untuk hidup mewah selama 6 bulan. Jadi setahun kau hanya perlu 2 pasangan. Dan ingat ini bukan pelacuran, karena kita dipertemukan dulu dengan seorang perantara, berkenalan dengan pasangan kita dan menjalin komunikasi intens, baru urusan ranjang bisa dilakukan setelahnya, dan semua itu dibayar.”
Aku menatapnya heran dan bertanya,” Apakah kau sudah pernah mencobanya?”
“Ya dua kali. Dan sangat menyenangkan. Walau pasangan Dominan terakhirku cukup berat, tapi sejauh ini i am fine.” ujarnya
Aku merenung, cukup dua pasangan, maka semua masalah ini akan beres, bahkan jika aku mau hidup sederhana mungkin uang bisa dihemat untuk satu tahun lebih.
“Bagaimana? Kau mau? Kalau ya, kita harus daftar dulu, lalu cek kesehatan baru jika dinyatakan memenuhi syarat, sehat dan bersih, kita bisa masuk ke sana.” terang Chiara.
“Entahlah Chiara, aku akan memikirkannya dulu. Aku tidak yakin mampu menjalin sebuah hubungan aneh macam itu.” ujarku
“Oke Baiklah. Aku menunggu teleponmu. Kabari aku jika kau berminat ya, jangan lupa ada event khusus di sana dua hari lagi,” katanya kembali sambil melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kios bunga ku.
*****
Auction Of Pride
Malam itu aku tidak bisa tidur, aku berkali kali melihat brosur yang diberikan Chiara. Ruang sempit dan pengap yang kusewa sebagai kamar tidurku milik Signor Ernesto makin terasa pengap dan sempit.
Ingatan ku melayang kembali ke masa lalu, pada sosok pria yang sangat susah kulupakan hingga kini. Carlo Altomare, dia lebih tua tiga tahun dariku. Anak seorang pengusaha kaya raya yang sempat jadi pacarku selama 5 tahun. Aku mengenalnya ketika masih SMA, ibunya dulu pelanggan kios bunga kami. Yah, berkat ibunya Carlo jugalah kios bungaku selalu dapat uang banyak. Namun sejak beliau meninggal, tidak ada lagi akses menyuplai bunga ke rumah mewah Carlo.
Kami berpacaran cukup serius, dan Carlo begitu menjagaku dan menghormatiku. Aku berpikir bahwa dia serius ketika mengatakan “As long As I am here, no one can hurt you” dan memang masa itu Carlo banyak membantuku secara finansial. Bisa dikatakan aku sangat bergantung padanya dalam banyak hal.
Namun semua berakhir ketika dia tiba tiba menghilang tanpa kabar. Rumah mewahnya di kawasan Fondamenta Zattere ai Gesuati , yaitu sebuah kawasan elit yang menghadap ke Giudecca, dengan banyak villa elegan, tampak sepi dan jarang ditempati.
Aku masih punya nomor telp Carlo, tetapi nomor itu pun tidak pernah aktif. Tak terasa air mataku menetes, dalam hati aku bergumam, miskin ini begitu menyakitkan, kondisi ini membuatku tidak punya banyak pilihan. Bahkan aku mungkin hanya dihadapkan pada satu pilihan pahit yang aku sendiri tidak pernah berpikir akan melakukannya, yaitu lelang diri.
Oh God, begitu menyakitkan miskin ini dalam hidupku. Aku kembali menangis, sembari menahan perut lapar karena hanya diisi Muffin pemberian Chiara tadi siang. Ya, sudahlah jika memang ini harus aku pilih, maka melelang diri untuk mendapat sebuah pilihan lain yang lebih baik dari tinggal di gudang pengap macam ini tampaknya harus ku lakukan. Aku lalu bertekad menemui Chiara esok pagi.
Setelah sepakat dengan serangkaian persiapan berupa pemeriksaan diri dan membeli baju elegan yang semua itu aku dapat dari berhutang sejumlah uang pada Chiara, akhirnya disinilah kami, dalam perjalanan menuju Red Club.
“Jangan khawatir baby, nanti jika kau sudah mendapat pasangan Dominan pertamamu (DOM) kau bisa kembalikan semuanya,” ujar Chiara.
Aku menatap diriku dengan gaun elegan dan mewah yang jauh dari kesan murah dan seronok. Kupikir semula Chiara akan menyarankan baju baju seperti yang sering dipakai para penjaja cinta di Sekitar Stasiun Venezia Santa Lucia & Piazzale Roma.
Tapi gaun ini lebih kepada gaun milik wanita kelas atas yang sedang ingin menikmati malam di sebuah club eksklusif. Aku salut dengan kesungguhan Chiara untuk membantuku keluar dari lubang kemiskinan yang lama makin sesak seperti kubangan lumpur hisap. Aku sendiri merasa sudah lelah berkutat dengan hutang, tidak mampu beli makan, pemanas yang mati dan udara dingin saat musim salju.
Kemiskinan ini benar benar menyakitkan bagiku. Aku tidak mampu lagi bertahan dan menghadapinya. Dan aku merasa jalanku menuju ke Red Club kali ini juga merupakan jalan keluar dari lumpur kemiskinan yang menyakitkan. Setidaknya itulah solusi yang terbaik sampai saat ini.
****
