The Silent Manor

Golden Cage

"The mind is a master architect;it builds cathedrals out of shadows just so we don't have to sleep in the cold, hard light of the truth."

Aku terbangun dari mimpi yang aneh. Sepertinya dalam mimpi aku bertengkar hebat dengan Johnny. Namun aku lupa tentang apa. Kepalaku terasa sedikit pusing dan berputar, seperti habis minum anggur dalam jumlah banyak, padahal aku bahkan tidak merasakan sisa rasa anggur itu di lidahku. Perlahan aku bangkit dan menuju jendela. Gelap, diluar masih sangat gelap, sepertinya aku tidur cukup lama.


Aku menebar pandangan ke sekeliling kamar. Hemm kamar ini memang favoritku. Aroma mawar yang pekat selalu memberikan kekuatan dalam diriku. Seperti udara pegunungan yang menyejukkan paru paruku. Mawar memang bunga kesayanganku. Apa lagi mawar merah. Aku merasa mendapat kekuatan dan keberanian setiap kali memandangnya.

Aku merasa beruntung , John selalu menghiasi kamar ini dengan mawar merah yang segar merekah. Hampir di setiap pojok ruangan, aku menemukan vas mawar besar dengan banyak kuntum di dalamnya. Kamar ini terlihat hangat dan mempesona. Apa lagi saat pagi hari, matahari tidak pernah bersinar terlalu terik, seolah tidak pernah ada musim panas. Sepanjang ingatanku, sinar matahari begitu redup, seperti tertutup awan sepanjang waktu.

Aku ingat, harusnya aku menyiapkan makan untuk John. Dia bisa sangat marah jika aku tidak memasakkan menu favoritnya. Bergegas aku menuju ke arah pintu, tetapi terkunci. Aneh. aku merasa tidak mengunci pintu kamar. Apakah John yang melakukannya? Tapi mengapa? Mengapa dia mengunciku di dalam kamarku sendiri. Sedikit terhuyung aku kembali duduk di tepi tempat tidur. Rasa pusing yang sejenak menghilang kembali melanda.

Samar aku mengingat ingat adakah peristiwa yang terjadi yang bisa memberiku ingatan alasan John mengunciku di kamar ini? Ah. ya…aku ingat saat dia berkata, “ Kau sebaiknya memperbanyak istirahat Ana. Gangguan kecemasan yang kau derita itu makin lama makin memburuk. Kita selalu bertengkar karenanya. Dan aku juga tidak ingin kamu menyakiti dirimu sendiri karena kecemasanmu itu. ” Sejak saat itu John sepertinya lebih nyaman jika aku berada di dalam kamar dan tidak berkeliaran di luar kamar apalagi meninggalkan rumah. Dan aku dengan patuh menaati dia.

Aku memang selalu merasa cemas, apalagi saat John berangkat kerja dan meninggalkan aku sendiri di Manor ini. Manor ini memang warisan kedua orang tuaku. Saat mereka meninggal, aku dan John tinggal di rumah ini dan merawatnya. Bisnis John yang ada di luar kota dengan jarak 1 jam perjalanan dengan mobil, membuat dia harus selalu berangkat pagi dan pulang malam. Kadang aku khawatir dia terlalu lelah di jalan dan bisa saja mengalami kecelakaan.

Pernah aku mencoba membujuk dia untuk memindahkan bisnisnya itu di kota kami, tapi dia tidak setuju. Aku ingat dia pernah berkata, “Percuma aku memindahkan bisnisku di Kota ini. Jarak antara pusat kota dengan rumah kita sangat jauh. Kalau dihitung hitung jaraknya kurang lebih sama jauhnya dengan alamat bisnisku di luar kota. Dan lagi merintis dari nol lagi di kota ini biayanya tidak sedikit.” Aku paham kekhawatiran dia, tetapi aku juga resah kalau dia pulang terlambat.

Perlahan aku berjalan menuju meja hias yang ada di Sudut kamar ini. Diatas meja rias aku melihat cermin besar yang memantulkan wajahku yang tampak sedikit pucat. Aku merasa heran, mengapa wajahku terlihat sangat tirus dan pucat? Apakah aku kurang makan? Ataukah gaun beludru merah yang telah lama aku kenakan ini, membuat kulitku jadi terlihat lebih pucat?

Gaun beludru merah ini adalah gaun pemberian John. Dia selalu memujiku setiap kali aku mengenakan gaun ini. Gaun ini dulu dibelinya dari sebuah butik ternama di pusat kota. Dia sengaja memesannya khusus untuk ku dan berkata, “ Kau harus memakai gaun ini saat ulang tahun pernikahan kita. Aku yakin kau akan terlihat lebih muda dan mempesona.”

Seingatku aku menikah dengan John sudah 10 tahun lamanya. Dia adalah anak dari mitra bisnis papa yang dikenalkan padaku. Pertama kali aku melihat dia, aku langsung jatuh cinta. Walau aku sedikit ragu apakah John juga merasakan perasaan cinta yang sama. Dia terlihat begitu dingin saat pertama kali kami dipertemukan.

Momen pertemuan pertama kami juga terjadi di rumah ini. Waktu itu ayah berkata, bahwa Baron Benedict Sterling, Ayah John akan datang ke manor kami dengan putra kesayangannya, John Arthur Sterling. Saat itu jantungku berdebar keras mendengar informasi dari ayah. Siapa yang tidak tahu kemasyhuran John Arthur Sterling? Dia pewaris utama bisnis keluarga Sterling, karena kedua adik John adalah wanita dan mereka semua sudah diboyong suami masing masing ke luar kota. Belum lagi desas desus yang berkata betapa tampan wajah John. Kabarnya dia punya banyak pacar dan sangat royal.

Dan benar saja waktu aku bertemu dia, persis seperti kata banyak orang. Rambut pirang coklat keemasan John, dan tubuh atletisnya yang terpancar kuat dibalik pakaian aristokrat yang dikenakan , membuatku langsung jatuh cinta. Apalagi wajah rupawan John yang benar benar sanggup membuat hati setiap wanita bangsawan Inggris berguncang kuat tak terkecuali aku.

Ya, papaku Julian Montgomery memang bagian dari kelompok bangsawan Inggris yang punya nama cukup besar. Aku dan keluargaku mewarisi Manor yang tidak kalah indahnya dengan istana Buckingham. Sebuah Manor yang artistik dan kuno, karena usianya yang sudah mencapai ribuan tahun. Dan kamar ini adalah bagian dari sejarah ribuan tahun itu.

John baru benar benar peduli padaku, setelah kami bertemu untuk kedua kalinya. Saat itu aku mengenakan gaun warna merah buatan rumah mode ternama di kota kami yang memang sengaja disiapkan untukku dalam rangka menyambut John di momen kedua kalinya. Tidak seperti momen pertama, kala itu John selalu menatap wajahku lekat lekat dan sesekali menebar senyum. Senyumannya sungguh membuat jantungku semakin berdetak kencang.

Waktu itu saat ayah dan ibuku sibuk berbicara dengan ayah dan ibu John, dia mengajakku menyelinap ke taman. Dia membawaku ke taman bunga dan kami berbincang cukup akrab. Persis di bawah pohon Ek, dia berkata, “ Aku tahu, perjodohan kita ini mungkin tidak mudah bagimu. Tapi ketahuilah, aku langsung jatuh hati padamu saat pertama kali kita bertemu sebulan bulan lalu. Bagaimana denganmu? Apakah kau juga merasakan hal yang sama?” Aku hanya tersipu malu saat mendengar perkataan John. Suaranya seperti angin segar yang menyejukkan setiap sudut relung hatiku.

“Aku juga mencintaimu John,” jawabku saat itu. Dia tampak bahagia mendengar ucapanku. Wajah tampannya tiba tiba bersemu merah yang ranum seperti malu saat itu. Tak lama kemudian dia menarikku dalam pelukannya dan kami pun berciuman di bawah pohon Ek itu. Ciuman pertama yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Sejak saat itu aku merasa terlahir kembali sebagai wanita muda yang beruntung. Betapa tidak, sebagai anak tunggal, aku mewarisi bisnis ayahku yang nantinya akan dikelola oleh suamiku. Dan aku pun sudah bertunangan dengan pria paling tampan yang didambakan banyak wanita muda di kotaku.

Aku tersenyum sendiri mengingat semua itu. Masa masa awal perkawinanku dengan Johny adalah hal yang paling membahagiakan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Tiba tiba saja aku merasa rindu pada John. Rasa rindu yang begitu pekat terasa menusuk ulu hati. Hemm apakah ini karena rindu atau karena aku belum makan apapun? Aku benar benar lupa apakah aku sudah makan? Mungkin ini yang John khawatirkan, aku sering lupa dengan apa yang aku lakukan dan apa yang terjadi.

Namun aku merasa sepertinya ini bukan lapar, walau nyeri terasa menusuk ulu hati. Aku yakin ini adalah rindu. Rindu pada suamiku yang entah berapa lama kami tidak bertemu. Karena jujur aku lupa kapan terakhir kali aku bertemu dengannya. Sama lupanya dengan kapan terakhir kali aku makan.

Aku melihat di meja persis di depan pintu kamar, ada makanan yang tertata rapi. Sepertinya sengaja disiapkan untukku, namun aku tidak ingat apakah aku selalu makan hidangan itu, dan mengapa saat ini, hingga malam selarut ini aku tidak kunjung memakannya, dan juga tidak lapar.

Entahlah aku seperti penuh hanya dengan perasaan dan memory. Aku seperti enggan makan, kalau tidak mau disebut sebagai tidak merasa perlu makan. Sebaiknya aku tidur. Siapa tahu tengah malam nanti John datang dan tidur disebelahku. Aku bisa memeluknya seperti biasa dan menumpahkan rinduku padanya.

******

Whispers Behind The Door

"There are moments that cling to the soul, defying the mercy of forgetting."

Aku terbangun karena mendengar bisik bisik yang lumayan kencang dari balik pintu kamar. Hari masih saja gelap. Bedanya, saat ini aku bisa melihat rembulan bersinar cukup terang dari balik jendela kamarku yang tertutup Gorden tipis. Apakah aku bermimpi? Apakah ini masih malam? Mengapa malam ini sungguh lama, rasanya seperti seumur hidup.

Aku merasa bosan di dalam kegelapan seperti ini. Perlahan aku berdiri, dan mulai aku meraba dinding mencari tuas untuk menyalakan lampu. Tapi, mengapa tidak ada? Bukankah seharusnya ada ? Seketika aku mendongak ke langit langit kamar dan melihat Chandelier bertengger di atas sana. Artinya kamar ini ada lampunya. Dan jika ada lampu, maka seharusnya ada tuas.

Aku berjalan mengitari kamar sembari terus meraba dalam kegelapan. Tapi aku gagal menemukan tuas itu. Sungguh aneh, rasanya mustahil di dalam Manor ini ada ruangan tanpa tuas untuk menyalakan lampu. Lelah berputar putar di sekeliling ruangan, akhirnya aku duduk di sebuah kursi yang tepat berada di depan jendela sambil mengamati cahaya rembulan keemasan yang menerobos masuk dan menyinari.

Saat cahaya rembulan menimpaku, aku seperti bermandikan cahaya keemasan. Lamunanku kembali melayang ke masa lalu saat pesta pernikahanku dengan John. Pesta diadakan di Manor milik keluargaku ini, tepatnya di lantai satu. Disana ada ruang pertemuan yang sangat besar. Ruangan itu biasa digunakan oleh papa untuk mengumpulkan pegawai dan mengadakan rapat atau pertemuan seputar agenda kegiatan bisnis atau kegiatan perkebunan anggur milik keluarga kami.

Waktu itu tamu yang menghadiri pernikahanku dengan John sangat banyak, mungkin berjumlah ratusan orang. Semua adalah tamu dari kalangan rekan bisnis papa, ada juga teman John dan tentu saja teman temanku.

Walau pun peristiwa itu sudah lama berlalu, rasanya masih seperti kemarin sore. Pesta itu begitu meriah. Dan ketika aku kembali mengingat momen pernikahanku itu, hatiku sedikit bergetar. Upacara pernikahan kami dilaksanakan di sebuah kapel milik keluarga. Aku ingat, saat itu aku berdiri di altar, dan papa menyerahkan aku pada John. John tersenyum memandangku dan berbisik, “Kau sangat cantik Anna.” Aku tersipu malu dan tak mampu membalas ucapannya selain dengan senyuman manis.

Kami berdiri di depan Pastor Paulus. Suara pastor yang saat itu memberikan petuah tentang kesetiaan dan kehidupan cinta yang kekal hingga maut memisahkan membuat perasaanku seperti membumbung tinggi di udara. Bayangkan saja, seumur hidup aku akan bersamanya, wajah tampan John yang memikat dan penuh pesona itu. Senyumannya yang simpatik akan menjadi bagian dari hari hariku. Dadanya yang bidang akan menjadi tumpuan kepalaku saat nanti kami tidur bersama. Sungguh aku merasa sangat bahagia.

Setelah petuah panjang lebar, Pastor Paulus lalu memberkati cincin pernikahan kami. Dia menyodorkan nampan yang berisi dua cincin. Pastor meminta John terlebih dahulu agar mengambil salah satu dari kedua cincin itu dan memberi instruksi untuk memakaikannya padaku.

Sebuah cincin yang indah. Cincin dengan batu Red Ruby yang bertahtakan permata di sekelilingnya. Sungguh cincin itu kesayanganku, dan aku bertekad tidak akan melepaskannya sampai kapanpun, bahkan saat maut memisahkan kami.

Sontak aku meraba jari manisku dan….kosong! Aku tidak menggunakan cincin apapun. Ah ini sungguh aneh. Aku merasa tidak pernah melepas cincin itu bahkan saat mandi. Kemana cincin pernikahan itu? Siapa yang melepasnya? Apakah aku? Atau Johny?

Tidak….tidak mungkin salah satu diantara kami. Karena pada waktu malam pertama, John berkata padaku,” Anna, ingatlah, jangan pernah melepas cincin ini sampai kapanpun. Aku tidak suka kau melepas cincin perkawinan kita. Ingatlah cincin ini pertanda bahwa kau milikku selamanya.” Perasaan panik menghantam ku dengan keras. Segera aku berlari ke arah meja rias, dan membuka satu per satu lacinya. Kosong! Bahkan aku tidak menemukan kotak perhiasanku. Oh God, apa yang terjadi.

Belum juga reda kekhawatiranku atas cincin pernikahan itu, aku kembali dikejutkan oleh suara berisik di depan pintu kamar. Aku terkejut, aku seperti mengenal suara itu. Suara itu tampak pedih dan tertekan. Dia berkata, “ Maafkan aku Anna, aku gagal menjadi suami yang baik. Aku terpaksa harus menjauhkan mu dari hidupku. Maafkan aku.” Hei…itu suara John, tapi apa maksudnya menjauhkan aku dari hidupnya? Apakah karena penyakit cemasku ini? Atau …karena hal lain?

Aku ingin sekali membuka pintu yang terkunci rapat itu. Aku berteriak, “John…buka pintunya. Aku takut dalam gelap. John aku merindukanmu, buka pintu ini John.” Aku terus berteriak sambil menggedor gedor pintu berulang kali. Tapi mungkin karena tenagaku yang lemah atau suaraku yang kurang keras, John tidak mendengarnya. Dia terus saja menangis dan mengucapkan permintaan maaf. Lalu tak lama setelah itu aku mendengar dia mulai berjalan menjauh,”Oh tidak John, jangan menjauh, buka pintunya! Aku ingin keluar!”

Lelah karena menangis dan menggedor gedor pintu sambil berteriak, akhirnya aku terdiam dan tersungkur diatas lantai kayu yang dingin. Cahaya rembulan keemasan perlahan menyinari wajahku. Aku terkejut. Bulan ini terasa aneh, mengapa cahayanya begitu kuat seperti matahari, hingga mataku bisa merasakan kilau cahayanya.

Aku mencoba berdiri dan dengan langkah lemas aku berjalan melihat ke arah luar jendela. Malam masih saja pekat, walau pun cahaya rembulan diatas sana terang menyinari. Samar aku melihat di halaman ada seorang wanita berjalan mendekat, seperti hendak memasuki Manor. Siapa dia? Mengapa wajahnya tidak asing bagiku. Sejurus kemudian aku diam berusaha mengingat ingat wajah itu. Ah ya….dia adalah Peggy. Tapi , mengapa Peggy ada di Manor ini?

Ingataanku kembali melayang pada peristiwa pemberkatan perkawinan kami. Saat itu setelah upacara selesai, aku dan John berjalan menuju ke arah pintu keluar Gereja diiringi suara Lonceng gereja bertalu talu. Saat itu bulu kudukku meremang, merasakan betapa sakralnya pemberkatan pernikahan kami. Bahkan sekarang pun aku merasakan hal yang sama saat mengingatnya.

Waktu aku berjalan hendak meninggalkan gereja dengan John yang menggenggam erat tanganku, saat itulah aku melihat dia, Peggy. Dia duduk diantara tamu undangan. Wajahnya terlihat begitu sedih dan air matanya berlinang. Aku tidak begitu mengenal dia, aku hanya tahu namanya Peggy dan dia adalah pegawai di perusahaan milik Ayah John. Kalau tidak salah dia adalah sekretaris Tuan Baron Benedict Sterling.

Aku tidak begitu peduli dengan kehadirannya. Tapi air mata dan wajahnya yang tampak sedih itu menarik perhatianku. Sampai sampai saat itu aku bertekad dalam hati akan menanyakan pada suamiku tentang keberadaan Peggy di pesta pernikahan kami.

Suara berisik itu kembali terdengar dan mengusik lamunanku. Kali ini jelas terdengar suara wanita yang aku yakin, itu suara Peggy. Dia seperti berbicara dengan nada cemas, “John apa yang kau lakukan di sini? Sudahlah biarkan dia di dalam sana. Kau tidak perlu selalu mengucapkan permintaan maaf berulang ulang padanya. Biarkan saja dia pergi. Kau harus melanjutkan hidupmu tanpa perlu mengingat dia terus.”

Aku terkejut, mendengar ucapan Peggy. Pergi? Apa maksudnya pergi? Kemana aku harus pergi? Ini rumahku. Apa tujuannya melarang suamiku minta maaf dan menangis di depan pintu kamar. Bukankah wajar jika John melakukan hal itu, terutama karena dia lah yang mengurungku di kamar ini seperti biasanya, saat dia cemas dengan penyakit Anxiety ku. Berani beraninya dia yang hanya seorang pegawai rendahan , memberi nasehat pada suamiku untuk pergi meninggalkan aku.

Amarahku memuncak, aku merasa Seperti ada sekam yang terbakar dalam dada. Peggy sudah bertindak diluar batas kewajaran. Dia berbicara seolah John layak membuangku atau menceraikanku. Dasar pelacur murahan!

Aku berbalik menghadap cermin hias dan melihat baju beludru merahku dalam kegelapan tampak menyala seperti ada api yang membakar dari dalam. Aku terkejut sekaligus takjub. Bagaimana mungkin baju ini ikut merasakan kemarahanku. Aku kembali berbalik menghadap pintu dan ingin membuka kenopnya. Tapi aku paham betul pintu itu terkunci.

Tiba tiba aku mendengar Langkah kaki John dan Peggy menjauhi pintu kamarku. Aku kembali berteriak sekuat tenaga,” Hai…jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Peggy, jauhi suamiku kau pelacur keparat. Mengapa kau menyarankan pada suamiku untuk melupakanku? Apa hakmu wanita laknat!”

Aku kembali menggedor gedor pintu itu, kali ini dengan amarah yang menggebu gebu seolah aku ingin menjebol pintu itu sekarang juga, lalu berlari menemui suamiku dan merebutnya dari tangan Peggy.

*****

The Golden Mirage

"Denial is a soft velvet veil; it hides the blood on the floor and turns the cold silence of betrayal into the warm hum of a memory."

Aku bosan berada di ruang gelap ini terus. Dengan tekad bulat, dan kekuatan penuh, aku memutar knop pintu dan … pintu pun terbuka. Angin dingin nan sejuk menerpaku. Badanku seperti melambai terkena hembusannya. Aku merasa begitu ringan. Matahari pagi yang lembut menerobos dari celah jendela yang persis ada di depan pintu kamarku. Aku menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. Sungguh pagi adalah waktu yang paling kunanti.

Sedikit heran, aku bertanya dalam hati, mengapa pintu kamarku tidak terkunci? Bukankah selama ini John selalu menguncinya? Apakah karena dia merasa iba setelah mendengar teriakanku semalam? Ataukah karena ada hal lain? Entahlah aku malas berpikir, aku segera ingin menemuinya dan menanyakan banyak hal.

Sepertinya saat ini musim semi. Aku sangat bahagia, John akhirnya melepaskanku. Aku menghirup udara yang berbau mawar dan embun, bukan lagi debu kamar yang menyesakkan. Dunia di luar kamar ini begitu terang, seolah matahari merunduk hanya untuk menyapa kehadiranku.

Perlahan aku menuruni tangga. Ya, kamarku memang terletak di lantai atas manor ini. Aku sangat terkejut, melihat bahwa manor terawat sangat baik. Dan yang tak kalah ajaibnya, di sana sini sepanjang lorong aku melihat mawar merambat dengan bunganya yang merah merekah menghiasi. Aroma wanginya memenuhi setiap lorong. Aku terkesima, John benar benar tahu bunga kesayanganku dan membiarkannya tumbuh dalam lorong manor dengan perawatan yang sempurna.

Aku dulu memang pernah berkata padanya, bahwa aku ingin setiap hari, di setiap sudut rumah ada bunga mawar dengan aroma wanginya yang semerbak. John berkata waktu itu,” Aku akan mengatur agar mawar selalu ada menyambutmu setiap waktu.” Mungkin inilah cara nya, membiarkan sulur mawar ini tumbuh merambat di setiap dinding lorong Manor. Mungkin bagi orang lain terasa aneh, tapi bagiku ini adalah wujud cinta John padaku.

Aku berjalan menyusuri setiap lorong dan menuruni tangga serta memandang dinding manor yang penuh sulur mawar. Aku benar benar terpesona. Saat tiba di hall utama manor, aku tertegun. Hai kemana mereka para pelayan? Biasanya setiap pagi mereka selalu ada disini, menyapu lantai, atau membersihkan meja. Namun mengapa tak nampak satu pun pelayan berkeliaran di hall utama? Apakah aku yang terlambat bangun sehingga mereka sudah selesai beberes dan kembali ke barak pelayan?

Ah, sepertinya begitu, matahari sudah tinggi, meskipun cahayanya redup. Artinya ini sudah siang, dan mereka mungkin sedang memasak makanan untuk kami. Namun aku melihat ada sebuah keanehan. Dinding Manor tampak sangat kosong seperti ada sesuatu yang hilang. Tapi aku tidak ingat apa.

Lama aku berpikir untuk akhirnya sadar, bahwa dinding Manor tampak terlalu bersih dan lengang, karena tidak ada satu pun foto atau lukisan keluargaku yang terpasang. Dimana foto ayah dan ibu? Dimana juga lukisan para leluhurku ? Serta kemana perginya foto perkawinan ku dengan John? Aneh…apakah ada sebuah alasan kuat sehingga semua itu diturunkan? Apakah untuk memelihara sulur mawar ini, atau ada alasan lain?

Rasa cemas mulai menjalari pikiranku. Jangan jangan John sengaja menurunkan semua foto dan lukisan pernikahan kami, karena dia terlalu sedih karena aku sakit? Tapi bukankah aku hanya sakit psikis, dan saat ini aku merasa sangat sehat dan baik baik saja. Tapi mengapa John malah menurunkan semua foto indah kami? Apakah karena dia ingin melupakan aku? Apakah dia ingin menceraikan aku?

Dadaku berdetak kencang. Aku merasa ada sesuatu yang salah sedang terjadi di Manor ini. Bergegas aku menuju ke Ruang Galeri Leluhur Montgomery. Dan benar seperti dugaanku. Semua foto leluhurku pun hilang tak berbekas. Gallery Kosong melompong seolah sekarang hanya gudang barang antik yang sudah lama tidak dipakai bahkan di bersihkan. Debunya sangat tebal dan pengap. Kemana semua foto leluhurku? Siapa yang berani memindahkankannya? Oh Tuhan…ada apa ini?

Aku ingin mencari pelayan dan mulai mengingat ingat satu nama. Tapi sayang penyakitku merenggut ingatan kehidupanku bahkan satu nama pelayan pun aku lupa. Aku bergegas berjalan menyusuri sepanjang lorong manor menuju ke barak pelayan.

Tiba tiba aku merasakan ada suatu keanehan. Mengapa begitu sunyi? Manor ini sangat sunyi, bahkan suara burung pun tidak aku dengar. Apakah John juga menebang setiap pohon disekitar manor sehingga tidak ada lagi dahan pohon yang bisa dijadikan pijakan burung untuk mengepak kan sayap dan berkicau menyambut pagi? Aku hanya merasakan dingin angin pagi, dan sekitarku seperti film tanpa suara. Ah….aku tersadar, apakah aku tuli? Aku memang pernah mendengar seseorang berkata bahwa obat anxiety bisa menimbulkan efek samping ketulian sementara. Apakah itu yang terjadi padaku?

Perasaanku sedikit tenang. Aku kembali berjalan menuju barak para pelayan. Namun persis di persimpangan antara lorong menuju barak pelayan dan lorong menuju kamar utama, langkahku terhenti. Aku berpikir, apakah tidak sebaiknya aku tanya dulu pada suamiku baru mengkonfirmasi pada para pelayan. Ada baiknya aku bangunkan John dulu dan bertanya tentang Kondisi Gallery leluhurku. Segera aku merubah arah dan berjalan menuju kamar utama.

Jujur aku sudah tidak ingat mengapa aku dan John tidur di kamar terpisah. Hanya satu memory yang aku ingat, dia pernah berkata, “ Kau tampak kurang sehat Ana, aku tidak ingin mengganggu proses pengobatan Anxiety mu. Sebaiknya mulai malam ini kau tidur di sayap utara dulu sampai kau benar benar pulih.” Namun jujur aku tidak ingat apakah itu saran dokter atau keputusan sepihak John. Dan jika bukan saran dokter, mengapa aku ikut saja keputusan aneh John itu?

Aku berhenti tepat di depan pintu kamar utama. Kamar yang menjadi memory malam pertamaku dengan John setelah kami mengikat janji di depan altar. Aku merasakan kerinduan yang amat sangat untuk kembali tidur di kamar ini di samping John. Merasakan hangat tubuhnya saat memelukku. Aku pun tersenyum. Aku yakin John pasti senang, jika dia melihatku masuk ke kamar ini dan menyelinap di bawah selimut lalu memeluknya.

Tanpa ragu aku membuka pintu kamar yang anehnya juga tidak terkunci. Sungguh sebuah hal aneh, karena John punya kebiasaan, dia tidak akan bisa tidur jika tidak mengunci pintu kamar. Tapi whatever lah yang penting aku bisa masuk. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat pemandangan dalam kamar itu. Ya Tuhan, John tidak tidur sendirian, disampingnya ada Peggy si laknat itu!

Badanku bergetar hebat, aku menahan rasa kecewa bercampur amarah yang menggunung memenuhi tubuhku mendesak kerongkonganku untuk kemudian berteriak dan memaki maki mereka. Tapi anehnya mulutku justru terkunci rapat, dan alih alih aku membangunkan John dan memakinya aku justru bersembunyi di balik tirai jendela kamar.

“John…udara sangat dingin. Apakah kau merasakannya?” ujar Peggy sambil menoleh ke arah John tidur.

“Hemm entahlah aku tidak merasakan apa apa.”

“John aku merasa ada yang masuk ke kamar ini,” ujar Peggy seraya membuka kelambu tempat tidur. Dalam hati aku berdoa, semoga dia tidak tahu aku bersembunyi di balik tirai jendela. Namun sedetik kemudian hampir saja aku memekik, untung aku menahan mulutku sendiri. Aku ….aku melihat Peggy memakai cincin perkawinanku. Cincin dengan mata Ruby merah kesayanganku. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa cincin itu ada di jari manis pelacur laknat itu? Oh Tuhan, tak terasa air mataku menetes.

Aku membekap mulutku sendiri dan berusaha sekuat tenaga, agar suara tangisku tidak lolos keluar dan membuat mereka sadar bahwa aku ada di balik tirai jendela.

“John…aku takut, bulu kuduk ku merinding,” pekik Peggy dan dia pun kembali meringkuk di belakang John.

Aku sangat bersyukur dia tidak terus bangun dan berjalan ke arah ku. Dia menutup wajahnya dengan selimut tebal itu dan merapatkan tubuhnya pada punggung John. Punggung suamiku. Air mata ku kembali menetes deras.


Aku segera melangkah keluar kamar begitu aku yakin mereka kembali meringkuk dan tertidur. Aku ingin berteriak dan menangis sekencang kencangnya. Namun aku menahannya. Aku harus menyelidiki dulu apa yang sebenarnya terjadi. Aku segera melangkah ke sayap barat Manor tempat kamar ayah dan ibuku. Aku ingin bertanya apa yang terjadi, dan apakah mereka tahu jika Peggy tidur bersama John di tempat tidur kami.

Saat sampai di depan kamar ayah dan ibu, aku segera masuk tanpa mengetuk pintu lagi. Aku ingin mencurahkan isi hatiku , tangisan ku dan berteriak pada mereka di sana. Tapi alih alih bersuara, aku justru terdiam tanpa mampu berkata kata. Kamar ayah dan ibu kosong, semua perabotan di tutup kain warna putih, seolah kamar itu sudah lama kosong. Kemana ayah dan ibu? Apakah mereka pergi dan mewariskan rumah ini padaku, hanya saja aku lupa? Apa yang sebenarnya terjadi di Manor ini? Kepalaku berdenyut dengan keras aku merasa duniaku berputar putar. Aku pun jatuh terduduk dan memejamkan mataku. Aku tidak sanggup berpikir apa apa lagi.

*****

Unlocking Memory

"No matter how vast the mirage, the desert of reality remains. We may outrun our memory, but we can never outrun the truth."

Lelah menangis, aku segera keluar dari kamar ayah dan ibu. Aku merasa hopeless dan tidak tahu harus kemana. Kembali ke kamar Utama tempat John dan Peggy berada, atau ke kamarku yang gelap di sayap selatan? Tidak, tampaknya kembali ke kamar gelap itu bukan pilihan yang menarik. Aku lebih baik menenangkan diri dengan berjalan menyusuri Manor. Siapa tahu aku menemukan petunjuk atas segala kekacauan ini.

Aku terpikir untuk duduk di taman Mawar yang kulihat dari jendela di depan pintu kamar gelap itu. Tapi dimanakah taman itu? Aku seperti mengalami disorientasi. Dengan langkah gontai aku jalan lurus ke arah luar Manor. Aku ingin pergi dari Manor ini. Di sini sudah tidak ada apa apa lagi. Suamiku lebih memilih wanita lain, mencampakkan pernikahan kami, mencampakkan aku, berkhianat. Dan orang tuaku pun pergi entah kemana. Oh God …apa yang harus aku lakukan?

Aku berjalan terus, sampai tiba tiba ku menyadari bahwa lorong yang aku pilih untuk menuju ke taman mawar, rupanya salah arah. Alih alih jalan ini membawaku ke taman itu, aku justru menemukan jalan buntu. Tepat di depanku aku melihat ada pintu yang tertutup. Aku merasa aneh, pintu itu dan tekstur kayu serta warnanya terasa sangat Familiar. Ada guratan bahagia muncul dalam benakku saat memandangnya.

Perlahan aku mendekati pintu itu, dan mencoba membukanya. Rupanya tidak terkunci, dan aku berhasil masuk. Ruangan dibalik pintu itu kecil, tidak seluas kamar utama atau kamar kedua orang tuaku. Aku heran, ini kamar apa mengapa begitu mungil dan terasa hangat.

Saat aku melihat sekeliling, aku merasa sangat familiar dengan ruangan ini. Tapi aku lupa ini ruangan apa. Ini pasti karena pengaruh obat Anxiety yang aku minum. Banyak hal yang aku lupa. Aku seperti hidup berdasarkan kecenderungan dan persepsi. Mungkin aku harus menemui psikiater ku dan memintanya agar menghentikan pengobatan. Aku kehilangan banyak hal karena pengobatan sialan ini. Baik kehilangan memory, bahkan suamiku.

Tapi hey…aku ingat gorden ini. Ini adalah Gorden yang aku pilih bersama ibu, saat kami mendiskusikan sesuatu yang indah. Aku lupa diskusi apa. Ini jelas bukan tempat baru. Aku kenal kamar ini dan bahkan mungkin sering berada di sini, tapi aku lupa ini tempat apa. Aku mencoba mengingat ingat dengan memejamkan mataku. Tapi yang ada aku malah merasa tersesat dan bingung.

Aku melihat ranjang kecil yang ada di sudut ruangan. Ranjang dari kayu yang kosong, meninggalkan rangka ukiran yang khas. Aku mengelus setiap lekuk ukiran pada ranjang itu, dan aku merasa tidak asing. Bahkan ukiran nya aku sangat hafal. Apa ini? Ranjang apakah ini sebenarnya?

Saat aku mengamati ukiran kayu pada ranjang kecil itu, mataku tertuju pada sepatu kecil dari rajutan yang tergeletak di dekat ranjang itu. Owh….sepatu bayi. Kemungkinan ini adalah ranjang bayi yang dibuat khusus dengan ukiran yang sangat indah. Aku sempat tidak mengenali ranjang bayi ini karena tidak ada tempat untuk kelambu seperti layaknya box bayi yang biasa aku lihat.

Aku makin bingung, ini ranjang bayi milik siapa? Apakah …apakah Peggy dan John berencana punya anak dan menyiapkan ruangan ini untuk calon bayi mereka. Oh Shit…mengapa aku masuk ke ruangan ini? Ruangan ini hanya menambah luka dalam hatiku. Aku betul betul terpukul.

Segara aku berdiri dari sisi ranjang sialan itu dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Tapi….jika ini ranjang bayi untuk anak John dan Peggy, mengapa aku begitu familiar? Mengapa aku merasa tidak asing. Tidak..ini jelas bukan untuk anak Peggy. Karena seingatku aku hanya mengenal peggy sepintas, dan tidak pernah berpikir bahwa dia main gila dengan suamiku. Aku bahkan tidak pernah melihat dia ada di Manor ini. Jadi ini jelas bukan untuk anak Peggy.

Aku menghentikan langkahku dan berbalik kembali melihat ke setiap pojok ruangan kecil itu. Aku melihat ada lemari kecil seperti tempat untuk buku buku atau mungkin juga perlengkapan bayi. Perlahan aku membuka lemari itu dan menemukan sebuah kotak merah kecil tersimpan rapi di sana. Kotak apa ini? Mengapa aku merasa sedikit mual saat menyentuhnya.

Aku beranikan diri mengangkat kotak kecil itu. Ternyata kotak itu dilengkapi dengan kunci berupa susunan angka atau huruf semacam kode yang harus diputar hingga sesuai, baru terbuka. Aku tidak tahu ini kotak siapa dan mengapa ada di ruangan ini. Aku merasa tidak sopan jika memaksa untuk membukanya. Namun rasa ingin tahu lebih dalam dari kesopanan apapun yang kumiliki.

Penasaran aku memasukan angka random dan jelas tidak terbuka. Lalu iseng, coba aku masukkan tanggal pernikahanku. Dan boom , kotak terbuka. Aku terkejut dan kembali bertanya dalam hati, mengapa kode kunci kotak ini adalah tanggal pernikahanku? Artinya…..kotak ini bisa jadi milikku.

Semakin dibuai rasa penasaran, aku segera membuka kotak itu dan melihat tumpukan foto lama yang saling tumpang tindih, lusuh dan tidak beraturan. Aku ambil secara acak salah satu foto dan Oh…..ada wanita hamil dalam foto itu dan wajahnya….mirip denganku. Sejenak dunia terasa berputar seperti saat aku terkena Vertigo. Aku seperti masuk dalam pusaran waktu, di masa aku masih sangat dekat dengan suamiku.

“Mengapa aku sakit anxiety ini John?” tanyaku waktu itu.

John menatapku dengan pandangan penuh keraguan lalu dia menjawab, “ Kau menderita sakit ini karena keturunan. Salah satu dari kedua orang tuamu, mereka menderita Anxiety. Dan sekarang diwariskan padamu.”


Waktu itu aku mengangguk percaya pada John, tapi ada sebersit keraguan yang menguasai sanubariku. Keraguan yang membawaku pada kilasan memory lain terkait ruangan ini. Dalam memori itu aku melihat diriku berjongkok di sudut ruangan ini. ASI menetes dari payudaraku, perutku terasa kosong namun perih. Aku menangis tersedu sedu menggapai gapai diatas box bayi berukir yang kosong. Aku mengingat mulutku menyebut satu kata berulang kali, “Anakku …anakku mengapa kau pergi meninggalkan ibu.”

Aku terkesiap, seperti baru bangun dari tidur panjang. Air mataku meleleh deras. Ya Tuhan, ini bukan kamar calon anak John dan Peggy. Ini Adalah kamar calon anakku yang tidak pernah aku timang sejak aku lahirkan. Dia lahir dalam kondisi yang sudah tak bernyawa. Aku punya anak dari John, tapi mengapa aku lupa dan tidak mengingatnya? Ada apa ini? Tangisku makin kencang seolah aku ingin menembus waktu dan kembali ke masa dimana aku masih sehat dan mengingat semua potongan peristiwa dalam hidupku.

Namun saat aku memejamkan mata, ada sebuah kata kata yang lama sekali tidak pernah muncul dalam ingatanku , kembali menyergap kesadaranku. Kata kata itu berbunyi, “ Pergi dan keluar dari ruangan ini. Ruangan ini tidak pernah ada. Kau tidak pernah hamil apa lagi melahirkan. Kau tidak pernah menjadi seorang ibu dan punya anak. Ruangan ini hanya ilusi. Lupakan ilusi ini , lupakan.”

Kata itu terus terngiang hingga memenuhi isi kepalaku dan membuat perutku yang terasa nyeri dan kosong setelah melahirkan terasa penuh dan normal. Aku….aku merasa, aku larut dalam kondisi penyangkalan ekstrim dan itu membuatku lupa. Tapi ….tidak sekarang. Aku ingat semua. Aku pernah hamil dan punya anak. Namun nasibku buruk, anakku mati dan aku ….aku sakit anxiety karena hal itu dan bukan karena keturunan seperti yang John katakan.

Sontak aku berdiri dan berlari menjauhi ruangan itu. Aku berlari terus hingga tanpa sadar aku berada di halaman luar Manor. Matahari yang redup menimpa kulitku dan memberikan rasa hangat. Aku berteriak sekencang kencangnya.

Tidaaaaaak!!!!

Ya Tuhan betapa sialnya hidupku. Aku sakit psikis karena kehilangan bayiku. Suamiku mengurungku di kamar yang gelap karena sakit itu. Dan kini dia tidur dengan wanita lain yang mungkin sebentar lagi akan menggantikan posisiku. Aku sangat yakin John akan menceraikan aku. Aku lemas terduduk karena berteriak dan menangis.

Setelah aku merasa puas, dalam benakku terbetik pikiran, dimana John memakamkan anakku? Aku ingin melihatnya. Aku harus melihat makam anakku. Dimana…? Aku bermaksud kembali masuk ke dalam Manor dan kali ini aku akan mendobrak kamar tidur John dan Peggy. Aku sudah tidak peduli. Aku tidak peduli jika John semakin membenciku karena aksiku itu. Aku harus tahu dimana dia memakamkan anakku.

Baru saja aku hendak melangkah, tiba tiba aku teringat akan Pohon Ek. Pohon dimana dia pertama kali menciumku. Aku seperti tersihir, seperti ada kekuatan yang menarikku ke pohon itu. Pohon ek yang ada di tengah kebun mawar. Pohon yang menyimpan begitu banyak kenangan. Aku …aku tidak mungkin sanggup melupakan pohon itu dan kenangan di bawahnya.

Bagai tersihir, aku berlari ke arah pohon Ek yang berlokasi tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri. Dan saat aku semakin dekat, aku melihat gundukan. Sebuah gundukan seperti makam. Ya Tuhan, disanalah…disana dia menguburkan anakku, permata hatiku. Oh John, mengapa kau tidak pernah berkata kau menguburkan anak kita, ditempat cinta kita pertama kali bersemi.

Aku terjatuh sebelum sampai ke makam anakku. Aku tidak sanggup berdiri dan melangkah, aku merangkak menuju makam itu dengan air mata yang semakin deras mengalir. Saat aku tiba di sana, aku sudah tidak mampu lagi berdiri. Aku seperti tersedot dan terpaku erat di makam itu. Beberapa saat aku membeku diatas makam, tertelungkup dan menangis meraung.

Lalu kemudian aku melihat ke arah nisan marmer yang terpasang di sana. Paling tidak aku harus tahu siapa nama anakku. Barangkali dengan membaca namanya, aku ingat apakah dia laki laki atau perempuan, dan mengingat kembali seperti apa wajahnya. Namun saat aku menatap nisan itu, kembali duniaku seperti jungkir balik. Aku merasa tubuhku kosong dan tidak punya daya. Nama itu….mengapa nama itu…namaku, Ana Montgomery.

*****

Eternal Solitude

"Sometimes, silence is a sanctuary of truth, far better than a crowd built on illusions."

Aku menatap nanar ke arah nisan marmer yang bertuliskan namaku. Semula aku kembali denial dan berpikir mungkin saja ini makam anakku yang sengaja diberi nama diriku. Tetapi saat kuperhatikan tanggal lahir yang tercantum di sana, tidak diragukan lagi itu adalah tanggal lahir ku. Aku merasakan panik yang luar biasa, ada ketakutan yang tidak dapat kujelaskan dengan kata kata.

Perlahan aku berdiri, dan mencoba menyentuh nisan itu untuk memastikan bahwa semua yang aku lihat ini nyata. Namun aku tidak dapat menyentuh nisan itu. Seperti angin aku bahkan tidak bisa merasakan sensasi dingin dan kerasnya nisan. Aku bingung, mengapa selama ini aku bisa menyentuh semua benda di dalam Manor? Mengapa justru di atas pusara dengan nisan bertuliskan namaku, aku tidak dapat melakukannya?

Teringat juga olehku, bahwa aku tidak pernah lapar dan makan layaknya manusia biasa. Dan ketika aku memandang ke sekeliling ku, terasa sepi dan sunyi seperti ada sekat yang membatasi interaksi ku dengan dunia di sekelilingku. Aku dapat melihat dunia dan merasakannya, tetapi aku tidak bisa mendengar apapun. Kecuali hanya saat saat tertentu ketika aku memfokuskan diriku untuk itu. Selebihnya zonk, dunia begitu sepi bagiku.

Aku kembali teringat tentang kamar gelap itu. Sekarang aku paham, kamar itu adalah Asylum, tempat John mengurungku karena diagnosa depresi dan anxiety yang aku derita. Aku ingat di dalam kamar itu, hari terasa selalu malam, sementara dunia di luar kamar terang tapi sunyi. Sepertinya kamar itu adalah portal, tempat aku terikat di alam antara dunia baru dengan dunia lamaku. Dan entah karena alasan apa aku masih terikat disana dan tidak pernah bisa benar benar pergi ke alam keabadian.

Di luar Manor, aku merasa diriku seperti bayangan. Aku kehilangan sebagian besar indraku. Aku bahkan tidak bisa merasakan dan meraba tubuhku sendiri. Makam itu seperti membangkitkan kesadaran siapa diriku yang sebenarnya. Aku bukan lagi Ana yang sakit psikis. Melainkan aku adalah Ana yang telah tiada, ana yang telah mati.

Entah berapa lama aku termenung dan menatap makam ku sendiri, sebelum akhirnya aku merasakan getaran hadirnya makhluk lain. John! Dia mendekati makam tanpa melihat bahwa aku ada tepat di sebelah nisan tempat dia berdiri dengan angkuhnya.

Tatapan John sama sekali tidak menunjukkan kesedihan atau kehilangan. Bahkan aku merasakan tatapannya bukanlah tatapan John suamiku yang kukenal. Dia seperti berubah menjadi sosok lain yang tidak bisa aku jelaskan siapa. Mungkinkah kematianku merubah segalanya? Mungkinkah dia berubah karena kesedihan atas kematianku? Aku tidak yakin. Gestur John sama sekali tidak menunjukkan kesedihan apa lagi rasa kehilangan.

Aku memperhatikan detail penampilan John dari dekat. Jemarinya tidak lagi mengenakan cincin perkawinan yang dulu kusematkan saat kami ada di depan altar. Dia seperti tidak pernah menikah. Auranya begitu dingin dan….Kejam. Entahlah aku merasa John yang saat ini berdiri di depan makam ini, bukan lagi John yang menikahiku. Dia begitu kejam dan wajahnya memancarkan rasa tidak puas bahkan unsur kejahatan yang nyata.

Dia mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh di sekitar makam. Tapi aku tidak merasakan kasih sayang dari aksinya itu. Aku merasa dia lebih seperti tidak sabar dan jengkel. Aku bisa merasakan aura tubuhnya panas dan penuh kebencian. Benci pada siapa? Aku? Tetapi mengapa? Apakah aku pernah mengecewakannya? Seingatku aku tidak pernah sedikitpun membuat dia kecewa. Ataukah karena anak itu? Anak kami yang meninggal entah karena apa? Mungkinkah dia menyalahkan aku karena kematiannya?

Tak terasa air mata menetes di pipiku. Mengapa kau terlihat begitu membenciku John? Tidak adakah sedikit rasa cinta yang tersisa untukku? Bukankah tepat di sini, dibawah pohon Ek ini, kau menyatakan cintamu padaku seolah kita akan bersama selamanya? Aku mencoba menyentuhnya. Tapi seperti halnya dengan makam, aku tidak bisa menyentuh John.

Sejak aku menemukan makamku, aku seperti orang yang bangun dari tidur panjang. Aku seperti dipaksa menerima kondisiku yang tidak berjasad. Aku hanya bayangan tembus pandang yang bahkan tidak bisa merasakan dirinya sendiri. Kembali aku mencoba mengelus wajah John, tapi sia sia.

Seperti mungkin merasakan kedekatan kami, tiba tiba dia berkata,"Istirahatlah dengan tenang, Ana. Manor ini butuh udara segar, dan kau terlalu menyesakkan." Kata kata itu sungguh membuatku sakit hati. Dia benar benar tidak lagi ingin berada di dekatku. Dia bahkan sepertinya mensyukuri kepergianku. John berubah dari lelaki yang sangat mencintaiku dan juga aku cintai menjadi monster kejam tanpa perasaan. Bahkan di depan makamku pun dia sanggup mengatakan hal yang menyakitkan.

Tak berapa lama aku melihat Peggy berjalan mendekati makam. Dia sudah berpakaian rapi sama seperti John. Mereka tidak lagi nampak seperti saat aku menemukannya di kamar utama. Lagi lagi rasa jengkel muncul saat aku melihatnya mengenakan cincin dan baju bahkan sepatuku. Walaupun aku tahu, bahwa aku tidak mungkin lagi mengenakan semua itu, tapi aku masih merasa barang barang itu milikku.

“Buat apa kau ada di sini?” ujar Peggy sembari menatap ke arah John. “ Tempat ini adalah lokasi yang paling aku benci. Sangat bau dan lembab. Bau kematian yang menyesakkan. Kau seharusnya tidak berada di sini, banyak pekerjaan yang masih harus kita lakukan. Buat apa kau luangkan waktu untuk kenangan lama yang sudah membusuk!”

Amarahku seperti bangkit, aku mendekati Peggy dan mencoba memukulnya dengan sekuat tenaga yang aku miliki, “ Bajingan laknat, pelacur kau Peggy. Kau adalah racun dalam kehidupan perkawinanku dan John. Kau ambil dia dari hidupku dan sekarang kau menghinaku, seolah aku adalah sampah yang terkubur di sini,” ujarku sambil berusaha menghantamnya wajahnya dengan tinjuku dan tentu saja tidak berhasil. Dan itu sungguh membuatku merasa tidak berdaya dan Frustasi

“Aku hanya ingin melihatnya untuk terakhir kali, sebelum pergi meninggalkannya sendiri diantara pepohonan tua sialan ini,” jawab John penuh kebencian sembari menendang beberapa kerikil kecil. Hatiku terasa sangat sakit dan teriris. Begitu cepat kau berubah dan melupakan cinta kita John.

“Sudahlah biarkan dia di sana, tempat yang memang sudah seharusnya dia huni. Keberadaannya sudah tidak berguna lagi. Kita sudah menghapus namanya dari setiap surat dokumen atas harta waris yang ditinggalkan keluarganya. Dan sebentar lagi property ini pun akan jadi milik orang lain. Keluarga Montgomery hanya tinggal sejarah. Dan hanya hidup dalam kenangan para pegawai yang pernah kerja di tempat ini.” ujar Peggy dengan senyum sinis yang menjijikkan.

Tidak…itu tidak mungkin. Dia tidak bisa seenaknya menjual harta milik keluargaku hanya karena dia menikah denganku. Hukum mana yang membolehkan hal itu terjadi? Tapi bagaimana jika memang itu mungkin? Bukankah John adalah suamiku? Dan aku tidak punya lagi satu keturunan pun. Property Montgomery termasuk Manor ini sudah tidak lagi bertuan. Hanya dia satu satunya orang yang tersisa yang masih terkait denganku. Oh Tidak…aku tidak bisa membayangkan jika Manor ini, taman mawar dan semua yang ada di dalamnya menjadi milik orang lain.

Kenangan dan sejarah keluarga ku akan musnah dan menghilang begitu saja. Ya Tuhan, mengapa aku masih terjebak di sini, jika aku tidak bisa berbuat apa apa. Dan mengapa aku harus menyaksikan kekejaman mereka yang menjarah peninggalan leluhurku?

Tak berapa lama mereka pun pergi meninggalkan area makam dan aku hanya terpaku berdiri menatap kepergian mereka tanpa bisa berbuat apa apa. Aku tidak tahu apa yang ada dalam otak mereka berdua. Tapi saat aku masuk ke dalam Manor, aku dapati seluruh perabot sudah ditutup dengan kain putih. Sepertinya mereka pergi meninggalkan Manor untuk waktu yang lama dan entah sampai kapan.

Aku hanya melihat kepergian John dan kekasih gelapnya dari balik jendela Manor yang buram. Dan….disinilah aku sekarang, sendiri di dalam Manor yang membisu, tertinggal diantara berjuta kenangan entah sampai kapan aku tidak tahu. Banyak pertanyaan melintasi kesadaranku. Apa yang menyebabkan nasibku begitu sial? Apakah ini realita hidupku yang harus aku terima hingga akhir Zaman? Tidak adakah jalan keluar bagiku dari kubangan ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

*****

TAMAT

CATATAN PENULIS

The Silent Manor hanyalah kepingan kecil dari sebuah labirin dusta yang jauh lebih gelap. Ana Montgomery tertinggal dalam sunyi, namun ia belum selesai bicara. Ikuti kelanjutan takdirnya, rahasia suaminya yang sebenarnya, dan pembalasan dendam yang elegan dalam novel utama: THE BROKEN VOW.

Karena terkadang, kematian hanyalah ilusi dan bukan garis Finish, melainkan sebuah cara untuk melihat kebenaran yang paling murni.


Nantikan Kisah Selanjutnya di Website ini