THE DARK LEGACY


Total Chapter : 70 Chapter
Blurb
Di Paris, kebebasan hanyalah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi.
Maria adalah wajah dari kesuksesan modern di Paris. Sebagai eksekutif muda di bidang keuangan, dunianya adalah angka, strategi, dan kemewahan. Namun, di balik tembok kantor pencakar langit, ia senantiasa dikejar oleh bayang-bayang yang tak kasatmata—mimpi tentang simbol ular berkelindan yang terasa begitu nyata, seolah mencoba menariknya kembali ke sebuah masa yang tidak pernah ia ingat.
Kehidupan Maria yang terkendali seketika retak saat sebuah panggilan dari biarawati yang membesarkannya membawanya pada sebuah rahasia yang terkunci selama dua dekade. Di ambang napas terakhir sang suster, Maria dipaksa menghadapi kenyataan bahwa sejarah keluarganya bukanlah lembaran kosong, melainkan sebuah warisan yang penuh dengan tanda tanya.
Di tengah kebingungan itu, Riccardo Alighieri muncul. Bos misterius yang dominan dan memiliki aura yang mampu mengintimidasi siapa pun. Maria terjebak antara karier yang ia bangun dengan susah payah, misteri asal-usul yang mulai terkuak, dan tarikan magnetis dari Riccardo yang tampak tahu lebih banyak tentang Maria daripada Maria sendiri.
Akankah Maria mampu mengungkap kebenaran di balik warisan keluarganya sebelum ia sepenuhnya tenggelam dalam kendali sang bos mafia?
"In this world, there is no room for the ghosts of betrayal. If the roots are cursed, the flower must wither."


Vindicta Universalis
"In this world, there is no room for the ghosts of betrayal. If the roots are cursed, the flower must wither."
POV Riccardo Alighieri
Malam makin larut, dingin menusuk tulang. Di kejauhan aku masih mendengar hingar bingar Paris yang tak pernah benar benar tidur. Namun di sini, di sudut tersembunyi dekat jembatan Alexander III, waktu seolah berhenti berdetak. Lampu jalanan menyala merah membuat embun malam yang turun seperti kabut darah diatas aspal basah mengkilat.
Tak berapa lama Becker Executive Limousine, hitam pekat membelah kabut merah itu dan berhenti tanpa suara. Mesinnya yang halus menyisakan dengungan rendah nyaris tak terdengar. Mobil itu bukan kendaraan biasa, itu adalah benteng anti peluru yang bergerak menyibak malam kota Paris. Sebuah simbol kekuasaan dari sang pemegang tampuk tertinggi Valiant Court, organisasi Mafia bawah tanah yang bergerak di balik bayang bayang.
Aku berdiri persis di tepi trotoar, seperti pengamen jalanan yang menanti belas kasihan. Sebagai pimpinan Klan Alighieri, tak pernah ada satu pun hal yang membuatku merasa takut dan gelisah, tapi tidak malam ini. Undangan itu datang tanpa peringatan, lewat frekuensi terenkripsi langsung masuk ke jaringan komunikasi tertutup The Order. Sebuah undangan yang tidak mungkin aku tolak, karena itu berarti nasib Klan yang aku pimpin sedang dipertaruhkan di meja judi kekuasaan.
Tepat dihadapanku. Pintu limousine itu terbuka perlahan, seperti sebuah gerbang maut menuju meja pengadilan. Aroma cerutu Cohiba kelas atas yang bercampur dengan kulit mahal dan parfum maskulin Sandalwood menyambut indra penciumanku, menciptakan suasana maskulin menegangkan yang tak terbantahkan. Kabin limosin itu seperti ruang isolasi kedap suara yang menciptakan dunia penuh tekanan tersendiri bagiku. Fuck! Aku tidak pernah segelisah ini. Mataku beradu dengan dia, Lucian Visconti, pimpinan Valiant Court, pria yang paling ditakuti di dunia bawah tempat Klan ku bernaung.
Dia duduk dengan aura tirannya yang kuat, seolah dunia ini sudah lama takluk dalam genggamannya. Badannya tinggi besar, menjulang hampir 2 meter, membuat kabin yang luas ini terasa mencekam dan sempit. Tiba tiba aku merasa penuh dan nafasku sedikit sesak, seolah seluruh oksigen dalam ruangan ini hanya tersedia untuk Lucian.
Aku tidak pernah menghadap Lucian dengan jarak yang begitu dekat. Namun kali ini, aku bahkan bisa melihat pahatan tulang wajahnya yang begitu kuat, sekuat marmer Italia. Garis rahangnya tajam, seperti tidak pernah mencerminkan Emosi manusia biasa. Sepasang mata elangnya dengan menik mata gelap, segelap jurang tak berdasar yang sulit kutebak. Dia menatapku tajam seperti menusuk langsung ke jiwaku dan menguliti seluruh isi hatiku tanpa bisa ku sembunyikan sedikit pun.
"Duduk, Riccardo," suara Lucian rendah, hampir seperti dentuman bass yang mampu membuat tulang rusuk bergetar. Suaranya begitu dingin dan datar, tidak ada nada perintah yang meledak, namun otoritasnya membuat sendi sendiku terasa lemas. Baru aku sadar julukannya selama ini, The Lion of Vesperine, ternyata bukan hanya sekedar jargon murah. Suaranya saja mampu membuat siapapun lumpuh tak berdaya.
Aku mengikuti begitu saja perintah Lucian, dan duduk dihadapannya tanpa sanggup menatapnya lama. Sejujurnya aku merasa malu pada diriku sendiri. Di luar sana, aku adalah Pimpinan Klan yang ditakuti , tapi di sini, nyaliku seperti ban kempes yang ditinggal udara pergi entah kemana. Aku ciut dan merasa nyawaku di ujung tanduk. Jarak diantara aku dan dia begitu nyata. Dia adalah representasi Wangsa Tua Italia, Visconti Sforza, yang berusia ratusan tahun, sementara aku hanya simbol klan biasa yang baru berumur belasan tahun.
“The Order memberimu dan Klan yang kau pimpin banyak peluang dan fasilitas untuk berkembang Riccardo, “ ujar Lucian membuka percakapan, jemarinya yang putih kontras dengan cincin Emas segel Wangsa Visconti memutar gelas Kristal berisi Bourbon yang berkilau terkena lampu kabin. “Kalian berkembang pesat dibawah Valiant Court yang aku pimpin. Strategimu mencuci aset finansial abu abu menjadi putih bersih sangat efektif. Aku menyukai cara kerjamu.”
Wajahku menghangat, aku tetap menunduk dan merasa enggan menatap langsung ke matanya. “Aku hanya menjalankan apa yang menjadi tugasku untuk menjaga stabilitas sistem, Lord Lucian.”
Lucian menyesap Borbonnya dengan gerakan yang terkontrol, tatapannya tak pernah lepas dari wajahku, seolah dia sedang memindai setiap mikro-ekspresi yang mungkin muncul di sana. " Hemm Stabilitas, memang sebuah konsep yang indah, namun rapuh. Dan kerapuhan itu biasanya muncul ketika hasrat pribadi seorang pria mulai kabur. Dimana dia tidak lagi mampu membedakan mana kepentingan ego pribadinya dan mana kepentingan kolektif organisasi."
Tenggorokanku terasa tercekat, seperti ada tangan tak kasat mata mencekik leherku perlahan lahan. Suhu di dalam limousine itu seketika seperti turun beberapa derajat, seolah kabut di luar sana ikut merayap masuk mewarnai ketegangan yang tercipta di antara aku dan dia. Aku tahu pasti , Lucian Visconti tidak pernah berkata sesuatu tanpa ada bukti akurat dibaliknya. Dia juga tidak akan mungkin memuji kinerjaku tanpa ada tujuan yang jelas.
“Tiga Puluh dua Tahun lalu,” ujar Lucian dengan suara yang tetap dingin tanpa intonasi yang mudah ditebak emosi dibalik itu, “Dewan Kehormatan The Order menjatuhkan Vonis Genoside , untuk garis keturunan Klan yang berani bermain api dengan dana Organisasi. Sebuah pembersihan sampai ke akar terdalam. Kebijakannya jelas, Vindicta Universalis. Penghapusan total, tanpa ada lagi jejak, tanpa ada lagi ingatan dan yang terpenting, tidak ada lagi darah mereka yang masih berdenyut di muka bumi ini.”
Aku melihat otot rahangnya mengeras, namun ia tetap menjaga wajahnya seperti topeng porselen yang kaku. "Pembersihan itu adalah salah satu operasi terbesar dalam sejarah The Order. Semua laporan menyatakan bahwa garis keturunan Klan itu telah musnah."
"Namun seperti yang telah diduga akan terjadi, laporan bisa dimanipulasi oleh tangan-tangan yang merasa iba, atau tangan yang dibayar dengan sisa penggelapan itu," Lucian menekankan setiap katanya. Lalu Ia mematikan ujung cerutunya dengan gerakan yang sangat pelan di sebuah asbak perak, seolah sedang menghancurkan tulang musuh yang memohon ampun. "Pusat Intelijen The Order baru saja menemukan anomali dalam arsip lama. Ada indikasi kuat bahwa genosida itu tidak sempurna. Ada satu rantai yang terlepas. Satu bibit dari pengkhianat itu yang mungkin masih tumbuh di suatu tempat, tanpa menyadari siapa dirinya yang sebenarnya."
Tiba tiba Lucian memajukan tubuhnya, sehingga jarak diantara wajah kami hanya terpaut beberapa sentimeter. Pada Jarak sedekat ini, aura Intimidasi Lucian melonjak berlipat kali seperti menyebarkan tekanan Gravitasi yang luar biasa kuat. Tekanan itu seperti siap menghancurkan eksistensiku hanya dengan sekali kedipan mata.
Lucian menatapku tajam dan berkata, ”Aku memanggilmu karena Klan Alighieri dikenal sebagai pelacak aset yang handal. Tidak ada sepeserpun uang yang luput dari Investigasi mu meski itu tersembunyi di ujung dunia. Dan bibit pengkhianat yang diduga masih hidup ini adalah aset paling berbahaya yang harus dimusnahkan. Dia adalah sisa dari sebuah Klan pecundang yang melakukan pencurian besar terhadap sistem kita dan mengancam akan membuka tabir The Order pada dunia Internasional.”
Kali ini mata Lucian menghujam ke arahku seolah ingin menembus dinding pertahanan mentalku dan menilai apakah ada jejak keengganan atas tugas diberikannya padaku. “Cari sisa pengkhianat itu, aku tidak peduli dimana mereka bersembunyi serta identitas apa yang sekarang dipakainya. Kenali mereka, pastikan kemurnian darahnya, dan segera tuntaskan apa yang gagal dilakukan puluhan tahun lalu.”
Mendengar nada suaranya yang begitu tajam, jantungku bergetar. Aku mencoba menetralkan getaran itu dengan sekali lagi menghindari tatapan tajam Lucian dan mengalihkannya pada gelas kristal berisi Bourbon yang dipegangnya. “Aku ingatkan kau Riccardo, jika benar mereka ini masih hidup, maka dapat dipastikan orang orang dan sistem lama pasti mati matian melindungi mereka. Jangan pernah ragu untuk memusnahkan siapapun yang terkait dengan sisa keturunan Klan pengkhianat ini.”
Aku menangkap ada sedikit nada kepanikan dari ucapan Lucian, seolah ini bukan hanya tentang uang dan kekayaan The Order yang disembunyikan. Sepertinya tugas ini terkait langsung dengan keberlangsungan The Nine House juga.
“Bunuh siapapun mereka jika kau menemukannya, dan kau tidak perlu repot membawanya ke hadapanku atau ke hadapan Dewan Kehormatan. Aku hanya ingin laporan bahwa Garis keturunan Klan itu benar benar tamat. Bawa saja bukti kematiannya, dan aku jamin The Order akan menempatkan Klan mu sebagai anggota inti Dewan kehormatan .”
Aku mengangguk perlahan dan berkata, “Saya mengerti instruksi anda Lord Lucian."
"Bagus," jawab Lucian pendek, lalu Ia kembali bersandar ke jok kulitnya yang empuk, aura predatornya sedikit mereda namun tetap terasa mengintimidasi. "Pesanku, Jangan biarkan perasaan tanpa logika membimbing langkahmu. Seorang Alighieri adalah eksekutor, bukan penyelamat. Aku ingatkan dirimu Riccardo, pengkhianatan dalam bentuk apapun—termasuk menyembunyikan musuh organisasi—adalah tiket satu kali jalan menuju neraka."
Aku mengangguk pelan dan beranjak keluar dari Limousine itu. Udara malam Paris yang dingin menerpa wajahku seperti hujan es saat pintu terbuka. Namun sebelum aku benar benar melangkah keluar, suara Lucian kembali terdengar dari kegelapan kabin, datar tanpa emosi namun penuh peringatan.
"Dunia ini tidak punya ruang untuk sisa-sisa pengkhianat, Riccardo. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari terbit untuk kedua kalinya setelah kau menemukannya."
Segera setelah ia mengucapkan kalimat itu, pintu limousine menutup dengan dentuman yang halus tapi kuat. Aku berdiri memandang bagian belakang Maybach itu menjauh dan menghilang ditelan embun merah kota Pari. Tak terasa tanganku mengepal dari balik mantel. Entah mengapa aku merasa tato ular yang melingkar di tanganku seperti menggigit kulitku dan mengingatkan aku pada siapa diriku yang sebenarnya. Orang mengenalku hanya sebagai CEO perusahaan bergengsi. Tapi malam ini aku seperti diingatkan bahwa hidupku ada dalam belitan kekuasaan yang lebih besar.
Lucian Visconti memerintahkan sesuatu padaku yang sejatinya telah kukenali sejak lama. Anomali data yang mengarah pada perlindungan pengkhianat. Hanya saja aku terjepit antara hasratku untuk tetap menyembunyikan anomali itu atau menyerahkannya pada The Order. Aku tahu aku sedang bermain main dengan sesuatu yang lebih membahayakan dari sekedar gigitan ular berbisa.
Aku menatap menara Eiffel yang berdiri angkuh di kejauhan. Dibawah kabut merah yang mulai menipis, aku tahu satu hal, bahwa hidup seseorang sedang berada dalam genggaman tanganku. Dan aku baru saja membawanya bersamaku ke dalam sebuah permainan yang sangat mematikan.
“Permainanku akan segera dimulai Lord Lucian,” gumamku pelan. Suaraku seperti memudar ditelan angin malam kota Paris yang mulai menyambut Fajar merekah.
****


Parisian Fog
"Sometimes, the fears locked within the subconscious haunt like ghostly terrors, even on the brightest of days."
Pov Maria Devereux
Sore yang cerah, Albert baru saja memacu Mercedes Benz keluar dari area parkir basement Château Prestige Properties di 45 Avenue Montaigne, mengambil jalur jalan yang lengang untuk menghindari suasana macet Paris di Sore hari. Aku duduk sendirian di jok belakang, sambil menikmati pemandangan pepohonan rimbun dan gedung bersejarah yang memancarkan pesona Klasik.
Aku larut dalam lamunan membayangkan akhir pekan yang tenang di apartemenku Le Belle Epoque yang ada di kawasan Rue de Rivoli. Akhir pekan tanpa gangguan yang niscaya membawa rasa damai yang menyenangkan sambil minum secangkir kopi favorit yang akan mengisi Quality Time ku.
Suasana sedikit ramai di luar, tapi untunglah mobil mulai perlahan bergerak meninggalkan kemacetan. Sungguh khas suasana Paris yang tak pernah sepi di sore hari. Aku melirik ke arah lampu lampu jalanan yang mulai bersinar, dan deretan kafe di sepanjang jalan yang mengisi udara dengan aroma kopi dan pastry yang serbak mewangi. Tiba tiba dorongan kuat muncul dari dalam diriku untuk berhenti sejenak, dan menikmati damainya Paris di Sore hari dengan cara yang sederhana.
“Albert, please stop here,” ujarku sambil menunjuk sebuah kafe kecil yang terletak hanya beberapa blok dari apartemenku. Nama kafe itu Cafe de Lumiere, sebuah kafe kecil tetapi menghadirkan suasana khas Paris dengan nuansa vintage. “Nanti aku jalan kaki saja dari sini ke apartemen, kau boleh langsung pulang setelah memarkirkan mobilku di basement,” perintahku pada Albert. Spontan dia mengangguk dan berkata, “ Siap nyonya, have fun, “ jawabnya sembari menurunkan ku.
Aku turun hanya dengan tas tangan dan begitu masuk ke dalam Cafe De Lumiere, indra penciumanku langsung disuguhi aroma Croissant dan Cappuccino. Musik Jazz lembut mengalun dari Music Box yang terletak di sudut ruangan. Seorang pelayan Cafe menanyakan spot yang aku inginkan untuk duduk bersantai, dan aku memilih posisi tepat di depan sebuah jendela besar yang menyajikan pemandangan jalanan sore yang romantis.
“Pesanan Anda, Madame. Selamat menikmati,” seorang pelayan muda dengan cekatan menghidangkan cappuccino hangat dan croissant pesananku. Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya, “Merci,” jawabku singkat.
Sudah lama aku tidak pernah pergi ke Kafe untuk sekedar duduk dan menikmati hidangan seadanya, sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan. Baru kali ini aku bisa menyempatkan diri untuk melakukan kegiatan sederhana yang menenangkan ini.
Terus terang kesibukanku yang menumpuk sebagai Kepala Bagian Marketing di Alighieri Haussmann Immobilier, membuat ku hampir tidak punya waktu untuk sekedar menyenangkan diriku sendiri. Alighieri Haussmann Immobilier, adalah sebuah perusahaan Real Estat yang saat ini sedang gencar gencarnya mengembangkan proyek hunian prestisius di seputaran Prancis. Perusahaan itu berkantor di gedung Château Prestige Properties. Sebuah gedung pusat perkantoran Properties yang paling mewah dan bergengsi yang ada di pusat kota Paris. Karena jabatanku itu lah aku sering bepergian keluar kota bahkan keliling Eropa untuk kepentingan promosi maupun pembuatan slot iklan.
Jika aku renungkan kembali, hidupku rasanya begitu ajaib. Bagaimana mungkin seorang anak Yatim piatu di sebuah panti pedesaan Inggris, bisa menaklukkan Eropa dan akhirnya menduduki sebuah jabatan yang cukup prestisius di perusahaan berskala internasional.
Aku seperti terlempar kembali ke masa lalu, ke panti asuhan yang muram dan dingin di pedesaan Inggris, tempat dimana aku dibesarkan. Kembali terbayang di pelupuk mataku wajah suster Clara, wanita lembut yang konon beliaulah yang memberiku nama Maria Angelina Devereux.
Bagiku, Suster Clara adalah satu satunya sosok keibuan yang aku kenal dari sejak masa kecilku yang sepi hingga aku dewasa. Panti asuhan adalah tempat yang dingin dan keras, walaupun suster Clara selalu berusaha memberikan kasih sayang dan rasa aman.
Hidupku memang terasa sangat ajaib. Bagaimana tidak, aku adalah satu satunya alumni Panti asuhan St. Claral’s Holy Trinity Orphanage yang berhasil masuk ke perguruan tinggi bergengsi di Inggris melalui Jalur beasiswa , The London School of Economics and Political Science ( LSE).
LSE merupakan Salah satu universitas terbaik dunia untuk bidang Bisnis, Ekonomi, dan Hubungan Internasional. Lokasi kampus LSE ada di di area Holborn/Central London. Sementara tempat tinggalku selama menempuh pendidikan di London, aku dititipkan oleh suster clara di Newman House (Catholic Student Centre) yang terletak di Gower Street, sangat dekat dengan LSE.
Newman House adalah sebuah residen atau tempat tinggal yang memberikan subsidi pada mahasiswa berupa beasiswa yang direkomendasikan oleh paroki atau biara asal mereka (seperti panti asuhan tempat ku berasal). Sehingga praktis aku tidak butuh banyak biaya untuk bisa mengenyam pendidikan di LSE.
Sementara itu, selain difasilitasi tempat tinggal, aku juga diberikan peluang untuk bekerja paruh waktu di lingkungan Ordo Misionaris tempat Suster Clara bernaung, The Salesian Sisters of Don Bosco (Daughters of Mary Help of Christians). Ordo misionaris internasional ini memiliki misi khusus yang berfokus pada pendidikan anak-anak muda dari latar belakang kurang mampu. Di London, mereka memiliki berbagai pusat kegiatan pemuda, asrama mahasiswa, dan yayasan sosial.
Di dalam lingkungan yayasan Misionaris ini, aku diberi peluang bekerja paruh waktu dan mendapatkan penghasilan sebagai Asisten Administrasi & Keuangan Paroki (Parish Financial & Admin Assistant). Dimana aku bekerja di kantor sekretariat gereja atau asrama, mengelola pembukuan donasi, laporan keuangan panti asuhan yang berafiliasi, serta merapikan dokumen-dokumen arsip kuno paroki di siang hari. Sementara di sore hari aku bekerja sebagai Tutor Matematika & Literasi untuk Anak-Anak Panti Asuhan Afiliasi (Remedial Tutor/Teacher). Di sana aku membantu program bimbingan belajar gratis untuk anak-anak kurang mampu atau panti asuhan lokal. Aku bekerja sebagai pengajar paruh waktu untuk anak-anak tersebut setelah jam kuliah selesai.
Namun di tengah semua kesuksesan pendidikan serta kemudahan yang aku raih, aku punya secuil kisah sedih yang sulit ku lupakan. Kesedihan itu adalah rasa tersisih karena kehilangan satu per satu sahabatku saat mereka diadopsi, adalah sebuah rasa nyeri yang nyata yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Aku sempat merasa putus asa,tidak diinginkan, dan ditolak oleh dunia ini, ketika tidak ada satu pun keluarga yang mengadopsiku. Sebuah kenangan pahit yang masih kurasakan hingga kini.
Ditengah rasa sedih yang tiba tiba saja muncul itu, pandanganku tertumbuk pada sebuah mobil hitam yang tampak tidak biasa sedang melintas perlahan di tengah kemacetan sore itu. Aku memperhatikan dengan seksama mobil hitam itu dari dalam jendela Cafe de Lumiere. Ada sebuah logo yang menyita perhatianku. Logo yang terasa familiar, tapi entah dimana aku pernah melihatnya, tetapi logo itu meninggalkan rasa takut yang amat nyata. Logo dua ular saling berkelindan dengan daun Laurel Nobilis membingkai.
Rasa penasaran yang mendalam, membuatku berlari dan keluar dari cafe untuk melihat mobil itu dari dekat. Namun sayang, belum sempat aku mendekat, mobil itu sudah melaju kencang, meninggalkan area depan cafe. Rasa gelisah dan tidak nyaman yang aneh tiba tiba merajai hati dan pikiranku, seperti ada sesuatu dari masa lalu yang kembali mengejarku.
Seketika aku merasa ingin pulang dan berlindung di apartemenku yang nyaman. Segera kutinggalkan Cafe De Lumier, untuk mengusir rasa tidak aman yang kembali membangkitkan kecemasanku. Aku tidak menyangka bahwa di Paris yang sudah begitu jauh dari Panti asuhan, dari masa lalu ku, logo mengerikan itu masih mengejarku.
Sialnya begitu aku meninggalkan cafe, aku melihat sekilas di sudut mataku, diantara keramaian Paris dan suasana yang mulai gelap, bayangan seorang pria dengan jas hitam mengawasiku dari jauh. Entah itu hanya perasaanku saja, atau benar adanya, tetapi aku merasa pria itu seperti berkata, “ Larilah, Maria Devereux, kembalilah pada kesunyian dan kesendirian mu yang dingin dan beku. Sampai tiba saatnya kau tidak akan bisa lagi menghindari kehadiranku dalam hidupmu. ”
****


The Paris Executive
""Inside the concrete walls of the corporate world, temptations are merely parts of the job, hard to alter and even harder to avoid."
Pov Maria Devereux
Senin pagi yang cerah. Aku kembali memasuki gedung Château Prestige Properties di 45 Avenue Montaigne yang terasa lebih sibuk dari hari biasa. Dengan Cardigan Elegant rancangan Elie Saab, aku segera memasuki ruang meeting. Di sana sudah menunggu Riccardo Alighieri CEO tempatku bekerja.
“Morning Maria, kau terlambat 5 menit.”
“Morning Tuan Alighieri, Maaf atas keterlambatan saya. Ada beberapa hal yang harus saya urus sebelum menemui anda pagi ini.”
Riccardo Alighieri kemudian mempersilahkan aku duduk, dan tak lama kami pun larut dalam pembicaraan terkait Penyelenggaraan Pameran Kompleks Real Estat baru yang rencananya akan dibangun di pinggiran kota Paris, dengan nama Belle Horizon de Real Estate. Aku mempresentasikan target penjualan, strategi pemasaran dan detail teknis dari penyelenggaraan Gala Dinner pembukaan pameran. Semuanya ku paparkan dengan teliti.
Mereka segera memulai diskusi tentang rencana besar Perusahaan yaitu peluncuran pameran kompleks real estate baru di daerah pinggiran kota Paris yang bernama Belle Horizon. Target penjualan, strategi pemasaran, dan segala detail teknis dibahas dengan teliti.
"Maria, aku ingin kau memastikan bahwa peluncuran ini sukses besar. Belle Horizon harus menjadi proyek yang paling menguntungkan tahun ini.”
"Tentu, Tuan Alighieri. Saya akan memastikan semua tim bekerja maksimal untuk mencapai target tersebut.”
Jujur aku tidak pernah bisa tenang berhadapan dengan Riccardo. Wajahnya yang tampan dengan garis tegas di dagu khas Italia, selalu membuat jantungku berdegup kencang. Sungguh memalukan, bagaimana mungkin aku bisa begitu ceroboh mengagumi ketampanan bosku sendiri. Walau sekuat tenaga aku berusaha menekannya, tetapi tatapan tajamnya dan senyuman manisnya itu sangat sulit ku tolak. Sialnya, sepertinya Riccardo tahu akan hal itu.
Riccardo menatap wajahku seperti ingin menelanku bulat bulat. Memang beberapa kali dia pernah mendekatiku, tapi ku tolak. Aku tidak ingin menjadi wanita lain dalam hubungan Riccardo dengan Tannya Romanova, seorang model dari Rusia, yang juga merupakan putri dari mitra bisnisnya.
"Maria, kau tahu betapa aku mengagumimu. Dan aku juga tahu kau pun suka padaku bukan? Mengapa kau tidak mau memberikan kesempatan pada kita?" tanya Riccardo dengan nada lembut, namun mendesak.
"Riccardo, kau sudah memiliki pasangan. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kalian ," jawabku tegas, meskipun jantungku bergetar.
Aku melihat wajah Riccardo sontak berubah dan suasana dalam ruangan meeting tiba tiba menjadi panas. Riccardo berdiri dan mendekatiku. Aku spontan mundur dan menghindarinya. Namun Riccardo semakin mendekat hingga punggungku membentur dinding dan aku tidak lagi punya jalan untuk menghindarinya.
Dari jarak yang begitu dekat ini aku dapat mencium aroma Baccarat Rouge 540, yang dia pakai. Aroma itu begitu sensual dan memabukkan, tetapi aku berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran. Dia menatap mata ku tajam, dan aku tidak sanggup membalasnya. Rasa hangat menjalari wajahku. Dia berhasil membuatku malu dan tersipu.
"Aku tahu kau kesepian, Maria. Bahkan dengan Orlando di dekatmu, aku bisa melihat kau tidak tertarik padanya. Dia bukanlah pria yang bisa membuatmu bahagia," kata Riccardo dengan suara rendah namun penuh keyakinan.
"Riccardo, kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Orlando adalah pria yang baik," jawabku sembari tetap mencoba untuk tenang.
"Pria yang baik ? Dia hanyalah koboi Amerika yang gagal, lalu merantau keluar negeri untuk mencari peruntungan. Dia tidak sebanding dengan diriku, Maria. Aku bisa memberimu segalanya yang kau butuhkan," Riccardo membalas dengan nada meremehkan.
Mendengar dia meremehkan Riccardo, dadaku terasa panas, "Orlando mungkin bukan pria sempurna, tapi setidaknya dia tidak mencoba menjadikan aku gundik," balas ku dengan nada tajam.
"Maria, dengar aku," kata Riccardo, nadanya berubah lebih serius. "Aku belum menikah. Tidak ada ikatan antara aku dan Tannya. Hubungan kami hanya sekadar kesenangan. Kau harus tahu itu."
Kali ini aku menguatkan hatiku dan membalas tatapan matanya.
"Apakah jika aku menerima cintamu, kau akan menikahiku? Atau aku hanya akan menjadi salah satu dari wanita-wanita yang kau permainkan hanya untuk kesenangan sesaat ?"
Emosi Riccardo meledak. Dengan amarah dan hasrat yang membara, dia menarikku ke arahnya dan mencium bibirku dengan beringas. Aku terkejut dan mencoba melawan, tetapi Riccardo terlalu kuat. Akhirnya aku terhanyut dalam kehangatan ciuman Riccardo. Bibirnya begitu hangat dan basah.
Fuck! Ada apa dengan otakku sehingga kau membiarkan diriku menikmati ciuman Riccardo.
Segera aku berusaha mengendalikan diriku dan mendorongnya perlahan untuk menjauh.
"Riccardo, hentikan! Ini tidak benar. “
Sebelum Riccardo sempat menjawab, aku mendengar langkah kaki mendekati ruang meeting. Riccardo mundur dengan enggan, menatapku dengan mata penuh emosi yang berkecamuk. "Ini belum selesai, Maria," katanya dengan nada rendah sebelum akhirnya dia keluar meninggalkan ruangan. Setengah mati aku berusaha menenangkan diri.
Tak lama Orlando masuk ke dalam ruangan dengan senyum ramah, "Hey, Maria, semuanya baik-baik saja? Mengapa kau terlihat sedikit pucat? "
“Ti…tidak ada apa apa. Aku baik baik saja Orlando,” jawabku berbohong. “Ayo kita lanjutkan rapat persiapan Gala Diner.”
“Bagaimana pertemuanmu dengan Tuan Alighieri?” tanya Orlando dengan tatapan penuh selidik.
“Ba…baik. Dia menerima rancangan tim kita untuk Launching Belle Horizon.”
“Syukurlah, oke jika begitu aku panggil yang lainnya untuk gabung dan rapat dengan kita.”
Aku hanya mengangguk lemas. Sialan, hampi saja! Umpatku dalam hati. Apa jadinya jika Orlando melihatku berciuman dengan Riccardo dan bukan membahas tentang pekerjaan. Apa yang ada dalam pikirannya. Bisa bisa dia menganggapku murahan, karena mau saja dicium oleh pria yang sudah punya kekasih.
Jujur, dalam benakku, aku tidak bisa melupakan peristiwa ciuman itu. Aku merasa diriku kotor dan murah. Sehingga sore itu ketika Orlando menawarkan untuk mengantarku pulang sambil minum kopi di Cafe langganan kami, aku menolak. Aku tahu Orlando menyukai ku. Aku sudah beberapa kali menghindarinya, dan mengatakan aku belum ingin menjalin cinta dengan pria manapun, tetapi dia tetap mendesak.
Aku tidak tega menyakitinya, namun juga tidak kuasa menolak perhatian dan kasih sayang Orlando yang tulus apa adanya. Namun sejak peristiwa dengan Riccardo tadi, aku merasa ingin menarik diri dari siapapun, termasuk Orlando. Aku hanya ingin segera pulang dan tidur, lalu melupakan apapun yang hari ini terjadi.
Segera setelah aku sampai di apartemen aku menghempaskan diriku di atas ranjang dan tertidur. Tak berapa lama aku merasa seperti terbangun karena mendengar tangisan bayi yang begitu menyayat hati. Aku berjalan mencari sumber suara, dan dari kejauhan aku melihat Suster Clara sedang menggendong bayi sambil berbicara dengan seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna gelap dan topi hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya.
Perlahan aku berjalan mendekat hingga jarak diantara kami hanya beberapa jengkal. Aku bisa melihat wajah bayi yang ada dalam gendongan Suster Clara.
Deg, jantungku seperti berhenti berdetak. Wajah bayi itu adalah wajahku sendiri saat aku masih kecil, persis yang aku lihat di foto kenangan yang ada di album milik panti. Namun bukan hanya itu yang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Tapi kondisi bayi itu.
Bayi dalam gendongan suster Clara itu, tampak tak berdaya dengan dua ular hitam besar yang saling berkelindan membelitnya. Aku kaget bukan kepalang, dan sontak berlari menjauhi Suster Clara dengan sambil berteriak sekuat tenaga. Teriakkan yang akhirnya membangunkan ku dan membuatku sontak berdiri dan menjauhi tempat tidur, seolah ular ular itu masih ada di sana.
Segera setelah kesadaranku pulih, aku berjalan tertatih menuju dapur dan mengambil air putih hangat lalu berjalan ke arah balkon kamarku. Aku berdiri menatap menara Eiffel dari kejauhan, baru kali ini sejak kedatanganku ke Paris, aku merasa pemandangan Paris di malam hari tidak lagi eksotik dan menggoda, melainkan penuh dengan misteri dan ancaman yang belum aku pahami sepenuhnya.
*****
