Novel Romansa Yang Dipaksa Jadi Horor

Review Novel Layla by Colleen Hoover

REVIEW NOVEL

Leona Night

4/5/20267 min read

Tidak ada sebuah alasan khusus saat aku memilih untuk membaca Layla by Colleen Hoover ini. Aku tertarik membacanya semata karena saat itu aku tertarik dengan Kisah kisah Thriller dengan latar Romansa. Beberapa Review di yang aku baca pun mengatakan Novel ini cukup menegangkan karena melibatkan unsur aktivitas Paranormal.

Aku membaca Layla hanya beberapa hari setelah menamatkan Verity. Bagiku Colleen Hoover cukup cantik mengisahkan Verity, meskipun bagiku ada beberapa kelemahan atau bisa dibilang Plot Hole di dalamnya. Kalau kalian ingin membaca ulasanku tentang Verity, bisa klik link berikut.

First Impression

Layla yang aku baca adalah versi Kindle dengan bahasa tutur yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Sebagai non native reader atas novel berbahasa Inggris, aku merasa Novel ini sangat mudah dipahami dan enak dibaca. Buku ini adalah buku kedua Colleen Hoover yang aku baca setelah Verity. Satu hal yang aku tangkap dari style Hoover dalam menulis Novel adalah dia selalu menggunakan kalimat sederhana yang mudah dipahami serta tidak mengandung makna ganda. Kalimatnya pun tidak puitis bahkan cenderung to the point dan apa adanya.

Bagiku yang suka membaca novel novel dalam bahasa inggris, Hoover adalah pilihan utama setiap kali aku mengalami reading slump yang sering timbul akibat kelelahan membaca Novel bahasa inggris dengan kalimat puitis dan sarat makna. Cara penulisan yang sederhana, Vocab yang umum digunakan dan makna kalimat yang tidak bersayap membuatku mudah jatuh cinta setiap kali membaca Novel Karya Hoover. Dan memang terbukti karya karya dia selalu berhasil menarikku dari jurang Reading Slump yang jika dibiarkan bisa mencapai hitungan minggu bahkan bulan.

Secara umum sampai dengan 30 persen awal novel ini aku tidak merasakan Nuansa Thriller apalagi Horor. Satu satunya yang mengingatkan aku bahwa Layla bukan Novel Romansa biasa adalah Review yang pernah aku baca dan bukan novel itu sendiri. Sehingga dapat dikatakan nuansa Thriller apalagi Horor tidak aku rasakan baik di awal cerita maupun sampai akhir cerita. Sehingga dapat dikatakan Hoover berhasil menulis cerita dengan unsur Romansa yang kuat namun tidak untuk nuansa Thriller dan horornya.

Story Hook

Bisa dikatakan aku membaca novel ini dan menamatkannya dalam sekali duduk, atau kurang dari 24 jam. Hal ini terjadi bukan karena kuatnya rasa penasaran yang muncul seperti pada cerita Thriller atau horor pada umumnya tetapi lebih pada rasa prihatin atas apa yang dialami oleh pasangan Gabriel Leed dan Layla.


Nuansa tegang dan menakutkan dari Novel ini sama sekali bukanlah hal utama yang membuatku ingin melanjutkan bacaan sampai tuntas. Dalam hal ini bagiku Hoover lebih berhasil membangkitkan unsur penasaran terkait kebersamaan pasangan itu dibanding kengerian atau misteri yang mungkin coba Hoover tuliskan dalam keseluruhan Cerita.

Walaupun bagiku terasa gagal membangun nuansa kengerian yang seharusnya ada pada cerita Thriller apa lagi dengan nuansa Horor, Cerita ini masih sangat berhasil menumbuhkan simpati atas kisah cinta mendalam kedua tokoh utamanya, dan itu cukup memberikan Hook Kuat untuk tidak semudah itu berhenti membaca Novel ini.

Tokoh dan Sudut Pandang Narator

Novel ini ditulis dari sudut pandang orang pertama yang dalam hal ini adalah kekasih Layla, Gabriel Leed. Sepanjang novel ini, Leed adalah satu satunya Narator yang kisahnya aku dengar. Walaupun ada banyak tokoh utama yang biasanya diberi panggung untuk bicara, namun kembali terulang seperti pada Verity, kisah ini ditangkap oleh ku hanya dari satu penutur tunggal. Hal ini membuat kisah ini seperti berjalan atas satu persepsi tunggal yaitu persepsi Leed.


Tanpa Spoiler, inti kisah ini sebenarnya adalah tentang perubahan karakter Layla yang terjadi pasca mengalami operasi otak sebagai akibat dari penembakan yang dilakukan oleh penggemar Leed yang seorang Basis dalam sebuah kelompok band. Dalam rangka memulihkan kesehatan Layla dan membangun hubungan baru setelah cedera parah, Leed membawa Layla ke penginapan tempat mereka pertama kali bertemu. Dan disanalah pada akhirnya Leed menemukan hal hal aneh dan mengejutkan tentang Layla.

Aku tidak tahu apakah Hoover memang tidak begitu memperhatikan aspek perkembangan karakter tokoh yang dia tulis, namun dalam novel novelnya, seperti halnya dalam di Verity, tokoh dalam novel Layla juga tidak mengalami perkembangan, sehingga berkesan setiap tokoh keluar masuk tanpa jelas bagaimana watak dan sifatnya.

Bahkan tokoh Layla dan Sabel yang dikisahkan ruhnya menempati tubuh yang sama secara bergantian pun tidak mampu dihadirkan dengan jelas. Tidak ada perbedaan Karakter yang mencolok atas diri inang yang dapat dirasakan pembaca. Pembaca semata hanya diberi tahu saat ini yang menguasai tubuh inang adalah Layla atau Sabel dan itu semua lewat persepsi Leed.

Akibatnya pembaca seperti tidak bisa menilai sendiri apakah benar ini terjadi pertukaran ruh atau kesadaran atas tubuh yang sama atau hanya halusinasi Leed saja. Hal inilah yang membuat cerita seperti kehilangan kredibilitas horornya dan menumbuhkan persepsi cacat psikologis dari tokoh Leed pasca trauma penembakan.

Tokoh Sable pun dibuat bisu atau tidak terdengar suaranya, seolah dia hanya figuran numpang lewat yang tidak punya hak bicara dan nilai tawar. Hoover membuat semua tokoh menjadi kehilangan hak bicara. Padahal Sable dan Willow atau bahkan Layla adalah tokoh yang terkait langsung dengan cerita pertukaran ruh. Hal ini menimbulkan kesan semua kisah ini hanya di orkestrasi oleh Leed dalam pola pikirnya yang absurd dan kacau.

Bagaimana juga dengan Bulimia sabel? Dalam cerita ini dikatakan Sabel punya kecenderungan membawa Bulimia ke tubuh barunya. Nah jika begitu memory ruh bukan tentang kaharakter dan bulimia adalah penyakit spiritual yang untuk sembuh harus dengan istighfar atau doa doa spiritual. Padahal kita tahu Bulimia itu butuh terapi mental dan bukan spiritual. Ini sangat janggal dan membingungkan. Apa lagi jika dikaitkan bahwa ruh lupa nama dan siapa dirinya tapi masih ingat soal kecenderungan bulimia?

Bagiku tampak seolah, Hoover mendramatisasi mental illness Leed lalu membungkusnya sebagai fenomena metafisik

Konflik dan Tension

Konflik utama kisah ini sebenarnya sederhana, bagaimana mengembalikan tubuh menjadi milik ruh yang sebenarnya. Walaupun ini bukan buku non Fiksi yang mengupas tentang kehidupan setelah mati yang dialami oleh Ruh, tetapi menjadi sangat penting untuk tetap berpegang pada pemahaman umum yang ada di tengah masyarakat dan bukan hanya berpegang pada fantasi penulis. Karena jika itu dilakukan maka kesannya kisah pertukaran ruh ini jadi absurd dan ambigu serta cenderung mengarah pada cacat mental dan bukan kisah aktivitas paranormal.


Hoover sebagai penulis sepertinya punya banyak dasar pengetahuan tentang perjalanan ruh dan apa yang dialami pasca kematian, tetapi masih sangat dangkal dan cenderung diramu menjadi sebuah keyakinan pribadi yang sangat absurd dan cenderung dangkal dan tidak konsisten.

Seperti misalnya ruh yang keluar dari tubuh akan berada di tempat yang menyimpan memori atau kesan terdalam baginya, itu adalah sebuah teori atau keyakinan akan perjalanan ruh secara esoteris. Namun karena tidak berpegang pada pemahaman yang kuat, pengetahuan atas hal itu dipaksakan untuk mengikuti plot penulis yang justru melanggar pengetahuan umum terkait kecenderungan Ruh.

Dalam novel ini dikatakan bahwa ruh akan berada pada sebuah Void Realm ketika dia meninggalkan tubuhnya. Tetapi Void Realm ini masih terkait dengan Kecenderungan paling kuat yang dirasakan ruh sebagai emosi dominan, misal cinta semasa dia hidup. Namun menjadi ambigu ketika dikisahkan justru ruh memilih sebuah penginapan untuk linger hanya karena memori cinta, dibanding rumah dimana orang yang dia cintai masih hidup berada, atau bahkan jasadnya justru berada disana.

Lebih konyol lagi ketika sebuah tubuh diisi dengan ruh yang bukan pemilik tubuh dan dimanifestasikan semata dalam bentuk perubahan perilaku seperti kebingungan dan bukan shock batin yang cukup kuat. Hoover sepertinya berpikir tubuh manusia itu hanya ruang kosong tempat ruh tinggal dan dalam kondisi limbo, maka ruh yang mana saja dan siapa saja bisa mengambil alih tanpa ada perlawanan berarti dari tubuh. Seolah ruh dan tubuh itu dua entitas berbeda yang tidak saling mempengaruhi dan berdiri sendiri.

Pemahaman seperti inilah yang membuat cerita Hoover Justru mudah ditebak dan tidak menimbulkan nuansa magis atau bahkan horor. Kisah dalam novel ini yang sedianya diinginkan memberikan sebuah nuansa mistis atas ruh yang menempati tubuh yang salah jadi kehilangan esensinya karena pembahasan yang terlalu dangkal dan materialistis yang tidak di barengi dengan satu keyakinan besar yang dimiliki penulis dimana keyakinan ini bukan semata berasal dari teori yang dia tahu saja.

Pemilihan POV orang pertama yaitu Leed saja sepanjang kisah, menambah absurditas jalan cerita. Apakah novel ini mau dibawa menjadi cerita dengan gangguan disosiasi mental versi Leed dengan bumbu horor atau benar ini sejatinya memang ada unsur metafisik yang bekerja.

Hoover seperti enggan menulis dari sudut pandang ruh akan diri dan lingkungannya, entah karena khawatir plot twistnya ketahuan atau karena memang tidak yakin dengan realitas ruh. Tetapi yang jelas keterbatasan POV membuat konflik cerita ini gagal menjadikan kisah ini sebagai cerita dengan unsur paranormal atau horor, dan pembaca seperti aku justru menduga Leed mengalami gangguan mental.

Atmosfer horor dan aktivitas paranormal pun tidak terbangun dengan baik. Hal ini dapat dimaklumi karena Hoover begitu larut dalam percakapan internal dalam kepala Leed, sehingga semua kejadian dipersepsikan dari sudut pandang Leed. Dan parahnya aku sebagai pembaca justru tidak bisa merasakan emosi Leed sebagai pribadi yang menangkap unsur magis, paranormal atau horor, melainkan kegilaan dari pola pikir leed yang absurd.

Sebagai akibatnya kisah ini lebih seperti memahami otak dari narator yang sedang mengalami gangguan mental dibandingkan kisah cinta dengan bumbu aktivitas paranormal.

Apa yang didapat

Bagiku novel ini tetap novel romansa dengan Thriller Psikologi dan sedikit nuansa Horor. Horor yang aku rasakan justru bukan dari kejadian seperti poltergeist atau keganjilan lain, melainkan justru pola pikir tokoh utama yang mengerikan.


Bagiku cerita ini lebih tepat diberi judul Leed, dan bukan Layla, karena dalam novel ini layla justru tidak diberi kesempatan bercerita tanpa gangguan persepsi Leed. Bagiku ini lebih tampak sebagai kisah Leed dan isi kepalanya yang eror atau bahkan bisa jadi manipulatif jika dilihat dari POV yang berbeda.

Aku sebagai pembaca tidak bisa mempercayai kisah ini, bukan karena jalan cerita yang tidak menarik, tetapi justru karena Hoover menempatkan kisahnya dalam pikiran yang tidak waras tokohnya. Untung kisah ini berakhir HEA ( Happily Ever After) sehingga aku sedikit terhibur dan merasa senang. Walaupun satu pertanyaan besar menggantung dalam benakku hingga kini. Apakah ini kisah tentang ruh yang tertukar atau kisah tentang seorang pria manipulatif yang sedang melakukan gas lighting pada pasangannya bahkan pembaca.

Penilaian

Secara konsep cerita ini layak diberi bintang 5, tetapi secara eksekusi hanya layak sampai bintang 3. Mengaapa demikian? Karena banyak keganjilan yang tidak membumi dan terkesan dipaksakan untuk memberi nuansa Creepy. Misal tentang Tokoh dari forum paranormal yang tidak jelas dia di sana sebagai apa. Apakah Guardian angel, ghostbuster, atau orang gila lain yang ikut masuk dalam dunia Leed.

Bukankah semua pemahaman soal tertukarnya ruh ini berasal dari penilaian Randall sang tokoh paranormal yang juga dibuat absurd apakah manusia asli pemilik tubuh dengan baju dan name tag Randall atau justru dia adalah entitas lain yang menggunakan tubuh Randall untuk menolong Leed dan Layla.

Jujur novel ini kurang berhasil menghadirkan nuansa paranormal dan horor magis, tetapi lebih pada kegilaan dari tokoh utamanya seperti halnya membaca kisah kekejaman tokoh Hannibal dalam silent of the lamb. Aku tidak merasakan magic yang biasanya menyertai kisah ruh dan fenomena paranormal.

Kisah ini lebih cenderung menganggap bahwa orang dengan kemampuan metafisik terlihat seperti psikosis akut yang terbungkus dengan teori teori muluk tentang aktivitas paranormal. Sangat disayangkan Hoover tidak membawa sedikit saja teori tentang ruh yang bertebaran di dunia ini dari berbagai aliran sebagai bahan pijakan membuat cerita. Akibatnya cerita berkesan seenaknya sendiri, mengkhianati keyakinan agung tentang ruh yang suci dan malah membawa kegilaan dalam permaianan ruh yang diciptakan Hoover sendiri.