The Silent Manor

The Dark Room

"The mind is a master architect;it builds cathedrals out of shadows just so we don't have to sleep in the cold, hard light of the truth."

Aku terbangun dari mimpi yang aneh. Sepertinya dalam mimpi aku bertengkar hebat dengan Johnny. Namun aku lupa tentang apa. Kepalaku terasa sedikit pusing dan berputar, seperti habis minum anggur dalam jumlah banyak, padahal aku bahkan tidak merasakan sisa rasa anggur itu di lidahku. Perlahan aku bangkit dan menuju jendela. Gelap, diluar masih sangat gelap, sepertinya aku tidur cukup lama.


Aku menebar pandangan ke sekeliling kamar. Hemm kamar ini memang favoritku. Aroma mawar yang pekat selalu memberikan kekuatan dalam diriku. Seperti udara pegunungan yang menyejukkan paru paruku. Mawar memang bunga kesayanganku. Apa lagi mawar merah. Aku merasa mendapat kekuatan dan keberanian setiap kali memandangnya.

Aku merasa beruntung , John selalu menghiasi kamar ini dengan mawar merah yang segar merekah. Hampir di setiap pojok ruangan, aku menemukan vas mawar besar dengan banyak kuntum di dalamnya. Kamar ini terlihat hangat dan mempesona. Apa lagi saat pagi hari, matahari tidak pernah bersinar terlalu terik, seolah tidak pernah ada musim panas. Sepanjang ingatanku, sinar matahari begitu redup, seperti tertutup awan sepanjang waktu.

Aku ingat, harusnya aku menyiapkan makan untuk John. Dia bisa sangat marah jika aku tidak memasakkan menu favoritnya. Bergegas aku menuju ke arah pintu, tetapi terkunci. Aneh. aku merasa tidak mengunci pintu kamar. Apakah John yang melakukannya? Tapi mengapa? Mengapa dia mengunciku di dalam kamarku sendiri. Sedikit terhuyung aku kembali duduk di tepi tempat tidur. Rasa pusing yang sejenak menghilang kembali melanda.

Samar aku mengingat ingat adakah peristiwa yang terjadi yang bisa memberiku ingatan alasan John mengunciku di kamar ini? Ah. ya…aku ingat saat dia berkata, “ Kau sebaiknya memperbanyak istirahat Ana. Gangguan kecemasan yang kau derita itu makin lama makin memburuk. Kita selalu bertengkar karenanya. Dan aku juga tidak ingin kamu menyakiti dirimu sendiri karena kecemasanmu itu. ” Sejak saat itu John sepertinya lebih nyaman jika aku berada di dalam kamar dan tidak berkeliaran di luar kamar apalagi meninggalkan rumah. Dan aku dengan patuh menaati dia.

Aku memang selalu merasa cemas, apalagi saat John berangkat kerja dan meninggalkan aku sendiri di Manor ini. Manor ini memang warisan kedua orang tuaku. Saat mereka meninggal, aku dan John tinggal di rumah ini dan merawatnya. Bisnis John yang ada di luar kota dengan jarak 1 jam perjalanan dengan mobil, membuat dia harus selalu berangkat pagi dan pulang malam. Kadang aku khawatir dia terlalu lelah di jalan dan bisa saja mengalami kecelakaan.

Pernah aku mencoba membujuk dia untuk memindahkan bisnisnya itu di kota kami, tapi dia tidak setuju. Aku ingat dia pernah berkata, “Percuma aku memindahkan bisnisku di Kota ini. Jarak antara pusat kota dengan rumah kita sangat jauh. Kalau dihitung hitung jaraknya kurang lebih sama jauhnya dengan alamat bisnisku di luar kota. Dan lagi merintis dari nol lagi di kota ini biayanya tidak sedikit.” Aku paham kekhawatiran dia, tetapi aku juga resah kalau dia pulang terlambat.

Perlahan aku berjalan menuju meja hias yang ada di Sudut kamar ini. Diatas meja rias aku melihat cermin besar yang memantulkan wajahku yang tampak sedikit pucat. Aku merasa heran, mengapa wajahku terlihat sangat tirus dan pucat? Apakah aku kurang makan? Ataukah gaun beludru merah yang telah lama aku kenakan ini, membuat kulitku jadi terlihat lebih pucat?

Gaun beludru merah ini adalah gaun pemberian John. Dia selalu memujiku setiap kali aku mengenakan gaun ini. Gaun ini dulu dibelinya dari sebuah butik ternama di pusat kota. Dia sengaja memesannya khusus untuk ku dan berkata, “ Kau harus memakai gaun ini saat ulang tahun pernikahan kita. Aku yakin kau akan terlihat lebih muda dan mempesona.”

Seingatku aku menikah dengan John sudah 10 tahun lamanya. Dia adalah anak dari mitra bisnis papa yang dikenalkan padaku. Pertama kali aku melihat dia, aku langsung jatuh cinta. Walau aku sedikit ragu apakah John juga merasakan perasaan cinta yang sama. Dia terlihat begitu dingin saat pertama kali kami dipertemukan.

Momen pertemuan pertama kami juga terjadi di rumah ini. Waktu itu ayah berkata, bahwa Baron Benedict Sterling, Ayah John akan datang ke manor kami dengan putra kesayangannya, John Arthur Sterling. Saat itu jantungku berdebar keras mendengar informasi dari ayah. Siapa yang tidak tahu kemasyhuran John Arthur Sterling? Dia pewaris utama bisnis keluarga Sterling, karena kedua adik John adalah wanita dan mereka semua sudah diboyong suami masing masing ke luar kota. Belum lagi desas desus yang berkata betapa tampan wajah John. Kabarnya dia punya banyak pacar dan sangat royal.

Dan benar saja waktu aku bertemu dia, persis seperti kata banyak orang. Rambut pirang coklat keemasan John, dan tubuh atletisnya yang terpancar kuat dibalik pakaian aristokrat yang dikenakan , membuatku langsung jatuh cinta. Apalagi wajah rupawan John yang benar benar sanggup membuat hati setiap wanita bangsawan Inggris berguncang kuat tak terkecuali aku.

Ya, papaku Julian Montgomery memang bagian dari kelompok bangsawan Inggris yang punya nama cukup besar. Aku dan keluargaku mewarisi Manor yang tidak kalah indahnya dengan istana Buckingham. Sebuah Manor yang artistik dan kuno, karena usianya yang sudah mencapai ribuan tahun. Dan kamar ini adalah bagian dari sejarah ribuan tahun itu.

John baru benar benar peduli padaku, setelah kami bertemu untuk kedua kalinya. Saat itu aku mengenakan gaun warna merah buatan rumah mode ternama di kota kami yang memang sengaja disiapkan untukku dalam rangka menyambut John di momen kedua kalinya. Tidak seperti momen pertama, kala itu John selalu menatap wajahku lekat lekat dan sesekali menebar senyum. Senyumannya sungguh membuat jantungku semakin berdetak kencang.

Waktu itu saat ayah dan ibuku sibuk berbicara dengan ayah dan ibu John, dia mengajakku menyelinap ke taman. Dia membawaku ke taman bunga dan kami berbincang cukup akrab. Persis di bawah pohon Ek, dia berkata, “ Aku tahu, perjodohan kita ini mungkin tidak mudah bagimu. Tapi ketahuilah, aku langsung jatuh hati padamu saat pertama kali kita bertemu sebulan bulan lalu. Bagaimana denganmu? Apakah kau juga merasakan hal yang sama?” Aku hanya tersipu malu saat mendengar perkataan John. Suaranya seperti angin segar yang menyejukkan setiap sudut relung hatiku.

“Aku juga mencintaimu John,” jawabku saat itu. Dia tampak bahagia mendengar ucapanku. Wajah tampannya tiba tiba bersemu merah yang ranum seperti malu saat itu. Tak lama kemudian dia menarikku dalam pelukannya dan kami pun berciuman di bawah pohon Ek itu. Ciuman pertama yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Sejak saat itu aku merasa terlahir kembali sebagai wanita muda yang beruntung. Betapa tidak, sebagai anak tunggal, aku mewarisi bisnis ayahku yang nantinya akan dikelola oleh suamiku. Dan aku pun sudah bertunangan dengan pria paling tampan yang didambakan banyak wanita muda di kotaku.

Aku tersenyum sendiri mengingat semua itu. Masa masa awal perkawinanku dengan Johny adalah hal yang paling membahagiakan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Tiba tiba saja aku merasa rindu pada John. Rasa rindu yang begitu pekat terasa menusuk ulu hati. Hemm apakah ini karena rindu atau karena aku belum makan apapun? Aku benar benar lupa apakah aku sudah makan? Mungkin ini yang John khawatirkan, aku sering lupa dengan apa yang aku lakukan dan apa yang terjadi.

Namun aku merasa sepertinya ini bukan lapar, walau nyeri terasa menusuk ulu hati. Aku yakin ini adalah rindu. Rindu pada suamiku yang entah berapa lama kami tidak bertemu. Karena jujur aku lupa kapan terakhir kali aku bertemu dengannya. Sama lupanya dengan kapan terakhir kali aku makan.

Aku melihat di meja persis di depan pintu kamar, ada makanan yang tertata rapi. Sepertinya sengaja disiapkan untukku, namun aku tidak ingat apakah aku selalu makan hidangan itu, dan mengapa saat ini, hingga malam selarut ini aku tidak kunjung memakannya, dan juga tidak lapar.

Entahlah aku seperti penuh hanya dengan perasaan dan memory. Aku seperti enggan makan, kalau tidak mau disebut sebagai tidak merasa perlu makan. Sebaiknya aku tidur. Siapa tahu tengah malam nanti John datang dan tidur disebelahku. Aku bisa memeluknya seperti biasa dan menumpahkan rinduku padanya.

******

Follow Sosial Media

Novel-novel inspiratif untuk dibaca dan dibeli.

kontak penulis

letter@leonanight.com

© 2025. All rights reserved.