Until He Let Me Go


Total Chapter : 28 Chapter
Premium Chapter : 3-28
Free Chapter : Prolog/ 1/2
Blurb
Elira Mardeaux tidak pernah menyangka bahwa penugasan audit biasa akan membawanya ke dalam dunia Cassian De Luca—CEO yang terlalu tenang untuk disebut berbahaya, dan terlalu memikat untuk ditolak.
Ia datang membawa mandat negara. Tapi Cassian?
Ia menyambut Elira seolah wanita itu adalah gangguan kecil… yang justru membuatnya ingin mengunci pintu, dan tidak pernah membiarkannya keluar.
Dunia Cassian dibangun dari kendali, rahasia, dan aturan main yang tak tertulis. Dan saat Elira mulai menguak satu demi satu kebusukan di balik laporan keuangan perusahaan megah itu, ia mendapati dirinya bukan hanya kehilangan objektivitas tetapi juga kehilangan arah.
Terjebak antara tanggung jawab dan ketertarikan, antara profesionalisme dan gairah, Elira harus memilih: melawan dominasi Cassian—atau menunduk pada pria yang mungkin akan menghancurkannya.
Dan Cassian?
Dia tak pernah ingin melepaskan Elira. Bahkan ketika dunia menuntutnya untuk melakukannya.


The Audit
"An audit that keeps you on the edge of your seat."
Ada banyak hal yang tidak bisa aku cantumkan dalam laporan audit ku. Seperti bau parfum mahal yang membekas di dinding lift pribadi. Seperti rasa dingin yang merambat di leherku saat dia menatap, bahkan sebelum aku sempat melihatnya.
Namanya Cassian De Luca. Dan sejak hari pertama aku menapakkan kaki di kantornya—aku tahu, audit ini bukan soal angka. Ini tentang kekuasaan dan dominasi. Dan aku hanyalah bidak kecil di dalam permainan yang terlalu besar.
“Nama lengkap?”
Suaranya berat, lembut, tapi penuh otoritas. Tidak ada nada basa-basi. Tidak ada senyum sambutan.
“Elira. Elira Mardeaux.”
Ia mengangguk sekali, lalu menatapku seolah aku adalah laporan keuangan yang penuh manipulasi. Atau mungkin... seorang wanita yang menarik perhatiannya hanya karena keberanianku mengetuk pintu yang salah.
Dia berjalan mendekatiku. Aku mundur selangkah demi selangkah hingga dinding kantornya menghentikan gerakanku. Matanya menusuk tajam, seolah sedang membedah isi pikiranku, lalu perlahan menatapku dengan intensitas yang membuatku sesak napas.
Begitu dekat jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin. Tangannya yang kokoh terangkat, jemarinya bergerak perlahan membelai garis rahangku, memberikan sensasi terbakar yang asing namun membuatku terpaku.
“Aku tidak suka diawasi, Elira,” bisiknya tepat di telingaku, suaranya menggetarkan seluruh pertahanan yang kubangun. “Tapi kau boleh tinggal... jika kau tahu cara untuk bertahan di sisiku.”
Di saat itu, aku seharusnya pergi. Meninggalkan bangunan ini setelah menyerahkan laporan awal terkait temuan auditku. Tapi aku tetap tinggal. Dengan jantung yang berpacu liar. Dengan rasa takut yang bercampur dengan rasa penasaran yang tak bisa kuakui.
Malam pertama aku menginap di mansion mewahnya, aku tahu tak ada kunci yang bisa benar-benar melindungiku jika ia memutuskan untuk datang. Tak ada sistem keamanan yang bisa menjagaku dari seseorang yang tidak hanya berniat untuk mendekat... tapi berniat meruntuhkan kendali diriku sepenuhnya.
Dia tidak mengikatku. Tapi malam itu aku tidak bisa pergi, entah karena karismanya yang gelap atau karena rasa kesepian yang menyergapku sekian lama. Cassian De Luca adalah pria yang mustahil untuk ditolak. Dan andai dia datang untuk menaklukkanku, aku merasa tidak memiliki kekuatan untuk mencegahnya.
Dan yang lebih menakutkan: aku mulai menikmati bagaimana ia mendominasi duniaku.
****


Into The Lion’s Den
"There are moments that cling to the soul, defying the mercy of forgetting."
POV Elira Mardeaux
A Palace Of Power
The Gherkin Tower, menara torpedo yang terkenal di London, tampak angkuh berdiri menyambutku. Mobil tua bututku seperti kotoran kecil saat memasuki halaman tower ini. Perlahan aku menuju tempat parkir otomatis, dimana terdapat ratusan mobil mewah milik para CEO De Luxen yang berkantor di gedung ini.
Setelah mendapatkan tempat parkir nyaman, aku diam sebentar di dalam mobil, mengumpulkan tekad dan keberanian memasuki tower yang tampilannya ratusan kali lebih elegan dari kantor tempatku bekerja.
Tidak ada papan nama mencolok, hanya kilatan logo kecil di sisi pintu putar: De Luxen Strategic Holdings. Ringkas. Penuh percaya diri. Seolah dunia tahu siapa mereka tanpa harus dijelaskan.
“Bangunan ini memang dikenal publik sebagai The Gherkin. Tapi bagi mereka yang ada di dalam — namanya hanya satu: De Luxen Tower.”
“Tidak ada satu pun perusahaan lain di dalamnya. Semuanya sudah dibeli perlahan, lewat nama berbeda, hingga De Luxen menjadi satu-satunya tuan rumah yang sah.”
Pintu putar menyambutku, ketika aku menjejakkan langkah kaki pertama menuju lobi gedung ini. Udara di dalam gedung bagiku lebih dingin dan beku dari pada di luar, atau mungkin ini hanya perasaanku saja. Interior lobi super mewah dengan marmer hitam yang mengkilat. Begitu mengkilatnya hingga aku merasa sepatu hitamku terlihat begitu kotor saat men jejaknya.
Di Tengah ruangan tampak lampu gantung mewah seperti Kristal yang dibekukan oleh waktu. Pantulan cahayanya menimbulkan suasana soft yang teduh. Aku seperti dibawa ke nuansa Buckingham Palace yang lebih Futuristik.
Suara langkah kakiku bergema meski aku berusaha melangkah sepelan mungkin. Ruangan itu begitu sunyi, seperti menyembunyikan berbagai aktivitas Financial dibalik dinding dan lapisan kaca megah yang meliputinya.
Sedikit canggung aku menuju meja receptionist. Seorang wanita muda dengan penampilan begitu rapi menyambutku ramah meski dengan senyum tipis seperti dipaksakan.
“Selamat pagi. Anda dijadwalkan bertemu dengan...?”
“Cassian de Luca. Saya Elira Mardeaux dari FIRA (Financial Integrity and Risk Authority). Sudah dijadwalkan bertemu dengan beliau atau staf yang ditunjuk pukul sembilan.”
Dia mengangguk, lalu berkata,” Kantor Meeting De Luxen ada di lantai 38, silahkan menuju lift di sebelah sana,”
Aku tersenyum tipis, bagiku lobi ini tampak begitu steril. Tanpa tumpukan majalah atau koran, tidak ada aroma kopi bahkan sekedar senda gurau sederhana pun tidak terdengar. Suasana yang kaku dan menakutkan, atau mungkin aku yang terlalu paranoid, entahlah.
Seorang security mengantarkan aku ke lantai 38 melalui sebuah lift yang tak kalah mewah. Aku termangu, Gedung megah, pengamanan ketat, suasana profesional dan elegan, jelas perusahaan yang akan aku tuju ini punya gengsi Internasional yang sangat kuat dengan jaringan bisnis yang tidak kaleng kaleng.
Aku menghela nafas panjang, dan mulai memperhitungkan situasiku, sepertinya pekerjaan kali ini tidak akan mudah, banyak tantangan dan yang jelas rawan resistensi atau penolakan. Semoga aku bisa melaluinya dengan baik.
‘Ting’
Lift yang kunaiki akhirnya sampai di lantai 38, dengan langkah sedikit ragu aku keluar lift dan masuk ke area Meeting De Luxen Strategic Holdings. Kesan pertamaku atas kantor itu hanya satu.
“This is not just an office. This is an empire.”
******
The Silent Watchers
Awalnya, aku pikir, di lantai 38 aku akan menemui banyak orang mondar mandir dan berbicara, banyak wajah penuh senyum yang akan menyapaku dan seterusnya. Namun, lagi lagi aku salah. Aku hanya disambut oleh seorang sekretaris berwajah datar, yang memperkenalkan diri dengan nama Moira Kelleher.
“Selamat datang di De Luxen Strategic Holdings,” ujar Moira dengan senyum tipis berkesan sedikit dipaksakan. Sikapnya seperti tidak menyambut, tetapi lebih pada memverifikasi.
“Terimakasih. Aku senang bisa berkunjung ke Kantor tempat anda bekerja Miss Moira,” ujarku berusaha mencairkan suasana. Namun sepertinya upayaku sia sia, dia tampak tidak peduli dan sedikit tegang.
“Saya diberi tugas oleh Manajemen untuk mendampingi anda selama bertugas di sini, Miss Elira. Dan tugas pertama saya pagi ini adalah mendampingi anda melakukan Room Tour, sehingga selama anda memeriksa perusahaan kami,anda tahu ruang mana yang perlu anda tuju sesuai dengan kepentingan anda, “ ujarnya datar.
Aku mengangguk dengan senyum tipis. Moira sebenarnya berwajah menyenangkan, tetapi dia terlihat sangat kaku dan tidak bersahabat. Rambut coklat pirangnya di kuncir sederhana, wajahnya sedikit ber make up dengan lipstik warna nude. Sungguh kontras dengan kemewahan gedung ini. Sikapnya profesional, datar, jarang senyum. Selalu tepat saat bicara, tidak lebih dari yang diperlukan.
Aku merasa Moira bukan sekadar sekretaris, Ia adalah "penjaga pintu De Luxen Strategic Holdings", seseorang yang tahu apa yang tidak boleh dikatakan, dan kepada siapa dia hanya akan berbicara. Aksen Dublin Irlandia nya terdengar halus, ditutupi dengan Inggris formal yang sempurna. Usianya sulit ditebak—sekitar awal empat puluh mungkin, tapi sikapnya membuatnya terasa jauh lebih tua.
Jika Cassian de Luca ( Pemilik De Luxen ) adalah legenda, maka wanita ini adalah senter kecil yang mengawasi siapa saja yang mencoba mendekat terlalu dalam. Dalam hati aku langsung menjulukinya sebagai The Silent Watcher.
*****
A subtle display of power
Tak lama setelah melewati beberapa lorong, dia berhenti di sebuah ruangan kaca setengah gelap, membuka pintunya hingga tampak interior dalam ruangan itu, sebuah ruang eksklusif, dengan meja oval besar dan layar interaktif.
“ Tempat ini adalah The Situation Room, tempat para eksekutif kami melakukan pengambilan keputusan strategis berbasis data real-time. Ruangan ini dilengkapi dengan layar besar menampilkan peta dunia dan pergerakan grafik keuangan,” ujar Moira singkat.
Aku mencatat nama ruangan dan lokasinya, Dalam hati aku menilai, ruangan ini seperti ruang perang dalam film Star Wars, hanya saja ini bukan perang luar angkasa, tapi perang uang.
Setelah itu kami jalan lurus ke depan melewati beberapa ruangan dan sampailah di ujung koridor. Lalu kembali Moira membuka salah satu pintu dan berkata, “ Berikut ini adalah The Archives, ruang dokumentasi digital.”
Ruangan ini penuh rak minimalis dan beberapa workstation tertutup. Sekilas terlihat seperti tempat pengarsipan biasa, tapi semuanya sangat steril dan terenkripsi. Ada satu ruangan kecil dengan fingerprint scanner untuk akses khusus. Moira tidak menjelaskan ruangan apa itu. Aku kembali membuat catatan dan sedikit beropini, biasanya pintu dengan pengamanan tingkat tinggi macam itu menyimpan data yang lebih kompleks dari sekedar laporan tahunan.
Setelah itu kami berjalan lurus dan berbelok ke arah kanan dan masuk ke dalam lorong yang dindingnya penuh dengan tulisan dan foto. Bagiku berkesan seperti ada di sebuah lorong museum.
“Lorong ini kami namai Gallery Of Merger. Lorong ini cukup panjang dan kami lengkapi dengan pigura kaca. Pigura dokumentasi visual dari proyek besar, merger serta akuisisi yang pernah perusahaan kami lakukan,” jelas Moira dengan nada bangga.
Aku melihat dokumentasi setiap proyek ditampilkan seperti karya seni seolah merupakan prestasi perusahaan. Namun Ada satu proyek dengan tanda "Terminated Confidentiality"—dan itu satu-satunya yang tidak diberi keterangan. Aku kembali mencatat, Kenapa hanya yang ini tanpa deskripsi? Siapa yang disingkirkan?
Lepas menelusuri Gallery Of Merger, kami menuju ruangan yang berkesan seperti ruang tunggu, tetapi nuansa eksekutif sangat terasa.
“Ruangan ini adalah Sanctuary Room atau yang biasa dikenal orang dengan sebutan Lounge Eksekutif, “ jelas Moira singkat.
Aku memperhatikan ruangan itu, sebuah ruang tunggu eksekutif dengan tanaman hidup, aroma citrus yang menenangkan, dan seni instalasi. Semua yang ada di sana serba terkurasi, dan sangat tenang, bahkan cenderung terlalu tenang.
Moira menambahkan, “Kadang Mr. De Luca bekerja dari sini.”
Aku memandangnya keheranan, namun kemudian aku berpikir, bisa jadi Cassian De Luca menjadikan tempat ini sebagai ruang pengawasan. Orang sukses seperti dia selalu punya cara tersembunyi untuk mengendalikan banyak hal dalam satu waktu.
Setelah itu kami kembali berjalan melewati koridor minimalis yang membawa kami makin masuk ke jantung kantor ini. Tak lama kami pun tiba di sebuah ruangan dengan papan nama AI-Powered Data Lab.
Ruangan itu begitu sunyi dari luar. Dan saat Moira membukanya, aku kaget karena di dalam ruangan itu ada sekitar sepuluh orang yang kesemuanya bekerja dalam diam. Tidak ada suara manusia disana, hanya terdengar suara tuts keyboard yang dipencet secara bersamaan oleh kesepuluh pegawai. Seolah olah mereka ingin berkata We are the core of this system.
“Ruangan ini adalah Jantung Informasi De Luxen. Kami mengendalikan seluruh bisnis dan investasi dari ruangan ini. Seluruh informasi di ruangan ini akan muncul secara otomatis di layar Personal Computer milik Tuan Cassian. Bahkan bisa diakses angka angkanya dari Tab pribadi beliau,” jelas Moira dengan nada bangga.
Aku memperhatikan semua tampilan layar, hanya angka angka asing yang tidak cukup jelas bagiku. Aku mulai memutar otak, ruangan ini adalah tempat pertama aku bisa masuk dan memeriksa. Tapi di komputer sebelah mana dan seperti apa, semua masih penuh tanda tanya.
Setelah dari ruang AI Powered Data lab, aku dibawa menuju ke sebuah lorong lain yang makin terasa nuansa Eksklusifnya. Kanan kiri lorong terdapat hiasan dinding seperti Lukisan Abstrak yang jika aku taksir harganya bisa mencapai Jutaan dolar. Aku merasa sepertinya Moira membawaku ke sebuah ruangan yang merupakan milik Nahkoda perusahaan ini.
Dan benar saja, kami masuk ke sebuah ruangan mewah minimalis dengan kursi tunggu yang sepertinya sengaja didesain khusus oleh rumah mode ternama di London. Aku menduga ruang tunggu ini adalah ruang eksklusif hanya untuk tamu yang memang diperkenankan menemui Cassian De Luca sang Pemilik De Luxen.
Aku tidak langsung diajak masuk, tapi diajak berhenti tepat di depan pintu besar hitam matte tanpa label.
"Mr. De Luca will see you when he’s ready. Until then, please make yourself comfortable,” ujar Moira tanpa ekspresi.
Ruang tunggu itu hanya berisi satu sofa besar cukup untuk dua orang, dengan dekorasi minimalis futuristik. Entahlah tapi nama Cassian De Luca membuat jantungku bergetar. Seakan pemilik nama itu siap menerkamku bulat bulat jika aku salah atau mengungkap hal yang tidak dia suka dalam laporan audit yang kubuat.
Bagiku Tour ruangan ini lebih mirip a subtle display of power, dibandingkan menunjukkan denah lokasi per ruangan. Aku merasa seperti diperingatkan bahwa saat ini aku perlahan tapi pasti sedang masuk ke dalam kandang singa.
*****


The Man Behind the Glass
"Some men conquer you in silence, and strip you bare with just a glance. You don’t fight it—you crave it."
POV Elira Mardeaux
First Glance
Kedatanganku seorang diri sebagai perwakilan dari FIRA (Financial Integrity and Risk Authority, UK) bisa dianggap cukup bernyali, atau mungkin sekadar nekat. Perusahaan sebesar De Luxen Strategic Holdings dengan lini bisnis yang menggurita di seluruh Eropa seharusnya menjadi target audit yang sangat intimidatif untuk auditor mana pun. Biasanya, kami bergerak dalam tim yang terdiri dari minimal lima orang—pakar forensik digital, analis pajak, hingga ahli hukum. Tapi kali ini, karena pemotongan anggaran yang gila-gilaan dari mitra pemerintah kami, aku harus berdiri sendiri. Sebuah pemborosan, kata mereka, jika harus mengirim tim besar untuk satu perusahaan, tanpa memahami bahwa De Luxen bukan sekadar "satu perusahaan". Ia adalah monster.
Aku tahu tugas ini tidak mudah. Namun, yang membuatnya seribu kali lebih berat adalah reputasi CEO De Luxen yang terkenal dingin, efisien, dan misterius. Sedikit sekali data yang bisa kuperoleh tentang Cassian De Luca. Aku menghabiskan malam-malam sebelum ini mencari jejaknya di basis data publik, namun hasilnya nihil. Dia pria Italia, lahir di Sicilia, berusia sekitar 40 tahun. Selebihnya? Zonk. Tidak ada skandal, tidak ada foto di acara amal, tidak ada nama istri atau anak. Namanya seperti kabut musim dingin yang menguap di tengah danau; ada, tapi mustahil digenggam.
Saat ini, setelah menjalani "tur pamer kekuatan" yang dipandu oleh Moira, aku dipaksa duduk menunggu Yang Terhormat Tuan Cassian. Ruang tunggu ini lebih mirip galeri seni minimalis yang mahal daripada kantor. Aku merasa kehadiranku di sini lebih dianggap sebagai lalat pengganggu daripada mitra otoritas. Di kalangan pengusaha kelas atas, kami di FIRA sering dijuluki sebagai MISTUR (Pengemis Teratur). Mereka menganggap kami hanya sekadar perpanjangan tangan pemerintah yang meminta-minta akses data dan uang denda, bukan lembaga profesional.
Setelah menunggu sekitar 25 menit—sebuah taktik psikologis yang jelas untuk meruntuhkan kepercayaan diriku—pintu besar dari kayu hitam itu terbuka. Moira Kelleher muncul dengan wajah kaku tanpa senyum. "Silakan masuk, Nona Elira," ujarnya formal.
Aku bangkit, membetulkan letak blazerku yang tiba-tiba terasa murah di depan pintu itu. Aku melangkah masuk, dan di sanalah aku melihatnya untuk pertama kali. Cassian De Luca. Dia berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan London yang terhampar di balik kaca setinggi plafon. Postur tubuhnya yang mencapai 1,8 meter tampak begitu tegak, membingkai siluet yang sangat berkuasa.
Saat dia berbalik, duniaku seolah melambat. Wajahnya khas pria Mediterania dengan rahang tegas yang ditumbuhi beard rapi. Mata cokelat gelapnya menatapku, bukan hanya melihat, tapi membedah. Aku merasakan getaran hebat di lututku. Dia memiliki kharisma yang luar biasa dominan; tipe pria yang tidak perlu berteriak untuk membuat satu ruangan tunduk.
“Tuan Cassian, ini Nona Elira dari FIRA,” lapor Moira. Aku mengangguk ke arahnya, namun dia hanya mengedipkan mata sekali tanpa membalas anggukanku. Kami bersalaman. Tangannya hangat, kokoh, dan begitu pas menggenggam jemariku. Saat itu juga, aku merasa seperti tersengat arus listrik yang membuat seluruh sarafku siaga.
“Selamat siang, Nona Elira. Selamat datang di De Luxen. Aku harap stafku sudah menyambut anda dengan baik,” ujarnya. Suaranya berat, dengan tone maskulin yang sangat nyata. Ada tekanan yang kuat dalam suaranya, bukan karena dia membentak, tapi karena otoritas yang melekat pada tiap suku katanya. Jika gedung ini adalah padang savana, Cassian De Luca adalah singa terkuat yang sedang mengawasi setiap makhluk yang berani masuk ke teritorinya.
His Name is Cassian
Dia mempersilakan aku duduk di kursi kulit yang sangat nyaman, lalu meminta izin untuk menerima panggilan ponsel. Aku mendengar dia berbicara dalam bahasa Italia yang cepat dan tajam. Meskipun aku tidak mengerti artinya, intonasi suaranya menunjukkan bahwa dia sedang membuat keputusan jutaan dolar dengan ketenangan seorang algojo.
Pikiranku melayang. Sebelum datang ke sini, aku membayangkan pria berusia 50-an dengan perut buncit dan rambut putih yang mulai botak. Namun, pria di depanku ini memakai jas biru gelap yang dijahit sempurna, membungkus postur tubuh atletis yang terlihat jelas saat dia bergerak. Hal ini membuatku makin terpojok dalam kegugupan.
Aku tidak menyangka dia akan se-menggoda ini di balik intimidasi yang dia tebarkan. Tatapan matanya yang penuh selidik membuatku bergidik. Jantungku berdetak kacau. Aku berharap panggilan teleponnya tidak segera berakhir karena aku belum siap berbicara dengannya secara tatap muka. Aku khawatir jika aku membuka mulut, suaraku akan bergetar dan aku akan terlihat seperti auditor amatiran yang baru lulus kemarin sore. Aku harus menjaga image profesional FIRA, tapi bagaimana bisa jika pria ini seolah mampu menyedot oksigen dari paru-paruku?
“Moira, siapkan para kepala bagian. Aku ingin mereka berkumpul dan mendapat arahan langsung dariku. Aku tidak ingin ada yang mempersulit pekerjaan Miss Elira,” perintah Cassian setelah menutup teleponnya.
Dia kembali duduk di hadapanku, menatapku dengan sedikit senyum yang tertahan. Senyum yang tidak sampai ke mata, tapi cukup untuk membuat wajahku memanas. “Izinkan saya mempertemukan anda dengan seluruh kepala bagian yang akan anda periksa,” ujarnya sopan. “Tentu, Tuan Cassian. Dengan senang hati,” jawabku sesingkat mungkin.
Lalu hening. Sunyi yang memekakkan telinga. Dia terus menatapku, dan aku tidak berani membalasnya. Aku memilih memperhatikan ujung sepatuku atau detail meja mahoni di depanku. Aku bisa merasakan aura Cassian yang berbahaya, namun di saat yang sama, magnetnya sangat kuat. Otakku membeku. Ada getaran hangat yang aneh menjalar dari ujung kakiku hingga berhenti tepat di ulu hati. Aku ingin segera pergi, mengatakan pada pimpinanku di FIRA bahwa perusahaan ini bersih tanpa perlu memeriksa satu dokumen pun, hanya agar aku tidak perlu berlama-lama di bawah pengaruhnya. Aku merasa kalah aura, kalah kelas, dan yang paling memalukan—aku merasa kalah pesona.
The Predatory Calm
Suara beberapa langkah kaki yang memasuki ruang kerja Cassian membuyarkan lamunanku. Moira membimbingku ke ruang rapat yang terhubung langsung dengan kantor utama. Meja oval panjang berbahan kaca hitam mendominasi ruangan. Cassian mengambil tempat di ujung meja, posisi sentral sang pemimpin, dan Moira menempatkanku persis di sebelah kanannya.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfumnya dengan sangat jelas. Sebagai penggemar parfum, aku langsung mengenalinya: Grand Soir dari Maison Francis Kurkdjian. Perpaduan amber, tonka bean, dan vanilla. Aromanya intens namun tidak vulgar; memberikan kesan pria yang bisa membuat napasmu berhenti hanya dengan sebuah bisikan. Itu bukan sekadar aroma, itu adalah pernyataan kekuasaan.
Cassian berdiri. Dia tidak perlu banyak bicara atau menggunakan kata-kata kasar untuk membuat timnya patuh. Hanya dengan gestur kecil, semua orang bergerak dengan presisi militer. Aku bisa merasakan bahwa setiap kepala bagian di sini sangat menghormati, atau lebih tepatnya, takut padanya.
Dominasi Cassian menyebar seperti gas beracun yang memabukkan ke seluruh penjuru ruangan. Pandangan kami bertemu berkali-kali selama rapat. Setiap kali dia menyebut namaku, suaranya yang bariton seolah menggetarkan saraf-saraf di leherku. Aku mencuri pandang padanya saat dia sedang menjelaskan sesuatu, dan terkadang dia menangkap mataku dengan tatapan yang seolah berkata bahwa dia tahu persis apa yang sedang kupikirkan. Aku berkali-kali mencubit tanganku di bawah meja, mencoba mengusir sensasi gila yang muncul. Bagaimana mungkin seorang auditor bisa merasakan gairah seperti ini di tengah rapat koordinasi audit? Ini gila.
His Presence, My Skin
Setelah rapat selesai, para kepala bagian meninggalkan ruangan dengan terburu-buru. Moira mendekatiku. “Nona Elira, Tuan Cassian ingin menemui anda secara pribadi setelah ini. Mohon menunggu di ruangan beliau.”
Aku kembali ke kantor utama Cassian. Menunggu selama sepuluh menit terasa seperti sepuluh jam. Aku sudah hafal pola ini; CEO biasanya akan mencoba "menjinakkan" auditor dengan keramahan palsu atau ancaman halus.
Cassian masuk dengan langkah yang tenang namun pasti. “Maaf, saya membuat anda menunggu, Miss Elira,” ujarnya, suaranya terdengar lebih dalam saat kami hanya berdua. “Tidak apa, Tuan Cassian. Apakah ada hal spesifik yang ingin disampaikan?” balasku, mencoba terdengar setegar mungkin.
Dia duduk di kursinya yang besar, membuka map profilku yang dikirim oleh FIRA. “Izinkan saya mengenal anda lebih dalam,” ujarnya. Udara di ruangan itu terasa mendadak berat dan hangat. “Lulusan Oxford, nilai excellent. Anda punya rekam jejak yang mengesankan. Tapi, Miss Elira, di dunia korporasi seperti De Luxen, ada banyak hal yang tidak akan anda temukan di bangku kuliah. Saya ingin memastikan kita memiliki pemahaman yang sama.”
Dia menatapku penuh makna. Wajahku memanas. Aku hanya bisa mengangguk kecil. “Saya sudah menyiapkan ruang khusus tepat di sebelah kantor saya untuk anda bekerja. Saya tidak ingin anda merasa kesepian atau kesulitan mendapatkan data. Anda bisa langsung bertanya pada saya jika ada hal yang dirasa aneh,” tambahnya sambil mengembalikan berkasku.
Tanpa sengaja, dokumen itu melesat terlalu cepat dan hampir jatuh ke lantai. Secara refleks, aku menjangkau dokumen itu, dan di saat yang sama, Cassian juga melakukannya. Tangannya yang hangat dan kokoh menggenggam jemariku, menahannya di atas meja. Sentuhan itu mengirimkan gelombang kejut yang membuat tubuhku bergetar halus. “Ah, maaf, saya terlalu ceroboh,” bisiknya, namun dia tidak segera melepaskan tanganku. Matanya mengunci mataku, tajam dan intens.
Aku ingin dia terus memegangku. Aku merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta pada pandangan pertama. Sikapku pasti terlihat sangat canggung saat aku akhirnya menarik tangan dan berdiri untuk pamit. “Besok saya akan mulai bekerja, Tuan Cassian. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.” Dia mengangguk anggun, berdiri untuk membukakan pintu bagiku, dan memberikan senyum tipis yang sangat mematikan. Begitu aku melangkah keluar, aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa bekerja dengan benar jika kehadirannya saja sudah meruntuhkan seluruh logikaku?
Under His Eye
Sesampainya di kantor FIRA sore itu, aku berusaha tetap rasional, meski bayangan Cassian terus menghantui. Aku tanpa sadar tersenyum pada cermin saat sedang merapikan riasan, sebuah tindakan yang langsung ditangkap oleh temanku, Lolita. “Baru kali ini aku melihatmu tersenyum begitu pada cermin. Siapa dia, Elira?” tanya Lolita penuh selidik. “Hanya... klien audit baru. De Luxen,” jawabku mencoba bersikap biasa. “Cassian De Luca? Pria Italia yang misterius itu? Katanya dia bisa membuat orang ketakutan hanya dengan melihatnya,” ujar Lolita. “Dia tidak semenakutkan itu. Dia sangat sopan,” belaku, dan aku bisa merasakan pipiku menghangat. Lolita tertawa mengejek. “Hati-hati, Elira. Jangan biarkan pesonanya membuatmu melupakan tugasmu. Dia itu hiu keuangan, mungkin saja mafia. Jangan sampai kau yang bertekuk lutut di bawah kekuasaannya.”
Aku merengut. “Tentu saja tidak. Aku akan profesional. Aku akan memeriksa setiap sen yang mereka hasilkan.” Namun, jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu pertahanan diriku sedang goyah. Aku membayangkan dia berbisik di telingaku, menyentuh tengkukku. Aku merasa jijik dengan ketidakberdayaanku sendiri, namun gairah itu tetap di sana, berdenyut pelan setiap kali aku mengingat namanya.
Alone With His Shadow
Hujan gerimis mulai membasahi London saat aku pulang ke apartemenku. Kesendirian yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan. Apartemen ini terlalu sunyi, terlalu kosong. Setelah menyeduh teh hangat, aku duduk di ruang baca dan membuka kembali dokumen De Luxen.
Namun, aroma parfum Cassian seolah-olah menempel di pakaianku, memenuhi indra penciumanku. Pikiranku melayang kembali ke saat dia menggenggam tanganku. Aku membayangkan hembusan nafasnya yang hangat di leherku, membayangkan tangannya yang kokoh membelai pinggangku di tengah kegelapan apartemen ini.
Fantasiku menjadi liar, membawa sosoknya ke dalam ruang pribadiku. Aku merasakan ketegangan yang hebat di sekujur tubuhku, sebuah kerinduan akan sentuhan yang sudah dua tahun tidak kurasakan. Dalam keremangan cahaya lampu jalan yang masuk menembus tirai, aku bergelut dengan perasaanku sendiri. Aku membayangkan dia berdiri di depanku, menuntut kepatuhanku dengan suaranya yang bariton.
Ketegangan itu memuncak dalam kesunyian malam. Aku membisikkan namanya, sebuah pengakuan akan kekalahanku terhadap pesonanya. Gejolak itu menghantamku, meninggalkan rasa lelah yang dalam dan sepi yang makin menyayat hati setelah semuanya berakhir. Aku terbaring di sofa, menatap langit-langit, menyadari bahwa Cassian De Luca telah menjadi hantu yang menghuni pikiranku. Esok hari, aku akan kembali ke sana, masuk ke dalam kandang singa itu, dan aku tidak tahu apakah aku akan keluar sebagai pemenang atau justru sebagai mangsa yang dengan sukarela menyerah.
*****
