The Guardian
"She went to Florence to find her future, only to discover that her face had been painted five hundred years before she was born"


The Cold Reality
Tidak ada yang lebih menyiksa dari udara dingin Florence yang menusuk. Sudah sekitar tiga jam Elena memandangi kanvas kosong di depannya. Lukisan pesanan seorang perempuan kaya di depan taman dengan latar mansion megah itu tidak sedikit pun mampu ia goreskan. Perutnya yang berbunyi setiap lima menit adalah penyebab utamanya. Lapar. Ya, rasa lapar itu semakin menjadi-jadi malam ini.
Ia hanya punya sepotong Cantuccini (biskuit almond khas Florence) yang sudah mengeras bagai batu karena terlalu lama disimpan dalam suhu dingin. Ia berusaha menggigitnya, namun sia-sia. Tenaganya sudah habis; giginya tidak mampu menaklukkan sepotong biskuit itu.
Udara dingin akibat hujan seharian menembus dinding studio seninya di Accademia di Belle Arti. Dingin yang begitu mencekam, menambah siksaan rasa lapar yang perlahan namun pasti membuat otaknya tumpul. Ia tidak mampu menggerakkan kuas, bahkan hanya untuk membuat satu coretan kecil.
Air mata menetes di pipinya. Pandangan Elena mulai kabur dan ia pun menangis sendirian di kegelapan malam. Ia teringat kembali senyum bahagia sang ibu saat ia terpilih sebagai penerima beasiswa di Accademia di Belle Arti. Sebuah institusi yang sangat terpandang di seantero Eropa, terlebih di kota kelahirannya, Sighișoara, Rumania. Baginya, ia hanyalah seniman kecil dengan mimpi besar: menaklukkan jantung seni Italia.
Berbekal uang tabungan seumur hidup ibunya—seorang petani kecil pengelola lahan yang sudah tergadai—ia berangkat ke Italia. Tahun pertama masih terasa ringan karena uang bekal masih ada. Namun kini, simpanannya telah ludes sejak seminggu lalu. Ia harus berpikir keras untuk membayar sewa apartemen yang tak jauh dari kampus.
Beasiswa itu hanya menanggung biaya kuliah, bukan biaya hidup. Jauh hari sebelum uang itu habis, ibunya sempat berpesan, “Ada baiknya kau sekolah sambil mencari uang di sana, anakku. Ibu sudah tidak punya uang sepeser pun untuk mendukung kebutuhanmu.”
Jadilah ia pelukis jalanan. Dan kanvas di depannya saat ini adalah karya pertama untuk pelanggan pertamanya. Uang muka pesanan sudah habis untuk membeli peralatan lukis dan cat minyak kualitas tinggi, namun tidak cukup untuk makan, apalagi membayar sewa tempat tinggal.
Masih segar dalam ingatannya, sekitar tiga bulan lalu, seseorang mengirimkan amplop tebal dari Sighișoara. Ia pikir itu dari ibunya. Namun, ia hampir pingsan saat membaca isinya: pemberitahuan tentang kematian sang ibu. Mengapa ibu tidak pernah bilang jika ia sakit? Mengapa kabar itu tak pernah sampai? Amplop anonim itu hanya menyebutkan bahwa ibunya sudah dimakamkan dengan layak, disertai sepucuk surat wasiat.
Elena, Putri Kecilku Sayang,
Saat kau membaca surat ini, mungkin matamu sedang menatap langit Florence yang indah, jauh dari rumah kita yang sunyi di Sighișoara. Ibu sengaja tidak memberitahumu betapa sepinya malam-malam di sini, atau betapa sulitnya napas Ibu belakangan ini. Maafkan Ibu karena harus menyembunyikan rasa sakit ini darimu, Nak. Ibu hanya ingin kau fokus pada mimpimu, pada lukisan-lukisanmu, dan pada masa depanmu yang cerah di Accademia. Jangan biarkan beban di sini mengaburkan warna-warna di kanvasmu. Jangan berpikir macam-macam, Elena. Cukup jadilah pelukis hebat seperti yang selalu kita impikan.
Ibu tahu Ibu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Maka, bersama surat yang basah oleh air mata ini, Ibu sertakan surat kepemilikan rumah tua kita dan kebun kecil tempat kita biasa memetik mawar liar. Jika saatnya tiba dan Ibu harus pergi, rumah ini adalah milikmu sepenuhnya. Itulah satu-satunya harta yang bisa Ibu wariskan untukmu—tempat berteduh yang penuh dengan kenangan kita.
Pesan Ibu, berhati-hatilah di sana, Nak. Dunia di luar sana luas dan kadang begitu dingin bagi jiwa sepertimu. Selesaikan pendidikanmu di Florence dengan kepala tegak. Raihlah gelarmu, lalu secepatnya kembalilah pulang ke rumah, ke Sighișoara. Ibu akan menunggumu di dalam angin yang berhembus melewati kebun kita, di dalam aroma tanah Rumania yang kita cintai.
Jangan menangis terlalu lama untuk Ibu. Lukislah dunia dengan keindahan, dan hiduplah untuk kita berdua.
Dengan cinta yang abadi, Ibumu
Mengingat surat itu hanya menambah kesedihan yang mendalam. Rasa sebatang kara menghantamnya begitu kuat. Harusnya ia tidak berangkat ke Florence. Harusnya ia menemani ibu. Penyesalan itu mengalir bersama air mata.
Beban hidup yang menggunung dan rasa lapar yang menghimpit membuat tubuhnya limbung. Pandangannya berkunang-kunang, lalu tubuhnya terasa seringan kapas. Elena tersungkur di depan kanvas kosongnya. Ia pingsan dalam dekapan duka.
*****
The Invisible Hand
Menjelang pagi Elena merasakan sensasi dinginnya lantai Studio lukisnya mulai menusuk. Hal itulah yang membuatnya sadar. Dia tersentak begitu mengingat lukisan yang belum tergarap, sementara pagi ini si empunya lukisan akan mengambil pukul 9 tepat.
Dengan kepala yang masih terasa berputar dan badan lemas yang belum pulih dia mencoba berdiri dan meraih kuas yang seingatnya diletakkan di dekat canvas. Tetapi betapa terkejutnya dia ketika melihat sebuah pemandangan ganjil yang hampir saja membuatnya mati berdiri.
Lukisan itu telah sempurna tergambar. Bukan hanya sekedar tergambar asal, tapi dengan teknik yang bahkan dia tidak menguasai, teknik Sfumato yang sangat sempurna. Sfumato adalah teknik melukis yang digunakan untuk menciptakan transisi warna dan gradasi yang sangat halus, sehingga tidak ada garis tepi yang tegas (outline) antara objek dan latar belakang. Warna yang meleleh dan menyatu satu sama lain seperti asap yang memudar di udara.
Teknik ini hanya dikuasai oleh mereka yang sangat ahli seperti Halnya Leonardo Da Vinci. Jelas bukan teknik yang mampu dikerjakan dalam waktu singkat. Ini mustahil!
Elena memandang takjub pada lukisan itu dan menggosok matanya berkali kali seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Satu pertanyaan muncul dalam benaknya. Siapa yang sudah membantunya? Siswa lain kah yang menyusup masuk dan melukis untuknya? Tapi dengan teknik tingkat tinggi macam itu hampir pasti mustahil.
Lama dia duduk terdiam memandangi keindahan lukisan itu, sampai sebuah ketukan kecil di pintu mengagetkannya. Bergegas dia berjalan menuju pintu dan membukanya. Dan sebuah kejutan lain serta merta menyambutnya.
“Kau yang bernama Elena Cantacuzino?” tanya seorang pria dengan wajah penasaran.
“Ya aku, apa yang bisa kubantu?” sahut Elena.
Pria itu lalu menyerahkan sebuah bungkusan padanya,” Aku mengantarkan pesanan Samale.”
“Sa…samale? Si…siapa yang memesan? Aku ti…tidak pesan apapun. Aku tidak punya uang untuk membayarnya,” jawab Elena dengan gugup.
“Tidak perlu, ini sudah lunas. Kau tinggal menerimanya saja.”
“Te …tetapi siapa yang memesan ini?”
“Aku tidak tahu, aku hanya bagian pengiriman. Cepat terimalah, aku masih harus mengirim ke tempat lain.”
Dengan sedikit keraguan, akhirnya Elena menerima Samale itu dan membawanya masuk. Tangannya bergetar, aroma campuran daging sapi cincang , nasi, bawang bombay, dan bumbu rempah khas yang mengingatkan akan suasana rumah dan ibunya, membuat Elena menangis. Samale adalah masakan kesukaannya yang selalu ibu masak setiap kali dia kurang enak badan. Dan kali ini makanan itu ada di tangannya seperti jatuh dari langit. Sungguh pagi yang aneh
*****
Setelah menyerahkan lukisan pada pelanggan pertamanya, Elena berjalan pulang menuju apartemennya dengan perasaan kacau. Kali ini dia yakin bahwa pemilik apartemen, Signora Beatrice Alberti. Terbayang olehnya perempuan tua itu pasti akan mengusirnya dengan keras, dan dia tidak tahu kemana harus pergi setelah ini.
Elena berpikir keras, haruskah dia tinggal di studio lukisnya yang dingin dan tanpa penghangat ruangan di Akademi? Atau mungkin dia bisa minta perpanjangang seminggu lagi untuk mencari klien kedua sehingga uangnya bisa digunakan untuk bayar sewa? Pikiran itu berkecamuk dalam benaknya. Namun dia tidak sadar bahwa ada kejutan lain yang menantinya begitu tiba di apartemen.
“Hai Nona Elena. Apa kabar? Aku dengar kau tidak pulang semalam. Kau tidur di Studio mu lagi? “ tanya Signora Beatrice.
“Ya signora…sa…saya tidur di sana semalam.”
“Lain kali kalau kau ingin tidur di Studio pamit lah dulu padaku. Sehingga aku bisa membawakanmu selimut dan makanan serta minuman hangat.”
Elena sedikit heran dengan sambutan Signora Beatrice yang tampak 10 kali lebih ramah dari sebelumnya. Namun dia tidak ingin memperpanjang basa basi itu. Segera dia berlalu dan berusaha menghindar dari percakapan dengan induk semang apartemen itu.
Namun baru beberapa langkah dia meninggalkan Signora Beatrice, tiba tiba wanita itu memanggilnya.
“Hemm Nona Elena, tentang uang sewa apartemen mu….”
Wajah Elena langsung pucat dan dia terpaku bingung mau menjawab apa. Bahkan untuk memutar badan dan menghadap Signora Beatrice dia tidak punya kekuatan.
“Terimakasih untuk pembayaran sewa selama setahun. Aku tidak tahu kau dapat uang dari mana, tetapi ketahuilah uang itu sangat berarti bagiku.”
Sontak Elena balik badan dan menatap Signora Beatrice dengan tatapan kaget.
“Uang sewa….setahun? Aku…aku tidak merasa membayarnya signora.”
“Owh…lihat ini, “ ujar Signora Beatrice sambil menunjukkan bukti Transfer sejumlah uang yang telah masuk padanya dan di sana tertulis jelas , untuk pembayaran Sewa apartemen selama satu tahun.
“Aku menerima ini tadi pagi. Aku rasa ini pasti dirimu, karena ada namamu tercantum di sana. Dan ini aku sudah buatkan bukti bayar. Kau bebas menempati apartemen itu selama satu tahun kedepan.”
“Tapi…bagaimana mungkin sa…saya”
“Kau pikir aku mengarang cerita, ah sudahlah Nona Elena, kau mungkin lupa. Tapi uang sudah masuk ke rekening ku dan tidak bisa diambil lagi. Kau paham?
Elena kembali menatap Signora Beatrice dengan wajah bertanya tanya. Namun begitu menerima bukti bayar sewa apartemen setahun, dia langsung mengambilnya dari tangan wanita tua itu dan segera berjalan menuju unitnya. Dia tidak ingin signora itu berubah pikiran dan menanyakan lebih jauh tentang bagaimana uang sewa apartemen itu terbayar. No Tidak.
Dalam hati dia heran, tapi dia memilih untuk diam dan menerima dengan perasaan lega, bahwa dia tidak jadi diusir dan jadi gelandangan. Entah siapapun yang sudah membayar apartemen itu dia sudah tidak ambil pusing.
****
The Shadow in the Lecture Hall
“Apakah kau tahu siapa diantara para siswa Academi ini yang setingkat dengan kita atau di atas kita yang menguasai teknik Sfumato dalam melukis?” tanya Elena pada Antonio teman satu angkatan yang duduk tak jauh darinya.
“Sfumato? Kau gila apa? Itu teknik tingkat tinggi yang bahkan kakak kelas kita saja tidak ada satu pun yang menguasai, “ jawab Antonio dengan wajah keheranan.
“Masak di Academia sebesar ini tidak ada satu pun yang menguasai teknik itu?”
Tak lama kemudian pintu terbuka lebar dan dosen Teknik Melukis Era Renaissance (Master Techniques of the Renaissance) Alaric Basarab memasuki ruangan seperti angin malam yang menghembus kencang dengan jaket panjangnya warna hitam yang tak sekalipun pernah dia lepas.
“Jika kau ingin tahu apakah pelukis yang menguasai teknik Sfumato masih ada di era ini, rasanya dia adalah orang yang tepat untuk menjawab,” celetuk Antonio.
Elena memperhatikan wajah Alaric dengan mata yang biru sedingin es. Timbul sejenak keraguan, apakah dia berani bertanya pada pria tinggi besar yang tak pernah sekalipun tersenyum itu. Tapi malam itu di kelas Alric Basarab, rasa ingin tahunya terkait misteri lukisan di studio yang selesai hanya dalam hitungan jam dengan teknik melukis langka, lebih besar dari rasa enggan dan takutnya.
“Hari ini kita akan membahas tentang berbagai teknik melukis yang dikuasai oleh Leonardo Da Vinci seorang pelukis legendary Era Renaissance. Tolong kalian perhatikan apa yang akan saya jelaskan dan jangan banyak bicara atau kalian tidak perlu ikut kelas saya,” ujar Alaric dengan tatapan dingin menyapu ruang kelas.
Entah mengapa semua siswa terdiam termasuk Elena. Dia merasa kata kata Alaric mampu membuat jantungnya berdegup lebih kencang, serta bulu kuduknya sedikit meremang. Entahlah dosen satu ini memang punya aura yang sangat kuat tapi sedikit menyeramkan.
Tak lama kelas pun hanyut dalam penjelasan Alaric terkait teknik melukis Leonardo Da Vinci, hingga akhirnya dia berbicara tentang teknik Sfumato. Tak tahu datang dari mana kekuatan Elena yang sejak tadi diam membeku mendengar Alaric berbicara tiba tiba saja dia sudah berdiri diatas dua kakinya yang gemetar dan mengacungkan tangan.
“Maaf professor, saya ingin bertanya,” ujar Elena dengan suara bergetar.
Alaric menatapnya tajam dan sontak jantung Elena berdegup lebih kencang.
“Apa yang ingin kau tanyakan nona Elena?”
“Terkait teknik Sfumato, apakah masih ada pelukis di dunia ini yang menguasai teknik itu? Dan jika ada, apakah dia ada di Academi ini?”
Seketika kelas menjadi sunyi mencekam, seolah pertanyaan Elena mengandung racun berbahaya yang sebentar lagi akan meledakkan kelas itu.
Alaric tersenyum tipis dan menjawab,” Apa yang membuatmu berpikir bahwa teknik ini jarang dikuasai pelukis Modern?”
“Tingkat kesulitannya yang tinggi Professor. Saya berkali kali gagal melakukannya, dan semenjak saya menginjakkan kaki di Florence ini, belum pernah saya melihat seorang pelukis pun menggunakan teknik itu dalam setiap pameran seni lukis yang saya ikuti,” jawab Elena dengan suara yang bergetar karena takut.
"Kau terlalu ragu dengan bayangannya, Elena. Sfumato bukan tentang menghapus garis, tapi tentang membiarkan cahaya menyerah pada kegelapan,” jawab Alaric singkat.
Begitu Alaric selesai menjawab, Elena tidak kuat lagi berdiri dan dicekam rasa ngeri atau hormat atau entah apalah itu. Dia terduduk dan tidak sanggup lagi berkata kata. Ingatannya kembali melayang pada malam saat dia pingsan dan lukisan itu jadi dengan sendirinya. Ada sesuatu dalam ucapan Alaric Basarab yang seolah mengatakan hanya aku yang mampu melakukan teknik itu.
Saat kuliah selesai, dan Elena berjalan menuju pintu keluar, tiba tiba Alaric memanggilnya. Jantung Elena seperti mau copot, dan dengan wajah tertunduk, tak sanggup menatap wajah sang dosen yang rupawan itu, Elena menghadap.
“Ya Prof, apa yang anda inginkan dari saya.”
Alaric menatapnya tajam, seperti menguliti Elena dari kulit hingga jantungnya dan meremas jantung itu dalam tangan nya yang lentik dan artistik.
“Baca ini, dan aku ingin kau membuat rangkuman tentangnya,” tukas Alaric sambil menyerahkan selembar Kerta kecil pada Elena. Lalu tanpa basa basi dia berlalu meninggalkan ruangan seperti angin malam yang menyisakan bau setanggi mawar yang terasa kuno.
Elena membaca kerta itu, disana tertulis, De Lumine et Umbra: De Gradatione Inconspicua. Batin Elena melonjak, Oh God ini buku bahasa Latin, dan membaca buku ini seperti menyelam ribuan kilo ke dasar laut dan entah kapan dia bisa naik ke permukaan untuk kembali menghirup oksigen. Sejenak dia menyesal, mengapa tadi mengikuti petunjuk Antonio bertanya pada Dosen Killer itu.
Namun seperti tersihir dia segera melangkah ke perpustakaan dan menyerahkan kertas kecil itu pada pustakawan yang berdinas malam itu.
“Aku butuh buku ini Signor, apakah ada di perpustakaan ini?” tanya Elena.
Signore Lucas sang pustakawan membaca tulisan itu dengan dahi sedikit mengkerut dan berkata,” Kau bisa mendapatkannya di deret paling ujung, tempat buku buku kuno di simpan. Apakah kau mampu berbahasa latin?”
“Sedikit bisa Signore,” ujar Elena
“Oke Cepat ambil dan bawa kemari, aku akan mengadministrasikannya sebelum kau bawa pulang,” jawab Signore Lucas.
Elena melangkah mengikuti petunjuk arah yang tadi signore Lucas berikan. Dan benar , buku itu ada di deretan buku buku tua yang kelihatannya jarang sekali disentuh siapapun. Sampulnya dari kulit tua yang sudah menghitam, ujung-ujungnya mulai rapuh, dan halaman-halamannya terbuat dari perkamen (vellum) yang berbau kayu cendana dan debu berabad-abad. Elena menghela nafas panjang, dan betapa terkejutnya dia ketika dia mengambil buku itu Profesor Alaric berdiri tepat di depannya dan mengambil buku itu dengan cepat dari tangan Elena.
Dia membuka buku itu sepintas lalu meletakkan pembatas halaman dan menyerahkan kembali buku itu ke tangan Elena seraya berkata, "Bacalah bagian De Gradatione. Bahasa Latin mu mungkin belum sempurna, Elena, tapi mata seorang seniman tidak butuh kamus untuk memahami bagaimana bayangan seharusnya 'bernafas' di atas kanvas. Buku ini adalah satu-satunya salinan yang tersisa di dunia. Jangan sampai terkena noda cat minyak mu."
Elena membeku beberapa saat dan tidak mampu berkata kata selain hanya mengangguk. Seperti tersihir dia segera mengambil tempat duduk dan membuka halaman yang telah diberi pembatas oleh Alaric yang saat itu sudah raib dari hadapan Elena.
Setelah membaca beberapa saat, Elena menyadari sesuatu, dia teringat dengan tangan Alaric saat memberikan kertas kecil padanya di kelas tadi. Tangan yang khas, lentik, ramping dan sulit untuk dilupakan.
Elena mengamati ilustrasi tangan di dalam buku itu—yang menunjukkan cara memegang kuas untuk teknik Sfumato—memiliki struktur tulang dan bentuk jemari yang identik dengan tangan Profesor Alaric sendiri. Untuk beberapa saat dia tertegun, tidak mungkin Professor itu yang menulis buku ini. Buku ini terlalu tua untuk ditulis oleh Seorang Dosen tampan seusia Alaric.
Segera dia membalik buku ke sampul depan dan jantungnya kembali bergetar ketika membaca penulis nama penulis yang tertera di buku itu, A. Basarab. Kembali suara hati Elena berkata, ini mustahil, siapa penulis buku ini? Mustahil Professor Alaric Basarab penulisnya.
Sesaat dia tenggelam dalam keheranan, sampai pandangannya tertuju pada sebuah simbol kecil yang ada di atas nama penulis. Simbol ini seperti sigil yang aneh, namun familiar. Sebuah simbol yang terasa kuno namun tak asing baginya.
*****
The Final Puzzle
Hari hari berlalu begitu cepat di Accademia di Belle Arti. Minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun. Tak terasa waktu kelulusan bagi Elena pun tiba. Rasa Syukur yang tak terhingga membuatnya menangis saat dia dinyatakan telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan di perguruan tinggi itu dengan nilai sempurna. Bahkan dia menjadi satu satunya siswa dengan predikat Excellent untuk program Studi Teknik melukis dengan major yang sangat dikuasainya, Teknik melukis Sfumato.
Semua ini tentu berkat gemblengan keras Professor Alaric yang selalu mengawasi dan memandunya bahkan tidak pernah sedetikpun membuatnya merasakan hari libur atau rileks. Kerja keras menjadi kata kunci Alaric dalam mendidik Elena. Dan tentunya berkat donatur misterius yang senantiasa membayar biaya apartemen dan makan yang harus ditanggungnya. Sebuah mukjizat yang hingga detik ini tidak dia ketahui siapa pelakunya.
Hari itu dengan mata berbinar bahagia, dia menggenggam sertifikat kelulusan yang baru saja diterimanya dalam sebuah upacara Yudisium yang megah di Hall akademi. Ketika semua temannya menghambur pada orang tua masing masing dan hendak pergi ke berbagai rumah makan yang ada di sekitar kampus untuk merayakan kelulusan mereka, Elena justru diam berdiri di sudut ruangan yang sepi. Dia menangis dan berkata dalam hati, Ibu, aku sudah lulus dengan predikat sempurna. Semoga ibu di surga melihatnya dan bangga padaku.
Namun kesedihan itu tidak berlangsung lama ketika dia melihat bayangan Professor Alaric melintas di depannya, dan….bros yang Alaric kenakan, adalah bros berupa simbol yang sama yang pernah dilihatnya di buku Kuno De Lumine et Umbra: De Gradatione Inconspicua.
Sungguh aneh, apa kaitan professor Alaric dengan buku itu? Mengapa dia mengenakan Bros dengan bentuk yang sama persis seperti yang ada di buku kuno dengan usia ratusan tahun itu?
“Selamat Elena,” ujar sebuah suara yang sangat familiar mengagetkan lamunannya.
Dia mendongak, “ Oh Professor. Terimakasih. Berkat bimbingan anda aku bisa meraih semua ini.”
Alaric tersenyum tipis. Saat itu Elena kembali mengamati bros Alaric dengan lebih jelas, dan ya..persis. Persis dengan gambar simbol di buku itu.
Tiba tiba dari arah berlawanan Antonio mendekat dan menyalami professor Alaric.
“Selamat dan sukses Professor, saya dengar anda akan meninggalkan Akademi tercinta ini dan pindah ke Wina. Apakah itu benar?” tanya Antonio
“Ya benar, aku sudah terlalu lama di sini dan kini saatnya aku pergi,” jawan Alaric sambil melirik ke arah Elena.
“Anda akan pergi Prof?” tanya Elena dengan nada terkejut.
“Ya, mungkin sekitar besok atau lusa, aku akan terbang ke Wina.”
Ada sebuah perasaan aneh menggayut di hati Elena. Perasaan kehilangan yang begitu dalam, seolah seperti dia kehilangan belahan jiwa. Namun rasa itu ditekannya kuat kuat. Dia menatap Professor Alaric yang juga menatapnya dalam, lalu berlalu meninggalkan Elena sendirian di ruangan yang sudah mulai sepi. Rasa yang aneh yang sulit dijelaskan , namun nyata hingga membuatnya meneteskan air mata.
*****
The Confrontation
Waktunya berkemas pun tiba. Apartemen kecil yang selama 3 tahun telah menemaninya pun kali ini terlihat begitu menyenangkan dan sayang untuk ditinggalkan. Tapi waktu sudah menuntutnya untuk kembali ke Sighișoara, Rumania. Tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan di Florence, terlebih dengan biaya hidup tinggi yang harus ditanggungnya.
Pagi itu setelah berkemas, dia ingin membayar sewa apartemen seperti biasa. Dia pun menuju meja receptionist tempat Signora Beatrice mengadministrasikan semua pembayaran.
“Signora, aku ingin melunasi biaya sewa apartemenku bulan terakhir ini,” ujar Elena
Signora Beatrice menatapnya aneh dan berkata,” Apakah pacarmu tidak mengatakan bahwa dia telah melunasi pembayaran?”
“Pacar? Aku tidak punya pacar. Siapa yang melakukan pembayaran Signora?”
“Tadi pagi seorang pria tampan berjaket hitam menjuntai, datang menemuiku dan melakukan pembayaran. Wajahnya sangat tampan, dan tangannya itu, sangat lentik seperti tangan seorang wanita. Aku saja merasa kalah dan iri dengannya, “ ujar Signora Beatrice dengan senyum mengembang.
“Signora apakah aku bisa melihat rekaman CCTV pagi ini? Aku ingin tahu siapa orang itu?”
“Tentu, mari kita lihat bersama.”
Setelah itu Signora Beatrice memperlihatkan sebuah rekaman CCTV yang membuat dada Elena seperti sesak. Tepat seperti apa yang dia pikirkan tentang ciri pria dengan tangan lentik yang melakukan pembayaran sewa apartemennya. Dia terkesima ketika melihat Alaric Basarab memasuki ruangan tempat meja receptionist berada.
“Nah itu dia orangnya, pria dengan tangan lentik dan berjaket hitam menjuntai,” ujar Signora Beatrice sambil menunjuk layar monitor.
Dunia seperti berputar ke arah berlawanan. Ternyata selama ini donatur misterius itu tak lain adalah Professor Alaric Basarab. Setelah mengucapkan terimakasih pada Signora Beatrice, secepat kilat Elena berlari ke arah kampus, dan langsung menuju Paviliun pengajar. Dia segera menuju studio lukis Alaric Basarab.
Studio itu terbuka sedikit dan saat dia masuk tanpa permisi. Elena terkesima dengan begitu banyak lukisan yang dibuat oleh Professor Alaric dan semuanya menggunakan teknik Sfumato. Tanpa sadar Elena terduduk lemas dan berkata dalam hati. Sekarang semua terasa masuk akal. Luksian yang selesai dengan sendirinya di Studio lukisnya yang hanya berjarak 5 meter dari studio Lukis Alaric. Jadi selama ini dialah sosok misterius itu.
Bergegas Elena berjalan keluar menuju ruang penjagaan paviliun dosen dan bertanya pada petugas di sana tentang keberadaan Professor Alaric. Setelah mendapat penjelasan bahwa sang profesor baru saja keluar meninggalkan gedung kampus, bagai kesurupan Elena pergi mencarinya di luar area kampus.
Saat dia sampai di sebuah lorong batu Kuno yang terletak dekat dengan Katedral St Mary, dia melihat sekelebat bayangan Alaric berjalan disana. Tanpa ragu, Elena mengejar dan memanggilnya.
“Professor Alaric!”
Alaric berhenti berjalan dan terdiam. Dia tidak segera menoleh ke arah Elena. Seperti paham apa yang akan Elena tanyakan, professor Alaric hanya diam membisu.
“Mengapa anda melakukan semua ini Professor?”
“Apa maksudmu?” jawab Alaric dengan posisi masih membelakangi Elena.
“Pembayaran sewa apartemen, makanan dan lukisan itu, serta semua pertolongan misterius yang aku terima. Anda pelakunya bukan?”
Alaric sedikit menoleh lalu berbalik mendekati Elena dan berkata,” Anggaplah itu berkat dari semesta lewat mahluk tua macam aku ini.”
“Aku sangat mengagumi anda selama ini. Aku bahkan….mencintai anda. Apakah anda juga merasakan hal yang sama, sehingga anda melakukan semua itu?” tanya Elena sambil mulai berlinang air mata.
“The Guardian. Aku tidak berani lebih dari itu. Segera pulanglah ke Rumania, dan penuhi amanat almarhum ibumu. Dan lupakan aku,” Ujar Alaric yang lalu berjalan ke lorong yang lebih gelap dan tiba tiba menghilang entah kemana.
Elena tertegun, dan berlari mengejar bayangan Alaric yang saat itu raib entah kemana di ujung lorong buntu itu. Dalam hati dia berkata, apa itu? Kemana Alaric? Mengapa dia seperti menguap begitu saja di ujung lorong buntu ini? Siapa sebenarnya Alaric Basarab? Pertanyaan itu berputar putar di kepala Elena seperti gasing yang tak mau diam. Namun tidak satupun mampu dijawabnya.
*****
The Inheritance
Sore itu apartemennya sudah kosong. Semua alat lukis dan barang miliknya telah terkemas rapi dan dia siap pergi meninggalkan Florence. Namun baru saja dia hendak menutup pintu unit apartemennya selama ini, Signora Beatrice datang dengan membawa sebuah tabung lukis.
“Seorang kurir baru saja mengantarkan ini untukmu.”
Elena menerimanya dan setelah mengucapkan terimakasih , dia kembali masuk ke dalam unit apartemen itu dan membuka tabung lukis yang baru saja diterimanya. Betapa terkejutnya dia melihat tabung lukis itu. Sebuah Lukisan sosok seorang wanita yang wajahnya terlalu mirip dengannya, hanya saja dia mengenakan pakaian khas wanita Rumania Kuno.
Dia mengamati lukisan itu lekat lekat dan jelas terlihat olehnya Lukisan itu dibuat dengan teknik Sfumato yang sangat matang dan ahli. Lalu dia memperhatikan pada bagian ujung bawah lukisan, tertera tulisan kecil namun terlihat jelas, Lady Ileana Cantacuzino (1450), Alaric Basarab. Kembali Elena mengerutkan dahi melihat Fenomena itu. Namun dia tidak punya banyak waktu karena dia harus mengejar kereta The Great Balkan Express sebelum terlambat untuk pulang ke Rumania.
Saat dia akan memasukkan kembali lukisan itu ke dalam tabung, dia melihat selembar kertas ada di dasar tabung. Setelah dia ambil dan diamati kertas itu adalah selembar cheque, dengan nominal yang sangat besar dan sudah ditandatangani oleh si empunya uang, yang tak lain dan bukan adalah Alaric Basarab.
Rasa takjub kembali menggayuti benak Elena. Alaric tidak hanya menjamin dirinya selama menempuh pendidikan di Florence, tetapi juga memastikan bahwa sesampainya di Rumania Elena tidak kesulitan uang untuk membangun mimpinya di sana yaitu memiliki galeri lukis yang indah.
****
The New Horizon
Malam itu Stasiun kereta Santa Maria Novella. Elena berdiri membawa tabung lukisan dan koper kecilnya. Dia bukan lagi gadis miskin yang serba ketakutan seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di Florence. Dia adalah seniman pewaris keahlian lukis yang sudah amat sangat jarang dikuasai oleh siapapun.
Berbekal kehalian itu dan pengalamannya selama di Florence, Elena memiliki Visi kuat tentang siapa dirinya dan apa yang akan dilakukannya di tanah kelahirannya. Menjadi salah satu pelukis paling berpengaruh di Rumania.
Elena menatap tiket kepulangannya ke Sighișoara. Kota dimana dia kan memulai perjalanannya sebagai pelukis besar. Ia adalah pewaris sejarah. Ia berjanji akan mencari kebenaran tentang Lady Ileana dan sang pelindung abadinya, Alaric.
Dalam hatinya terngiang kata kata Alaric yang selalu diingatnya, "Seni bisa memudar, namun darah memiliki ingatannya sendiri."
TAMAT
Note :"Kisah ini hanyalah sebuah awal; The Guardian akan segera hadir sebagai novel utuh untuk mengungkap rahasia darah yang melintasi waktu—stay tuned."
