Tumbal Nogososro
BLURB:
Bagi Rahayu, Kakaknya —Raden Mas Raditya Prasetya—adalah sosok maestro tari yang berjiwa halus dan bermartabat. Namun, pilar kehormatan keluarga bangsawan mereka seketika runtuh ketika tuduhan berat mampir tanpa ampun. Tunjung, putri juragan batik ternama , mengaku dihamili oleh Raditya.
Raditya hanya bisa bungkam dan tertekan hebat. Orang-orang terdekatnya menghilang satu per satu, sementara ancaman centeng serta kejaran hukum makin memojokkan keluarga mereka. Di tengah kegelapan informasi dan keputusasaan itu, hadir Bagaskara, seorang polisi muda yang menjadi satu-satunya pihak yang mau mendengarkan Rahayu dan membantu mencari titik terang secara adil.
Demi menyelamatkan Raditya dari tekanan publik dan ancaman fisik, Rahayu membawa sang Kakak mengasingkan diri ke kediaman terpencil milik Suryosumirat, seorang ahli hukum terpandang yang menawarkan perlindungan.
Namun, pelarian itu justru membawa Rahayu ke dalam sangkar yang lebih mengerikan. Di balik ratusan angsa putih yang memenuhi pekarangan dan atmosfer dingin rumah itu, Rahayu mulai merasakan teror mistis yang mengincar nyawa Sang kakak. Bersama Bagaskara yang bergerak dari luar untuk menyingkap benang kusut tuduhan tersebut, Rahayu harus berjuang sendirian di dalam rumah asing itu—mempertaruhkan segalanya untuk melindungi sang adik sebelum malam kelam merenggut mereka berdua.




Surat dari Dalem Sastradiningrat
Namaku Raden Ajeng Rahayu Kinasih Sastradiningrat, aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku Raden Mas Raditya Sastradingrat. Kami berdua berasal dari keluarga Bangsawan Jawa yang bertempat tinggal di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sepanjang hidup kami Romo selalu mengajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan trah Sosrodiningrat. Karena itulah Romo mengutamakan pendidikan kami. Kakakku Radit, adalah seorang Penari Ternama, alumni ASTI Yogyakarta ( Akademi Seni Tari Indonesia) sekaligus pemilik Sanggar Tari yang cukup terkenal di Bantul. Sementara aku baru saja menamatkan pendidikan Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada.
Sebenarnya Romo dan ibu menghendaki aku segera kembali ke Bantul dan menikah dengan pria yang sudah disiapkan untukku, Kang Mas Tejo. Tejo adalah insinyur pertanian yang selama ini mengurus sawah dan kebun milik keluarga kami, sekaligus sebagai Petugas Penyuluh Lapangan. Tapi jujur aku enggan menerima pinangan mas Tejo. Selain karena aku masih ingin melanjutkan pendidikan sebagai Notaris, aku memang belum ingin menikah dalam waktu dekat.
Bagi Romo dan Ibu, anak perempuan tidak perlu ngoyo mengejar karir. Cukup berpendidikan tinggi dan nanti mengelola usaha keluarga. Kebetulan Romo punya sanggar lukis batik yang hasil karyanya diminati oleh banyak pedagang besar batik di seputaran Bantul. Namun aku tidak berminat menekuni bisnis batik. Aku lebih tertarik bergelut dengan undang undang dan berbagai dokumen hukum.
Berkali kali Romo dan ibu memintaku untuk segera pulang ke Bantul dan membantu mengembangkan bisnis keluarga, namun selalu ku tolak. Aku pun tanpa sepengetahuan Romo dan ibu sudah menyebar lamaran ke berbagai perusahaan. Tujuanku satu, aku ingin mandiri termasuk juga membiayai sendiri pendidikan Profesi PPAT yang akan aku ambil.
Sudah tidak terhitung lagi jumlah telegram yang dikirim oleh ibu untuk merayuku pulang. Namun aku tidak bergeming. Bahkan pernah telegram yang berisi permintaan pulang karena ibu sedang sakit pun tidak aku gubris. Karena aku selalu dapat kabar dari kakakku Raditya tentang kondisi Orang tua, dan waktu itu aku tahu betul kalau orang tuaku berbohong. Mereka melakukan itu hanya supaya aku segera pulang dan siap untuk dinikahkan.
Namun tidak kali ini, sebuah Telegram datang dan diterima oleh kawan satu kostku Shinta. Sore itu, aku sedang menata dokumen pendaftaran Program Profesi PPAT di kamar Kost yang terletak di Kawasan Sagan Yogyakarta. Meja tulisku penuh aneka berkas termasuk beberapa surat lamaran ke berbagai perusahaan yang belum sempat ku kirim. Baru saja aku hendak merapikan map pendaftaran, tiba tiba saja Shinta masuk ke kamarku.
“Telegram dari Bantul Yu. Aku hitung ini sepertinya telegram ketiga dalam bulan ini. Sepertinya Romo dan ibumu ingin kamu cepat pulang. Mbok ya ngalah to, sama orang tua, jangan ngotot begitu.”
Segera kuraih telegram dari tangan Shinta dan melirik sekilas, “ Kamu benar Shinta, ini telegram dari Romo.” Sedikit ogah aku mulai membacanya, namun apa yang tertera di sana membuatku terkejut dan penuh tanda tanya.
Segera pulang, Raditya tertimpa masalah. Nama besar trah Sastradiningrat sedang dipertaruhkan. Romo butuh bantuanmu.
******
“Batas waktu pendaftaran Program Profesi PPAT berakhir besok. Kau yakin akan pulang ke Bantul dan mengabaikan deadline pendaftaran?”
“Aku ndak punya pilihan Shinta. Kali ini Telegram dari Romo sepertinya serius. Aku sudah beberapa kali menyurati mas Radit, tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Sepertinya memang benar kata Romo, Mas Radit dalam masalah besar.”
“Jadi kamu akan mengorbankan kesempatan untuk kuliah PPAT tahun ini? Apa kamu nggak merasa eman? Kamu sudah kerja keras jadi asisten dosen, kerja sampingan di rumah makan, bahkan jadi kontributor artikel di Koran Kedaulatan Rakyat, hanya untuk membiayai kuliah profesi ini. Lalu dengan begitu saja akan kau abaikan?”
“Entahlah Shinta, mungkin ini sudah nasibku. Namun yang jelas, aku nggak bisa begitu saja mengabaikan persoalan keluargaku, utamanya jika menyangkut Mas Radit. Kamu tahu betul kalau aku sangat mencintai kakak ku itu. Aku banyak berhutang budi padanya. Dia juga ada andil dalam membiayai kuliah ku selama ini selain dari hasil kerja kerasku. Ini semua karena dia paham akan impian besarku jadi wanita mandiri.”
Shinta menghela nafas panjang lalu membantuku berkemas,” Ya sudahlah kalau begitu Yu. Aku hanya bisa mendoakan semoga masalah yang menimpa Mas Radit tidaklah seserius yang kita baca dari telegram romo mu. Semoga ini semua hanya jebakan untuk membuat kamu mau pulang.”
“Amin Shin, aku juga berharap begitu. Pokoknya kalau ini hanya akal akalan Romo dan ibu, aku akan segera kembali ke Yogyakarta dan menerima tawaran magang di Firma Hukum milik pak Malik dosen kita itu.”
“Janji lho ya, jangan berhenti di Bantul dan melupakan semua impian besar kita.”
Aku tersenyum menatap Shinta, lalu kami saling berpelukan, “ Kamu sahabat yang paling ngerti aku. Tunggu aku ya Shinta, aku akan segera kembali ke Yogya. ”
*******
Sore itu, sehari setelah aku terima telegram dari Romo, Pak de Samad, supir keluarga kami datang menjemput dengan membawa mobil sedan tua kesayangan mas Radit. Hatiku terasa nyeri. Mobil itu tidak mungkin diberikan begitu saja oleh Mas Radit untuk dibawa Pak de Samad, jika si empunya mobil baik baik saja. Hal ini semakin membuatku yakin, kalau mas Radit memang sedang dalam masalah besar.
“Mengapa bukan mas Radit yang jemput aku pak de?”
“Ngapunten den roro, saya hanya menjalankan perintah Romo saja.”
“Apakah mas Radit baik baik saja pak de?”
“Ngapunten den roro, saya tidak paham.”
Sudah kuduga, jawaban pak de Samad akan serba tidak tahu. Sepertinya romo sudah berpesan pada pak de Samad untuk tidak mengatakan apapun tentang kondisi mas Radit padaku. Aku paham, romo tidak ingin aku panik dan mungkin ingin aku tahu sendiri kejadian yang sebenarnya setelah sampai di rumah.
Hujan gerimis, mengantar kepergianku meninggalkan Yogyakarta. Hanya Shinta yang menjadi saksi keberangkatanku. Dia membantuku mengangkat beberapa koper ke dalam bagasi.
“Koper mu banyak juga. Apakah semua bajumu kau bawa?”
“Sepertinya begitu Shinta. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke sini, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.”
“Tapi kemarin kamu janji akan kembali Rahayu.”
“Doakan saja semua ini cepat berlalu.”
Kami pun berpelukan dan akhirnya berpisah. Hujan rintik yang lambat laun menjadi deras seolah ikut bersedih atas perpisahan kami. Tak terasa air mataku pun meleleh. Akhirnya aku harus meninggalkan Yogyakarta bersama semua mimpi yang mulai ku jalin di sana.
Hari semakin gelap, jalanan semakin sepi dan banyak makadam, menandakan bahwa kami sudah keluar dari Yogyakarta dan hampir sampai ke desa kami di pinggiran Kabupaten Bantul. Hawa dingin yang menusuk membuatku semakin merapatkan jaket yang aku kenakan.
Kabut tebal mulai turun dan menghalangi jarak pandang. Aku merasa situasi ini seperti sebuah isyarat, akan ketidakpastian yang akan kuhadapi di rumah. Tak berapa lama setelah mobil yang dikemudikan pak de jalan cukup pelan menerobos kabut, akhirnya aku mulai melihat gapura Dalem Sastradiningrat. Rumah tempatku tumbuh dan menghabiskan masa kecil itu, kini tampak muram seperti ditelan kabut masalah yang tak kunjung reda.
Perjalanan panjang pulang ke rumah kali ini sungguh menyisakan banyak pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kakakku Raditya? Masalah apa yang ditimbulkannya sehingga Romo sampai merasa nama baik Sastradiningrat dipertaruhkan ?
