The Silent Manor

Blurb

"Di Manor Montgomery, sunyi bukan sekadar ketiadaan suara. Ia adalah sebuah rahasia yang berbisik di setiap sudut ruangan."

Ana Montgomery terbangun di kediamannya yang megah, namun segalanya terasa asing. Suaminya berubah menjadi sosok yang dingin, orang tuanya pergi tanpa pesan, dan satu kamar di sayap selatan terkunci rapat—menyimpan trauma yang dipaksa untuk dilupakan.

Di antara wangi mawar dan bayang-bayang memori, Ana harus mencari tahu: Mengapa dunianya berhenti berputar? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya di balik tembok Manor yang membisu?

The Silent Manor adalah sebuah perjalanan psikologis melintasi ambang batas antara cinta, pengkhianatan, dan kebenaran yang mematikan.

Symphony at the Edge

"The world did not end with a bang. For me, it ended with the scent of roses and the ticking of a clock that seemed to mock my every breath."

Dunia tidak berakhir dengan ledakan. Bagiku, dunia berakhir dengan aroma mawar dan suara detak jarum jam yang seolah mengejek setiap helaan nafasku.

Manor Montgomery, rumahku, dikenal karena keanggunannya. Terletak di atas perbukitan yang selalu dipeluk kabut, bangunan bergaya Victorian ini adalah saksi bisu kejayaan keluargaku selama tiga generasi. Namun pagi ini—atau entah ini pagi, siang, atau senja—Manor ini terasa berbeda. Ia terasa seperti sebuah organisme hidup yang sedang menahan napas. Sunyi. Terlalu sunyi, hingga aku bisa mendengar aliran darahku sendiri yang berdesir di di bawah kulitku.

Aku berdiri di depan jendela besar di ruang perpustakaan, menatap keluar. Taman mawar yang biasanya menjadi kebanggaan Ibu kini tampak seperti hamparan luka berwarna merah marun. Kelopaknya layu, namun anehnya tidak pernah jatuh ke tanah. Mereka hanya menggantung di sana, statis, seolah waktu telah memutuskan untuk berhenti sejenak hanya untuk mengamatiku.

"John?" suaraku keluar seperti bisikan angin di atas permukaan danau yang beku.

Tidak ada jawaban. Hanya ada gema suaraku sendiri yang memantul di rak-rak buku tua setinggi langit-langit. Aku mencari suamiku. Pria yang biasanya akan memelukku dari belakang, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, dan membisikkan bahwa dunia di luar sana tidak akan pernah bisa menyakiti kami selama kami berada di dalam Manor ini. Namun, kursi kulit favoritnya di depan perapian kosong. Abunya dingin, seolah api tidak pernah menyentuh kayu bakar disana selama berabad-abad.

Aku melangkah menyusuri lorong panjang. Lantai kayu ek yang biasanya berdecit di bawah kakiku, kini membisu. Ada yang salah dengan cahaya di rumah ini. Cahayanya begitu redup; seolah ia seperti merembes dari balik dinding, pucat dan keperakan, memberikan bayang-bayang panjang yang tampak bergerak mengikuti setiap langkahku.

Lalu, aku melihatnya. Pintu di ujung sayap selatan. Kamar itu.

Kamar yang selalu terkunci. Kamar yang setiap kali aku mendekatinya, kepalaku akan berdenyut dengan rasa sakit yang begitu tajam hingga penglihatanku memutih. John selalu berkata bahwa itu adalah gudang kenangan lama yang tak perlu dibuka. "Untuk kesehatan mental mu, Ana," katanya dengan suara lembut yang dulu kuanggap sebagai perlindungan, namun kini terdengar seperti jeruji besi yang dilapisi beludru.

Mengapa aku merasa ada sesuatu yang berteriak dari balik pintu itu? Sebuah teriakan tanpa suara yang memanggil namaku dengan nada putus asa.

Aku mencoba memutar knop pintunya. Dingin. Besi itu terasa begitu dingin hingga hampir membakar kulitku. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, aku mendengar suara itu. Bukan suara manusia, melainkan suara mekanis yang ritmis.

Pip... pip... pip...

Suara itu sangat jauh, seolah berasal dari dimensi lain yang terpisahkan oleh dinding kaca yang sangat tebal. Suara itu tidak masuk akal di dalam Manor yang kuno ini. Di sini seharusnya hanya ada suara detak jam kakek atau gesekan dahan pohon ek di jendela. Namun detak mekanis itu terus ada, stabil, monoton, dan entah mengapa, setiap detak nya terasa seperti tarikan yang mencoba menyeret jiwaku keluar dari tubuhku.

Aku mundur selangkah. Kepalaku berputar. Memori mulai berkelebat seperti film lama yang terbakar di tepiannya. Tangis yang terputus. Suara rem mobil yang mencit di atas aspal basah. Dan wajah John... wajah yang biasanya teduh, tiba-tiba tampak berkerut dalam kemarahan yang tertahan.

"Ana, kau harus tetap di sini," bisik sebuah suara di telingaku. Itu suara John, tapi ia tidak ada di sana. Suara itu terasa seperti rekaman yang diputar berulang-ulang di dalam batok kepalaku. "Di sini kau aman. Di luar sana, kau hanya akan hancur."

Aman? Aku melihat sekeliling lorong yang megah ini. Lukisan-lukisan leluhur Montgomery menatapku dengan mata kosong. Mereka seolah tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Mereka seolah sedang menonton sebuah pertunjukan sandiwara di mana aku adalah satu-satunya pemeran yang lupa pada naskahnya.

Aku berjalan menuju cermin besar di aula utama. Aku ingin melihat wajahku sendiri. Aku ingin memastikan bahwa aku masih Ana Montgomery yang sama—wanita yang dicintai, wanita yang memiliki segalanya.

Rasa dingin yang murni mulai menjalar dari dadaku. Ini bukan depresi. Ini bukan anxiety yang sering John katakan sebagai alasanku harus tetap terkurung. Ini adalah sesuatu yang lebih mengerikan.

Aku berlari menuju pintu depan Manor. Aku ingin keluar. Aku ingin merasakan sinar matahari yang asli, aku ingin menyentuh tanah, aku ingin mendengar suara manusia lain selain John. Aku menarik gagang pintu besar itu dengan sekuat tenaga.

Pintu itu terbuka. Namun di balik pintu itu, tidak ada jalan menuju kota. Tidak ada perbukitan hijau.

Hanya ada kegelapan total. Sebuah kekosongan hitam yang pekat, seolah Manor ini adalah satu-satunya pulau yang tersisa di tengah samudra ketiadaan. Dan dari kegelapan itu, aroma mawar busuk kembali menguar, lebih kuat dari sebelumnya.

"Kau tidak bisa pergi, Ana," suara itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat. "Karena di luar sana, kau sudah tidak memiliki tempat."

Aku jatuh terduduk di lantai aula. Air mataku jatuh, namun aku tidak bisa mendengarnya menyentuh lantai. Aku terjebak. Aku adalah ratu di istana megah yang dibangun dari bayang-bayang. Aku adalah tawanan dari cinta yang mungkin saja telah berubah menjadi belenggu.

Pip... pip... pip...

Suara itu mengeras. Seiring dengan detakannya, dinding-dinding Manor Montgomery mulai retak, memperlihatkan sekilas cahaya putih yang menyilaukan di baliknya. Aku memejamkan mata, ketakutan bahwa jika Manor ini hancur, aku pun akan hancur bersamanya.

"Siapa aku sebenarnya?" bisikku pada kesunyian yang mencekam.

Selamat datang di Manor Montgomery. Tempat di mana kenangan dikubur hidup-hidup, dan di mana kebenaran menunggu untuk ditemukan di balik pintu-pintu yang terkunci. Namaku Ana Montgomery, dan ini adalah kisah tentang bagaimana aku menyadari bahwa surga yang diberikan suamiku padaku... sebenarnya adalah sebuah neraka yang sangat indah.


Follow Sosial Media

Novel-novel inspiratif untuk dibaca dan dibeli.

kontak penulis

letter@leonanight.com

© 2025. All rights reserved.