The Guardian

"She went to Florence to find her future, only to discover that her face had been painted five hundred years before she was born"

The Cold Reality

Tidak ada yang lebih menyiksa dari udara dingin Florence yang menusuk. Sudah sekitar tiga jam Elena memandangi kanvas kosong di depannya. Lukisan pesanan seorang perempuan kaya di depan taman dengan latar mansion megah itu tidak sedikit pun mampu ia goreskan. Perutnya yang berbunyi setiap lima menit adalah penyebab utamanya. Lapar. Ya, rasa lapar itu semakin menjadi-jadi malam ini.

Ia hanya punya sepotong Cantuccini (biskuit almond khas Florence) yang sudah mengeras bagai batu karena terlalu lama disimpan dalam suhu dingin. Ia berusaha menggigitnya, namun sia-sia. Tenaganya sudah habis; giginya tidak mampu menaklukkan sepotong biskuit itu.

Udara dingin akibat hujan seharian menembus dinding studio seninya di Accademia di Belle Arti. Dingin yang begitu mencekam, menambah siksaan rasa lapar yang perlahan namun pasti membuat otaknya tumpul. Ia tidak mampu menggerakkan kuas, bahkan hanya untuk membuat satu coretan kecil.

Air mata menetes di pipinya. Pandangan Elena mulai kabur dan ia pun menangis sendirian di kegelapan malam. Ia teringat kembali senyum bahagia sang ibu saat ia terpilih sebagai penerima beasiswa di Accademia di Belle Arti. Sebuah institusi yang sangat terpandang di seantero Eropa, terlebih di kota kelahirannya, Sighișoara, Rumania. Baginya, ia hanyalah seniman kecil dengan mimpi besar: menaklukkan jantung seni Italia.

Berbekal uang tabungan seumur hidup ibunya—seorang petani kecil pengelola lahan yang sudah tergadai—ia berangkat ke Italia. Tahun pertama masih terasa ringan karena uang bekal masih ada. Namun kini, simpanannya telah ludes sejak seminggu lalu. Ia harus berpikir keras untuk membayar sewa apartemen yang tak jauh dari kampus.

Beasiswa itu hanya menanggung biaya kuliah, bukan biaya hidup. Jauh hari sebelum uang itu habis, ibunya sempat berpesan, “Ada baiknya kau sekolah sambil mencari uang di sana, anakku. Ibu sudah tidak punya uang sepeser pun untuk mendukung kebutuhanmu.”

Jadilah ia pelukis jalanan. Dan kanvas di depannya saat ini adalah karya pertama untuk pelanggan pertamanya. Uang muka pesanan sudah habis untuk membeli peralatan lukis dan cat minyak kualitas tinggi, namun tidak cukup untuk makan, apalagi membayar sewa tempat tinggal.

Masih segar dalam ingatannya, sekitar tiga bulan lalu, seseorang mengirimkan amplop tebal dari Sighișoara. Ia pikir itu dari ibunya. Namun, ia hampir pingsan saat membaca isinya: pemberitahuan tentang kematian sang ibu. Mengapa ibu tidak pernah bilang jika ia sakit? Mengapa kabar itu tak pernah sampai? Amplop anonim itu hanya menyebutkan bahwa ibunya sudah dimakamkan dengan layak, disertai sepucuk surat wasiat.

Elena, Putri Kecilku Sayang,

Saat kau membaca surat ini, mungkin matamu sedang menatap langit Florence yang indah, jauh dari rumah kita yang sunyi di Sighișoara. Ibu sengaja tidak memberitahumu betapa sepinya malam-malam di sini, atau betapa sulitnya napas Ibu belakangan ini. Maafkan Ibu karena harus menyembunyikan rasa sakit ini darimu, Nak. Ibu hanya ingin kau fokus pada mimpimu, pada lukisan-lukisanmu, dan pada masa depanmu yang cerah di Accademia. Jangan biarkan beban di sini mengaburkan warna-warna di kanvasmu. Jangan berpikir macam-macam, Elena. Cukup jadilah pelukis hebat seperti yang selalu kita impikan.

Ibu tahu Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Maka, bersama surat yang basah oleh air mata ini, Ibu sertakan surat kepemilikan rumah tua kita dan kebun kecil tempat kita biasa memetik mawar liar. Jika saatnya tiba dan Ibu harus pergi, rumah ini adalah milikmu sepenuhnya. Itulah satu-satunya harta yang bisa Ibu wariskan untukmu—tempat berteduh yang penuh dengan kenangan kita.

Pesan Ibu, berhati-hatilah di sana, Nak. Dunia di luar sana luas dan kadang begitu dingin bagi jiwa sepertimu. Selesaikan pendidikanmu di Florence dengan kepala tegak. Raihlah gelarmu, lalu secepatnya kembalilah pulang ke rumah, ke Sighișoara. Ibu akan menunggumu di dalam angin yang berhembus melewati kebun kita, di dalam aroma tanah Rumania yang kita cintai.

Jangan menangis terlalu lama untuk Ibu. Lukislah dunia dengan keindahan, dan hiduplah untuk kita berdua.

Dengan cinta yang abadi, Ibumu

Mengingat surat itu hanya menambah kesedihan yang mendalam. Rasa sebatang kara menghantamnya begitu kuat. Harusnya ia tidak berangkat ke Florence. Harusnya ia menemani ibu. Penyesalan itu mengalir bersama air mata.

Beban hidup yang menggunung dan rasa lapar yang menghimpit membuat tubuhnya limbung. Pandangannya berkunang-kunang, lalu tubuhnya terasa seringan kapas. Elena tersungkur di depan kanvas kosongnya. Ia pingsan dalam dekapan duka.

*****

Follow Sosial Media

Novel-novel inspiratif untuk dibaca dan dibeli.

kontak penulis

letter@leonanight.com

© 2025. All rights reserved.