THE DARK LEGACY

Total Chapter : 68 Chapter

On Going Mei 2026 : Chapter 1-35

On Going Juni 2026 : Chapter 36 -68

Tentang On Going Access

Novel ini sedang ditulis secara ongoing dengan update rutin pada hari kerja.

Untuk melanjutkan chapter berikutnya dan mengikuti proses penulisan secara langsung, kamu bisa bergabung melalui Supporter Access yang tersedia selama periode ongoing berlangsung.

Blurb

Di Paris, kebebasan hanyalah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi.

Maria adalah wajah dari kesuksesan modern di Paris. Sebagai eksekutif muda di bidang keuangan, dunianya adalah angka, strategi, dan kemewahan. Namun, di balik tembok kantor pencakar langit, ia senantiasa dikejar oleh bayang-bayang yang tak kasatmata—mimpi tentang simbol ular berkelindan yang terasa begitu nyata, seolah mencoba menariknya kembali ke sebuah masa yang tidak pernah ia ingat.

Kehidupan Maria yang terkendali seketika retak saat sebuah panggilan dari biarawati yang membesarkannya membawanya pada sebuah rahasia yang terkunci selama dua dekade. Di ambang napas terakhir sang suster, Maria dipaksa menghadapi kenyataan bahwa sejarah keluarganya bukanlah lembaran kosong, melainkan sebuah warisan yang penuh dengan tanda tanya.

Di tengah kebingungan itu, Riccardo Alighieri muncul. Bos misterius yang dominan dan memiliki aura yang mampu mengintimidasi siapa pun. Maria terjebak antara karier yang ia bangun dengan susah payah, misteri asal-usul yang mulai terkuak, dan tarikan magnetis dari Riccardo yang tampak tahu lebih banyak tentang Maria daripada Maria sendiri.

Akankah Maria mampu mengungkap kebenaran di balik warisan keluarganya sebelum ia sepenuhnya tenggelam dalam kendali sang bos mafia?

"In this world, there is no room for the ghosts of betrayal. If the roots are cursed, the flower must wither."

Vindicta Universalis

"In this world, there is no room for the ghosts of betrayal. If the roots are cursed, the flower must wither."

Malam di Paris tidak pernah benar-benar tidur, namun di sudut tersembunyi dekat Jembatan Alexandre III, waktu seolah berhenti berdetak. Kabut merah tipis menyelimuti permukaan sungai Seine, memberikan bias warna darah yang memantul pada aspal basah yang berkilat. Di sana, sebuah Mercedes-Maybach Pullman hitam pekat berhenti tanpa suara, mesinnya yang halus hanya menyisakan dengungan rendah yang nyaris tak terdengar. Mobil itu bukan sekadar kendaraan; itu adalah benteng berjalan, simbol kehadiran sang pemegang takhta tertinggi di dunia bawah tanah yang bergerak di balik bayang-bayang.

Riccardo Alighieri berdiri di tepi trotoar, membiarkan angin malam yang tajam menyapu helai rambutnya yang tertata rapi. Sebagai pimpinan Alighieri Klan, jarang ada hal yang mampu membuat telapak tangannya dingin, namun malam ini atmosfernya berbeda. Undangan itu datang tanpa peringatan melalui frekuensi terenkripsi—sebuah perintah yang tidak mungkin ditolak, sebuah panggilan yang berarti nasib klan sedang dipertaruhkan di atas meja judi kekuasaan.

Pintu limousine itu terbuka pelan, dikendalikan secara otomatis dari dalam. Aroma cerutu Cohiba kelas atas yang bercampur dengan wangi kulit mahal dan sedikit aroma sandalwood menguar, menyambut Riccardo ke dalam ruang yang terisolasi sepenuhnya dari hiruk-pikuk dunia luar. Di sana, di tengah remang cahaya interior yang redup dan mewah, duduk sang legenda hidup.

Lucian Visconti.

Pria itu duduk dengan kaki tersilang sempurna, seolah dunia ini adalah singgasana pribadinya. Tubuhnya yang menjulang—hampir dua meter—memenuhi ruang kabin yang luas itu dengan aura yang mencekam, membuat oksigen di dalam sana terasa menipis secara instan. Wajahnya memiliki pahatan tulang sekuat marmer Italia dengan garis rahang tajam yang tampak tidak terjamah oleh emosi manusia biasa. Sepasang matanya yang gelap adalah jurang tanpa dasar; siapa pun yang berani menatapnya akan merasa jiwanya sedang dikuliti hingga ke inti terdalam.

"Duduk, Riccardo," suara Lucian rendah, bergetar di udara seperti dentuman bass yang mampu membuat tulang rusuk bergetar. Tidak ada nada perintah yang meledak, namun otoritasnya tidak terbantahkan.

Riccardo masuk dan duduk di hadapan pria itu. Meskipun Riccardo adalah pria yang dominan dan ditakuti di wilayahnya sendiri, di depan Lucian, dia merasa seperti seorang prefek yang sedang menghadap Kaisar. Jarak di antara mereka hanya dua meter, namun terasa seperti jurang yang diisi oleh sejarah panjang darah, pengkhianatan, dan kekuasaan absolut yang telah dibangun keluarga Visconti selama berabad-abad.

"TOSN telah memberimu banyak ruang untuk bernapas, Riccardo," Lucian memulai, jemarinya yang mengenakan cincin segel emas Visconti memutar-mutar gelas kristal berisi cairan amber yang berkilau terkena cahaya minim kabin. "Klan Alighieri berkembang pesat di bawah koordinasi sistem kita. Strategi finansialmu dalam mencuci aset-aset 'abu-abu' menjadi putih... semuanya sangat bersih. Aku menghargai efisiensi."

Riccardo menunduk sedikit, menjaga dagunya tetap pada posisi yang sopan namun tidak terlihat lemah. "Aku hanya menjalankan bagianku untuk menjaga stabilitas sistem, Lucian."

Lucian menyesap minumannya dengan gerakan yang sangat terkontrol, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Riccardo, seolah sedang memindai setiap mikro-ekspresi yang mungkin muncul. "Stabilitas. Sebuah konsep yang indah, namun rapuh. Dan kerapuhan itu biasanya muncul ketika hasrat pribadi seorang pria mulai mengaburinya dari kepentingan kolektif organisasi."

Suasana di dalam limousine itu seketika mendingin beberapa derajat. Kabut di luar sana seolah ikut merayap masuk melalui ketegangan yang tercipta di antara kedua pria itu. Riccardo tahu benar, Lucian Visconti tidak pernah menggerakkan mobilnya hanya untuk memberikan pujian.

"Dua puluh tahun yang lalu," Lucian melanjutkan, suaranya kini sehalus beludru namun setajam belati yang siap menyayat nadi, "Dewan Kehormatan TOSN menjatuhkan vonis tertinggi. Sebuah garis keturunan—sebuah klan yang berani bermain api dengan dana abadi organisasi—diputuskan untuk 'dibersihkan'. Aturannya jelas: Vindicta Universalis. Penghapusan secara total. Tidak boleh ada jejak, tidak boleh ada ingatan, dan yang terpenting... tidak boleh ada darah mereka yang tersisa di atas bumi ini."

Riccardo merasakan otot rahangnya mengeras, namun ia tetap menjaga wajahnya seperti topeng porselen yang kaku. "Pembersihan itu adalah salah satu operasi terbesar dalam sejarah TOSN. Semua laporan menyatakan bahwa garis itu telah terputus."

"Laporan bisa dimanipulasi oleh tangan-tangan yang merasa iba, atau tangan yang dibayar dengan sisa penggelapan itu," Lucian menekankan setiap katanya. Ia mematikan ujung cerutunya pada asbak perak dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang menghancurkan tulang musuh yang memohon ampun. "Intelijen pusat baru saja menemukan anomali dalam arsip lama. Ada indikasi kuat bahwa eksekusi genosida itu tidak sempurna. Ada satu rantai yang terlepas. Satu bibit dari pengkhianat itu yang mungkin masih tumbuh di suatu tempat, tanpa menyadari siapa dirinya yang sebenarnya."

Lucian memajukan tubuhnya. Jarak antara wajah mereka kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Di jarak sedekat ini, intimidasi Lucian terasa seperti tekanan gravitasi yang luar biasa, seolah-olah ia bisa menghancurkan eksistensi Riccardo hanya dengan sekali kedipan mata.

"Kau tahu mengapa aku memanggilmu, Riccardo? Alighieri dikenal sebagai pelacak aset paling andal. Jika ada sepeser uang yang hilang, klanmu bisa menemukannya di ujung dunia. Dan bibit pengkhianat ini... dia adalah aset yang harus dimusnahkan. Dia adalah sisa dari pencurian besar terhadap sistem kita."

Lucian menatap lurus ke dalam mata Riccardo, seolah ingin menembus dinding pertahanan mental pria Alighieri itu. "Cari sisa klan pengkhianat itu. Aku tidak peduli di mana mereka menyembunyikannya atau identitas baru apa yang ia pakai sekarang. Identifikasi dia, pastikan kemurnian darahnya sebagai keturunan dari para pencuri itu, dan segera selesaikan apa yang gagal dilakukan dua puluh tahun lalu."

Riccardo menatap gelas di tangan Lucian, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan. "Jika benar ada yang selamat, mereka pasti dijaga dengan sangat ketat oleh orang-orang yang setia pada masa lalu."

"Itulah sebabnya aku memberikan tugas ini padamu," Lucian tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Bunuh siapa pun dia jika kau menemukannya. Jangan bawa dia kepadaku. Jangan bawa dia ke Dewan Kehormatan. Aku hanya ingin laporan bahwa silsilah itu sudah benar-benar tamat. Bawa bukti kematiannya, dan TOSN akan memastikan klan Alighieri mendapatkan posisi permanen di dewan inti."

Riccardo mengangguk perlahan. "Aku mengerti instruksimu, Lucian."

"Bagus," jawab Lucian pendek. Ia kembali bersandar ke jok kulitnya yang empuk, aura predatornya sedikit mereda namun tetap terasa mengancam. "Jangan biarkan emosi atau rasa ingin tahu membimbing langkahmu. Seorang Alighieri adalah eksekutor, bukan penyelamat. Ingatlah, pengkhianatan dalam bentuk apa pun—termasuk menyembunyikan musuh organisasi—adalah tiket satu kali jalan menuju neraka."

Riccardo beranjak untuk keluar dari limousine itu, merasakan udara segar Paris menyentuh wajahnya saat pintu terbuka. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar, suara Lucian kembali terdengar dari kegelapan kabin, rendah dan penuh peringatan.

"Dunia ini tidak punya ruang untuk sisa-sisa pengkhianatan, Riccardo. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari terbit untuk kedua kalinya setelah kau menemukannya."

Pintu menutup dengan dentuman solid. Riccardo berdiri di trotoar basah, menatap lampu belakang Maybach itu yang menjauh dan menghilang ditelan kabut merah Paris. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Di balik lengan kemeja sutranya, di pergelangan tangan kirinya, tato ular itu terasa seolah-olah sedang menggigit kulitnya, mengingatkannya pada rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

Lucian Visconti benar tentang satu hal: pencarian telah dimulai. Namun, apa yang tidak diketahui oleh Sang Big Boss adalah bahwa Riccardo telah menemukan "anomali" itu lebih dulu. Dan kini, ia terjepit di antara kewajiban untuk mematuhi hukum genosida TOSN atau mengikuti rencana pribadinya yang jauh lebih berisiko.

Riccardo menatap Menara Eiffel di kejauhan. Di bawah kabut tipis yang menyelimuti kota, ia tahu bahwa desain hidup yang ia buat untuk seseorang di kota ini baru saja menjadi permainan yang sangat mematikan.

"Permainan dimulai, Lucian," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan angin malam.


Parisian Fog

"Sometimes, the fears locked within the subconscious haunt like ghostly terrors, even on the brightest of days."

Mobil mewah melaju keluar dari parkiran basement Château Prestige Properties di 45 Avenue Montaigne, menghindari lalu lintas yang sibuk dengan kemahiran supirnya, Albert. Di dalam Mercedes-Benz terbaru itu, Maria duduk dengan anggun di kursi belakang, menatap pemandangan kota Paris yang mulai dipenuhi nuansa sore. Di luar jendela, suasana kota memamerkan kehidupan yang bergerak cepat dengan pepohonan yang rimbun dan gedung-gedung bersejarah yang memancarkan pesona klasik.

Sambil melamun, Maria membayangkan akhir pekan yang sepi di apartemen mewahnya, Le Belle Époque, yang berada di Rue de Rivoli. Bayangan suasana tenang di apartemennya, tanpa gangguan atau keramaian, membawa rasa damai yang menyenangkan. Dia membayangkan duduk sendirian, menikmati waktu berkualitas dengan dirinya sendiri.

Seiring mobil bergerak, Maria melirik ke luar jendela, lampu-lampu jalan mulai bersinar lembut dan kafe-kafe mulai mengisi udara dengan aroma kopi dan pastry yang menggoda. Terinspirasi oleh suasana yang menyenangkan ini, dia merasakan keinginan mendadak untuk berhenti sejenak dan menikmati kedamaian sore hari dengan cara sederhana.

"Albert, berhenti di sini," Maria memerintahkan dengan nada lembut, menunjukkan sebuah kafe kecil yang terletak hanya beberapa blok dari apartemennya. Pada papan café tertulis Café de Lumière, sebuah café terkenal dengan suasananya yang khas dan nuansa yang hangat.

Albert menghentikan mobil di tepi jalan, lalu Maria dengan anggun melangkah keluar dari Mercedes-Benz-nya. Dengan tas tangan yang elegan, dia menutup lembut pintu mobil dan mulai berjalan menuju Café de Lumière. Langkahnya ringan dan penuh keyakinan, menambah keanggunan yang sudah menjadi ciri khasnya.

Sesampainya di kafe, Maria disambut oleh aroma hangat dari croissant yang baru dipanggang dan kopi segar. Musik jazz lembut mengalun dari speaker, memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Maria memilih tempat duduk di dekat jendela besar yang memberikan pemandangan luar kota Paris, dan memesan cappucino serta croissant yang baru dipanggang. Saat ia duduk, ia membiarkan tatapannya menyusuri jalan yang sibuk di luar, menikmati kedamaian dan keindahan sore Paris, meresapi setiap momen kesendiriannya dengan penuh Kedamaian.

Di tengah suasana hangat dan nyaman Café de Lumière, tiba tiba sekelebat bayangan masa lalu muncul mengganggu ketenangan dan kedamaiannya. Kenangan masa kecilnya yang suram kembali menghantui pikirannya, mencuri dan memporak porandakan rasa damai yang baru saja muncul. Sekuat apapun kenangan itu, jika sudah mulai muncul ke permukaan, maka seperti air bah yang menerjang kedamaian, semuanya porak poranda, mood berubah pikiran menjadi kalut dan rasa takut yang aneh senantiasa muncul tanpa diundang.

Dia terlempar ke masa lalu, ke panti asuhan dingin di pinggiran London tempat dia dibesarkan. Dalam bayangannya, Maria melihat suster Clara, wanita lembut yang memberinya nama Maria Angelina Devereux. Suster Clara adalah satu-satunya sosok keibuan yang Maria kenal selama masa kecilnya yang penuh kesepian dan kegelapan. Panti asuhan itu sendiri adalah tempat yang dingin dan keras, walaupun suster Clara berusaha memberikan kenyamanan, tetapi rasa sepi yang dialaminya ketika satu per satu sahabat terdekatnya diadopsi keluarga terpandang di sekitar London membuat Maria merasakan kembali keputusasaan dan kesepian serta rasa tertolak dan tidak diinginkan. Rasa sepi dan kecewa serta kenangan kelam yang begitu pekat hampir saja membuat air matanya menetes.

Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sesuatu yang tidak biasa di luar jendela kafe. Sebuah mobil melintas di depan Café de Lumière dengan logo yang mencolok: ular berkelindan dengan daun Laurel Nobilis membingkai. Logo itu tampak sangat familiar, namun Maria tidak dapat mengingat dengan jelas dari mana dia mengenal gambar itu.

Dengan rasa penasaran yang mendalam, Maria hendak melangkah keluar dari kafe untuk melihat mobil tersebut lebih dekat. Namun, sebelum dia sempat bergerak, mobil itu melaju kencang, meninggalkan area depan kafe dalam waktu singkat. Rasa dingin yang aneh tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh Maria, menyentuh setiap inci dari rasa takut dan ketidakpastian yang menghantuinya.

Maria merasa gelisah dan tidak nyaman, dan dia segera menyadari bahwa dia ingin pulang dan berlindung di apartemen mewahnya. Dia meninggalkan café dengan cepat, berusaha untuk mengusir rasa dingin yang menjalar dalam dirinya. Keberadaan mobil misterius dan logo yang tak dikenal telah mengguncang ketenangan sore hari Maria, mengingatkannya pada masa lalu yang penuh misteri dan rasa takut yang selama ini dia coba untuk dilupakan.

Bergegas, Maria meninggalkan café dan berjalan sedikit lebih cepat. Sore yang indah sudah beranjak gelap, suasana yang sebelumnya begitu nyaman dan syahdu seolah menjadi penuh kengerian dan ketakutan. Maria berlari kecil, meninggalkan semua suasana romantis malam hari kota Paris. Dia sudah tenggelam dalam lautan misteri dan ketakutan, seolah ada ribuan pasang mata yang mengawasinya dari jauh.

Larilah, Maria Devereux, lari kembalilah pada kesunyian dan kesendirian mu yang dingin dan beku. Tak berapa lama, Maria sudah memasuki lobi apartemen Le Belle Époque. Bergegas dia menuju privat lift yang langsung menuju tempat tinggalnya. Tidak dihiraukannya sapaan beberapa petugas apartemen. Dengan wajah yang masih tegang dan memucat, Maria segera menaiki lift dan sampai di apartemennya.

*****

Pagi yang cerah di hari Senin, suasana di kantor Château Prestige Properties di 45 Avenue Montaigne terasa sibuk seperti biasanya. Maria, mengenakan setelan bisnis yang elegan, memasuki ruang rapat dengan langkah anggun. Di sana sudah menunggu Riccardo Alighieri, pemilik perusahaan yang karismatik.

"Selamat pagi, Maria," sapa Riccardo dengan senyum hangat.

"Selamat pagi, Tuan Alighieri," jawab Maria dengan sopan, mengambil tempat duduk di hadapannya.

Mereka segera memulai diskusi tentang rencana besar Perusahaan yaitu peluncuran pameran kompleks real estate baru di daerah pinggiran kota Paris yang bernama Belle Horizon. Target penjualan, strategi pemasaran, dan segala detail teknis dibahas dengan teliti.

"Maria, kita harus memastikan bahwa peluncuran ini sukses besar. Belle Horizon harus menjadi proyek yang paling menguntungkan tahun ini," kata Riccardo dengan nada tegas.

"Tentu, Tuan Alighieri. Saya akan memastikan semua tim bekerja maksimal untuk mencapai target tersebut," jawab Maria dengan yakin.

Namun, percakapan mereka kemudian beralih ke topik yang lebih pribadi. Riccardo, yang sudah lama menunjukkan ketertarikannya pada Maria, tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan perasaannya lagi.

"Maria, kau tahu betapa aku mengagumimu. Mengapa kau tidak mau memberikan kesempatan pada kita?" tanya Riccardo dengan nada lembut, namun mendesak.

"Riccardo, kau sudah memiliki pasangan. Aku tidak bisa menjadi kekasih gelapmu," jawab Maria tegas, meskipun hatinya berdebar.

Percakapan ini segera memanas menjadi pertengkaran kecil. Riccardo yang frustasi mendekat dengan sedikit paksaan. Maria mendorongnya dengan kuat, namun Riccardo tidak mundur.

"Aku tahu kau kesepian, Maria. Bahkan dengan Orlando di dekatmu, aku bisa melihat kau tidak tertarik padanya. Dia bukanlah pria yang bisa membuatmu bahagia," kata Riccardo dengan suara rendah namun penuh keyakinan.

"Riccardo, kau tidak tahu apa-apa tentang perasaanku. Orlando adalah teman yang baik," jawab Maria, mencoba mempertahankan ketenangannya.

"Teman? Dia hanyalah koboi Amerika yang gagal, lalu merantau keluar negeri untuk mencari peruntungan. Dia tidak sebanding dengan diriku, Maria. Aku bisa memberimu segalanya yang kau butuhkan," Riccardo membalas dengan nada meremehkan.

"Orlando mungkin bukan pria sempurna, tapi setidaknya dia tidak mencoba menjadikan aku gundik," balas Maria dengan tajam, matanya berkilat marah.

"Maria, dengar aku," kata Riccardo, nadanya berubah lebih serius. "Aku belum menikah. Tidak ada ikatan antara aku dan Tanya. Itu semua hanya sekadar kesenangan. Kau tahu itu."

"Apakah jika aku menerima cintamu, kau akan menikahiku? Atau aku hanya akan menjadi salah satu dari wanita-wanita yang kau permainkan?" tantang Maria, matanya menatap tajam ke arah Riccardo.

Emosi Riccardo meledak. Dengan amarah dan hasrat yang membara, dia menarik Maria ke arahnya dan mencium bibirnya dengan beringas. Maria terkejut dan mencoba melawan, tetapi Riccardo terlalu kuat. Untuk sesaat, Maria terhanyut dalam kehangatan dan kekuatan pelukan Riccardo, namun segera menyadari situasi dan mendorongnya menjauh.

Saat Maria mencoba menjauh, pandangannya tertuju pada tato di tangan Riccardo, gambar ular hitam bermata tajam yang saling berkelindan. Tubuhnya bergidik, seperti ada seribu ular menyerang dirinya tiba-tiba, membuat suasana menjadi dingin dan mencekam. Suasana yang sama Setiap kali melihat tato itu, segera ketakutan dan kebingungan merasuk ke dalam dirinya.

"Riccardo, hentikan! Ini tidak benar," Maria berteriak, napasnya terengah-engah.

Sebelum Riccardo bisa merespons, langkah kaki Orlando (terlihat dari dinding kaca ruang pertemuan) terdengar mendekati ruang rapat. Riccardo mundur dengan enggan, menatap Maria dengan mata penuh emosi yang berkecamuk.

"Ini belum selesai, Maria," katanya dengan nada rendah sebelum meninggalkan ruangan. Maria, dengan wajah yang masih tegang, mencoba menenangkan diri dan bersiap menghadapi kedatangan Orlando.

Orlando masuk ke dalam ruangan dengan senyum ramah, "Hey, Maria, semuanya baik-baik saja?"

Maria mengangguk, berusaha tersenyum meskipun hatinya masih berdebar kencang. "Ya, Orlando. Semuanya baik-baik saja. Mari kita lanjutkan pekerjaan kita."

Namun, dalam benaknya, Maria tidak bisa melupakan tato di tangan Riccardo dan perasaan tidak nyaman yang ditimbulkannya. Setiap kali gambar itu muncul, suasana menjadi dingin dan mencekam, mengingatkannya akan sebuah misteri yang harus dia pecahkan, sambil menghadapi perasaan rumit yang muncul dari hubungannya dengan Riccardo. Sore itu sepulang kerja Orlando mengantarnya Pulang. Maria menolak ketika Orlando mengajaknya makan malam. Maria hanya ingin cepat masuk dalam Apartemennya yang hangat dan melupakan semua kejadian hari itu.

Malam itu, Maria bermimpi. Dalam mimpinya, ia berada di pedesaan yang tak pernah ia ketahui. Di sana, ia melihat Suster Clara menggendong seorang bayi yang diserahkan oleh seorang pria misterius, yang hanya terlihat perawakannya saja dalam kegelapan. Percakapan di antara mereka samar-samar, namun kekhawatiran terlihat jelas di wajah Suster Clara.

Maria semakin mendekati mereka berdua, rasa penasaran mendorongnya maju. Ketika sudah sangat dekat, dilihatnya wajah bayi itu. Wajah yang mirip dengan dirinya sendiri, hanya saja bayi itu dililit oleh ular hitam dengan mata tajam yang menatap langsung ke arahnya, siap menyerang.

Maria terkesima, kengerian menyelimuti dirinya. Tubuhnya menegang saat bayangan mengerikan itu memenuhi pikirannya. Tiba-tiba, ia terbangun dengan napas terengah-engah. Keringat dingin membasahi dahinya.

Segera Maria bangun dan terduduk di tepi tempat tidurnya. Rasa cemas masih menghantui. Ia berdiri dan mengenakan jas tidur, lalu mengambil gelas anggur dari meja dekat tempat tidurnya. Dengan tangan yang gemetar, ia menuang Château Margaux 2009, hadiah yang Istimewa dari Orlando yang malam itu hanya semakin menambah kegelisahannya.

Dengan tergesa-gesa, ia meminumnya, berharap dapat menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Namun tak berapa lama kemudian, rasa pusing yang amat sangat menyerang. Maria berjalan limbung ke sofa di ruang tamu apartemennya, menghadap ke arah jendela besar dengan pemandangan kota Paris yang gelap dan tenang.

Di sana, tubuhnya lunglai. Maria tertidur kembali di atas sofa, masih terbayang mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Pemandangan kota Paris di malam hari yang biasanya memberikan kedamaian, kini terasa seperti bayangan yang mengintai, penuh dengan misteri dan ancaman yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.

*****

Rends-toi

"Instinct is often louder than reason; it is the soul’s silent alarm, whispering what the near future holds before the eyes can even see it."

Pesta launching Kompleks Real Estate Baru Belle Horizon dilangsungkan di Hotel Ritz-Carlton, salah satu hotel super mewah di Paris, Prancis. Malam itu, ballroom hotel dipenuhi tamu undangan dari kalangan elit pejabat kota Paris, jajaran manajemen, dan beberapa pemegang saham perusahaan. Kilauan lampu kristal yang megah menerangi ruangan, menambah kesan mewah dan elegan pada acara tersebut.

Riccardo Alighieri berdiri di panggung utama, memberikan kata sambutan dengan penuh semangat. "Hadirin yang terhormat, saya sangat bangga dapat memperkenalkan Belle Horizon, sebuah kompleks real estate yang menjadi simbol kemewahan dan inovasi. Saya berharap peluncuran ini akan segera diikuti dengan penjualan yang gemilang. Sebagai apresiasi, tim pemasaran yang berhasil mencapai angka penjualan fantastis akan mendapatkan insentif yang luar biasa."

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Semua orang tampak senang dan bahagia malam itu, menikmati santap malam yang luar biasa mewah.

Maria datang dengan mengenakan gaun pesta berwarna merah menyala dengan belahan dada yang rendah. Kehadirannya mencuri perhatian banyak tamu. Orlando menggandengnya dan menemani sepanjang pesta, senyum hangatnya tidak pernah lepas dari wajahnya.

Acara pun bersambung dengan dansa penuh suka cita. Orlando mengajak Maria berdansa, tetapi Maria menolaknya dengan halus. Mereka berdiri di pinggir lantai dansa, mengamati para tamu yang berputar dan berayun mengikuti irama musik.

Orlando tersenyum dan mengulurkan tangan. "Maria, maukah kamu berdansa denganku malam ini?"

Maria tersenyum lembut dan menggelengkan kepala. "Maaf, Orlando, aku tidak merasa ingin berdansa malam ini."

Orlando menurunkan tangannya dan menatap Maria dengan tatapan lembut. "Kenapa? Ini malam yang indah, dan kamu terlihat sangat cantik dalam gaun itu. Aku ingin kita menikmati malam ini bersama."

Maria menghela napas, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Orlando, ini bukan karena kamu. Aku hanya merasa sedikit lelah dan tidak dalam suasana hati untuk berdansa. Tapi aku menghargai tawaranmu."

Orlando mendekat, suaranya lembut dan penuh pengertian. "Aku mengerti, Maria. Kamu selalu bekerja keras dan saat ini kamu butuh waktu untuk diri sendiri. Tapi jika kamu berubah pikiran, aku akan ada di sana, siap menari denganmu."

Maria tersenyum tipis, merasa terhibur oleh perhatian Orlando. "Terima kasih, Orlando. Kamu selalu memahami aku."

Tak berapa lama, Riccardo datang menghampiri Maria. Malam itu, tidak seperti biasanya, Riccardo datang sendirian tanpa Tanya menemani. "Maria, kamu terlihat luar biasa malam ini," katanya dengan nada menggoda.

Riccardo kembali mencoba merayu Maria. "Bagaimana jika kita menghabiskan malam ini bersama di apartemenku? Aku bisa memberikan apa saja yang kamu inginkan."

Maria hanya diam, tidak menanggapi godaan Riccardo. Riccardo semakin mendesak, dia menyeret Maria keluar menuju balkon. Di sana, Riccardo dengan antusias kembali merayu, "Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, Maria. Asalkan kamu bersedia menghabiskan malam ini bersamaku."

Maria menolak dengan tegas. "Tidak, Riccardo. Aku tidak tertarik."

Tak tahan dengan penolakan tersebut, Riccardo mendekati Maria, memepet tubuhnya ke tembok, lalu berbisik dengan nada penuh hasrat, "Suatu saat kamu akan menyerahkan dirimu dengan suka rela."

Maria mendorong Riccardo dengan keras. Untungnya, Orlando datang tepat waktu. "Apakah ada masalah di sini?" tanyanya dengan nada tegas, memisahkan Riccardo dari Maria.

Riccardo mundur dengan enggan, namun masih menyimpan tatapan penuh keinginan pada Maria. "Kita akan lihat nanti, Maria," katanya sebelum berbalik pergi.

Maria dan Orlando segera meninggalkan pesta, membawa satu botol Champagne yang merupakan hadiah bagi setiap tamu undangan.

Mereka tiba di lahan parkir basement. Orlando dengan sigap membukakan pintu untuk Maria, dan mereka pun beranjak menuju lift apartemen.

“Orlando, tas tanganku tertinggal di mobil,” kata Maria tiba-tiba. “Kamu bisa mendahului aku ke apartemen, aku akan kembali untuk mengambilnya.”

“Baik, Maria. Aku akan menunggu di atas,” jawab Orlando dengan senyum tenang.

Maria berbalik dan berjalan kembali ke arah mobil. Saat dia berhasil membuka pintu, dia melihat tas tangannya tergeletak di jok mobil. Ketika dia akan mengambilnya, terdengarlah desisan ular yang sangat kuat seolah ular tak jauh dari tempat Maria berdiri dia tidak yakin apakah ini hanya ilusi atau nyata. Terkejut, Maria segera mengambil tas tangannya dan membanting pintu mobil.

Dia menoleh, dan entah karena halusinasi atau karena kebanyakan alkohol, dia melihat wajah Riccardo menyeringai di kaca mobil. Maria menjerit lirih, lalu segera berlari menuju lift apartemen.

Suasana mencekam masih terasa dalam lift. Lift yang semula terang tiba-tiba berubah temaram. Bergegas, Maria memencet nomor apartemennya di lantai 30. Lift pun mulai bergerak naik. Tapi kengerian masih berlanjut, suasana lift dipenuhi kabut tebal yang semakin lama seolah semakin mencekik leher Maria dan membuatnya sulit bernapas.

Saat Maria melihat ke arah kaca lift, dia melihat tulisan dalam bahasa Prancis, "Serahkan dirimu" ("Rends-toi") namun sekejap kemudian tulisan itu hilang. Maria makin ketakutan dan semakin tidak bisa bernapas. Dia terduduk di dalam lift dengan napas terengah-engah. Untungnya, tak berapa lama, lift terbuka, dan Maria pun berhasil merangkak keluar. Dia tidak yakin apakah itu nyata atau sekedar insting alam bawah sadarnya.

Dengan setengah berlari, dia menuju pintu apartemennya, dan di sana sudah berdiri Orlando menyambutnya.

“Maria, apa yang terjadi?” tanya Orlando cemas melihat wajah pucat dan mata penuh ketakutan Maria.

Maria segera memeluk Orlando erat-erat, seakan-akan takut melepaskannya. “Jangan pulang malam ini, Orlando. Temani aku disini. Aku butuh kamu.”

Orlando mengangguk, masih memeluk Maria dengan erat. “Tentu, Maria. Aku akan menemanimu. Jangan khawatir, aku di sini.”

Mereka masuk ke dalam apartemen, dan Maria merasa sedikit lega dengan kehadiran Orlando. Namun, bayangan mengerikan dan tulisan di lift itu masih menghantui pikirannya. Suasana apartemen yang biasanya menenangkan terasa dingin dan penuh dengan misteri malam itu.

Orlando melangkah masuk ke apartemen setelah Maria membuka pintu, namun Maria tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa ketakutannya. Embun pekat dan tulisan misterius yang muncul di kaca lift masih segar dalam ingatannya, meninggalkan rasa cemas yang mendalam.

Dengan Orlando di sampingnya, Maria berusaha mengabaikan kejadian tersebut dan mencoba melanjutkan malamnya. Namun, dia tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang lebih gelap dan mengancam. Penglihatan yang baru saja dia alami mungkin hanya permulaan dari sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Di apartemennya, Maria menyalakan lampu temaram yang menciptakan atmosfer hangat. Orlando, dengan tatapan penuh hasrat, mendekat dan mencium bibir Maria dengan lembut. Ia merasakan napas hangatnya, dan tubuhnya merespons dengan desiran adrenalin yang mengalir.

"Maria, kamu begitu menawan malam ini," bisik Orlando, tangannya membelai rambut Maria.

Maria, tidak bisa menahan tarikan magnetis antara mereka. Dia merasakan ketegangan dan keinginan yang membuncah. Mereka berdua mulai melepaskan pakaian dengan gesit, membiarkan setiap helai kain jatuh ke lantai.

Orlando membimbing Maria ke sofa, mencium lehernya dengan penuh gairah. Maria merasakan sentuhan lembut namun tegas di kulitnya, yang mengirimkan getaran ke seluruh tubuh. Tangan Orlando menjelajahi tubuh Maria, menyalakan setiap syaraf yang tersentuh.

Mereka berdua larut dalam ritme yang intens dan penuh gairah. Orlando membuktikan keahliannya, membuat Maria merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Setiap gerakan mereka penuh dengan intensitas dan chemistry yang tak terbantahkan.

Maria, yang biasanya begitu terkendali, kini membiarkan dirinya hanyut dalam momen tersebut. Keduanya tenggelam dalam gelombang ekstasi yang memuncak, membebaskan segala ketegangan yang tersimpan. Saat akhirnya mereka saling melepas, Maria merasakan kelegaan yang mendalam, seolah beban berat di pundaknya terangkat sejenak.

Setelahnya, mereka berdua terbaring di sofa, napas masih tersengal. Maria memandang Orlando dengan senyum puas di wajahnya.

"Terima kasih," ucap Maria lembut.

Orlando hanya tersenyum, menatap Maria dengan mata yang berbinar. "Sama-sama, Maria. Kau luar biasa."

Maria menatap langit-langit, merasa sejenak bebas dari tekanan dan misteri yang melingkupi hidupnya. Meskipun hanya untuk sesaat, ia merasakan kedekatan yang tulus dengan Orlando, meskipun dia tahu hubungan mereka tidak akan lebih dari sekedar hubungan fisik yang singkat.

Malam itu berlanjut dengan mereka menikmati champagne, bertukar cerita, dan saling berpelukan. Kehangatan dan kenyamanan membuat Maria sejenak melupakan teror mengerikan di lift apartemen. Mereka terlalu bersemangat dan karena asupan alkohol yang lumayan berat, akhirnya keduanya tertidur kelelahan di sofa apartemen yang menghadap ke arah jendela besar dengan pemandangan kota Paris.

Pagi harinya, Maria terbangun saat terdengar dering telepon yang mengusik tidurnya. Jam menunjukkan pukul 10 pagi.

“Hallo, Maria,” suara di ujung telepon terdengar cemas. “Ini Ingrid dari The Whitby Orphanage, 22 North Terrace, Whitby, Yorkshire, Inggris. Bisakah kau segera ke sini? Suster Clara membutuhkanmu, dan nampaknya Suster Clara sudah tidak akan bertahan lama lagi. Dia hanya menunggumu, Maria. Please, segera pulang.”

Maria sangat terkejut dan dengan suara parau menjawab, “Oke, aku akan segera terbang ke Inggris hari ini. Tunggu aku ya.”

Setelah menutup telepon, Maria merasa lemas. Air mata mulai mengalir di pipinya. Episode apa lagi yang akan datang dari tempat muram itu, batinnya berteriak.

Orlando yang terbangun oleh suara telepon, melihat Maria menangis. “Maria, ada apa? Apa yang terjadi?”

“Suster Clara,” Maria terisak. “Dia membutuhkan aku. Aku harus segera ke Inggris. Dia tidak akan bertahan lama lagi.”

Orlando memeluk Maria erat-erat. “Aku akan mendampingimu, Maria. Kita akan segera ke bandara.”

Maria mengangguk pelan, merasa sedikit lega dengan dukungan Orlando. Namun, bayangan mengerikan dari masa kecilnya di panti asuhan mulai menghantui pikirannya lagi. Bagaimana pun, dia tahu dia harus pergi. Suster Clara membutuhkan dirinya, dan dia tidak bisa mengecewakan wanita yang telah menjadi seperti ibu baginya.

****