Prolog

Devils Of Manhattan

Edward tersenyum sinis, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris hilang. Dengan gerakan yang tenang namun mengintimidasi, ia menjangkau Clara, membiarkan kehadirannya mendominasi ruang gerak wanita itu.

"Aku adalah satu-satunya orang yang paling tahu apa yang kau inginkan, Sayang," bisiknya dengan suara rendah yang menggetarkan. "Aku selalu tahu bagaimana memancing sisi lain yang selama ini kau sembunyikan di balik masker ketenanganmu itu."

Clara menatapnya dengan napas tertahan. Sentuhan Edward yang posesif mulai meruntuhkan pertahanannya, membangkitkan memori tentang masa lalu yang intens di antara mereka. Pikiran Clara berkecamuk; antara rindu yang tak terucap dan logika yang berusaha menolak.

Sambil memejamkan mata sejenak untuk menguasai diri, Clara akhirnya berkata dengan suara bergetar, "Tapi itu bukan cinta, Edward. Dan aku... aku lelah menjalani hidup yang hanya mengikuti keinginan sesaat."

“Oya? Kalaupun bukan cinta, lalu apa namanya, Clara?” ujar Edward dingin. Ia terus mendesak, memberikan tekanan emosional yang membuat Clara merasa semakin tak berdaya di bawah pengaruhnya.

“Hentikan, Edward,” ujar Clara lirih. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu betapa sulitnya menolak daya tarik pria ini. Setiap perhatian dan kedekatan yang diberikan Edward seolah memiliki kendali penuh atas akal sehatnya.

Edward kemudian membawa Clara ke arah tempat tidur besar di tengah ruangan, membaringkannya dengan perlahan namun penuh otoritas. Ia menatap Clara seolah ingin menaklukkan seluruh keraguan wanita itu.

“Kau tahu, Clara, hanya aku yang paham bagaimana memicu reaksimu hingga ke titik tertinggi. Malam ini, aku akan membuktikan bahwa tubuhmu tidak bisa membohongi pikiranmu sendiri.”

*******

CHAPTER 1

DAFTAR CHAPTER