Chapter 1. Uncertain Love

"There is a cruel ghost that lives between your 'yes' and your 'no'. It is the uncertainty that kills me more than your rejection ever could."

POV: Clara Johansson

Pagi itu, dengan rasa lelah yang masih menggelayuti tubuh, aku mencoba bangkit dari tidur nyenyakku. Samar-samar aku mengingat pesta semalam—perayaan peluncuran produk telekomunikasi terbaru yang didanai oleh perusahaan tempatku bekerja. Pesta itu dipandu oleh Edward Bennett, pemilik sekaligus CEO Bennett Global Investment. Dia adalah atasanku, sekaligus pria yang telah mengisi hatiku selama lima tahun terakhir.

Semalam, setelah pesta yang melelahkan itu, Edward mengantarku pulang. Sebagai sekretaris sekaligus orang terdekatnya, batasan antara profesionalisme dan privasi seringkali kabur. Aku tidak keberatan, karena Edward adalah sosok yang matang dan berwibawa. Dia telah menyatakan cintanya padaku, mendeklarasikan hubungan kami sebagai sepasang kekasih yang saling memiliki.

Menjadi pendamping seorang CEO besar seperti Edward memberikan banyak kemudahan. Jabatan yang meningkat, kemewahan dalam genggaman, dan akses ke dunia yang hanya bisa diimpikan banyak orang. Apartemenku di salah satu menara kenamaan New York ini penuh dengan barang-barang bermerek; dari koleksi busana Paris hingga tas mewah yang berjejer rapi.

Dulu, aku merasa sangat tersanjung. Aku hanyalah gadis dari Ljusdal, sebuah distrik kecil di pedesaan Swedia yang mungkin tak akan ditemukan orang tanpa bantuan peta digital. Namun kini, di tengah gemerlap kelas atas New York, jauh di lubuk hatiku, aku merindukan kehangatan keluarga. Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak pulang. Aku selalu terjebak dalam jadwal pesta jetset yang tiada berakhir. Aku rindu senyum ibuku dan tawa saudara-saudaraki. Air mataku menetes; aku ingin pulang.

Namun, pulang ke Swedia tidak pernah ada dalam daftar rencana liburan Edward. Ia lebih suka membawaku ke Paris atau Cappadocia dengan jet pribadinya. Aku sudah mendapatkan semua kenikmatan duniawi, kecuali satu hal: pernikahan.

Kata "kapan kita menikah" adalah pemicu yang sanggup mengubah suasana hati Edward seketika. Seperti kejadian semalam, setelah momen kebersamaan yang intens, aku mencoba menyandarkan kepala di bahunya dan bertanya tentang kepastian kami.

“Edward,” ujarku manja. “Hmm?” balasnya dengan suara berat. “Aku merasa kesepian setiap kali kau pergi. Aku ingin kita selalu bersama, menyandang gelar sebagai Nyonya Bennett, dan membawamu ke Ljusdal untuk bertemu orang tuaku.”

Sesuai dugaan, ia langsung bangkit dengan gurat kejengkelan di wajahnya. “Berapa kali harus kukatakan, Clara? Aku belum bisa melakukannya sekarang. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan,” ujarnya dengan nada tinggi.

“Sampai kapan, Edward? Tahun lalu kau berjanji setelah proyek Dubai, nyatanya tidak ada. Aku sudah lelah menanti kepastian ini.”

Edward menghampiriku, mengecup keningku singkat. “Sabarlah, Lollipop. Ada saatnya nanti kau akan menjadi Nyonya Bennett, tapi bukan sekarang.”

“Lalu kapan? Aku bukan sekadar simpanan yang bisa kau datangi saat kau butuh teman bicara saja,” sahutku pedih.

Ia menatapku tajam. “Siapa yang menyebutmu begitu? Abaikan kasak-kusuk orang lain, Clara. Di lingkaran kita, orang-orang hanya ingin mencari kelemahan. Jangan dengarkan mereka.”

“Kau mungkin bisa tidak peduli, tapi aku yang merasakan dampaknya,” balasku pelan.

“Sudahlah, kau hanya terlalu lelah. Tidurlah, besok aku telepon.” Dan seperti biasa, dia pergi meninggalkan apartemen ini tanpa menoleh lagi.

Pagi ini, aku berdiri di balkon, menatap New York yang dingin. Aku tidak memedulikan angin bulan November yang menembus gaun tidur tipisku. Sambil menyesap kopi dan mencoba menenangkan pikiran, aroma pagi yang dingin menghantam kesadaranku.

Tiba-tiba ponselku berdering. Helena Stevenson. “Clara, aku ke apartemenmu sekarang. Ada hal penting soal Edward yang harus kau tahu. Buka akses lift pribadimu, oke?”

“Hal penting apa, Helena?” tanyaku panik. “Soal Edward. Tunggu aku.” KLIK. Telepon mati.

Perasaanku mendadak tidak enak. Aku bergegas merapikan diri, mencoba menutupi kegelisahan yang mulai merayap di benakku tentang informasi apa yang akan dibawa Helena.

*****

CHAPTER 2

DAFTAR CHAPTER